Abang Syukri, Kenangan Asrama Banuhampu

Oleh : Syafriwal Achmad

Melakukan reka-ulang masa lampau beresiko. Kita bisa terjebak dengan upaya interpretasi kekinian untuk menggambarkan masa lalu. Interpretasi kekinian ini bisa jadi terlepas dari kontek nyata saat itu. Mudah-mudahan tulisan ini tidak meleceng jauh dari nuansa apa adanya masa lalu penulis dengan Bang Syukri.

Saya mulai mengenalnya di Bandung, walau berasal dari kampung yang sama, Banuhampu. Saya memanggil Bang Syukri kepadanya. Kebetulan saya SMA di Bukittinggi dan Bang Syukri dari Padang. Kampung halaman kami nan indah dan subur, bersempadan dengan kota Bukittinggi. Terbentang diantara Gunung Marapi dan Gunung Singgalang. Terkenal dengan sayur-mayur dan sumber air bersih, pemasok air minum ke kota Bukittinggi. Kami sama-sama dibaok untuang merantau menuntut ilmu ke Bandung dan bertemu di Asrama Banuhampu.

Kota Bandung sangat menarik minat siswa SMA Bukittinggi. Waktu libur perkuliahan, alumni yang kuliah di ITB, pulang kampung dan akan mampir kesekolah untuk bernostalgia dan untuk berbagi pengalaman kuliah dirantau. Sekaligus promosi betapa menariknya kuliah di ITB. Bang Syukri mestinya juga menerapkan hal yang sama di bekas sekolahnya di Padang.

Siswa kelas 1, yang baru masuk SMA 1 Bukittinggi, sudah diikut sertakan dalam pertemuan dengan para Alumni. Para guru dengan antusias mendorong siswa ikut pertemuan untuk memotivasi agar belajar lebih giat. Keberhasilan diterima di perguruan tinggi utama merupakan kebanggaan sekolah.

Setelah duduk di kelas 2, sangat membanggakan melihat senior yang tahun lalu masih kelas 3, sekarang sudah menjadi mahasiswa ITB. Dan dia datang kesekolah untuk berbagi pangalaman, bagaiman rasanya kuliah. Hebat sekali, tahun lalu dia masih ada di SMA ini, di Bukittinggi, bertemu setiap hari, sekarang sudah menjadi mahasiswa dan mahasiswa ITB lagi. Tentu mereka bangga, menceritakan ITB dan bandung yang dingin mirip cuaca Bukittinggi.

Pertemuan dengan alumni membekas sangat mendalam. Memberi semangat dan memperlihatkan dengan nyata bahwa ITB itu bisa dijangkau. Berkuliah ke Bandung bukan fatamorgana, itu bisa raih. Jadi Mahasiswa ITB, sesuatu yang sangat mungkin. contohhya suda ada dan makin banyak, sudah terlihat dan ada didepan mata siswa-siswi SMA.

Walau seolah-olah dalam jangkauan, menggapai ITB tentu perlu kerja ekstra keras. Tantangan sangat berat, harus bersaing dengan lulusan SMA seluruh Indonesia. Untungnya semenjak kelas satu, ada saja teman yang punya soal-soal ujian masuk ITB dan UI, kiriman dari saudaranya yang sudah lebih dahulu kuliah. Dan soal-soal ujian itu sudah dibahas semenjak kami berada di kelas 1.

Saya bertekad pergi merantau ke tanah Jawa. Dorongan semangat dari kawan-kawan juga ikut mempengaruhi. pilihannya adalah Bandung, tidak terpikir untuk kuliah di Padang. Pendorong lainnya adalah adanya Asrama Banuhampu di Bandung, sehingga tempat menetap sementara sudah tersedia.

Setamat SMA, dengan kawan-kawan seangkatan kami berangkat naik bus dari Bukittinggi menuju Padang. Dari Padang ke Jakarta naik pesawat udara dan dari Jakarta ke Bandung naik kereta. Dan kemudian langsung ke Asrama Banuhampu di Jalan Cisitu Baru no. 16. Saat itu, mulailah kehidupan baru, rantau kota Bandung.

Disambut oleh senior dengan sangat baik dan bersahabat. Salah satu senior yang ikut menyambut itu adalah Bang Syukri, senior dengan kumis yang khas.  Penerimaan yang bersahabat ini menghilangkan rasa canggung dengan lingkungan baru perantauan. Apalagi setelah datangnya kawan-kawan SMA 1 Bukittinggi dan rombongan dari Jakarta, Surabaya dan daerah lain yang senasib untuk berjuang melanjutkan pendidikanke Bandung.

