Abangku, Seorang Inspirator

Oleh : Hambali

Satu kebahagiaan mendapat WA dari Bang Zukri Saad, yang memintaku untuk ikut berkontribusi tulisan menyambut usianya yang ke 65 tahun. Walaupun aku sendiri bingung mau menulis apa tentang sosok bang Zukri, yang kalau mau diruntut dari profesi yang digelutinya, satupun tidak ada yang jelas. Tapi bagiku, Bang Zukri begitu aku selalu memanggilnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah sosok  individu penuh inspirasi.

Tahun 1987 pertama kali aku mengenalnya saat mengikuti pelatihan manajemen organisasi Nirlaba, di Bukit Tinggi. Kemudian berlanjut di kantor INSAN-17 Padang tahun 1988, dimana Bang Zukri masih jadi penguasanya dan semakin intensif ketika kami bersama-sama menjadi bagian dari Perkumpulan KKI-WARSI sampai dengan saat ini.

Sebagai generasi awal NGO di Sumatera, Bang Zukri tidak saja menjadi tempat bertanya dan berbagi pengalaman bagi generasi seusiaku saat itu, yang baru mengenal LSM. Dia menjadi sumber inspirasi, tempat belajar membangun retorika berdiplomasi dan mempengaruhi orang lain. Bak pepatah minang “Anjalai pamaga koto, tumbuah sarumpun jo ligundi, kalau pandai bakato kato, umpamo santan jo tangguli” (Seseorang yang pandai menyampaikan sesuatu dengan perkataan yang baik, akan enak didengar dan menarik orang yang dihadapi). Itulah gaya Bang Zukri dalam setiap gelaran percakapan, dimana dia berada dan dengan siapun dia bertemu, hingga orang yang mendengar celotehannya selalu terkagum-kagum, termasuk diriku.

Kemampuan “manggaleh” atau menjual mimpi, gagasan dan ide adalah kelebihan yang Bang Zukri miliki. Tak heran jika bertemu dengannya, siapa pun orangnya termasuk diriku, tak bosan mendengarkan cerita petualangannya. Karena semangatnya bercerita, tak jarang pula kami menganggap “bang Zukri lagi bermimpi tentang perubahan”. Tapi itulah Bang Zukri. Tidak pernah kering gagasan, ide atau mimpi. Ada saja yang disampai pada setiap ruang dan waktu ketika bertemu.  Apa yang pernah dia dengar, lihat dan alami di setiap langkah perjalanannya, dia olah menjadi tema diskusi yang mengasyikan. Dari sekitaran sumur, dapur, kasur, atau sekitaran kebun dan pasar, urusan hutan, tambang, laut sampai urusan ruang angkasa pun, mampu dia olah dan transformasikan dengan sistematis, terstruktur dibarengi dengan tampilan emosionalnya khas Bang Zukri.

Manggaleh mimpi-mimpi perubahan semakin jauh melampaui batas ruang dan waktu, jika diiringi dengan isapan sebatang rokok yang diambil atau minta dari teman ngbrolnya. Karena bang Zukri tidak pernah membeli rokok. Jika kebetulan bersamaku, maka pasokan batangan rokok selalu kusiapkan agar ide liarnya terus mengalir. Kadang pada satu kesempatan Bang Zukri, tidak segan-segan meminta hasil coretanku sebagai bahan “manggaleh”-nya.

Kepiawaian Bang Zukri mengolah gagasan menjadi fakta empiris, dan membahasakannya secara terstruktur menjadi daya magnet bagi siapapun yang mendengarkan ceritanya.  “Walau kaie nan dibantuak ikan dilauik nan diadang”, yaitu prinsip untuk mengajak setiap orang memikirkan apa visi dan misi dari sebuah pekerjaan yang akan dilakukan, dia-lah ahlinya.

Tidak pernah memilih tempat untuk menjual gagasannya. Baginya setiap tempat adalah “ruang belajar”. Di warung nasi Kapau jadi. Di warung kopi dan tempat lesehannya aktifis jalanan, Ok.  Di hotel berbintang dan markasnya partai serta kantor para bikokrat dan pengusaha-pun juga OK.  Soal dengan siapa harus membagi cerita, bang Zukri tidak pernah membatasi diri. Ngbrol dengan tukang sate, pedagang es keliling, petani, buruh, nelayan, mbok jamu, penggiat masyarakat, penguasa dan pengusaha dan akademisi dilayani dengan baik dan penuh inspiratif.

