Abangku Seorang Inspirator, Inovator

Oleh : Adiyos Adnis

Dalam blogspot Urang Minang, https://urang-minang.blogspot.com/2008/01/zukri-saad.html  Mantan Menteri Lingkungan Hidup Nabiel Makarim, menulis artikel tentang Zukri Saad; “ Saya mengenal beliau sudah cukup lama. Sepak terjangnya dalam dunia advokasi lingkungan hidup telah memberinya banyak pengalaman panjang dan pemahaman praktis di lapangan. Perjalanan hidupnya memperjuangkan lingkungan hidup lebih dari 20 tahun, telah memberinya kesempatan untuk menggali berbagai fenomena kehidupan di berbagai pelosok Indonesia. Kami masih berhubungan erat sampai saat ini,  karena ia masih tetap berada pada jalur dunia lingkungan.”

Seakan berantai, Mantan Menteri Koperasi Adi Sasono menulis, ; “Saya sebagai kawan lintas generasi, mengenalnya dan menghormatinya sebagai aktifis mahasiswa di Bandung yang menolak membungkuk pada kekuasaan otoriter di paro kedua tahun 70-an. Orang semacam dia sungguh tidak banyak.” Dan begitu pula Mantan Menteri beberapa periode Kabinet RI Sarwono Kusuma Atmadja; “Zukri Saad dan orang-orang sejenisnya, termasuk orang yang kreatif, tampil beda, senantiasa optimistik, teguh dalam pendirian tetapi sekaligus juga sukses. Punya jiwa  merdeka, kreatif dan oleh karenanya disegani. Saya sangat betah dengan orang-orang semacam ini, dan persahabatan kami tetap lekat sampai sekarang. Mereka sempat saya hadirkan dalam suatu diskusi di Harian Kompas, dimana mereka memperkenalkan karya dan jalan pikir mereka, menjadikan orang terperangah sehingga sejak itu Zukri dan kawan-kawan dikenal sebagai “orang-orang gila”. Indonesia yang sedang sakit memerlukan lebih banyak orang-orang aneh semacam mereka supaya cepat sembuh, dan reformasi dibidang pendidikan diperlukan supaya apa yang hari ini aneh dan gila menjadi kelaziman di masa depan.”

Melalui japri (19 Juli 2020), Abangku Zukri Saad, yang kini sebagian rekan menyebutnya Uwan,  berkhabar ; “ akan meluncurkan buku 65 tahun Uwan Sukri – Kisah2 Merantau Ke Kampung Halaman” (masih judul sementara) dan mintakan untaian kenangan sekaligus umpan balik untuk refleksi, baik positif maupun negatif.”

Sungguh ini menjadi penghormatan buat saya, Adiyos Adnis (58 tahun), satu dari ribuan kader yang pernah ikut dalam penggalan skenario perjalanan hidup Uwan, secara intensif semasa periode 1981 s/d 1985 di Bandung Utara, disekitar Paviliun Poerwoto – Cisitu Baru. Fase hidup bak candradimuka, yang menjadikan Aku Seorang Kapiten, persis judul lagu anak anak yang dikarang NN. “Aku seorang Kapiten, mempunyai pedang panjang, kalau berjalan prok-prok-prok. Aku Seorang Kapiten”.

Tidak berlebihan bila untaian kenangan sekaligus umpan balik untuk refleksi ini berjudul “ Abangku Seorang Inspirator, Inovator “. Setidaknya saya setia panggil beliau Abang ( “bia ndak durako alah” = kalimat guyonan yang tak pernah kulupa ).

Latihan Kepemimpinan Banuhampu Bandung, 1981. Ini kisah saya kenal “Bang Sukri”, berawal dari kegiatan pembekalan tahun pertama kuliah dan bergabung dalam Gerakan Pelajar/ Mahasiswa Banuhampu Bandung, disingkat GPB Bandung. GPB memiliki pusat aktifitas di Asrama Banuhampu, tempat berkumpulnya mahasiswa Banuhampu yang kuliah di Bandung. Pembekalan merupakan tradisi tahunan untuk mempersiapkan mahasiswa baru tentang suasana kota Bandung dan dinamika berkuliah serta mulai membangun kerjasama antar anggota.