Asrama disediakan untuk mahasiswa baru. Calon mahasiswa yang datang ke Bandung sudah ada tempat menetap. Setelah satu tahun, harus siap-siap cari kontrakan, akan datang calon mahasiswa baru berikutnya. Hal ini sudah menjadi tradisi, begitulah siklus kehidupan di Asrama. Biasanya mahasiswa baru yang diterima diperguruan tinggi di Bandung tidak mengisi penuh kapasitas kamar. Jadi akan selalu ada campuran penghuni mahasiswa baru dan mahasiswa lama yang umumnya mahasiswa tahun kedua atau tahun ketiga .

Setelah meninggalkan asrama, kebanyakan penghuni Asrama mencari tempat tinggal disekitar Asrama. Ada yang di rumah sebelah Asrama, ada yang menyewa rumah bersama-sama dan ada juga yang mengontrak perkamar diluar Asrama. Untuk yang kuliah di ITB pada waktu itu, ada pilihan Asrama ITB yang lokasinyadisekitar kampus Ganesha.

Bagi mereka yang tinggal dekat Asrama Banuhampu, alamat surat menyurat masih tetap di jalan Cisitu Baru 16. Asrama selalu ramai dikunjungi oleh senior yang datang ke Asrama untuk baca koran, atau menunggu pak Pos menanti kiriman surat atau umumnya wesel dari orang tua di awal bulan.

Kehidupan di Asrama itu sangat bersahabat. Ada beberapa kegiatan asrama yang ikut mempererat rasa kebersamaan diantara anggota dan para alumni. Kegiatan yang sangat berkesan bagi penulis, antara lain penerimaan mahasiswa baru, wisuda anggota senior yang tamat dan acara jalan-jalan diakhir tahun atau waktu libur panjang. Acara jalan-jalan ini rasanya juga favorit bagi Bang Syukri. Kalau melihat lagi foto-foto nostalgia diacara hura-hura ini, dipastikan selalu ada Bang Syukri.

Bagi penulis acara wisuda senior yang tamat, mempunyai kesan yang sangat berarti dan menjadi pemicu untuk belajar dengan serius. Mereka telah membuktikan jerih payah selama ini. Datang jauh-jauh, belajar dengan tekun, tegar menghadapi tantangan, dan umumnya berhasil. Kemudian mereka pergi meninggalkan Bandung, bekerja sesuai dengan pilihan masing-masing dan selanjutnya hidup mandiri. Inilah contoh yang harus diteladani.

Banyak mahasiswa Banuhampu di tahun 60-an dan 70-an, yang merupakan generasi awal dikeluarga mereka yang melanjutkan pendidikan ke tanah Jawa. Keadaan ekonomi orang tua dikampung boleh dikatakan pas-pasan serta punya adik-adik yang juga butuh biaya pendidikan. Kondisi ini bagi anggota Asrama sudah sama-sama dimaklumi. Jadi kalau ada kawan yang kiriman weselnya terlambat, kawan yang lain pasti akan membantu.

Bang Syukri kuliahnya satu tahun lebih duluan dari Saya. Beliau Jurusan Kimia 76 dan penulis Jurusan Mesin77. Yang penulis ingat dari Bang Syukri adalah kumisnya, kalau datang keasrama pakai sepeda motor dan selalu membawa tas. Sepeda motor merupakan barang mewah hanya sedikit senior yang punya. Bang Syukri level kehidupannya sedikit lebih tinggi dari kami-kami yang dari kampung. Walaupun begitu, beliau beliau tetapramah, suka bergaul. Bisa akrab dengan anggota Asrama yang lebih senior maupun yunior yang baru datang.

Saya mengamati, para senior punya kegiatan ekstar kurikuler sesuai minat dan bakat masing-masing. Ada yang ikut kegiatan keagamaan di Mesjid Salman, ada yang ikut resimen mahasiswa Mahawarman, ada yang aktif di Liga Film Mahasiswa bioskopnya anak ITB. Ada yang ikut Marching Band, dan ada juga yang ikut kegiatan organisasi di jurusan mereka atau keterusan ikut berorganisasi ke level tertinggi : Dewan MahasiswaITB.

Berorganisasi adalah hobby Bang Syukri, banyak yang diikutinya. Baik kegiatan ekstar kurikuler maupun kegiatan kemasyarakatan. Sepengetahuan saya, beliau tidak terlalu banyak ikut kegiatan keagamaan di Mesjid Salman, atau kegiatan kesenian. Tentu saja bukan berarti tidak berminat dalam urusan agama atau tidak punya jiwa seni, cuma lebih tertarik saja pada kegiatan berorganisasi.