Soal tema “manggaleh-nya” bang Zukri pandai memilih dan memilah situasi dimana dan dengan siapa dia bertemu. Kalau yang ngumpul adalah para aktifis gerakan sosial dan lingkungan, maka isu-isu community development, konservasi akan menjadi topik manggalehnya. Tapi jika yang ditemui petani, nelayan, buruh, cerita dan gagasannya disekitar pertanian, perikanan dan hak-hak buruh.  Kalau yang diajak ngomong pejabat atau pengusaha, dia akan manggaleh tentang kebijakan, teknik inovasi peningkatan produksi. Dan kalau bertemu dengan para akademisi dia akan cerita diseputar riset aksi. Tentu untuk menyakinkan audiens dia gunakan data dan dibumbui dengan satu dua teori perubahan, the theory of change.

Aku masih ingat betul saat bang Zukri “manggaleh” pengalaman sebagai petani kentang di Alahan Panjang, Sumatera Barat. Saat menceritakan pengalaman ini, siapa pun yang ikut mendengar pasti ikut terkagum-kagum. Bagaimana tidak, dari salah seorang “Godfather” gerakan lingkungan di Indonesia, berputar haluan 360 derajat menjadi seorang petani kentang di kawasan dataran tinggi Sumatera Barat.

Dan ketika dia menjelaskan soal budidaya kentang lengkap dengan data dan fakta empirisnya, setiap orang termasuk diriku menjadi terkagum-kagum dan penasaran. Betapa tidak, dia ceritakan dari A sampai Z bagaimana berbudidaya kentang dilakukan, hingga mampu menghasilkan kualitas kentang super rata-rata 50 ton per hektar sekali panen. “Wah Bang, kalau hasilnya benar seperti yang diceritakan, aku putar haluan aja menjadi petani seperti Abang”, celotehku saat itu. Tapi apa jawabnya, “biar aku saja yang bertani, kalian semua tetap mengawal kerja-kerja advokasi bersama rakyat supaya sumber daya alam kita tidak semuanya dikuasai konglomerat !”. Wah Bang, kalau begitu Abang mau kaya sendiri. Kami tidak boleh ikut kaya  seperti Abang”, timpalku. “Jangan begitu-lah, kalau kalian semua ikut-ikutan jadi petani seperti aku, habis dunia ini !!.

Cerita sebagai petani kentang dengan cepat tersebar ke seantero negeri. Banyak yang penasaran terutama dari kalangan penggiat gerakan sosial tentang “kentang Uwan Zukri dari Alahan Panjang”. Cerita itu mendapat pembenaran, karena Uwan membawa bibit dari Polandia yang dikembangkannya bersama kawan-kawan dari CV. Limas Bersudara. Tetapi, kebiasaan Bang Zukri hanya membuat gaduh dunia persilatan. Begitu cerita suksesnya beredar, dan banyak yang ingin belajar, dia telah menghilang dan memulai lagi petualangan barunya sebagai pengelola koperasi harian umum “Mimbar Minang”.

“ Lho bang bagaimana ceritanya soal kentang kita di Alahan Panjang, kok sudah beralih profesi bang jadi pengelola Koperasi Harian Umum “Mimbar Minang”, tanyaku di satu kesempatan bertemu. Bang Zukri menjawab singkat sambil tertawa lepas “terus berlanjut, dikelola petani, tugas abangmu sebagai petani kentang sudah selesai, biar dilanjutkan sama petani”. Tapi Bang, banyak yang mau belajar praktek lapangan tentang budidaya kentang super Alahan Panjang dengan abang, jelasku. “Ah…kalau mau belajar soal kentang langsung saja sama petaninya” jawabnya.

Anti berada di kerabang nyaman dan senang mencoba tantangan baru menjadi karakter Bang Zukri. Di Koperasi Harian Umum Mimbar Minang, juga tidak bertahan lama. Hanya sekitar 6 tahun. Dia coba lagi mencari tantangan baru, yang tentu dimulai dengan “manggaleh ide liarnya”. Bagi bang Zukri sepertinya menjadi kata “wajib” untuk mencoba berbagai profesi, sambil terus jualan gagasan dan ide dimana pun dan dengan siapa pun ia bertemu.

Dari aktivis gerakan sosial dan lingkungan, putar haluan menjadi petani kentang. Dari petani kentang lompat menjadi pengelola media, dan dari pengelola media menjadi mentor pengobatan energy alam Reiki dan wira-wiri ke Sumatera Utara mendalami hortikultura bersama bang Soekirman, sahabat karibnya yang sekarang Bupati Serdang Bedagai. Dan kini sudah beralih profesi pula menjadi konsultan community development pada satu perusahaan perkebunan. Dan profesi yang terakhir ini, aku prediksi akan segera ia tinggalkan. Dia akan memulai petualangan baru lagi, kita tinggal tunggu ceritanya. Itulah bang Zukri yang tidak pernah merasa puas diri dan ingin selalu mencoba tantangan baru. Layak disebut sebagai “pioneer”.

