<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Inspirasi</title>
	<atom:link href="http://uwansukri.com/index.php/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://uwansukri.com</link>
	<description>pemikiran, pandangan dan pengalaman uwan sukri</description>
	<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 04:50:19 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Obituari : Mengenang Moyardi kasim</title>
		<link>http://uwansukri.com/index.php/2007/09/20/obituari-mengenang-moyardi-kasim/</link>
		<comments>http://uwansukri.com/index.php/2007/09/20/obituari-mengenang-moyardi-kasim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 04:50:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#60;ADMINNICENAME&#62;</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Community]]></category>

		<category><![CDATA[Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Education]]></category>

		<category><![CDATA[History]]></category>

		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<category><![CDATA[NGO]]></category>

		<category><![CDATA[Organic Farming]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[Self Reliance]]></category>

		<category><![CDATA[Social Network]]></category>

		<category><![CDATA[Testimony]]></category>

		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uwansukri.com/index.php/2007/09/20/obituari-mengenang-moyardi-kasim/</guid>
		<description><![CDATA[Jumat sore 7 September 2007, mendung dan berangin di Sorowako. Perenungan menunggu azan Isya sedikit terganggu oleh dering HP, rupanya dari karib lama : Moyardi Kasim. Saya yakin, dia pasti menelpon dari ruang kantornya yang apik di lantai 2 showroom Mitsubishi jalan Veteran 14 Padang. Pasti sendirian, karena karyawan sesorean biasanya sudah pada pulang. 
â€Lu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jumat sore 7 September 2007, mendung dan berangin di Sorowako. Perenungan menunggu azan Isya sedikit terganggu oleh dering HP, rupanya dari karib lama : Moyardi Kasim. Saya yakin, dia pasti menelpon dari ruang kantornya yang apik di lantai 2 showroom Mitsubishi jalan Veteran 14 Padang. Pasti sendirian, karena karyawan sesorean biasanya sudah pada pulang. <span id="more-58"></span></p>
<p>â€Lu dimanaâ€ ?, selalu demikian pertanyaan awal kawan ini, karena dia sudah memastikan saya tidak sedang berada di Padang. â€œdi Sorowako, mencarikan belanja lebaranâ€, jawab saya. Selanjutnya, â€œah, lu pergi-pergi aja (dalam bahasa Jakarte logat Minang Pariaman yang kental)â€ dan komunikasi kami diputus seketika. Biasanya, kalau tak telpon langsung, Molyardi selalu berkirim SMS, isinya ringan2 dan bahkan ngelantur kemana-mana.</p>
<p>Rupanya itulah komunikasi terakhir saya dengannya, setelah seminggu sebelumnya kami menjalani ritual rutin baâ€™da magrib dikantornya, yakni makan nasi bungkus gulai hati Restoran Selamat ditambah gorengan belut kering lado merah dari restoran Semalam Suntuk. Waktu itu ikut makan karib yang lain pengusaha pengembang Johny Halim (TI 76) dan Arsitek Rudy Ferial (AR 78) . Ritual rutin interaksi kami yang berlangsung bertahun-tahun, mengingat kesibukannya yang tak mungkin diganggu dalam jam kerja mengendalikan Grup Suka Fajar yang makin menyita perhatiannya. Waktu itu dan sampai saat akhir, tak ada sedikitpun sinyal tentang kepergiannya. Kami tetap bercanda dan saling ledek tentang banyak hal. Biasalah.<br />
Â <br />
Rupanya tradisi kerja keras harian sampai sekitar jam 10 malam itulah yang membawanya kehadapan Sang Maha Pencipta. â€œCara pulang menghadap-Nyaâ€ memang misteri Tuhan, dan selalu yang terbaik untuk Hamba-Nya. Gempa 7,9 Skala Richter,yang mengguncang kota Padang Rabu sore jam 16.10 minggu lalu itu, telah melantak-luluhkan bangunan utama Grup Suka Fajar berlantai empat. Saat mana Moyardi sedang akan mulai menjalani ritual rutinnya bekerja sampai malam. Seperti biasanya.</p>
<p>Menurut Johny Halim yang memimpin evakuasi malam itu, setelah mengantar tamunya keluar bangunan, ia kembali ke ruang kerjanya untuk segera berwudhuk dan ingin mengejar shalat Asyar yang belum tertunaikan. Subhanallah, melihat kondisi jasadnya ketika ditemukan esok siang : ia tengah di atas sajadah dalam posisi bersujud. Tim SAR yakin bahwa ia tengah shalat saat gempa datang. Moyardi pergi dalam sujud menghadap-Nya. Bersujud dihimpit reruntuhan bangunan, tempat ia syahid mencari nafkah keluarga dan ratusan karyawan yang menggantungkan nafkahÂ  bersamanya.</p>
<p>Itulah, ratusan handai taulan mengantarnya ke pekuburan umum Tunggua Hitam, sore kamis yang merupakan â€puaso tuoâ€ bagi komunitas Minang.</p>
<p>****</p>
<p>Ingatan melayang pada 34 tahun lalu, saat SMA I Padang menerima adik kelas yang baru, dimana seorang anak muda cenderung mungil berkacamata berat ikut didalamnya. Belakangan ketahuan, ia anak pintar, juara umum dari SMP I dan anak pengusaha terkenal kota Padang, H. Sutan Kasim. Saya sudah agak kenal sebelumnya, karena kami sama-sama dibesarkan di pasar Raya Kampuang Jao. Juga demikian kawan-kawan segenerasi yang lain. Moyardi membantu orangtuanya berjualan kulit skala grosir, sedang saya membantu Ayah berjualan grosir pecah belah. Ada Reza Abidin (MS 76) membantu orangtuanya berjualan grosir kain, Zahedi Putra (TK 75) berjualan rupa-rupa, Chairinal Chaidir (SI 75) berjualan alat elektronik, Asrul Basari (GM 77) ikut mengurus grosir tekstil bersama kakak2nya di Pasar Bertingkat dan Badrul Mustafa (GM 76) mengendalikan kedai kontrakannya.</p>
<p>Kami merupakan produk entrepreneur pasar raya, yang sangat kami rasakan manfaatnya setelah merantau ke Bandung dan kini bekerja di berbagai bidang kehidupan. Hubungan kami sebagai â€anak pasaâ€ langgeng sampai sekarang. Kerap kami kumpul-kumpul dan melakukan perjalanan bersama. Bila kumpul di Padang, nasi bungkus Restoran Selamat dan Semalam Suntuk menjadi makanan enak khusus menyemarakkan nostalgia.</p>
<p>Moyardi memang cerdas dan unggul dalam berbahasa Inggris karena ikut les inggris sejak kecil di privat bahasa IES. Makanya, saat beberapa diantara kami ikut bimbingan test dulu setahun untuk masuk ITB, ia langsung lulus. Jadinya kami seangkatan, sama-sama diterima tahun 76. Juga sama-sama lulus tahun 85, artinya sama-sama menghabiskan pendidikan S1 cukup lama, yakni 9 tahun !.</p>
<p>Namun medan kiprah kampus kami berbeda, ia dan Johny Halim menekuni bisnis sampai meninggalkan kuliah bertahun-tahun, saya menjalani kehidupan sebagai aktifis mahasiswa. Saat ia berkutat mengembangkan pembuatan KTP Massal bermesin laminating di kabupaten Subang dan Garut , saya menjadi aktifis Dewan Mahasiswa ITB yang menggerakkan berbagai demonstrasi mahasiswa dari berbagai kampus se Jawa. Mesin Pres KTP ciptaan mereka bersama Alex Yudhi (MS 75) tampil dengan merk lamilex, namun setelah pecah kongsi Johny mengembangkan produk lamiko. Saya ingat betul, untuk urusan KTP massal mereka mengajak tukang foto dari alun-alun bekerjasama.</p>