Bang Sukri dan rekannya Radar Tribaskoro membekali mahaiswa banuhampu yang baru dengan tehnik pengembangan semangat kepemimpinan, diawali dengan gegap gempita meneriakkan yel yel : What is a Leader/ A Leader is one who : Knows the way, Goes the way, And shows the way…..

Beruntung saya ikut training itu, karena belakangan saya pahami bahwa metoda Latihan Kepemimpinan yang ditularkan Bang Sukri dan Bung Radar tersebut, sangat efektif meletakkan dasar berfikir bila seseorang akan harus menjadi pemimpin. Sekurangnya menjadi pemimpin efektif dalam skala rumah tangga.

Paviliun Poerwoto, adalah kamar kost Abangku masa kuliah di ITB.  Anehnya dia sering bepergian keluar kota, yang belakangan saya paham ternyata abangku aktifis lingkungan hidup yang perlu bergerak ke seluruh Indonesia, melakukan kerja-kerja advokasi dan pemberdayaan.

Sesekali abangku minta diantar ke markas Yayasan Mandiri di Jl. Cimandiri, belakang Gedung Sate. Sering pula minta diantar ke Stasiun Kereta Api, pertanda ada tugas luar kota. Ini suatu yang membahagiakan, karena otomatis saya bisa pakai motor besar Suzuki GT 84 knalpot stereo dan boleh tidur di kamarnya. Kamar yang satu sisi dindingnya dipenuhi buku-buku  dan jenis bacaan lain, laiknya pustaka . Anehnya lagi banyak buku-buku motivasi, buku tokoh-tokoh dunia, buku alam dan lingkungan, buku teknologi tepat guna dibanding buku-buku Kimia. Entahlah, dulu Abang nampaknya kurang berminat mendalami ilmu kimia. Ia pernah berpendapat, masa setelah kuliah akan diisinya dengan “kimia kehidupan”, berbaur bersenyawa dengan masyarakat miskin yang menjadi keprihatinannya. Berkelindan dengan masyarakat tersingkir dari derap pembangunan nampaknya sudah komitmen pribadi sejak lama. Nampaknya ini buah dari kebanyakan baca buku2 sosialisme dan aktifitasnya di PSIK ITB.

Jadi panjanglah do’aku agar Abang lama di luar kota, sehingga aku bisa bermotor ria (kendaraan motor saat itu masih eklusif) dan bisa tiduran dikamarnya sambil melahap koleksi buku-buku yang ada, utamanya buku yang bertema teknologi tepatguna dan lingkungan hidup.

Interaksi kami lebih banyak terjadi di Asrama Banuhampu Bandung. Sebagai Komisaris dan Koordinator Bidang Pengelolaan Asrama dan Pendidikan Yayasan Pendidikan Banuhampu Bandung  periode 1981 – 1984, Abangku mencanangkan gagasan untuk Pembangunan Asrama bertingkat, agar bisa bertambah daya tampungnya. Banyak yang ragu atas gagasan tersebut.

Kami mengawali langkah besar itu dengan menerbitkan buletin bulanan berjudul Gelora Banuhampu. Gelora mampu menjangkau warga Banuhampu di seluruh Indonesia, dicetak di percetakan Salman Jaya, milik Uda Djaswar RSAS yang merupakan salah seorang pengurus Yayasan. Cukup banyak wesel berdatangan untuk pembiayaan buletin (waktu itu belum ada kebiasaan transfer bank), yang tampilannya makin canggih layaknya majalah. Akhirnya, pembaca menyebutnya majalah Gelora. Itulah sebuah loncatan indah di bidang komunikasi ber-Banuhampu, dari bulletin menjadi majalah.

