Melihat Ceruk
Ferdimet Abadi, adik Uwan wirausahawan unik kelahiran Kumpulan – Bonjol yang berusia 43 tahun itu memang lain. Pria yang selalu berpakaian rapi ini menguasai tujuh bahasa dunia yaitu bahasa Inggris, Jerman, Italia, Jepang, Thailand, Perancis dan Belanda yang membuatnya terkatagori warga kosmopolitan. Hal mana tercermin dari perjalanan hidupnya dan kegiatan bisnis yang kini ditekuninya. Salah satu bisnis utama yang kini tengah giat dikelolanya langsung adalah menjual rumah meditasi bongkar pasang berbahan jati bekas (knock-down recycle teakwood meditation room) yang pemasarannya luas ke mancanegara dan dipasarkan melalui internet.
Â
Ferdimet jeli melihat relung atau ceruk peluang pasar (niches market) dimana rumah unik itu dikemasnya dalam dalam produk rumah semedi (meditation room), yang dijualnya ratusan ribu dollar per-unit ke konsumen yang beragama Budha dan Hindu. Konsumennya tersebar di Eropah diantaranya Inggris, Belanda, Jerman dan di Amerika Serikat terutama Hawaii dan California. Tren masyarakat global yang mendambakan kembali ke suasana relijius adalah pasarnya yang strategis. Tahun lalu pemasarannya meluas, ia menjual beberapa unit rumah jati bekas ini ke konsumen orang kaya pemilik pulau-pulau di kepulauan Karibia. Hal mana membuatnya harus bolak balik kesana, beberapa kali dalam setahun. Uwan dikiriminya kartu pos bergambar rumah yang sudah terpasang di atas pasir putih pinggir pantai. Eksotis sekali.
Â
Ia merancang prosesi pemasaran rumahnya sedemikian rupa. Konsumen yang umumnya beragama Budha harus datang ke lokasi workshopnya di Bojonegoro untuk mengikuti acara bongkar pasang dan selanjutnya mengikuti kontainer ke Tibet. Di Tibet, rumah semedi dipasang kembali untuk kemudian bersama pemiliknya ditepung tawari oleh seorang Lhama dalam sebuah upacara ritual Budhis. Mungkin berikut kembang tujuh rupanya. Selesai di Tibet, rumah itu dikirim ke California untuk dipasang permanen. Namun katanya akhir-akhir ini ada perubahan, prosesi ke Tibet tidak efektif dan makan waktu sehingga produk di tahun-tahun terakhir ini acara tepung tawarnya cukup dilakukan di Bali saja. Hal mana lebih menguntungkan karena dalam hal ukiran kayu untuk ornamen lanjut, Bali lebih unggul dari Tibet.
Hari-hari Ferdimet dipenuhi oleh gagasan, bagaimana ceruk pasar diperluas sehingga disamping meningkatkan volume eksport, pasar dalam negeri-pun tidak kalah menantangnya. “ Di Indonesia sudah mulai ada segolongan masyarakat yang tidak memerlukan barang tapi menginginkannya, tinggal bagaimana menawarkan gagasan dan produk berselera kepada merekaâ€, katanya dalam suatu komunikasi telepon kami di awal Desember 2003 lalu. Makanya, ia memperluas bahan daur ulang tak terbatas jenis kayu Jati saja, sudah mulai masuk ke kayu Ulin bekas dermaga tua atau kayu Merbau bekas kapal-kapal kayu yang karam. Kini sudah ada produknya yang dibeli konsumen nasional dari Jakarta, Bandung dan Surabaya.
Pria yang mempertahankan rambut gondrong dan kesehariannya senang berpakaian etnik ini langsung terjun membeli rumah jati di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan kisaran harga per-unit 7 juta sampai 1,2 milyar. “Tergantung estetika, tidak sekedar material saja†katanya. Adakalanya rumah sedang berdiri dibeli mahal karena estetikanya berselera sehingga sedikit sentuhan akhir akan memberi nilai tambah sangat tinggi.
Ferdimet membeli sebidang lahan seluas 1 hektar yang sudah ada bangunan gudang bekas penjemuran tembakau di kabupaten Bojonegoro untuk dijadikan bengkel kerja/ workshop. Seluruh barang daur ulang dikirim kesana, dibiarkan berjemur adakalanya sampai satu tahun sebelum diolah. Dari workshop yang didukung oleh 4 arsitek dan 120 karyawan pengrajin asal Bali dan Jawa Timur ini produk unik hasil imajinasi Ferdimet mengalir ke mancanegara. Tahun 2001 yang lalu, untuk mendukung aktifitasnya, ia membangun show-room di Seminyak, dekat pantai Legian Bali. Tidak tanggung-tanggung, luasnya 7000 meter persegi, berlokasi di pusat wisata dunia. Showroom dibutuhkan karena produknya tidak hanya rumah daur ulang saja, tapi sudah merambah ke produk mebelair antik, pembatas ruang, pajangan ukiran kayu sampai tempat tidur desain zaman Majapahit.
Tentulah tentu dolar mengalir ke kocek Ferdimet. Namun yang Uwan lihat ia lebih menikmati hasil endusannya, mata kewirausahaan yang melihat ceruk sangat kecil ditengah ketatnya pertarungan dunia usaha. Ferdimet akan berbinar matanya membahas peluang-peluang yang tidak dipikirkan orang lain. Nampaknya ia akan terus begitu, entah sampai kapan.  Â
Â