<p>Maret 1985, kami sama-sama pulang ke Padang. Saya bersama beberapa kawan lain mengejar mimpi ideologis dengan berusaha mengembangkan kembali sekolah alternatif INS Kayutanam, Moyardi mulai menekuni usaha meningkatkan kinerja perusahaan keluarga. Ia mulai bekerja mengembangkan sistem manajerial Grup Suka Fajar dan tak pernah berhenti memikirkannya sampai akhir hayat. Kerja kerasnya membuahkan ekspansi perusahaannya ke belasan titik operasi strategis di berbagai propinsi di Sumatera. Grup ini bahkan berani masuk kota Medan yang dikenal dengan sengitnya persaingan bisnis. Menjelang krisis moneter, mereka bahkan membuka core bisnis baru, membangun Hotel Ibis di kota Pekanbaru yang diperkirakan akan menjadi kota bisnis. Tahun tahun terakhir, sebagian besar waktu Moyardi adalah bolak-balik Jakarta dan Pekanbaru.</p>
<p>Menarik disimak, saat krisis moneter, grup ini malah makin berkembang. Nampaknya, silaturrahmi Moyardi kakak beradik cukup ampuh untuk membuat grup bertahan ditengah badai krisis moneter yang datang melanda. Saat perusahaan lain mem-PHK karyawan, Grup Suka Fajar malah merekrut pegawai untuk mendukung ekspansi. Grafik pemasaran malah meningkat. Kini Grup Suka Fajar telah berkembang menjadi usaha konglomerat pribumi yang tak tersaingi di Sumatera Barat.</p>
<p>Moyardi mantap terjun ke usaha keluarga saat kepulangan ke kampung. Tahun 1988 Johny Halim juga menyusul pulang dan mendirikan pengembang Grup Taruko. Kami sering bersilaturrahmi sampai bertahun-tahun sesudahnya. Namun sejak gempa 12 September 2007 sore, seorang kawan sudah berkurang. Moyardi duluan pergi menjalani ketentuan-Nya, menghadap mahkamah abadi sesuai amal ibadahnya.</p>
<p>Yang jarang diketahui publik, adalah semangat Moyardi mendukung berbagai aktifitas sosial yang saya kerjakan. Saat mendirikan Yayasan Insan 17 di Padang, Moyardi menjadi Direktur Keuangan dan diam-diam memfasilitasi kami dalam kondisi kesulitan finasial diawal pendirianÂ  lembaga. Waktu membantu pengembangan usaha kerajinan beberapa sentra di Sumbar, di gedung BI Sudirman, Ekonom Sritua Arief pernah bercanda dan kagum kok kapitalis bisa hadir dalam ruqang bernuansa sosialis. Moyardi hanya tersenyum simpul. Begitupun banyak sekali aktifitas LSM Insan 17 di pelosok Sumbar dalam mengatasi persoalan kemiskinan, Moyardi dari balik layar banyak memberikan pandangan dan tak lupa sokongan keuangan bila diperlukan. Hingga tahun 1992, kami bahu membahu mengurus LSM, sampai saya harus pindah ke Jakarta mengurus jaringan nasional LSM Lingkungan Hidup - Walhi. Komunikasi memang jarang karena masing-masing sibuk dengan urusannya, namun Moyardi dan kawan-kawan rupanya menyimpan agenda khusus untuk saya.Â Â Â Â </p>
<p>****</p>
<p>Silaturrahmi kami membuhul makin erat saat saya menjadi saksi mata langsung perkawinannya dengan Arni, alumni ITB - BI 77 yang sudah lebih dulu pulang ke Padang dan kelak menjadi Dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Pasangan Moyardi dan Arni telah dikaruniai 2 pasang anak yang kini telah remaja. Ivan mengikuti jejak papinya mengambil kuliah di jurusan Tehnik Industri Unand, Vina, Avin di tingkat SMA dan Vani masih di SMP. Kakak beradik nampaknya diprogram betul, masing-masing berjarak umur selang seling 2 tahun.</p>
<p>Itulah, karena keasyikan menjadi aktifis dan sering bepergian keluar negeri, saya lupa kawin. Ini meresahkan keluarga dan juga kawan-kawan. Tak lupa tentunya Moyardi. Saat jeda dan pulang berlebaran ke Padang, mereka mengatur pertemuan saya dengan seorang gadis bermarga harahap, yang kebetulan murid Dr. Badrul Mustafa (Kini WR III Unand) di Fakultas tehnik Sipil. Saat kunjungan lebaran, tiba-tiba mobil dibelokkan ke sebuah rumah yang asri di kawasan Linggarjati. Katanya ke rumah salah seorang mahasiswi Unand. Rupanya saya dikenalkan dan akhirnya mantan mahasiswi itu menjadi istri saya. Pesta kawin beberapa bulan sesudahnya, sebagian didanai oleh Moyardi secara diam-diam.</p>
<p>Maret 2003, dengan membawa sertifikat rumah dan BPKB mobil saya mendatanginya di kantornya. Mau pinjam uang tunai, untuk biaya pengobatan anak ketiga kami, Kembara, yang mendapat serangan penyakit kanker darah, lukemia limfositik akut. Sangat saya ingat kemarahan Moyardi dan akan membuang surat berharga itu, karena katanya persahabatan tidak bisa diukur dengan sekedar urusan pinjam uang. Saya disuruh segera berangkat ke Jakarta dan besok pagi rekening saya sudah terisi. Kalau tak salah dia mengirim dukungan sampai tiga kali.</p>
<p>Demikian seterusnya, karena tetap menjalani kehidupan sebagai aktifis yang tak jelas penghasilannya, kapanpun kalau saya perlu uang, Moyardi tak pernah tinggal diam. Moyardi seakan ATM saya dalam menjalani kehidupan aktifis. Mungkin karena cukup terbuka rezekinya, tak pernah sekalipun uangnya yang saya pakai ditanyakan, apalagi ditagihnya. Setiap mau lebaran, selalu ada paket kiriman beberapa ikat uang pecahan seribu rupiah dan 2 ikat uang pecahan lima ribu. Katanya untuk persiapan lebaran. Lebaran mendatang dan selanjutnya, tentu fenomena itu tidak mungkin terulang lagi. Moyardi sudah tak ada, ia kini diseberang sana.</p>
<p>*****<br />
Sedemikian erat interaksi kami, sehingga waktu menulis obituari ini, saya perlu mengunjungi Johny Halim untuk menanyakan apa sebetulnya kelemahan dari Almarhum. Refleksi kami, mungkin karena lama mengambil setiap keputusan, atau katakanlah berhati-hati, sehingga gaya manajerial dia terkesan lamban. Tapi kami juga sepakat, mungkin karena hati-hati itulah ia berhasil dalam mengendalikan perusahaan yang makin membesar. Dapat dikatakan kelemahan sekaligus kelebihannya. Bung Johny yang cepat mengambil keputusan, sampai sekarang ekonominya masih tambal sulam, masih fase gogo, belum menuju mapan. Moyardi sudah jauh lebih dulu.</p>
<p>Namun apapun, ada agenda yang masih tersisa. Kami bersepakat untuk mempercepat laju perhatian masyarakat ke usaha kelautan. Bersama kami mencoba merubah desain kapal tonda menjadi mini long-line agar bisa menangkap tuna bernilai tinggi untuk meningkatkan harkat hidup nelayan. Selain itu berniat pula kami untuk mendirikan BPR sebagai lembaga keuangan mendukung pertanian, khususnya padi organik. Agenda ini wajib diteruskan karena merupakan hasil diskusi kami berkepanjangan, tentang bagaimana tetap berkiprah membangun kampung halaman. Tentu tak lagi tanpa kehadiran fikiran-fikiran matang pengusaha Moyardi. Duh, entahlah.</p>
<p>Hanya yang mengganjal, sampai akhir hayatnya Moyardi tidak sempat menunaikan ibadah haji. Setiap diajuk, dia selalu mengatakan akan segera mendaftar. Tapi nyatanya tak pernah sempat, tersebab banyak sekali urusannya di bisnisnya. Tentu bebannya jatuh ke bahu Ivan sebagai putra tertua, untuk menemani maminya beribadah ke Baitullah.Â Â Â </p>
<p>Selamat jalan kawan, semoga kau mendapat tempat yang layak disisi-Nya. Suatu saat kami semua pasti menyusulmu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uwansukri.com/index.php/2007/09/20/obituari-mengenang-moyardi-kasim/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mandat Lingkungan</title>
		<link>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/20/mandat-lingkungan/</link>
		<comments>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/20/mandat-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 05:35:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#60;ADMINNICENAME&#62;</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Column]]></category>