Setelah dirasakan komunikasi dengan masyarakat Banuhampu berjalan efektif, suasana dinilai sudah matang, Abang bersama kami adik-adiknya bekerja meruntuhkan asrama. “Keruntuhan” ini diberitakan dengan gegap gempita melalui buletin Gelora. Bahasa sekarangnya, kejadian bersejarah itu menjadi viral di medsos warga Banuhampu. Hal mana berbuntut tekanan dari masyarakat bermunculan. Abangku berseloroh  pada saya “ ngeri-ngeri sedap Abangmu ini Yos, tagisia saketek itu dinding asrama runtuh. Seakan tak sengaja”.

Singkat kata, keruntuhan yang berdampak luas. Para alumni asrama sejak bangunan didirikan tahun 1962, melaksanakan reuni akbar di Puncak yang akhirnya bersepakat untuk membangun asrama 4 lantai, sehingga  bisa menampung mahasiswa lebih banyak. Dilakukan jor-joran pemberitaan melalui buletin Gelora, alhasil berdatangan wesel pos sumbangan warga Banuhampu dan simpatisan untuk pembangunan Asrama sesuai yang direncanakan. Tahun itu juga, lantai 1 dan 2 berhasil dibangun, lengkap dengan ruang pertemuan yang bisa menampung 100 orang bila ada acara rutin pengajian atau acara tahunan – halal bihalal masyarakat Banuhampu Bandung.

Pilihan meruntuhkan asrama terinspirasi dari penyerangan panglima islam Thariq bin Ziyad, si penakluk Andalusia, dalam rencana besar menaklukkan Eropah untuk penyebaran agama islam. Menurut Abangku, “media adalah senjata utama, Siapa yang menguasai media dia yang menguasai dunia”. Belakangan, itulah untaian kalimat yang selalu diulang-ulang Bung Karni Ilyas sang presiden ILC.

Ditengah keasyikan menyiapkan buletin Gelora edisi November 1983, mengambil tempat di asrama Banuhampu, Abangku mengumpulkan belasan aktifis organisasi pemuda Minang dan mendeklarasikan Forum Komunikasi Organisasi Pemuda Minang (FKOPM) Bandung sebagai langkah taktis menjawab lesunya semangat Organisasi Pemuda Minang Bandung saat itu. Lagi-lagi ini viral dan mendapat tantangan/  protes berbagai kalangan. Tapi, Abang selalu mengatakan, kerja baik pasti banyak tantangan. Lakukan saja, biduk lalu kiambang bertaut.

Tak lama setelah deklarasi, medio 1984, dilaksanakan Latihan Kepemimpinan Pemuda Minang (LKPM) se Bandung Raya.  Menariknya saat itu, Abang berseloroh “ Sudahlah Yos, kau nggak usah ikut-ikut pula itu LKPM, kau kan sudah dulu sama Bung Radar. Kau urus itu Gelora dan rapikan itu wesel-wesel asrama“. (dengan fonem berlogat Batak). Saat itu saya bingung dan kesal sama Abangku itu. Belakangan saya sadar, inilah pengkaderan sesungguhnya…..

LKPM yang dipimpin oleh bung Indra Catri (kini Bupati Agam dan sedang mencalonkan diri menjadi cawagub Sumbar) berlangsung sangat sukses, difasilitasi oleh tokoh2 yang datang khusus dari Sumatera Barat dan beberapa pembicara tokoh nasional. Alumninya setelah selesai kuliah, telah bekerja berbagai bidang pekerjaan, seperti di Perguruan tinggi, di pemerintahan, di sektor swasta dan perusahaan asing. Mayoritas sukses mencapai puncak karir dan saat ini satu persatu mulai memasuki usia pensiun.

Usai menyelenggarakan LKPM, alumni bersama senior melakukan program yang disingkat dengan akronim Mahabuana, Perkemahan Budaya Alam Minangkabau, yang dilaksanakan di bumi perkemahan Cikole – Lembang. Mahabuana merupakan jamboree budaya alam Minangkabau pertama di rantau Jawa Barat, mencoba menggugah potensi besar Minangkabau perantauan. Istilah kini diaspora minang.

