Mempersiapkan Bibit

Belakangan baru Uwan paham bahwa politik pertanian kita di era Orde Baru dulu memihak kepada pangan dan itu umumnya fokus ke dataran rendah, khususnya padi, jagung dan kedele. Untuk dan atas alasan kestabilan politik, berbagai sumberdaya diarahkan kepada peningkatan produktifitas pangan. Stabilitas politik yang dibutuhkan untuk merealisasi pembangunan Indonesia, salah satunya dikembangkan melalui program stabilitas pangan. Sektor perut dan konsumsi yang mencukupi akan meredam keresahan rakyat yang pada gilirannya akan mendatangkan rasa aman sehingga stabilitas politik bisa dicapai.

Untuk itu, berbagai fasilitas pendukung pertanian tanaman pangan seperti manufaktur pupuk dan pestisida, kemudahan kredit perbankan lewat berbagai skim yang menguntungkan, infrastruktur seperti gilingan padi dan pegudangan, BIMAS, INMAS serta berbagai bentuk fasilitas lainnya telah diarahkan secara besar-besaran ke sektor ini. Intensifikasi dan ekstensifikasi produk pangan yang agresif itu akhirnya membuahkan swasembada pangan pada sekitar 1984 yang sempat mengharumkan nama Indonesia dimata internasional. Kalau Uwan tak salah ingat, Presiden Suharto mendapat kehormatan menjadi pembicara utama dalam forum PBB di Roma, menceritakan pengalaman Indonesia mencapai swasembada itu. Hal mana ingin dikembangkan lagi pada tahun 90-an dengan menetapkan program nasional pembukaan lahan sejuta hektar di propinsi Kalimantan Tengah.

Akibat seluruh perhatian dan potensi diarahkan ke sektor pangan dataran rendah ini, potensi dataran tinggi nyaris tidak tergarap sama sekali. Petani dataran tinggi berkembang secara naluriah belaka. Mereka hanya meniru pola bertani tempat lain, termasuk mencontoh komoditi apa yang dikembangkan diwilayah lain itu. Tanpa fasilitas sama sekali, petani mengembangkan komoditi sayur-sayuran dan umbi-umbian. Kalau nasib baik, petani akan untung besar karena putaran usaha umumnya sangat pendek. Berkisar 1 sampai 4 bulan saja. Kalau nasib jelek, waktu panen harga rendah, maka petani harus gigit jari dan memulai kembali usahanya dari nol. Padahal, kalau ada infrastruktur pendukung sejenis bangunan berpendingin, tentu kerugian dapat dihambat. Pengalaman menunjukan, fluktuasi harga waktunya sangat pendek. Hari ini misalnya harga komoditi cukup tinggi, lusa bisa saja anjlok drastis. Tapi minggu depan kembali naik tinggi. Kehadiran gudang berpendingin mestinya dapat membantu petani untuk menyimpan sementara hasil karyanya, menunggu harga membaik. 

Waktu Uwan panen raya beberapa komoditi sayur-sayuran akhir Oktober 1999 yang lalu misalnya, nasib sial sejenis itu Uwan alami. Uwan jadinya bangkrut total karena walau panen cukup berhasil, tapi harga rendah sekali. Bayangkan harga kol meluncur ke angka 40 rupiah perkilogram, sedangkan ongkos angkut dari kebun ke tepi jalan saja sudah 50 rupiah tiap kilonya. Akan lain halnya bila tersedia sarana pendukung penyimpanan sementara menunggu harga membaik. Petani rasanya bisa menyewa ruang pendingin yang dipakainya, katakanlah beberapa belas ribu rupiah untuk tiap kubik produk.

Hampir tidak adanya sarana prasarana pendukung itu, tidak membuat Uwan kapok bertani. Karena sudah mengidentifisir diri sebagai petani, tentu malu untuk menyerah. Sudah bagi-bagi kartu nama lengkap ke seluruh relasi, kalau berhenti apa kata dunia. Tentu kawan-kawan yang sudah Uwan tinggalkan di dunia advokasi LSM akan tersenyum simpul dibalik punggung, membisikkan : petani ni yee.
 
Makanya, bersama 4 orang sejawat yang memiliki pemahaman sama, kami mengumpulkan modal dan memulai lagi bertani. Kami mengawali dengan mengembangkan infrastruktur pembibitan. Bibit merupakan faktor terpenting kalau ingin hasil yang maksimal. Kami meyakini, bibit yang baik akan menghasilkan produktifitas tinggi dan pada gilirannya akan mensejahterakan petani. Untuk tahap awal kami fokus membibitkan kentang. Ada beberapa jenis kentang yang dikenal umum petani di Alahan Panjang dan di lereng Merapi Singgalang, kami bawa ke laboratorium kultur jaringan untuk di muliakan. Istilahnya, kembali ke generasi awal yang disebut G-nol. Ada jenis yang umum ditanam seperti Granola, kentang batang hitam (populer di Agam disebut kentang Cingkariang), kentang berkulit merah yang disebut Desiree eks Jerman serta jenis  bibit baru eks Polandia yang dikenal dengan nama kentang Panda. Kentang Panda akan kami fokuskan untuk ditanam di Curup – Bengkulu.

Hasil pemuliaan ke generasi nol ini kami tanam dalam rumah kelambu/ screen house, untuk di regenerasi ke G satu dan seterusnya. Hasilnya cukup menjanjikan, kini kami sedang dalam proses menuju G dua. Bibit kelas G tiga kelak akhir tahun akan kami lempar ke petani untuk ditanam serius di lahannya. Perkiraan, produktifitas paling tinggi akan diperoleh petani bila menanam G3 sesuai prosedur dan didukung cuaca baik. Katakanlah bila satu ton ditanam, Insyaallah akan menghasilkan sedikitnya 40 ton lebih. Bandingkan, selama ini petani hanya memperoleh hasil sekedar 10 – 12 ton.

Dengan memperhitungkan kebutuhan petani dataran tinggi Sumatera (Solok dan Agam, Curup, Kerinci dan Brastagi) sekitar 6000 ton bibit pertahun, Uwan dan kawan-kawan pada saatnya kelak akan memperoleh posisi bebas finansial. Artinya, sudah boleh mengklaim diri sebagai petani berdasi.

Leave a Reply