		<category><![CDATA[Community]]></category>

		<category><![CDATA[Cultural Right]]></category>

		<category><![CDATA[Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Environment]]></category>

		<category><![CDATA[Forest Management]]></category>

		<category><![CDATA[Intangible Assets]]></category>

		<category><![CDATA[Local Initiative]]></category>

		<category><![CDATA[Natural Conservation]]></category>

		<category><![CDATA[People Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Self Reliance]]></category>

		<category><![CDATA[Sustainable Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uwansukri.com/index.php/2007/04/20/mandat-lingkungan/</guid>
		<description><![CDATA[Â 
Banyak kritik yang mempertanyakan legitimasi LSM untuk melakukan pembelaan melalui gerakan lingkungan, khususnya dalam menggugat perusak lingkungan dan pelaksanaan kebijakan publik yang berdampak negatif pada lingkungan. Atas hak apa gerakan lingkungan boleh menyeret industri pencemar atau instansi pemerintah ke pengadilan. Baik atas dasar pidana â€“ perdata atau ke PTUN untuk kesalahan administrasi publik, antara lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New Roman" size="3"><img id="image51" style="width: 221px; height: 133px" height="133" alt="Maninjau Hutan1.jpg" src="http://uwansukri.com/wp-content/uploads/2007/04/Maninjau%20Hutan1.thumbnail.jpg" width="221" />Â </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Banyak kritik yang mempertanyakan legitimasi LSM untuk melakukan pembelaan melalui gerakan lingkungan, khususnya dalam menggugat perusak lingkungan dan pelaksanaan kebijakan publik yang berdampak negatif pada lingkungan. Atas hak apa gerakan lingkungan boleh menyeret industri pencemar atau instansi pemerintah ke pengadilan. Baik atas dasar pidana â€“ perdata atau ke PTUN untuk kesalahan administrasi publik, antara lain tersebab mengeluarkan perijinan.<span id="more-52"></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Uwan tentu tergolong pihak yang dipertanyakan itu karena tahun 90-an pernah menggugat PT. Inti Indo Rayon Utama (PT. IIU) yang menghancurkan ribuan hektar hutan Sibatuloting di selingkar Danau Toba. Demikian pula tahun 93, Uwan adalah satu-satunya warga negara Indonesia yang berani-beraninya menyeret Presiden Suharto ke PTUN karena kebijakannya mengalihkan dana reboisasi untuk menunjang pembiayaan industri pesawat terbang Nurtanio (kini PT. Dirgantara). Pada kesempatan lain, kami pernah pula menggugat PLNÂ  di Jawa Timur, karena jaringan tegangan tinggi PLN yang melintasi pemukiman di Singosari telah meresahkan masyarakat. </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Pada kasus PT. IIU, Walhi sebagai lembaga jaringan LSM lingkungan nasional yang Uwan pimpin menyatakan perang terhadap perambahan hutan di hulu sungai Asahan untuk dijadikan bahan baku pabrik pulp dan kertas milik konglomerat Sukanto Tanoto. Kelakuan perusahaan ini menghancurkan wilayah tangkapan air yang berfungsi menjaga kelestarian pasokan air ke danau. Elevasi air praktis naik turun drastis sehingga merusak ekosistem danau dan berdampak kerugian besar masyarakat sekelilingnya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Persidangan berlangsung berlarut-larut dan sesuai dinamika politik kekuasaan waktu itu, kami tentu dikalahkan oleh pengadilan. Namun yang menggembirakan, Walhi diakui boleh mewakili kepentingan lingkungan, memiliki mandat atas nama lingkungan hidup sebagai legal standing. Berbekal legal standing ini pula, penggugatan berikutnya ditujukan kepada orang kuat nomor satu Indonesia ke PTUN atas nama pelestarian hutan. Posisi kami, dana reboisasi haruslah untuk penghutanan kembali hasil penebangan di HPH, tidak ada urusannya dengan industri pesawat. Posisi hukum yang diperoleh dari preseden persidangan PT. IIU juga dimanfaatkan oleh jaringan LSM Jawa Timur yang beradvokasi membela hak hidup nyaman bagi rakyat Singosari yang terganggu oleh jaringan tegangan tinggi (SUTET) yang melintasi desanya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Kami sangat efektif menggunakan media, walau waktu itu media nasional masih sangat hati-hati. Tapi popularitas internasional meningkat tinggi, banyak wawancara khusus langsung dari berbagai media elektronik luar negeri. Beberapa kali harus melakukan wawancara per-telepon antar benua tengah malam menjelang subuh, karena bersifat penyiaran langsung yang sesuai dengan waktu tayang di Eropah.</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Pengalaman yang bisa dipetik dari fenomena advoaksi itu adalah bahwa dalam berbagai persidangan rakyat pasti akan dikalahkan Anak kecilpun juga tahu. Tapi hikmahnya, proses peradilan itu bisa menghadirkan preseden hukum bagi LSM atau lembaga mana saja untuk berperan mewakili lingkungan hidup.</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Posisi preseden ini memberi tempat kepada LSM dan lembaga mana saja yang peduli pingkungan untuk menerima dan menjalankan mandat lingkungan. Preseden boleh mengelola mandat ini sangat strategis untuk mengendalikan eksplorasi lingkungan hidup dan perusakan alam. Mandat ini efektif untuk menyadarkan para pihak akan pentingnya kelestarian alam serta pengelolaan bijaksana seluruh sumberdaya di permukaan bumi.</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Mandat dimaksud tentu tidak hanya diberikan oleh manusia yang bisa menandatangani surat kuasa kepada pengacara. Mandat lebih dikuasakan oleh anak cucu dan generasi mendatang yang menitipkan alam beserta seluruh isinya kepada generasi sekarang. Artinya mandat dikuasakan pula oleh makhluk ciptaan Tuhan lainnya seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, bebatuan besar dan kecil, hutan, gunung, laut, sungai, angin, air, udara dsb. Kalau bisa bersuara, makhluk-makhluk itu pastilah menjerit akibat eksploitasi untuk memuaskan keserakahan manusia.</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Makanya ujar-ujar yang sampai kini masih didengung-dengungkan dan dianut oleh gerakan lingkungan adalah : â€œbumi dan seluruh isinya bukanlah warisan nenek moyang, tapi titipan dari anak cucuâ€. Pesan itu bermakna agar generasi masa kini menjaga kelestarian alam sehingga kelak tidak dihujat, dicaci-maki dan dipersalahkan oleh generasi mendatang.</font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Uwan berharap pesan ini sampai keseluruh pihak, khususnya kepada para ninik mamak kita yang melegalisir eksploitasi hutan atas nama pendanaan nagari serta anak kemenakan; kepada birokrasi yang memberikan ijin penebangan dan pengolahan; kepada sektor usaha yang bersemangat mencari nafkah sehingga terkadang tanpa kendali; kepada Unand yang juga mengelola hutan Siberut atas nama penelitian serta kepada siapa saja yang tercerahkan akan aspek masa depan lingkungan. Niscaya, apa yang diperbuat hari ini harus dipertanggungjawabkan kelak di mahkamah anak cucu, dimasa kehidupan berikutnya. Disamping tentunya mahkamah abadi dihadapan Tuhan Sang Maha Pencipta.Â Â Â Â Â Â Â Â  </font></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/20/mandat-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berkebun Islami</title>
		<link>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/12/berkebun-islami/</link>
		<comments>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/12/berkebun-islami/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 01:22:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#60;ADMINNICENAME&#62;</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Agriculture]]></category>

		<category><![CDATA[Community]]></category>

		<category><![CDATA[Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Environment]]></category>

		<category><![CDATA[Forest Management]]></category>

		<category><![CDATA[Intangible Assets]]></category>

		<category><![CDATA[Local Initiative]]></category>

		<category><![CDATA[Natural Conservation]]></category>

		<category><![CDATA[Organic Farming]]></category>

		<category><![CDATA[People Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Self Reliance]]></category>

