Oleh Adi Sasono
Saya sebagai kawan lintas generasi, mengenalnya dan menghormatinya sebagai aktifis mahasiswa di Bandung yang menolak membungkuk pada kekuasaan otoriter di paro dua tahun 70-an. Orang semacam dia sungguh tidak banyak, apalagi di puncak kekuasaaan rejim yang menganut paham pemusatan kekuasaan politik dan ekonomi.
Pada umumnya orang cenderung membungkuk pada kekuasaan, lantaran risiko nyata yang akan menghadangnya kalau seseorang menolak menyesuaikan diri. Sebagian kaum terpelajar bahkan condong mendukung dengan kepakarannya, karena itulah jalan selamat meniti karir, atau sekadar untuk memperoleh kehidupan sebagai “abdi dalemâ€, hamba kekuasaan.
Kaum terpelajar inilah yang kemudian berjasa membuat “pembenaran ilmiah†tentang teori pembangunan ekonomi yang memihak kepentingan modal besar yang menghasilkan makin kokohnya persekutuan pusat-pusat kekuatan ekonomi dan politik mapan.
Pada gilirannya lingkungan hidup menjadi korban karena keserakahan modal besar dan ketidakpedulian sosial, seiring dengan makin kuatnya paham yang materialistis, penyembahan benda. Kita menyaksikan kemudian kesenjangan sosial yang melebar, yang kaya tambah kaya dan yang miskin tambah anak. Nilai-nilai kebersamaan cenderung tergusur, dalam kehidupan sosial yang makin sulit dan kompetitif.
Ada tiga model reaksi dari mereka yang menolak ikut arus. Pertama, kaum oposisionalis, yang dengan geram menolak dan marah, yang menghasilkan pendekatan hitam-putih. Merekalah yang dengan kepala tegak menolak kerjasama dalam bentuk apapun dengan penguasa.
Sayang sekali pendekatan ini sungguhpun amat berjasa untuk menjaga standar moral kebenaran, dan dengan tegas membedakan yang salah dan yang benar, menjadi tidak efektif di tengah kecenderungan sosial yang membungkuk kepada kekuasaan.
Namun demikian, saya berpendapat kelompok inilah yang paling berjasa memelihara api idealisme. Mereka memilih “berjuang dari luarâ€. Menolak membungkuk. Jasanya tidak bisa diukur dalam jangka pendek, sebab perubahan politik ke arah sistem yang demokratis, dari masyarakat yang agraris feodalistis, adalah proses belajar sosial yang panjang. Tanpa kelompok ini, gerakan untuk meluaskan kesadaran kolektif ke arah perubahan sulit dibayangkan.
Kedua, kelompok institusionalis. Logika kelompok ini bertolak dari anggapan kokoh tegarnya stuktur kekuasaan yang ada. Ia tidak hanya didukung oleh kekuatan monopolistik modal besar dan aparat represi, tapi juga oleh budaya sosial yang feodalistik-paternalistik. Karena itu, kelompok ini berpendapat perlunya berjuang “dari dalamâ€, merubah dari dalam.
Dalam kelompok ini memang tidak dapat dihindarkan masuknya orang-orang yang dasarnya lemah-hati dan mungkin juga oportunistik, yang menggunakan logika ini untuk sekedar membenarkan rasa ketidakberdayaannya terhadap keperkasaan kekuasaan. Kita menyaksikan memang banyak dari mereka yang “berjuang dari dalam†tetap idealistis.
Namun, agaknya lebih banyak lagi yang larut dalam mekanisme penundukan, karena alasan material maupun karena mengejar pangkat. Tiga dasawarsa kehidupan kebangsaan kita memang mengajarkan “yang ingin merubah dari dalam ternyata banyak yang dirubah didalamâ€.
Kedua kelompok di atas, bertolak dari pandangan bi-polar. Kita-mereka, lawan-kawan, berjuang dari luar atau dari dalam. Memang dari semula selalu muncul pertanyaan, benarkah berjuang dari luar lebih efektif dibanding berjuang dari dalam?
Saya tidak bermaksud membuat penilaian. Kebenaran pilihan politik memang perkara relatif, dan biarlah nurani masing-masing pelaku yang menjawab.
Dalam situasi inilah, memang sejak semula selalu ada orang-orang yang sulit untuk dikategorisasi. Kritik terhadap dua kategori tersebut adalah, sifat pengelompokannya yang dipandang menyederhanakan msalah dalam pendekatan bi-polar, “berjuang dari luar atau dari dalamâ€, takkala kenyataan hidup tercampur dalam berbagai peristiwa dinamis yang sungguh kompleks.
Karena itu muncul cara melihat dari kacamata kesinambungan pikiran dan tindakan seseorang, suatu pendekatan dari sudut konsistensi seseorang, yang bisa saja ia berada “diluar†atau “didalam†sistem. Inilah yang saya sebut pendekatan â€uni-polarâ€. Pendekatan ketiga ini tidak mendikotomi seseorang di dalam atau di luar sistem. Yang diuji adalah konsistensinya. Dalam bahasa agama, istiqamah.
Seseorang dalam kehidupan duniawi yang singkat ini, senantiasa dalam ujian godaan pangkat, popularitas maupun rangsangan material. Seseorang bisa dinilai dalam proses waktu, apakah ia membungkuk kepada kekuasaan politik atau keperkasaan uang atau gabungan keduanya, atau ia seseorang yang istiqamah.
Saya berpendapat Zukri adalah tipe manusia isqtiqamah. Perjalanan hidup selama lebih dari dua dasawarsa, yang penuh warna, menjelaskan kepada kita, tentang garis jalan lurus, sikap istiqamah yang membuatnya menjadi manusia merdeka. Ia bisa merdeka karena tidak tunduk kepada godaan duniawi, mungkin dalam perjalanan yang tidak senantiasa berwujud garis lurus, namun arahnya jelas.
Buku ini berkisah tentang warna warni soal hidup dalam perspektif pemihakan kemanusiaan yang kritis namun dengan ide positif. Zukri bicara dari soal sampah sampai ke perkara E-town. Itulah wajah manusia merdeka, Zukri Saad. Saya merasa terhormat untuk memberi pengantar buku rekan muda saya yang istimewa ini. Zukri selamat berjuang !
Jakarta, 17 September 2001
[Kredit foto: Tempo Interaktif]