Berkebun di Laut

Mentawai tangkap udang.jpg 

Mengembangkan pemikiran tentang pelestarian sumberdaya laut dan pesisir nampaknya tidak pernah berhenti dilakukan oleh sejawat Uwan dari LP3M Makassar. Setelah bertahun-tahun mendampingi masyarakat di pulau-pulau yang berpenghuni di Taman Nasional Taka Bone Rate, Kabupaten Selayar dan pulau-pulau di kabupaten Pangkajene, kini mereka sedang merintis apa yang diistilahkannya sebagai Peperiber. Maksudnya pengembangan perikanan berkelanjutan. Taka Bone Rate merupakan kawasan terumbu karang terbesar nomor tiga di dunia. Untuk menjajakan konsep itu Uwan menemani petinggi LP3M, Bung Sufrie Laude dan Hermanto Azis, road-show ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Departemen Perikanan dan Kelautan. Respons cukup menggembirakan, paling tidak ada antusiasme dari kedua lembaga pusat itu.

Mengingat sudah banyak waktu dan tenaga dialokasikan untuk berinteraksi dengan masyarakat pulau-pulau, mereka merasa sudah saatnya melangkah naik kelas ke pendekatan lebih lanjut. Persiapan sosial dan kesiapan masyarakat untuk melestarikan terumbu karang sudah diyakini matang karena sudah melewati berbagai tahapan, antara lain pendampingan lebih dari 10 tahun, pemetaan partisipatif, perencanaan berjenjang, kesepakatan konservasi, menempatkan masyarakat sebagai pengambil keputusan publik, menyusun rancangan hukum, menetapkan daftar positif dan negatif bagi investor, sudah ada perda kabupaten dan saat ini masyarakat sudah merasakan manfaat konservasi bagi kehidupan ekonomi hariannya.

Melalui pendekatan serius, baik perorangan maupun secara publik melalui seminar, pelatihan dan kunjungan perbandingan ke Filipina, akhirnya Kabupaten Pangkajene dan Selayar setuju untuk mengembangkan upaya baru pengembangan perikanan berbasis budidaya alami itu. Konsep Peperiber ini merupakan pendekatan sama sekali baru dimana alam diharapkan secara mandiri mendukung budidaya berbasis terumbu karang. Tak memerlukan input tambahan dari luar. Intinya, daya dukung ekosistem terumbu karang dimanfaatkan untuk budidaya. Daya dukung alam yang tinggi bila ekosistem terumbu karangnya lestari, sebaliknya terumbu karang yang hancur atau dihancurkan oleh perilaku manusia, daya dukungnya rendah dan itu tak relevan dengan penerapan konsep ini. Peperiber boleh dikatakan hadiah berkelanjutan bagi masyarakat pulau yang telah memiliki kesadaran memelihara kelestarian terumbu karangnya. Kata kunci keberhasilan pendekatan ini adalah bila terumbu karangnya lestari akan mampu memasok makanan untuk budidaya.

Singkatnya, Peperiber merupakan suatu unit berteknologi canggih yang dibangun di pulau atau rangkaian pulau-pulau yang memiliki terumbu karang lestari atau yang selama ini berhasil dilestarikan masyarakat. Pilihan pilot model adalah pulau Tarupa, Rajuni dan 21 pulau-pulau di Taman Nasional Taka Bone Rate di Kabupaten Selayar serta beberapa pulau di basis Gondong Bali dekat taman wisata laut Kapppoposang Kabupaten Pangkajene.
 
Pilihan pulau-pulau untuk Peperiber ini merupakan hasil dialog panjang bertahun-tahun dengan masyarakat pulau. Bertahun-tahun mimpi bersama dirajut, khususnya untuk peningkatan ekonomi berkelanjutan. Generasi sekarang dan turun temurun untuk anak cucu.

Peperiber ini adalah pusat pembibitan sumberdaya perikanan, khususnya multi-spesies yang bernilai ekonomi tinggi. Katakanlah pembibitan ikan karang sejenis kerapu tikus yang 70 dollar perkilogram di pasar Hongkong, ikan baronang untuk kebutuhan lokal sepanjang tahun, tripang, lobster sampai kerang mutiara dan kima. Hermanto Azis adalah praktisi budidaya kerang mutiara yang lama bekerja dengan perusahaan Jepang di Banda Neira dan Lombok.
Untuk tahap awal, Peperiber akan memproduksi 350.000 bibit kerapu tikus dan lobster pertahun. Bibit yang cukup pembesaran akan dimasukkan ke kawasan terumbu karang, mereka mengistilahkan re-stocking. Karena habitatnya ada di terumbu karang, maka diperkirakan bibit itu tidak akan kemana-mana. Kawasan terumbu karang ini dipelihara dan dijaga masyarakat secara kontinu dan inilah yang disebut sebagai aktifitas berkebun di laut.  Perhitungannya, belum satu tahun sudah boleh mulai dipancing. Masyarakat dipersilahkan memancing sepuasnya, lalu menyetor hasilnya kepada punggawa. Beberapa ekor ikan kerapu tikus tangkapan perhari sudah bisa menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi.
 
Punggawa adalah pihak pembeli lokal yang disepakati bersama dan harga perkilogram hasil sudah disepakati sebelumnya sejalan dengan semangat transparansi. Tentu mengacu kepada harga internasional di pelabuhan perikanan Hongkong, setelah dipotong ongkos dan marjin keuntungan bagi punggawa. Punggawa dengan armadanya membawa hasil itu langsung ke pasar Hongkong, Taiwan, Jepang dan Singapura. Bagi kita di Sumbar mungkin masih mimpi, pedagang bisa langsung membawa hasilnya ke pasar internasional. Tapi bagi masyarakat Sulsel, ada puluhan punggawa yang juga berperan sebagai international trader.

Jadi instrumennya, peperiber untuk memasok bibit ke alam, terumbu karang yang lestari, kesiapan sosial masyarakat untuk mengelola sumberdaya alam dan infrastruktur pemasaran yang langsung ke pasar internasional. Peperiber ini layak untuk dikembangkan di berbagai lokasi di Indonesia mengingat negara kita memiliki 1/8 jumlah luasan terumbu karang dunia. Apakah Sumbar punya potensi itu, terpulang kepada pihak-pihak yang berkompeten untuk merumuskannya. Yang jelas, peperiber merupakan peluang untuk meningkatkan ekonomi nelayan secara berkelanjutan.        

Leave a Reply