		<category><![CDATA[Sustainable Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uwansukri.com/index.php/2007/04/12/berkebun-islami/</guid>
		<description><![CDATA[Di sela-sela Seminar Internasional tentang â€œPeople â€“ Centered Developmentâ€ di Chiangmai, Meechai tokoh KB dan Kampanye AIDS Thailand, mengajak Uwan untuk bermalam di kawasan perkebunan pinggir kota. Magrib di Juni 1990 itu, kami hanya perlu satu jam bermobil ke pedesaan tempat kakak sepupunya Langkorn menetap dengan berkebun lengkeng dan leici. Mata pencaharian mereka sekeluarga hanyalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sela-sela Seminar Internasional tentang â€œ<em>People â€“ Centered Development</em>â€ di Chiangmai, Meechai tokoh KB dan Kampanye AIDS Thailand, mengajak Uwan untuk bermalam di kawasan perkebunan pinggir kota. Magrib di Juni 1990 itu, kami hanya perlu satu jam bermobil ke pedesaan tempat kakak sepupunya Langkorn menetap dengan berkebun lengkeng dan leici. Mata pencaharian mereka sekeluarga hanyalah kebun 2 jenis buah itu seluas 2 hektar lebih kurang.<span id="more-48"></span></p>
<p><span /></p>
<p><span />Kami makan malam dengan lahap karena turut selera Uwan, masakan Thailand mirip dengan Padang, banyak bumbu dan ada pedas-pedasnya.Â Â  Dominan aroma dan rasa berbasis merica dan ketumbar.</p>
<p><span /></p>
<p><span />Dengan Meechai sebagai penterjemah mengalirlah kisah tentang pahit getir dan kesuksesan berkebun buah. Uwan khidmat menimba pengalaman dari Langkorn sekeluarga, minus anak sulungnya yang sedang berkuliah di Thammasat University. Menurut Langkorn, dia memulai usaha perkebunannya setelah gagal mengadu nasib berwiraswasta di Bangkok 14 tahun sebelumnya. Bersama 12 orang anggota kelompok tani waktu itu, mereka mengajukan usulan kepada raja Bhumibol untuk boleh mengolah lahan pertanian.</p>
<p><span /></p>
<p>Raja Thailand yang seorang insinyur pertanian memiliki kebiasaan berkeliling ketengah-tengah rakyatnya di pedesaan; mendiskusikan rencana bertani; merancang kawasan; membentuk kelembagaan kelompok tani secara partisipatoris; mendirikan sarana pelatihanÂ  yang lengkap dengan produk informasiÂ  pendukung dan akhirnya mengupayakan pembiayaannya. Setelah itu Raja menandatangani penyerahan/ hibah kawasan tersebut kepada kelompok tani bersangkutan. Surat hibah mana sekaligus berfungsi sebagai sertifikat lahan karena konon katanya raja adalah pemilik seluruh lahan Thailand. Langkorn bersama kelompok tani menjalani proses sedemikian waktu raja singgah di kawasan mereka berkebun, sampai kini terus eksis sebagai kelompok pekebun. Mereka menanam lengkeng dan leici secara sungguh-sungguh, karena berharap raja sekali waktu mampir dan memberikan penilaian. Disamping itu, mereka berharap dapat umpan balik dari raja dan timnya, khususnya untuk menyempurnakan pengelolaan kebun.</p>
<p><span /></p>
<p><span /><span lang="FI">Kami berdiskusi sampai jauh malam. Yang spesifik adalah Langkorn menceritakan betapa petani intensif mendampingi tanaman kebunnya. Khususnya bila cuaca berubah ekstrim, petaninya patut berada ditengah kebun. </span><span lang="FI">Saat itu mereka biasa melakukan apa saja, termasuk bercakap-cakap jarak jauh alis saling berteriak. Kadang-kadang mereka membawa tape recorder dan memutar lagu-lagu tradisional Chiangmai. Waktu istirahat kerja-pun disesuaikan dengan kebutuhan pendampingan itu, sehingga jeda sekitar jam 12 00 â€“ 16.00. </span></p>
<p><span lang="FI" /></p>
<p><span lang="FI" /><span lang="FI">Uwan menilai pola ini bernuansa islami. Pagi hari, yakni mirip habis shalat Subuh, petani sudah berada di kebun mendampingi tanamannya menjalani perubahan alam ekstrim pagi menuju siang. Istirahat antara shalat Zuhur dan shalat Asyar. Demikian pula pendampingan sore menuju malam, mirip umat islam menuju kewajiban Magrib. Uwan mengistilahkan pola ini sebagai berkebun islami.Â <br />
</span><span lang="FI" /></p>
<p><span lang="FI">Itulah. Paginya, mungkin masih sekitar jam 04.30, Langkorn membangunkan Uwan dan menyuruh untuk segera shalat Subuh. Hebat, walau tidak islam, mereka sekeluarga sangat toleran dengan kehadiran Uwan. Setelah menyeruput kopi sejenak, Langkorn dan istri langsung turun ke halaman dan menghilang ke tengah rimbunan pepohonan. Belum ada tanda-tanda akan datangnya fajar.<br />
</span><span lang="FI" /></p>
<p><span lang="FI">Tampak ia membekali diri dengan gergaji kecil dan gunting ranting. Sederhana sekali. Dari diskusi tadi malam, peran gergaji adalah untuk memotong cabang-cabang liar. </span><span lang="SV">Sedangkan gunting digunakan untuk ranting-ranting yang diperkirakan tidak akan produktif. </span><span lang="SV">Istirahat siang sampai sekitar jam 4 sore. Mereka segera dikebun lagi sampai matahari lewat terbenam cukup lama. Kalau tak salah sekitar jam 19.30 barulah Langkorn pulang kerumah dan bebersih diri. Demikianlah, ritual keseharian mereka sekeluarga dalam berproduksi.</span></p>
<p><span lang="SV" /></p>
<p><span lang="SV" /><span lang="SV">Menurut pengarahan raja, tanaman perlu didampingi pada saat ekstrim, subuh menuju fajar menyingsing dan sore matahari tenggelam menuju keharibaan malam. Dengan demikian tanaman tidak akan stress dan dampaknya kelak memberikan buah yang banyak. </span><span lang="SV">Terasa berbeda hasilnya. Tanaman lengkeng dan leci di kelompok tani itu, memberikan produksi sangat tinggi. Lengkeng tahun sebelumnya memberikan hasil mendekati satu ton per-batang, sedang panen sebatang leci membuahkan hasil mendekati 750 kilogram. </span><span lang="SV">Dengan 140 batang leci dan 100 batang lengkeng, keluarga Langkorn dapat hidup jauh diatas berkecukupan. Malah mendekati kategori kaya bila dibanding petani Indonesia. </span></p>
<p><span lang="SV" /></p>
<p><span lang="SV">Mengikuti pola berkebunnya itu, membuat mereka hanya berlibur satu kali saja dalam setahun, yakni 12 hari di akhir tahun. Tapi liburnya keliling dunia. Pernah sekali tahun-tahun selewat silaturrahmi kami, mereka sekeluarga berlibur ke Indonesia dan mentraktir Uwan 4 hari di Yogya dan Bali.<br />
</span><span lang="SV" /><strong>Â <br />
</strong><font face="Times New Roman" size="5"><strong>Â </strong></font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="5"><strong /></font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="5"><strong /></font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="5"><strong /></font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="5"><strong /></font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="5"><strong /></font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="5"><strong /></font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="5"><strong /></font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="5"><strong /></font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="5"><strong /></font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="5"><strong /></font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman" size="5" /></strong><font face="Times New Roman" size="5">Â </p>
<h1><em><span /></em><br />
Â </h1>
<p><font size="5" /><font size="5"><font size="5" /><font size="5"><font size="5" /><font size="5"><font size="5"><font size="5" /><font size="5"><font size="5" /><font size="5"><font size="5" /><font size="5"><font size="5"><font size="5" /><font size="5"><font size="5" /><font size="5"><font size="5" /><font size="5"><font size="5"><br />
<span /><strong><em>Â </em></strong><br />
<strong><span /></strong><strong>Â Â <br />
</strong></p>
<h1><span /><br />
Â </h1>
<p></font></p>
<p></font></font></font></font></p>
<p></font></font></font></font></p>
<p></font></font></font></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/12/berkebun-islami/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Bencana</title>
		<link>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/manajemen-bencana/</link>
		<comments>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/manajemen-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 09:56:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#60;ADMINNICENAME&#62;</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Community]]></category>

		<category><![CDATA[Education]]></category>

		<category><![CDATA[Environment]]></category>

		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<category><![CDATA[NGO]]></category>

