Manajemen Bencana

DSCN3566.JPG 

Akhir minggu di akhir Juni 2001 Uwan ikut rombongan mengantar sumbangan pembaca Mimbar Minang ke propinsi bencana gempa Bengkulu. Banyak pengalaman mengharukan ditemui. Rumah-rumah penduduk, bangunan pemerintah maupun swasta banyak yang hancur. Korban meninggal cukup banyak, ratusan pula yang luka berat dan ringan. Fasilitas publik umumnya mengalami gangguan.Dari tingkat kerusakan yang ditimbulkan, bencana di propinsi Raflesia ini bisa dikatagorikan bencana nasional. Selayaknya penanganan gempa ini dikelola secara profesional oleh pihak yang berstandar prosedur nasional pula. Logikanya, penanganan itu pasti sedemikian rupa efektifnya, sehingga meringankan beban yang diderita.
Keharuan makin mengharu-biru karena Satkorlak yang merupakan badan yang berwenang mengelola penanganan dimaksud nyatanya sangat mengecewakan. Satkorlak yang konon ber-SK resmi itu bekerja lebih parah dari dugaan. Banyak antisipasi diselenggarakan secara amatiran, kurang metodologis, tidak mampu menggerakkan masyarakat dan sudah barang tentu banyak yang tidak tepat sasaran. Pantauan Uwan dari lokasi antara lain :
• Satkorlak kurang koordinasi sehingga baru mulai bekerja pada H+4 setelah mendapat reaksi keras dari segala arah. Cukup memalukan lagi, justru tim internasional lebih duluan bergerak dan menyalurkan dukungannya. 
• Karena keamatirannya, Satkorlak menetapkan korban berdasarkan demografi saja sehingga banyak antisipasi salah alamat. Bantuan didistribusi secara merata mengandalkan aparat pemerintah yang tidak berkapasitas, sehingga banyak terjadi kesimpangsiuran. Korban berat di banyak tempat sangat butuh pertolongan, justru korban ringan dekat kota yang memperoleh fasilitas.
• Komitmen moral anggota Satkorlak untuk bekerja penuh semangat kerelawanan sangat rendah sehingga banyak terjadi antisipasi yang kurang sehat. Banyak penyimpangan terjadi karena lebih mementingkan pribadi daripada menolong korban.
• Lebih mengharukan Satkorlak menegasikan partisipasi masyarakat dalam penanganan bencana dan menganggap inisiatif masyarakat untuk menolong korban sebagai kelompok liar (wawancara Kapolda di RCTI). Karena berprestasi, jaringan 17 LSM seperjuangan Uwan disana yang dinilai liar itu akhirnya dicoba dirangkul oleh Pemda, namun mereka menolak bergabung dengan Satkorlak karena menilai tidak akan mungkin bekerja optimal.
• Kekurangprofesionalan dan arogansi Satkorlak, banyak disorot. Akibatnya dukungan  justru disalurkan kepada kelompok masyarakat yang dinilai bekerja lebih efektif. Jaringan Uwan mendapatkan berbagai komitmen internasional, khususnya untuk rehabilitasi paska bencana.
Atas dasar pertimbangan itulah, bantuan pembaca Mimbar Minang diserahkan kepada Komisi Penanganan Gempa Bengkulu (KPGB) dan Ikatan Keluarga Minang (IKM) Peduli. Kedua kelompok ini dinilai efektif menyalurkan bantuan tersebut dan memiliki informasi tentang kebutuhan korban. Terbukti, siang bantuan diserahkan sorenya sudah dikapalkan ke Pulau Enggano.
Sumbar suka atau tidak suka sekali waktu akan terkena bencana pula. Entah kapan karena bencana memang tidak mungkin direncanakan. Namun antisipasi berbentuk manajemen bencana jelas perlu, antara lain dengan  memperhatikan :
• Satkorlak lebih  berfungsi koordinatif ketimbang struktural komando seperti yang berlaku selama ini. Keanggotaan inti sebaiknya terbatas, terdiri dari orang/ instansi berkomitmen moral tinggi dan terbukti memiliki semangat kerelawanan yang besar (tidak asal pejabat). Anggota inti sedikitnya mempunyai kemampuan rescue dan seorang networker.
• Satkorlak tak mungkin bekerja sendirian, ia perlu dukungan berbagai lapisan anggota masyarakat. Untuk itu perlu mengakomodasi partisipasi masyarakat, dengan membentuk simpul-simpul resmi di tiap desa/ kelurahan yang terkoordinasi efektif dalam bentuk jaringan sumber daya.
• Membangun komunikasi intensif dengan simpul-simpul dan mengembangkan mekanisme hubungan yang senantiasa dalam kewaspadaan (early warning network system). Membuat peta koordinasi menyangkut orang, wilayah dan kapasitas personal untuk setiap saat bisa digerakkan.
• Mengembangkan mekanisme kerja sedemikian rupa sehingga dipercaya masyarakat (azas transparansi dan akuntabilitas).Pada akhirnya, manajemen bencana adalah manajemen menggerakkan jaringan sumber daya yang efektif untuk mengantisipasi bencana. Harapannya, Satkorlak Sumbar jangan mengulangi kesalahan yang sama dengan Bengkulu. Sebuah kesalahan yang luar biasa mengharukan. 
 

Leave a Reply