Tentang Zukri Saad

sarwono.jpg

Oleh: Sarwono Kusumaatmadja

Setidaknya ada dua kekurangan dalam pendekatan pendidikan kita. Yang pertama adalah, bahwa orang dididik untuk menghafal. Tentu kemampuan menghafal ada segi positifnya, yaitu membuat orang terlatih ingatannya. Namun segi negatifnya adalah, bahwa pengetahuannya akan terbatas pada apa yang dihafal.

Dalam era informasi dimana memori sudah mampu disimpan dalam komputer yang kapasitas simpannya makin besar, sebetulnya orang tak perlu lagi menjadi penghafal. Yang perlu diasah justru ilmu dan seni memanfaatkan informasi tanpa perlu menyimpan informasi itu dalam benak kita.

Oleh karena itu, orang yang kemampuan intelektualnya terbatas pada hafalan, cenderung menjadi kolot dan dogmatis karena kemampuan orang menghafal selalu terbatas pada apa yang mampu dan mau diingatnya. Salah satu sebab kemunduran pendidikan di Indonesia adalah justru disebabkan oleh dominasi hafalan ini, yang menjadikan orang beku kreatifitasnya sekaligus menciptakan dogmatisme, kepicikan serta mengurangi kemampuan memanfaatkan informasi baru.

Yang juga tragis adalah bahwa, sang penghafal lantas dianggap pintar, sedangkan orang yang suka bertanya dan suka menyangsikan serta berminat pada temuan-temuan baru justru dianggap rewel, urakan atau bahkan bodoh. Ilmu-ilmu sosial yang seharusnya berkembang pesat dan penuh dinamika sejalan dengan dinamika global, menjadi beku dan tidak relevan karena pendekatan ilmu sosial menggunakan pendekatan hafalan. Oleh karena itu, orang-orang yang hafal, sekarang mulai tidak diminati lagi dibanding zaman lalu.

Orang kemudian menyangka bahwa kecerdasan diwakili oleh ilmu-ilmu eksakta, yaitu sains dan teknologi. Dalam ilmu-ilmu eksakta, ukuran kecerdasan bukan lagi terletak pada kemampuan menghafal, tapi pada kemampuan berfikir secara runtut, logis, yang ciri utamanya adalah kemampuan menghubungkan sebab dengan akibat. Mungkin itulah sebabnya, mengapa banyak pejabat tinggi kita berasal dari kalangan yang berlatar belakang ilmu eksakta.

Tapi amat menarik untuk diperhatikan bahwa mereka yang mampu berfikir logis ternyata tak juga selalu berhasil memecahkan masalah. Ekonomi kita menjadi morat marit antara lain karena kebijakan ekonomi dibuat oleh para ahli ekonomi yang berlatar belakang teknologi. Penyebab kegagalan logika dalam pengambilan keputusan menunjukkan kelemahan pendidikan logika di tanah air kita, yang terbatas mendidikkan logika linear. Dalam sistem ini orang dididik untuk hanya mempertimbangkan hubungan sebab akibat yang mempunyai korelasi langsung, serta membatasi hubungan sebab akibat itu secara vertikal.

Oleh karena itu, orang yang hanya mengandalkan logika linear berkurang kemampuannya untuk menghadapi situasi yang kompleks dimana berbagai variabel yang non rasional harus dipertimbangkan, dan dimana hubungan sebab akibat yang terjadi banyak dimunculkan oleh berbagai gejala yang sepintas lalu tidak kelihatan berhubungan.

Apa hubungannya ini semua dengan buku Imajinasi Sosial karya Zukri Saad? Karya tulisnya menarik karena menyajikan kepada pembaca observasi dari seorang yang bernama Zukri Saad tentang berbagai kejadian yang dialaminya, yang memberitahukan kepada kita tentang betapa dunia ini menyajikan banyak sekali kesempatan dan kemudahan yang hanya bisa dibatasi oleh imajinasi seseorang.

Bagi seorang penghafal serta penganut logika linear, krisis adalah jalan buntu. Bagi seorang Zukri Saad yang berfikir lateral horizontal, krisis adalah peluang terciptanya kesempatan-kesempatan baru. Krisis adalah kesempatan untuk membuang kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk, dan mengembangkan sikap-sikap baru yang lebih sesuai dengan realita hari ini. Demikian pula, krisis sekaligus membantu kita menciptakan realita masa depan.
Zukri memperlihatkan kepada kita bahwa sumber-sumber ilham bagi seseorang bisa ditemukan dari pengalaman sehari-hari. Zukri juga memperlihatkan kepada kita bahwa yang terjadi secara lokal, bisa saja berhubungan dengan kejadian lain, nun jauh disana.

Zukri Saad dan orang-orang sejenisnya, mulai menarik perhatian saya ketika menjadi pejabat tinggi semasa Orde Baru. Pada waktu itu saya memperhatikan bahwa ada beberapa orang yang kreatif, tampil beda, senantiasa optimistik, teguh dalam pendirian tetapi sekaligus juga sukses. Walaupun banyak hal dari pemerintahan Orde Baru yang tidak mereka sukai, demikian juga dari watak negatif orang Indonesia, mereka tidak menjadi pemberang. Namun sebaliknya, merekapun tidak menyerah untuk menjadi penurut.

Yang juga mengagumkan adalah, bahwa mereka produktif dalam bidangnya masing-masing sebagai pendidik, usahawan, seniman dan pegawai negeri. Mereka mempunyai jiwa yang merdeka, kreatif dan oleh karenanya disegani. Mereka juga sangat liat, tahan banting. Ada persamaan watak diantara mereka, senantiasa santun tetapi tidak pernah berusaha menyenangkan hati orang. Saya sangat betah dengan orang-orang semacam ini, dan persahabatan kami tetap lekat sampai sekarang.

Mereka sempat saya hadirkan dalam suatu diskusi di Harian Kompas, dimana mereka memperkenalkan karya dan jalan pikir mereka, menjadikan orang terperangah sehingga sejak itu Zukri dan kawan-kawan dikenal sebagai “orang-orang gila”.

Indonesia yang sedang sakit memerlukan lebih banyak orang-orang aneh semacam mereka supaya cepat sembuh, dan reformasi dibidang pendidikan diperlukan supaya apa yang hari ini aneh dan gila menjadi kelaziman di masa depan.

[Kredit foto: Sarwono.Net]

Leave a Reply