		<category><![CDATA[Social Network]]></category>

		<category><![CDATA[Sustainable Development]]></category>

		<category><![CDATA[Urban Management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/manajemen-bencana/</guid>
		<description><![CDATA[Â 
Akhir mingguÂ di akhir Juni 2001Â Uwan ikut rombongan mengantar sumbangan pembaca Mimbar Minang ke propinsi bencana gempa Bengkulu. Banyak pengalaman mengharukan ditemui. Rumah-rumah penduduk, bangunan pemerintah maupun swasta banyak yang hancur. Korban meninggal cukup banyak, ratusan pula yang luka berat dan ringan. Fasilitas publik umumnya mengalami gangguan.Dari tingkat kerusakan yang ditimbulkan, bencana di propinsi Raflesia ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img id="image47" style="width: 223px; height: 157px" height="157" alt="DSCN3566.JPG" src="http://uwansukri.com/wp-content/uploads/2007/04/DSCN3566.JPG" width="223" />Â </p>
<p>Akhir mingguÂ di akhir Juni 2001Â Uwan ikut rombongan mengantar sumbangan pembaca Mimbar Minang ke propinsi bencana gempa Bengkulu. Banyak pengalaman mengharukan ditemui. Rumah-rumah penduduk, bangunan pemerintah maupun swasta banyak yang hancur. Korban meninggal cukup banyak, ratusan pula yang luka berat dan ringan. Fasilitas publik umumnya mengalami gangguan.<span id="more-46"></span>Dari tingkat kerusakan yang ditimbulkan, bencana di propinsi Raflesia ini bisa dikatagorikan bencana nasional. Selayaknya penanganan gempa ini dikelola secara profesional oleh pihak yang berstandar prosedur nasional pula. Logikanya, penanganan itu pasti sedemikian rupa efektifnya, sehingga meringankan beban yang diderita.<br />
Keharuan makin mengharu-biru karena Satkorlak yang merupakan badan yang berwenang mengelola penanganan dimaksud nyatanya sangat mengecewakan. Satkorlak yang konon ber-SK resmi itu bekerja lebih parah dari dugaan. Banyak antisipasi diselenggarakan secara amatiran, kurang metodologis, tidak mampu menggerakkan masyarakat dan sudah barang tentu banyak yang tidak tepat sasaran. Pantauan Uwan dari lokasi antara lain :<br />
â€¢Â Satkorlak kurang koordinasi sehingga baru mulai bekerja pada H+4 setelah mendapat reaksi keras dari segala arah. Cukup memalukan lagi, justru tim internasional lebih duluan bergerak dan menyalurkan dukungannya.Â <br />
â€¢Â Karena keamatirannya, Satkorlak menetapkan korban berdasarkan demografi saja sehingga banyak antisipasi salah alamat. Bantuan didistribusi secara merata mengandalkan aparat pemerintah yang tidak berkapasitas, sehingga banyak terjadi kesimpangsiuran. Korban berat di banyak tempat sangat butuh pertolongan, justru korban ringan dekat kota yang memperoleh fasilitas.<br />
â€¢Â Komitmen moral anggota Satkorlak untuk bekerja penuh semangat kerelawanan sangat rendah sehingga banyak terjadi antisipasi yang kurang sehat. Banyak penyimpangan terjadi karena lebih mementingkan pribadi daripada menolong korban.<br />
â€¢Â Lebih mengharukan Satkorlak menegasikan partisipasi masyarakat dalam penanganan bencana dan menganggap inisiatif masyarakat untuk menolong korban sebagai kelompok liar (wawancara Kapolda di RCTI). Karena berprestasi, jaringan 17 LSM seperjuangan Uwan disana yang dinilai liar itu akhirnya dicoba dirangkul oleh Pemda, namun mereka menolak bergabung dengan Satkorlak karena menilai tidak akan mungkin bekerja optimal.<br />
â€¢Â Kekurangprofesionalan dan arogansi Satkorlak, banyak disorot. Akibatnya dukunganÂ  justru disalurkan kepada kelompok masyarakat yang dinilai bekerja lebih efektif. Jaringan Uwan mendapatkan berbagai komitmen internasional, khususnya untuk rehabilitasi paska bencana.<br />
Atas dasar pertimbangan itulah, bantuan pembaca Mimbar Minang diserahkan kepada Komisi Penanganan Gempa Bengkulu (KPGB) dan Ikatan Keluarga Minang (IKM) Peduli. Kedua kelompok ini dinilai efektif menyalurkan bantuan tersebut dan memiliki informasi tentang kebutuhan korban. Terbukti, siang bantuan diserahkan sorenya sudah dikapalkan ke Pulau Enggano.<br />
Sumbar suka atau tidak suka sekali waktu akan terkena bencana pula. Entah kapan karena bencana memang tidak mungkin direncanakan. Namun antisipasi berbentuk manajemen bencana jelas perlu, antara lain denganÂ  memperhatikan :<br />
â€¢Â Satkorlak lebihÂ  berfungsi koordinatif ketimbang struktural komando seperti yang berlaku selama ini. Keanggotaan inti sebaiknya terbatas, terdiri dari orang/ instansi berkomitmen moral tinggi dan terbukti memiliki semangat kerelawanan yang besar (tidak asal pejabat). Anggota inti sedikitnya mempunyai kemampuan rescue dan seorang networker.<br />
â€¢Â Satkorlak tak mungkin bekerja sendirian, ia perlu dukungan berbagai lapisan anggota masyarakat. Untuk itu perlu mengakomodasi partisipasi masyarakat, dengan membentuk simpul-simpul resmi di tiap desa/ kelurahan yang terkoordinasi efektif dalam bentuk jaringan sumber daya.<br />
â€¢Â Membangun komunikasi intensif dengan simpul-simpul dan mengembangkan mekanisme hubungan yang senantiasa dalam kewaspadaan (early warning network system). Membuat peta koordinasi menyangkut orang, wilayah dan kapasitas personal untuk setiap saat bisa digerakkan.<br />
â€¢Â Mengembangkan mekanisme kerja sedemikian rupa sehingga dipercaya masyarakat (azas transparansi dan akuntabilitas).Pada akhirnya, manajemen bencana adalah manajemen menggerakkan jaringan sumber daya yang efektif untuk mengantisipasi bencana. Harapannya, Satkorlak Sumbar jangan mengulangi kesalahan yang sama dengan Bengkulu. Sebuah kesalahan yang luar biasa mengharukan.Â <br />
Â </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/manajemen-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berkebun di Laut</title>
		<link>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/berkebun-di-laut/</link>
		<comments>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/berkebun-di-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 08:53:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#60;ADMINNICENAME&#62;</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Coastal Management]]></category>

		<category><![CDATA[Column]]></category>

		<category><![CDATA[Community]]></category>

		<category><![CDATA[Cultural Right]]></category>

		<category><![CDATA[Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Ecotourism]]></category>

		<category><![CDATA[Education]]></category>

		<category><![CDATA[Environment]]></category>

		<category><![CDATA[Intangible Assets]]></category>

		<category><![CDATA[Local Initiative]]></category>

		<category><![CDATA[Marine Management]]></category>

		<category><![CDATA[Natural Conservation]]></category>

		<category><![CDATA[Organic Farming]]></category>

		<category><![CDATA[People Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Self Reliance]]></category>

		<category><![CDATA[Sovereignity]]></category>

		<category><![CDATA[Sustainable Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/berkebun-di-laut/</guid>
		<description><![CDATA[Â 
Mengembangkan pemikiran tentang pelestarian sumberdaya laut dan pesisir nampaknya tidak pernah berhenti dilakukan oleh sejawat Uwan dari LP3M Makassar. Setelah bertahun-tahun mendampingi masyarakat di pulau-pulau yang berpenghuni di Taman Nasional Taka Bone Rate, Kabupaten Selayar dan pulau-pulau di kabupaten Pangkajene, kini mereka sedang merintis apa yang diistilahkannya sebagai Peperiber. Maksudnya pengembangan perikanan berkelanjutan. Taka Bone [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img id="image45" style="width: 450px; height: 248px" height="248" alt="Mentawai tangkap udang.jpg" src="http://uwansukri.com/wp-content/uploads/2007/04/Mentawai%20tangkap%20udang.jpg" width="450" />Â </p>
<p>Mengembangkan pemikiran tentang pelestarian sumberdaya laut dan pesisir nampaknya tidak pernah berhenti dilakukan oleh sejawat Uwan dari LP3M Makassar. Setelah bertahun-tahun mendampingi masyarakat di pulau-pulau yang berpenghuni di Taman Nasional Taka Bone Rate, Kabupaten Selayar dan pulau-pulau di kabupaten Pangkajene, kini mereka sedang merintis apa yang diistilahkannya sebagai Peperiber. Maksudnya pengembangan perikanan berkelanjutan. Taka Bone Rate merupakan kawasan terumbu karang terbesar nomor tiga di dunia. Untuk menjajakan konsep itu Uwan menemani petinggi LP3M, Bung Sufrie Laude dan Hermanto Azis, road-show ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Departemen Perikanan dan Kelautan. Respons cukup menggembirakan, paling tidak ada antusiasme dari kedua lembaga pusat itu.<span id="more-44"></span></p>
<p>Mengingat sudah banyak waktu dan tenaga dialokasikan untuk berinteraksi dengan masyarakat pulau-pulau, mereka merasa sudah saatnya melangkah naik kelas ke pendekatan lebih lanjut. Persiapan sosial dan kesiapan masyarakat untuk melestarikan terumbu karang sudah diyakini matang karena sudah melewati berbagai tahapan, antara lain pendampingan lebih dari 10 tahun, pemetaan partisipatif, perencanaan berjenjang, kesepakatan konservasi, menempatkan masyarakat sebagai pengambil keputusan publik, menyusun rancangan hukum, menetapkan daftar positif dan negatif bagi investor, sudah ada perda kabupaten dan saat ini masyarakat sudah merasakan manfaat konservasi bagi kehidupan ekonomi hariannya.</p>
<p>Melalui pendekatan serius, baik perorangan maupun secara publik melalui seminar, pelatihan dan kunjungan perbandingan ke Filipina, akhirnya Kabupaten Pangkajene dan Selayar setuju untuk mengembangkan upaya baru pengembangan perikanan berbasis budidaya alami itu. Konsep Peperiber ini merupakan pendekatan sama sekali baru dimana alam diharapkan secara mandiri mendukung budidaya berbasis terumbu karang. Tak memerlukan input tambahan dari luar. Intinya, daya dukung ekosistem terumbu karang dimanfaatkan untuk budidaya. Daya dukung alam yang tinggi bila ekosistem terumbu karangnya lestari, sebaliknya terumbu karang yang hancur atau dihancurkan oleh perilaku manusia, daya dukungnya rendah dan itu tak relevan dengan penerapan konsep ini. Peperiber boleh dikatakan hadiah berkelanjutan bagi masyarakat pulau yang telah memiliki kesadaran memelihara kelestarian terumbu karangnya. Kata kunci keberhasilan pendekatan ini adalah bila terumbu karangnya lestari akan mampu memasok makanan untuk budidaya.</p>
<p>Singkatnya, Peperiber merupakan suatu unit berteknologi canggih yang dibangun di pulau atau rangkaian pulau-pulau yang memiliki terumbu karang lestari atau yang selama ini berhasil dilestarikan masyarakat. Pilihan pilot model adalah pulau Tarupa, Rajuni dan 21 pulau-pulau di Taman Nasional Taka Bone Rate di Kabupaten Selayar serta beberapa pulau di basis Gondong Bali dekat taman wisata laut Kapppoposang Kabupaten Pangkajene.<br />
Â <br />
Pilihan pulau-pulau untuk Peperiber ini merupakan hasil dialog panjang bertahun-tahun dengan masyarakat pulau. Bertahun-tahun mimpi bersama dirajut, khususnya untuk peningkatan ekonomi berkelanjutan. Generasi sekarang dan turun temurun untuk anak cucu.</p>
<p>Peperiber ini adalah pusat pembibitan sumberdaya perikanan, khususnya multi-spesies yang bernilai ekonomi tinggi. Katakanlah pembibitan ikan karang sejenis kerapu tikus yang 70 dollar perkilogram di pasar Hongkong, ikan baronang untuk kebutuhan lokal sepanjang tahun, tripang, lobster sampai kerang mutiara dan kima. Hermanto Azis adalah praktisi budidaya kerang mutiara yang lama bekerja dengan perusahaan Jepang di Banda Neira dan Lombok.<br />
Untuk tahap awal, Peperiber akan memproduksi 350.000 bibit kerapu tikus dan lobster pertahun. Bibit yang cukup pembesaran akan dimasukkan ke kawasan terumbu karang, mereka mengistilahkan re-stocking. Karena habitatnya ada di terumbu karang, maka diperkirakan bibit itu tidak akan kemana-mana. Kawasan terumbu karang ini dipelihara dan dijaga masyarakat secara kontinu dan inilah yang disebut sebagai aktifitas berkebun di laut.Â  Perhitungannya, belum satu tahun sudah boleh mulai dipancing. Masyarakat dipersilahkan memancing sepuasnya, lalu menyetor hasilnya kepada punggawa. Beberapa ekor ikan kerapu tikus tangkapan perhari sudah bisa menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi.<br />
Â <br />
Punggawa adalah pihak pembeli lokal yang disepakati bersama dan harga perkilogram hasil sudah disepakati sebelumnya sejalan dengan semangat transparansi. Tentu mengacu kepada harga internasional di pelabuhan perikanan Hongkong, setelah dipotong ongkos dan marjin keuntungan bagi punggawa. Punggawa dengan armadanya membawa hasil itu langsung ke pasar Hongkong, Taiwan, Jepang dan Singapura. Bagi kita di Sumbar mungkin masih mimpi, pedagang bisa langsung membawa hasilnya ke pasar internasional. Tapi bagi masyarakat Sulsel, ada puluhan punggawa yang juga berperan sebagai international trader.</p>
<p>Jadi instrumennya, peperiber untuk memasok bibit ke alam, terumbu karang yang lestari, kesiapan sosial masyarakat untuk mengelola sumberdaya alam dan infrastruktur pemasaran yang langsung ke pasar internasional. Peperiber ini layak untuk dikembangkan di berbagai lokasi di Indonesia mengingat negara kita memiliki 1/8 jumlah luasan terumbu karang dunia. Apakah Sumbar punya potensi itu, terpulang kepada pihak-pihak yang berkompeten untuk merumuskannya. Yang jelas, peperiber merupakan peluang untuk meningkatkan ekonomi nelayan secara berkelanjutan.Â Â Â Â Â Â  Â </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/berkebun-di-laut/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Reklamasi Blok INCO Sorowako</title>
		<link>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/reklamasi-blok-inco-sorowako/</link>
		<comments>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/reklamasi-blok-inco-sorowako/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 08:40:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#60;ADMINNICENAME&#62;</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Ecotourism]]></category>