Tumpah ruah pesta budaya Minangkabau di kaki gunung Tangkuban Perahu itu, dengan tungganai  2 Gubernur : Gubernur Jawa Barat (MayJend. Aang Kunaefi), Gubernur Sumatera Barat (Mayjend. Ir. Azwar Anas) dan 2 Menteri saat itu,; Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Prof. Emil Salim) dan Menteri Tenaga Kerja (Prof. Harun Zain). Acara seolah-olah terlaksana di kaki gunung Singgalang nan sejuk.

Kegiatan Mahabuana merupakan buah dari tindak lanjut kegiatan LKPM dengan susunan panitia 144 orang pemuda minang diketuai oleh Bung Nofrin Napilus (kini berkiprah sebagai VP perusahaan pembangkit listrik Geothermal di Solok Selatan). Abangku adalah pemrakarsa  kegiatan, berperan sebagai Komisi Pengarah Mahabuana.

Nah, fase ini ditandai dengan nostalgia teramat manis. Ditengah kesibukan menjamu 2 Gubernur dan 2 Menteri, dirimbunan cemara Cikole nan mendesir, sang Dosen penguji di kampus ITB membunyikan alarmpanggilan terakhir untuk menghadap. Tak ada waktu tunda, Abangku harus mengikuti Sidang Sarjana.  Akhirnya, Subhanallah. Mahabuana sukses, gelar sarjanapun dapat diraih. Sidang sarjana dilakukan sambil mengurus acara puncak Mahabuana. Betul-betul tak terlupakan.

Tak lama digelar Syukuran Sarjana Baru Minang se-Bandung Raya, Saya sebagai ketua pelaksana waktu itu berhasil menghadirkan gubernur Azwar Anas.  Diawal sambutannya beliau minta para sarjana baru tidak usah mencari kerja di hutan beton kota metropolitan, pulanglah semua ke Sumatera Barat. Banyak kerja yang harus kita rampungkan.

Gayung bersambut, dialog malam itu menghasilkan kesepakatan, para sarjana baru sepakat untuk mengabdi di Sumatera Barat. Mayoritas pulang untuk mengembangkan Fakultas Tehnik di Universitas Andalas, Gubernur-pun menyediakan posko awal untuk para dosen muda itu.

Namun Abangku memilih jalannya sendiri. Bersama beberapa kawan, ia justru memilih untuk berkarir merevitalisasi sekolah tua Pernah terkenal INS Kayutanam. Saya yang ikut hadir malam itu, “ Nah kamu (tunjuk pak gubernur pada saya) yang masih mahasiswa nanti juga pulang ya ! , atau sekarangpun bisa bantu dari Bandung ini , bantu informasi , bantu pikiran”.

Bersama Arsyad Ahmad, Doktor Pendidikan yang kini ahli ekonomi syariah berbasis masjid di Bandung, Irman Ismail, kini konsultan nasional bermukim di Bandung, beserta 4 teman lainnya mereka menawarkan kelembagaan tambahan di bawah kordinasi Yayasan Badan Wakaf INS Kayutanam. Dengan demikian Abangku kelak menjadi  “Direktur Eksekutif Lembaga Pengembangan INS Kayutanam –   Sumatera Barat, masa bhakti 1985 – 1989.

Tentu banyak lika dan liku persoalan awal yang dihadapi rombongan yang memilih berkiprah di INS Kayutanam, tapi tak banyak yang saya ketahui. Barulah tahun 1986, tim Kayutanam menugasiku di Bandung untuk membuat modul Paket Elektronika Terapan buat peserta didik. Tentu berikut kiriman uang untuk beli material modul di pasar elektronik Cikapundung.