Selain kaya ide inspiratif, kelebihan bang Zukri yang tidak banyak dimiliki orang lain adalah kerapihan dan kejelian mendokumentasikan pengalaman hidupnya. Semua perjalanan “manggaleh” gagasan, dia dokumentasikan dalam curriculum vitae.  Kita akan terkagum-kagum, saat membaca curiculum vitae bang Zukri. Semua kegiatan yang pernah dia lakukan walaupun hanya 30 menit sebagai “pembual” disatu acara, tidak ada yang tercecer. Dia tuliskannya dengan baik, lengkap dengan hari, tanggal, jam, tempat dan siapa pengundangnya. Jadi jangan heran jika satu saat kita memerlukan bio data bang Zukri, pasti diakan berikan semuanya pengalamannya secara tertulis.

Tidak hanya tertib menuliskan bio data dirinya. Soal sumber pengetahuan, apakah dalam bentuk buku, majalah, makalah bahkan komik-pun di susun dan dokumentasikan secara detail. Saat berkunjung kerumahnya di Padang 12 tahun lalu, betapa kagumnya diriku melihat penataan buku, makalah dan majalah dari berbagai sumber yang disusun secara rapih sesuai dengan tematiknya di salah satu ruang perpustakaan pribadinya. Aku berpikir “ kok sempat-sempatnya menyusun semua buku, majalah, makalah, dan komik sedemikian rapihnya. “apa bang Zukri tidak punya kerjaan lain” pikirku. Tapi itulah abangku, Bang Zukri, apapun yang dilakukan dan dijalani dinikmati di dokumentasikan dengan baik untuk didikasikan dan diwariskan bagi generasi berikutnya.

Kini di usia 65 tahun, bang Zukri pasti akan memaknai bonus usia untuk terus berkreasi dan berimprovisasi. Merantau ke kampung halaman sambil “manggaleh” ide atau gagasan liarnya dan   menjadi karakter gaya hidupnya aku yakin akan terus dia lakukan. Bang Zukri akan semakin merdeka berpetuangan dari kampung ke kampung. Beban pendidikan anak-anaknya yang selama ini jadi penghambatnya untuk berpetualang dari kampung ke kampung mulai berkurang seiring anak-anaknya telah menyelesaikan pendirikan di perguruan tinggi.

Akhirnya sebagai adik, aku hanya bisa berdoa semoga bang Zukri tetap sehat dan terus “manggaleh” ide dan gagasan di setiap ruang, agar kehidupan menjadi lebih bermakna!. Bagiku,  Abang Zukri adalah seorang inspirator. Aku tidak peduli orang lain akan memberikan penilaian seperti apa terhadap Abang.  Karena setiap orang bebas merdeka memberi penilaian dan persepsi tentang suatu objek, seperti yang selalu abang sampaikan disetiap kesempatan “manggaleh”. Selamat Milad Bang Zukri, Usia 65 tahun adalah usia merawat kebajikan, untuk dapat kita petik hasilnya sebagai amal jariah. Insya Allah.

Salam hormat,

Hambali.

————

Drs. H. Hambali, menetap di Jambi. Alumni Biologi Institut Keguruan Ilmu Pendidikan IKIP Bandung, 1984 dan Administrasi Negara Universitas Dharmawangsa – Medan, 1994. Selama lebih dari 35 tahun aktif dan bekerja dalam lingkungan Organisasi Non Pemerintah, menjadikan dirinya banyak dikenal memiliki keahlian dalam melakukan pengembangan model pemberdayaan dan pengorganisasian masyarakat. Bersama Zukri Saad pernah menjadi Dewan Anggota KKI Warsi dan sampai sampai saat ini menjadi anggotanya. Jabatan lain yang pernah dan sedang diemban antara lain; Assisten Direktur Program PKBI Sumut (1990-1996), Direktur PKBI Jambi (1996-2008), Pendiri Yayasan Mitra Aksi (2000-sekarang), Dewan Anggota Pundi Sumatera (2008 – sekarang), Anggota Dewan Pendidikan INSIST (2009-sekarang), Komisaris Insist Press ( 2019 –sekarang), Konsultan Senio Remdec ( 2007- sekarang) dan Program Officer DPG Kemitraan Regio Sumatera ( Januari s/d Maret 2020), serta sejumlah pengalaman profesional lainnya ditingkat lokal maupun nasional. Atas didikasinya melakukan perubahan sosial pada masyarakat pedesaan dan marginal mengantarkan dirinya memperoleh penghargaan ASHOKA Fellowship pada tahunn 2007.

Adikku Zukri | Azmi Saad