Sebagai seorang senior, Bang Syukri adalah panutan mahasiswa baru dalam berorganisasi, latihan kepemimpinan, dan kegiatan bermasyarakat lainnya. Salah satu kegiatan yang sangat berkesan, yang dimotorinya adalah penerbitan (kembali) Majalah Gelora. Majalah bulanan yang diterbitkan anggota dan Alumni Asrama Banuhampu untuk disebarkan kemasyarakat Banuhampu terutama para alumni yang pernah kuliah atau tinggal di Bandung.

Majalah ini dapat sambutan baik dari pembaca. Mungkin timingnya juga tepat sehingga Majalah Gelora ini bisa terbit dalam rentang waktu rutin perbulan yang cukup lama. Ada ilustrator dan penata letak dari kawan-kawan Seni Rupa, sumbangan tulisan dari para alumni. Sedangkan tempat untuk mencetak majalah miliksalah seorang senior di Bandung. Dan tentu saja yang utama, semangat dan kekompakan pengasuhnya yang dikomandani Bang Syukri.

Proses pencetaknya masih primitif, waktu itu belum ada laptop atau printer, masih pakai mesin ketik. Majalah dibagikan gratis dan dikirim melalui pos ke alamat yang dituju. Sumber dana berasal dari para pembaca, disetiap majalah diselipkan wesel kosong dengan harapan weselnya bisa dikembalikan oleh pembaca.

Ingatan lain dengan Bang Syukri adalah pilihan setelah selesai Kuliah. Alumni Bandung banyak, ada yang jadi dosen, ada yang pegawai negeri, ada yang wiraswata, ada yang bekerja di BUMN dan ada juga yang bekerja di perusahaan asing. Menurut perkiraan, Bang Syukri tidak akan berkiprah di perusahaan Asing. Dari diskusi dan pembicaraan sehari-hari beliau tidak tertarik dengan perusahaan asing. Berbeda dengan beberapa senior asrama lainnya yang memang tertarik untuk bekerja dengan orang asing.

Kawan-kawan saya ada yang menyarankan  untuk jadi dosen mungkin di  Jawa atau ke Padang. Ada saran keNurtanio karena saat itu sedang gencar-gencarnya pengembangan Industri Pesawat oleh Pak BJ Habibie. Ada yang mengusulkan bekerja di perusahaan asing dengan gaji lebih tinggi. Pada saat itu bisnis bumi minyak lagi booming. Banyak perusahaan minyak dan perusahaan penunjang perminyakan datang ke kampus mencari pegawai baru.

Pikiran saya saat ityu, yang penting bekerja dulu. Rasanya untuk jadi dosen bukan pilihan, walaupun sebenarnya penulis suka mengajar, suka baca dan suka koleksi buku. Yang mendasarinya pilihan akhirnya adalah keinginan cepat mandiri secara finansial agar tidak lagi memberatkan orang tua. Syukur-syukur bisa membantu orang tua dan saudara.

Bagi Bang Syukri berorganisasi tampaknya prioritas utama, sehingga kuliah beliau agak tersendat-sendat. Tetapi beliau selalu tampil optimis apapun yang terjadi. Keterlambatan dalam perkuliahan tidak menghambat beliau dalam pergaulan sehari-hari. Setiap tahun akan ada pergantian generasi. Ada generasi baru yang datang dan ada generasi lama yang selesai. Bang Syukri selalu akrab dengan semua generasi dan selalu ikutmembimbing generasi baru yang datang ke Bandung.

Kalau direnungkan, perjalanan hidup adalah kumpulan dan akumulasi dari pilihan yang kita buat. Jalan yang kita pilih dan jalan yang kita tinggalkan. Sang waktu bergerak searah, linier dan selalu berorientasi ke depan, tidak ada kesempatan menghapus atau reka-ulang. Sekali keputusan dibuat, sang waktu akan memaksa kita menjalaninya. Yang bisa dilakukan adalah membuat pilihan baru.

Apakah kita sudah menentukan pilihan yang benar ?. Hanya waktu yang akan membuktikannya. Sungguh beruntung seseorang yang sering melihat kebelakang, melakukan evaluasi berkala. Sehingga dia bisa mengarahkan masa depan dengan melakukan pilihan yang lebih cermat, sebagai pengganti pilihan masa lalu yang mungkin belum maksimal dalam mewujudkan impian.