		<category><![CDATA[Environment]]></category>

		<category><![CDATA[Forest Management]]></category>

		<category><![CDATA[Natural Conservation]]></category>

		<category><![CDATA[People Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Sustainable Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/reklamasi-blok-inco-sorowako/</guid>
		<description><![CDATA[
Melukis Alam, dilatar belakang kerja reklamasi anak2 muda INCO
Â 
Â 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img id="image42" style="width: 406px; height: 251px" height="251" alt="IMG_0892.JPG" src="http://uwansukri.com/wp-content/uploads/2007/04/IMG_0892.JPG" width="406" /></p>
<p>Melukis Alam, dilatar belakang kerja reklamasi anak2 muda INCO</p>
<p>Â </p>
<p>Â </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/reklamasi-blok-inco-sorowako/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Melihat Ceruk</title>
		<link>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/melihat-ceruk/</link>
		<comments>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/melihat-ceruk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 07:56:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#60;ADMINNICENAME&#62;</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Coastal Management]]></category>

		<category><![CDATA[Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Ecotourism]]></category>

		<category><![CDATA[Environment]]></category>

		<category><![CDATA[Forest Movement]]></category>

		<category><![CDATA[Intangible Assets]]></category>

		<category><![CDATA[Sustainable Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/melihat-ceruk/</guid>
		<description><![CDATA[Ferdimet Abadi, adik Uwan wirausahawan unik kelahiran Kumpulan â€“ Bonjol yang berusia 43 tahun itu memang lain. Pria yang selalu berpakaian rapi ini menguasai tujuh bahasa dunia yaitu bahasa Inggris, Jerman, Italia, Jepang, Thailand, Perancis dan Belanda yang membuatnya terkatagori warga kosmopolitan. Hal mana tercermin dari perjalanan hidupnya dan kegiatan bisnis yang kini ditekuninya. Salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ferdimet Abadi, adik Uwan wirausahawan unik kelahiran Kumpulan â€“ Bonjol yang berusia 43 tahun itu memang lain. Pria yang selalu berpakaian rapi ini menguasai tujuh bahasa dunia yaitu bahasa Inggris, Jerman, Italia, Jepang, Thailand, Perancis dan Belanda yang membuatnya terkatagori warga kosmopolitan. Hal mana tercermin dari perjalanan hidupnya dan kegiatan bisnis yang kini ditekuninya. Salah satu bisnis utama yang kini tengah giat dikelolanya langsung adalah menjual rumah meditasi bongkar pasang berbahan jati bekas (knock-down recycle teakwood meditation room) yang pemasarannya luas ke mancanegara dan dipasarkan melalui internet.<span id="more-41"></span><br />
Â <br />
Ferdimet jeli melihat relung atau ceruk peluang pasar (niches market) dimana rumah unik itu dikemasnya dalam dalamÂ  produk rumah semedi (meditation room),Â  yang dijualnya ratusan ribu dollar per-unit ke konsumen yang beragama Budha dan Hindu. Konsumennya tersebar di Eropah diantaranya Inggris, Belanda, Jerman dan di Amerika Serikat terutama Hawaii dan California. Tren masyarakat global yang mendambakan kembali ke suasana relijius adalah pasarnya yang strategis.Â  Tahun lalu pemasarannya meluas, ia menjual beberapa unit rumah jati bekas ini ke konsumen orang kaya pemilik pulau-pulau di kepulauan Karibia. Hal mana membuatnya harus bolak balik kesana, beberapa kali dalam setahun. Uwan dikiriminya kartu pos bergambar rumah yang sudah terpasang di atas pasir putih pinggir pantai. Eksotis sekali.<br />
Â <br />
Ia merancang prosesi pemasaran rumahnya sedemikian rupa. Konsumen yang umumnya beragama Budha harus datang ke lokasi workshopnya di Bojonegoro untuk mengikuti acara bongkar pasang dan selanjutnya mengikuti kontainer ke Tibet. Di Tibet, rumah semedi dipasang kembali untuk kemudian bersama pemiliknya ditepung tawari oleh seorang Lhama dalam sebuah upacara ritual Budhis. Mungkin berikut kembang tujuh rupanya. Selesai di Tibet, rumah itu dikirim ke California untuk dipasang permanen. Namun katanya akhir-akhir ini ada perubahan, prosesi ke Tibet tidak efektif dan makan waktu sehingga produk di tahun-tahun terakhir ini acara tepung tawarnya cukup dilakukan di Bali saja. Hal mana lebih menguntungkan karena dalam hal ukiran kayu untuk ornamen lanjut, Bali lebih unggul dari Tibet.</p>
<p>Hari-hari Ferdimet dipenuhi oleh gagasan, bagaimana ceruk pasar diperluas sehingga disamping meningkatkan volume eksport, pasar dalam negeri-pun tidak kalah menantangnya. â€œ Di Indonesia sudah mulai ada segolongan masyarakat yang tidak memerlukan barang tapi menginginkannya, tinggal bagaimana menawarkan gagasan dan produk berselera kepada merekaâ€, katanya dalam suatu komunikasi telepon kami di awal Desember 2003 lalu. Makanya, ia memperluas bahan daur ulang tak terbatas jenis kayu Jati saja, sudah mulai masuk ke kayu Ulin bekas dermaga tua atau kayu Merbau bekas kapal-kapal kayu yang karam. Kini sudah ada produknya yang dibeli konsumen nasional dari Jakarta, Bandung dan Surabaya.</p>
<p>Pria yang mempertahankan rambut gondrong dan kesehariannya senang berpakaian etnik ini langsung terjun membeli rumah jati di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan kisaran harga per-unit 7 juta sampai 1,2 milyar. â€œTergantung estetika, tidak sekedar material sajaâ€ katanya. Adakalanya rumah sedang berdiri dibeli mahal karena estetikanya berselera sehingga sedikit sentuhan akhir akan memberi nilai tambah sangat tinggi.</p>
<p>Ferdimet membeli sebidang lahan seluas 1 hektar yang sudah ada bangunan gudang bekas penjemuran tembakau di kabupaten Bojonegoro untuk dijadikan bengkel kerja/ workshop. Seluruh barang daur ulang dikirim kesana, dibiarkan berjemur adakalanya sampai satu tahun sebelum diolah. Dari workshop yang didukung oleh 4 arsitek dan 120 karyawan pengrajin asal Bali dan Jawa Timur ini produk unik hasil imajinasi Ferdimet mengalir ke mancanegara. Tahun 2001 yang lalu, untuk mendukung aktifitasnya, ia membangun show-room di Seminyak, dekat pantai Legian Bali. Tidak tanggung-tanggung, luasnya 7000 meter persegi, berlokasi di pusat wisata dunia.Â  Showroom dibutuhkan karena produknya tidak hanya rumah daur ulang saja, tapi sudah merambah ke produk mebelair antik, pembatas ruang, pajangan ukiran kayu sampai tempat tidur desain zaman Majapahit.</p>
<p>Tentulah tentu dolar mengalir ke kocek Ferdimet. Namun yang Uwan lihat ia lebih menikmati hasil endusannya, mata kewirausahaan yang melihat ceruk sangat kecil ditengah ketatnya pertarungan dunia usaha. Ferdimet akan berbinar matanya membahas peluang-peluang yang tidak dipikirkan orang lain. Nampaknya ia akan terus begitu, entah sampai kapan.Â Â Â <br />
Â </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/melihat-ceruk/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mempersiapkan Bibit</title>
		<link>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/mempersiapkan-bibit/</link>
		<comments>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/mempersiapkan-bibit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 07:20:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#60;ADMINNICENAME&#62;</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Agriculture]]></category>