Konsep dan modul Paket Elektronika Terapan (PET) rampung dikerjakan, namun tidak sempat terimplementasi di Kayutanam. Karena sesuatu dan lain hal, Abangku dan kawan-kawan harus hengkang dari INS Kayutanam. Mereka tak mau buka cerita, hanya menyatakan : membangun rumah baru jauh lebih mudah ketimbang memperbaiki rumah lama”. Itu saja.

Baru pada tahun 1995, Modul PET diterapkan untuk peserta didik di STM Elektronika Cendana Padang Panjang dan Modul untuk Pelatihan Elektronika bagi Anak Panti Asuhan di Padang Panjang dan Bandung oleh Yayasan Elektronika Terapan.

Sampai sekarang, tidak putus kontak saya bersama Abangku, sesekali ketemu pada kegiatan yang berlatar sama. Dalam kegiatan renewable energy, dalam kegiatan isu global warming, pemberdayaan ekonomi kerakyatan, teknologi tepat guna dan lainnya. Tersadar saya, mungkin inilah “hukuman” saya nyolong baca buku yang sama di Paviliun Poerwoto dulu.

Ternyata benar; “Buku adalah sumber ilmu, sumber inspirasi dan sumber inovasi.”, : yang mewarnai perjalanan hidup sesorang. Hal mana diperkuat oleh Adi Sasono dalam kutipannya di bolgspot Urang-Minang, bahwa : Saya berpendapat Zukri adalah tipe manusia istiqamah. Perjalanan hidup lebih dari dua dasawarsa, yang penuh warna, menjelaskan kepada kita, tentang garis jalan lurus, sikap istiqamah yang membuatnya menjadi manusia merdeka. Ia bisa merdeka karena tidak tunduk kepada godaan duniawi, mungkin dalam perjalanan yang tidak senantiasa berwujud garis lurus, namun arahnya jelas. Pendapat senior almarhum itu, Abangku akan semakin lengkap bila ditambahkan predikat tipe manusia yang Qanita dan Hanif, maksudnya lurus dan jujur.

Rencananya setelah melewati masa 65 tahun, bersama  Yayasan Minang Bandung Indonesia (YMBI) adalah kembali melakukan sesuatu di kampung halaman. Ia dan kawan-kawan berkeyakinan, pembangunan Sumatera Barat akan didorong oleh kemandirian pembangunan di nagari-nagari. Jadi, pembangunan berbasis potensi alam dan lingkungan di nagari-nagari merupakan wajah pembangunan Sumbar masa depan. Abangku akan tetap saja bergerak, terus dan berketerusan, sambil berdoa agar kalau datang panggilan-NYA, sudah sampai janjian, didambakan ketika sedang bekerja. Insya Allah.

Bandung 12 Agustus 2020

————

Adiyos Adnis Sutan Nan Sati, menetap dan memusatkan aktifitasnya di Bandung. Alumni Teknik Elektro Institut Teknologi Nasional ini adalah “urang awak” yang pernah berwirausaha “canteen resto & catering” di masjid Istiqamah dan berbagai foodcourt perusahaan besar di Bandung. 6 tahun merintis perdagangan barang sisa eksport (sekarang dikenal dengan factory outlet) di Cihampelas dengan branding Sweet-Art.

Mendirikan Yayasan Lembaga Elektronika Terapan (LET), mengelola Lembaga Zakat dan anggota istimewa Forum komunikasi Panti Asuhan se Kota Bandung. Konsultan renewable energy dan lingkungan serta Pemrakarsa B-Tech ( Paguyuban Bandung Teknologi, wadah bergabungnya tenaga ahli dan praktisi bidang tehnik). Selain itu, konsultan Klinik Konsultasi Bisnis – Program Kementrian Koperasi dan UKM. Selain itu, pernah menjadi Anggota Presidium Pusat dan Ketua Forum Daerah UKM Jawa Barat (USAID – the Asia Foundation Program) yakni Tahun 2007 – 2009.

Adikku Zukri | Azmi Saad