Keputusan dalam memilih ini sangat dipengaruhi oleh beberapa factor. Mungkin kebutuhan, keinginan, minat, pengalaman dan peluang keberhasilan.  Faktor-faktor akan saling berkelindan dan kait-berkait dan bermuara menjadi satu pilihan. Saya akhirnya memilih untuk bekerja di perusahaan Asing.  Banyak kesan dengan perusahaan minyak, karena dulu sekolah SMP di Dumai. Kota minyak didaerah Riau yang punya pelabuhan dan kilang Minyak.

Penulis ikut berpanas-panas mengibarkan bendera dipinggir jalan, menyambut kedatangan Pak Suharto meresmian Kilang Minyak Putri Tujuh tahun 1971. Mulai dari Minas akan terlihat pipa-pipa besar, yang membentang sepanjang jalan untuk mengalirkan minyak mentah produksi PT. Caltex. Kita juga akan melewatipuluhan Pompa Angguk/Pumping Unit yang menyedot minyak dari perut bumi.

Dulu itu, Saya punya teman sekolah anak Caltex yang tinggal di perumahan karyawan. Bukit Jin namanya. Ada orang asing dan cukup banyak terlihat sehari-harinya. Perumahan mereka bersih dan tertata dengan baik, ada lapangan golf, ada kolam renang. Kita bisa beli Hamburger, roti dengan daging panggang yang waktu itu masih sangat asing. Pengalaman ini ikut mendorong penulis untuk berkiprah didunia perminyakan.

Di Bandung, penulis lebih banyak menghabiskan waktu di kampus. Belajar dan baca buku tentunya. Perpustakaan pusat di Aula Timur merupakan tempat favorit dan jadi pilihan jika tidak ada perkuliahan. Berorganisasi tidak terlalu menarik bagi penulis, kalaupun ikut hanya seperlunya saja. Berbeda sekali dengan Bang Syukri.

Penulis duluan tamat dan bekerja di PT. Caltex di Riau. Bagi penulis kembali ke Riau seperti pulang kampung saja. Karena sudah familiar dengan daerahnya. Tidak ada rasa terasing walau hidup dilingkungan hutan belantara. Bang Syukri setelah tamat memilih untuk kembali ke Sumbar mengabdikan waktunya untuk kampung halaman. Masing-masing kami telah memilih dengan sadar, tentu berikut resikonya.

Waktu berlalu demikian cepat, puluhan tahun telah dilewati. Dulu kami sama-sama belajar dan menamatkan kuliah di Bandung. Masa berganti dan generasi beralih. Beberapa tahun yang lalu putra Bang Syukri dan putri penulis tamat dari ITB, mereka seangkatan dan sama-sama menyelesaikan kuliah dijurusan Teknik Fisika. Mereka ini adalah generasi berikutnya, generasi penerus Banuhampu.

Setelah melewati tahun-tahun yang panjang itu, mungkin ada yang ingin merenung, menatap ulang apa yang telah dijalani. Apa yang diraih, apa yang diharapkan dan apa yang masih ada dalam angan-angan. Ada yang diharapkan dan memang terwujud, ada yang tidak disangka-sangka tapi jadi kenyataan. Mungkin itulah romantika kehidupan. Tidak semua yang direncanakan jadi nyata, ada tangan-tangan gaib yang ikut menentukan. Katakanlah itu suratan takdir.

Satu hal yang tak terlupakan adalah masa-masa kebersamaan di Asrama Banuhampu. Penuh kenangan, aneka ragam pengalaman dengan segala suka-dukanya. Rentang waktu yang dihabiskan bersama itu mungkin ikut mempengaruhi siapa kita sekarang. Rasa persahabatanwaktu itu terasa sangat kental rasa kebersamaanya. Rasanya tak pernah hilang. Kalaulah waktu bisa diputar ulang, mungkin kebersamaan Bandung layak dilalui lagi.

Generasi berikutnya mungkin tidak merasakan hal ini. Mereka dilahirkan,  dibesarkan dan dididik dilingkungan yang berbeda dengan tantangan dan peluang yang berbeda pula, sesuai dengan zamannya. Rantau bagi mereka mungkin berbeda dengan rantau bagi kami. Ingat pameo yang sering terdengan dari generasi yang lebih tua, … “kalau kami dulu”.

Teruslah berjuang Bang Syukri, selagi masa masih tersedia !.

Jakarta, 17 Agustus 2020

————

Ir. H. Syafriwal Achmad, Alumni Teknik Mesin ITB dan fokus beraktifitas di dunia perminyakan. Memulai karir di PT. Caltex sampai pensiun sebagai staf PT. Chevron. Menjalani pensiun di Jakarta dan Bandung, sambil melakukan konsultasi singkat di bidang spesifik pengelolaan industri Perminyakan Indonesia.

Adikku Zukri | Azmi Saad