		<category><![CDATA[Column]]></category>

		<category><![CDATA[Community]]></category>

		<category><![CDATA[Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Environment]]></category>

		<category><![CDATA[Forest Management]]></category>

		<category><![CDATA[Intangible Assets]]></category>

		<category><![CDATA[Local Initiative]]></category>

		<category><![CDATA[NGO]]></category>

		<category><![CDATA[People Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Self Reliance]]></category>

		<category><![CDATA[Social Network]]></category>

		<category><![CDATA[Sovereignity]]></category>

		<category><![CDATA[Sustainable Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/mempersiapkan-bibit/</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan baru Uwan paham bahwa politik pertanian kita di era Orde Baru dulu memihak kepada pangan dan itu umumnya fokus ke dataran rendah, khususnya padi, jagung dan kedele. Untuk dan atas alasan kestabilan politik, berbagai sumberdaya diarahkan kepada peningkatan produktifitas pangan. Stabilitas politik yang dibutuhkan untuk merealisasi pembangunan Indonesia, salah satunya dikembangkan melalui program stabilitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan baru Uwan paham bahwa politik pertanian kita di era Orde Baru dulu memihak kepada pangan dan itu umumnya fokus ke dataran rendah, khususnya padi, jagung dan kedele. Untuk dan atas alasan kestabilan politik, berbagai sumberdaya diarahkan kepada peningkatan produktifitas pangan. Stabilitas politik yang dibutuhkan untuk merealisasi pembangunan Indonesia, salah satunya dikembangkan melalui program stabilitas pangan. Sektor perut dan konsumsi yang mencukupi akan meredam keresahan rakyat yang pada gilirannya akan mendatangkan rasa aman sehingga stabilitas politik bisa dicapai.<span id="more-40"></span></p>
<p>Untuk itu, berbagai fasilitas pendukung pertanian tanaman pangan seperti manufaktur pupuk dan pestisida, kemudahan kredit perbankan lewat berbagai skim yang menguntungkan, infrastruktur seperti gilingan padi dan pegudangan, BIMAS, INMAS serta berbagai bentuk fasilitas lainnya telah diarahkan secara besar-besaran ke sektor ini. Intensifikasi dan ekstensifikasi produk pangan yang agresif itu akhirnya membuahkan swasembada pangan pada sekitar 1984 yang sempat mengharumkan nama Indonesia dimata internasional. Kalau Uwan tak salah ingat, Presiden Suharto mendapat kehormatan menjadi pembicara utama dalam forum PBB di Roma, menceritakan pengalaman Indonesia mencapai swasembada itu. Hal mana ingin dikembangkan lagi pada tahun 90-an dengan menetapkan program nasional pembukaan lahan sejuta hektar di propinsi Kalimantan Tengah.</p>
<p>Akibat seluruh perhatian dan potensi diarahkan ke sektor pangan dataran rendah ini, potensi dataran tinggi nyaris tidak tergarap sama sekali. Petani dataran tinggi berkembang secara naluriah belaka. Mereka hanya meniru pola bertani tempat lain, termasuk mencontoh komoditi apa yang dikembangkan diwilayah lain itu. Tanpa fasilitas sama sekali, petani mengembangkan komoditi sayur-sayuran dan umbi-umbian. Kalau nasib baik, petani akan untung besar karena putaran usaha umumnya sangat pendek. Berkisar 1 sampai 4 bulan saja. Kalau nasib jelek, waktu panen harga rendah, maka petani harus gigit jari dan memulai kembali usahanya dari nol. Padahal, kalau ada infrastruktur pendukung sejenis bangunan berpendingin, tentu kerugian dapat dihambat. Pengalaman menunjukan, fluktuasi harga waktunya sangat pendek. Hari ini misalnya harga komoditi cukup tinggi, lusa bisa saja anjlok drastis. Tapi minggu depan kembali naik tinggi. Kehadiran gudang berpendingin mestinya dapat membantu petani untuk menyimpan sementara hasil karyanya, menunggu harga membaik.Â </p>
<p>Waktu Uwan panen raya beberapa komoditi sayur-sayuran akhir Oktober 1999 yang lalu misalnya, nasib sial sejenis itu Uwan alami. Uwan jadinya bangkrut total karena walau panen cukup berhasil, tapi harga rendah sekali. Bayangkan harga kol meluncur ke angka 40 rupiah perkilogram, sedangkan ongkos angkut dari kebun ke tepi jalan saja sudah 50 rupiah tiap kilonya. Akan lain halnya bila tersedia sarana pendukung penyimpanan sementara menunggu harga membaik. Petani rasanya bisa menyewa ruang pendingin yang dipakainya, katakanlah beberapa belas ribu rupiah untuk tiap kubik produk.</p>
<p>Hampir tidak adanya sarana prasarana pendukung itu, tidak membuat Uwan kapok bertani. Karena sudah mengidentifisir diri sebagai petani, tentu malu untuk menyerah. Sudah bagi-bagi kartu nama lengkap ke seluruh relasi, kalau berhenti apa kata dunia. Tentu kawan-kawan yang sudah Uwan tinggalkan di dunia advokasi LSM akan tersenyum simpul dibalik punggung, membisikkan : petani ni yee.<br />
Â <br />
Makanya, bersama 4 orang sejawat yang memiliki pemahaman sama, kami mengumpulkan modal dan memulai lagi bertani. Kami mengawali dengan mengembangkan infrastruktur pembibitan. Bibit merupakan faktor terpenting kalau ingin hasil yang maksimal. Kami meyakini, bibit yang baik akan menghasilkan produktifitas tinggi dan pada gilirannya akan mensejahterakan petani. Untuk tahap awal kami fokus membibitkan kentang. Ada beberapa jenis kentang yang dikenal umum petani di Alahan Panjang dan di lereng Merapi Singgalang, kami bawa ke laboratorium kultur jaringan untuk di muliakan. Istilahnya, kembali ke generasi awal yang disebut G-nol. Ada jenis yang umum ditanam seperti Granola, kentang batang hitam (populer di Agam disebut kentang Cingkariang), kentang berkulit merah yang disebut Desiree eks Jerman serta jenisÂ  bibit baru eks Polandia yang dikenal dengan nama kentang Panda. Kentang Panda akan kami fokuskan untuk ditanam di Curup â€“ Bengkulu.</p>
<p>Hasil pemuliaan ke generasi nol ini kami tanam dalam rumah kelambu/ screen house, untuk di regenerasi ke G satu dan seterusnya. Hasilnya cukup menjanjikan, kini kami sedang dalam proses menuju G dua. Bibit kelas G tiga kelak akhir tahun akan kami lempar ke petani untuk ditanam serius di lahannya. Perkiraan, produktifitas paling tinggi akan diperoleh petani bila menanam G3 sesuai prosedur dan didukung cuaca baik. Katakanlah bila satu ton ditanam, Insyaallah akan menghasilkan sedikitnya 40 ton lebih. Bandingkan, selama ini petani hanya memperoleh hasil sekedar 10 â€“ 12 ton.</p>
<p>Dengan memperhitungkan kebutuhan petani dataran tinggi Sumatera (Solok dan Agam, Curup, Kerinci dan Brastagi) sekitar 6000 ton bibit pertahun, Uwan dan kawan-kawan pada saatnya kelak akan memperoleh posisi bebas finansial. Artinya, sudah boleh mengklaim diri sebagai petani berdasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uwansukri.com/index.php/2007/04/11/mempersiapkan-bibit/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Naik Haji: Mohon Doanya</title>
		<link>http://uwansukri.com/index.php/2006/12/08/naik-haji-mohon-doanya/</link>
		<comments>http://uwansukri.com/index.php/2006/12/08/naik-haji-mohon-doanya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2006 12:30:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#60;ADMINNICENAME&#62;</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uwansukri.com/index.php/2006/12/08/naik-haji-mohon-doanya/</guid>
		<description><![CDATA[Uwan berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Mohon perkenan dan doanya.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Uwan berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Mohon perkenan dan doanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uwansukri.com/index.php/2006/12/08/naik-haji-mohon-doanya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah Bung Hatta</title>
		<link>http://uwansukri.com/index.php/2006/11/24/rumah-bung-hatta/</link>
		<comments>http://uwansukri.com/index.php/2006/11/24/rumah-bung-hatta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Nov 2006 08:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#60;ADMINNICENAME&#62;</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[History]]></category>

		<category><![CDATA[Local Initiative]]></category>

		<category><![CDATA[Politics]]></category>

		<category><![CDATA[Tourism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uwansukri.com/index.php/2006/11/24/rumah-bung-hatta/</guid>
		<description><![CDATA[
Selasa pagi 11 Maret 1986, masih dingin di Illinois. UwanÂ  berkunjung ke bekas rumah Presiden Abraham Lincoln di desa Springfield. Rumah Presiden Amerika ke 16 yang berkuasa pada 1858 â€“ 1862 terkesan bersahaja sesuai prinsip hidupnya. Lincoln dari selatan terkenal sebagai presiden yang mengharamkan perbedaan warna kulit dan menentang perbudakan.
Untuk itu ia menjadi salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="bung_hatta_photoby_setwapres_go_id.jpg" id="image37" src="http://uwansukri.com/wp-content/uploads/2006/11/bung_hatta_photoby_setwapres_go_id.jpg" /></p>
<p>Selasa pagi 11 Maret 1986, masih dingin di Illinois. UwanÂ  berkunjung ke bekas rumah Presiden Abraham Lincoln di desa Springfield. Rumah Presiden Amerika ke 16 yang berkuasa pada 1858 â€“ 1862 terkesan bersahaja sesuai prinsip hidupnya. Lincoln dari selatan terkenal sebagai presiden yang mengharamkan perbedaan warna kulit dan menentang perbudakan.</p>
<p>Untuk itu ia menjadi salah satu presiden legendaris, pujaan jutaan warga kulit hitam Amerika. Ia lebih melegenda setelah terbunuh dalam suatu pergumulan politik ras berkepanjangan.<br />
<span id="more-38"></span><br />
Uwan berdesakan untuk dapat masuk ke kawasan bersejarah itu. Antrian cukup panjang sehingga untuk sampai ke tempat membayar/entrance gate saja mencapai hampir 2 jam. Fantastis. Pengunjung seakan menaiki mesin waktu, kembali ke suasana waktu Lincoln mendewasa di desa itu. 5 buah rumah kiri kanan rumah bersejarah ini dipertahankan keutuhannya. 5 blok kawasan desa tetap seperti 2 abad silam. Jalanan masih berkerikil halus, tak boleh ada kendaraan lewat. Seluruh jalan blok diperuntukkan bagi pedestrian.</p>
<p>Penghuninya sedemikian rupa berpakaian seperti tahun-tahun Lincoln hidup disana 150 tahun berselang. Demikian juga dalam berbahasa, penduduk mempertahankan logat selatan dengan sangat kentara. Uwan sempat berbicara dengan penghuni salah satu rumah tetangga, seorang nenek, namun kesulitan memahami keseluruhan keterangannya.</p>
<p>Untuk menambah nilai plus wisata sejarah ini, diceritakan pula tentang masa muda Lincoln dan tentang masa pacarannya. Kuburan pacarnya yang meninggal pada umur 16 tahun, Ann Rutledge, diartikulasi sedemikian rupa dengan ungkapan dibatu nisannya : Here lies Ann Rudledge, the beloved soul of Abraham Lincoln. They are weded not by marriage, but by separation. Ya, mereka dipersatukan justru bukan lewat pernikahan, tapi karena perpisahan.</p>
<p>Indah sekali dan banyak para Oma dan gadis-gadis pengunjung menitikkan air mata. Ceritanya, saat kematian pacarnya itu, Lincoln sangat terpukul dan stress sehingga sempat menghuni rumah sakit gila selama 2 tahun. Kuburan pacarnya yang dinaungi pohan maple ini adalah bagian dari kemasan wisata yang akan selalu dikenang oleh para turis.</p>
<p>Saking banyaknya pengunjung kawasan rumah Lincoln ini, sampai-sampai dibangun hotel berbintang 5. Hotel Hilton, dan berbagai rantai perhotelan internasional dibangun untuk menampung jutaan pengunjung tiap tahunnya. Kunjungan turis yang mencoba memahami Amerika dengan mendatangi rumah Lincoln adalah bisnis besar jutaan dolar.</p>
<p>Pada kesempatan lain dalam kunjungan Uwan ke Washington, sekali waktu sempat juga berkunjung ke kuburan George Washington di kawasan Mont Vernon â€“ Virginia. Rumahnya besar sekali dan masih utuh 1764 kamar budaknya.</p>
<p>Pengelola rumah ini mempertahankan pohon yang tumbuh dihalamannya. Dapurnyapun masih asli. Istal kuda berderet-deret masih utuh. Diperlihatkan juga kamar tempat ia mulai pingsan dan ranjang kematiannya. Untuk mengkonservasi pohon-pohon asli, berbagai ahli didatangkan. Katanya, pakai disuntik segala. Begitu bangsa Amerika membangun sejarah masa depannya.</p>
<p>Di Bukittinggi, Sumatra Barat, rumah kelahiran Bung Hatta juga ada. Rumah Proklamator Republik Indonesia yang akan dikenang sepanjang masa berkat jasa-jasanyaÂ  seperti ada dan tiada. Bila tak jeli menengok ke kiri jalan kalau kita dari arah pasar Aua Tajungkang, niscaya akan kelewatan. Rumah itu sudah dikonservasi oleh Universitas Bung Hatta, tapi seakan terselip oleh bangunan beton ruko sebelah menyebelah.</p>
<p>Mengambil hikmah dari pengemasan paket wisata ke rumah Lincoln dan Washington diatas, sebagai kawasan wisata utama di Sumbar, nampaknya pemugaran rumah Bung Hatta saja tidak cukup. Idealnya, kiri kanan bangunan harus dibebaskan. Kembalikan ke suasana waktu Bung Hatta pernah mendewasa disitu. Berapapun ganti rugi, lebih baik dibayar saja oleh pemda.</p>
<p>Bangun kembali rumah-rumah dengan desain yang dulu ada. Jalan didepan rumah dikembalikan ke asal semula, mungkin hanya batu pecah bersusun saja. Mobil tak boleh lewat, mungkin hanya boleh bendi.<br />
Untuk tidak sekedar disebut membangun monumen, integrasikan perpustakaan Bung Hatta di Yogya dan di Bukittinggi ke kawasan itu. Kembangkan lagi produknya seperti pusat studi koperasi atau pusat pengembangan pemikiran Bung Hatta. Pikiran-pikiran visioner Bung Hatta dibenturkan dengan kenyataan ekonomi yang terpuruk sekarang dan kembangkan berbagai seminar nasional dan internasional untuk merumuskan rekomendasi kebijakan. Dan sebagainya, dan sebagainya.</p>
<p>Banyak sekali yang harus kita kembangkan berkaitan dengan manusia besar yang dilahirkan disini. Perlu nampaknya kearifan pengelola kota akan masa depan rumah Bung Hatta sebagai salah satu daya tarik kota Bukittinggi. Seriuslah sedikit.</p>
<p>(MM, 11092000)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uwansukri.com/index.php/2006/11/24/rumah-bung-hatta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
