Adikku Zukri

Oleh : Azmi Saad

Kami lahir di jorong Pincuran Landai, Nagari Kubang Putiah, Kecamatan Banuhampu – Kabupaten Agam. Kakek kami dari pihak Ibu bernama Ismail Datuak Bendahara Nagari, berprofesi sebagai pedagang ternak dan Nenek kami bernama Zainab. Dari pihak Ayah, Kakek kami Sjech Haji Abdul Malik, seorang ulama sekaligus pedagang antar Negara dari Indonesia ke Timur Tengah dan Nenek kami bernama Rahmah.

Ayah kami Haji Saad, sejak umur 9 tahun dibawa oleh kakek untuk belajar agama ke Mekah, bertahun-tahun lamanya. Pulang ke Indonesia, menjadi pendakwah di masjid-masjid dan surau-surau di Banuhampu dan sekitarnya. Khatib nagari diangkat oleh kerapatan adat nagari, dipanggil angku katik. Disamping itu Ayah mengajarkan ilmu agama di madrasah yang dibangunnya di jorong kelahirannya Balai Bagamba. Profesi ini dijalani Ayah sampai zaman rervolusi kemerdekaan. Kondisi kesehatan, tekanan ekonomi dan situasi keamanan, membuat Ayah beralih profesi menjadi pedagang, mulai dari manggaleh mudo (berdagang palawija) sampai akhirnya menjadi pedagang pecah belah di Pasar Raya Padang.
Ibu kami bernama Hj. Syamsidar, bertani mengolah sawah, tebat ikan dan lahan pusaka tinggi bersama kaumnya, suku Piliang – Pincuran Landai. Dari pasangan Ayah dan Ibu kami, lahir 13 orang anak, tapi 3 orang diantaranya meninggal ketika balita. Dari 10 anak, 2 wanita dan 8 lelaki, saya anak nomor 5 dan Zukri adalah anak nomor 8.

Zukri lahir di kampung Pincuran Landai, namun dalam masa balita karena peristiwa PRRI, Zukri dan semua anggota keluarga diboyong Ayah ke Padang, tinggal menetap di kampung sebelah, tepatnya di Jalan HOS Cokroaminoto sekarang. Semua kami anak-anak bersekolah ke SD dan SMP di Pulau Karam. Waktu itu belum ada tempat belajar agama dan mengaji resmi seperti TPA, sehingga seluruh adik-adik saya belajar membaca Alquran dari seorang guru SMP yang alim yang mengontrak kamar di belakang rumah kami, Uda Syafiri Dali. Belajar ngaji biasanya sejak sore hingga malam hari. Uda Syafiri, disamping mengajar baca Alquran, juga menginspirasi kami untuk menuntut ilmu ke Jawa. Hal mana membuat Zukri menjadi besar keinginannya dan bercita-cita untuk berkuliah ke Jawa, khususnya mau masuk ke ITB di kota Bandung.

Untuk menunjang keinginannya tersebut, saya yang ketika itu kuliah paska sarjana di Universitas Gajah Mada – Yogyakarta berusaha mengumpulkan berbagai soal-soal test masuk perguruan tinggi tahun-tahun sebelumnya dan mengirimkannya ke Padang. Dari surat-suratnya Zukri mengatakan sangat senang dengan kumpulan test tersebut karena lengkap dengan jawaban dan tahapan penyelesaian soal.
Pada masa sekolah di SD sampai SMA, Dalam keseharian Zukri biasa biasa saja. Namun dia sangat rajin dan tekun belajar dengan kondisi ketika itu yang serba terbatas. Tinggal di rumah kontrakan setengah tembok, yang kalau hujan deras rumah bagian belakang akan terendam banjir. Air sumur untuk kebutuhan harian keruh, sehingga harus disaring dulu sebelum digunakan. Baik untuk keperluan mencuci apalagi untuk kebutuhan memasak dan mengolah makanan.

Ketika masih sekolah di SD Zukri sangat dekat dan menjadi kesayangan Nenek Zainab, ibu dari Amak Syamsidar. Kami semua cucunya memanggilnya Enek. Saya teringat saat Enek sebelum meninggal, beliau minta dipanggilkan Zukri yang sedang bermain di halaman rumah. Enek hanya memandang Zukri sebentar, tanpa berkata apa-apa, lanjut tidur. Tak lama sesudah itu, nenek berpulang ke rahmatullah.

Tahun 1974 saya mulai bekerja di sebuah perusahaan Jepang, yang berkantor di Wisma Nusantara – Jalan Thamrin Jakarta. Saya akan berangkat ke Jepang untuk belajar manajemen perusahaan ala Jepang sekitar 6 bulan lamanya. Sebelum berangkat, ketika itu masih awal puasa Ramadhan, gaji saya bulan terakhir dan tunjangan lebaran sebulan gaji, saya kirimkan ke Padang dengan peruntukan sebagian untuk keperluan membantu biaya Zukri ke Bandung dan sebagian untuk membeli satu set kursi tamu di rumah orang tua.

Dari surat-suratnya kepada saya, Zukri menulis merasa sangat beruntung punya bahan-bahan masuk perguruan tinggi yang tidak biasa didapatkan di Padang, sehingga dia mempelajarinya dengan tekun.

Keluarga di Padang berharap Zukri bisa kuliah untuk kelak menjadi seorang arsitek lulusan ITB. Sebagian dari uang yang saya kirimkan, dipersiapkan untuk membeli satu set meja lengkap arsitek. Namun ternyata Zukri belum beruntung, ia tak berhasil lulus test ITB dari suratnya yang dikirim kepada saya ke Jepang, dia menyatakan penyesalannya. Namun ia tetap bertekad untuk tetap ingin berkuliah di ITB dan sementara sampai ujian test masuk ITB tahun berikutnya, dia akan mengikuti bimbingan test yang ketika itu diadakan oleh kelompok dan organisasi mahasiswa Bandung. Sepulangnya saya dari Jepang, Zukri menemui saya di Jakarta dan menyampaikan perkembangan bimbingan test dan keadaan tempat tinggalnya di Aarama Banuhampu Bandung.

Dia sudah punya banyak teman studi dan teman berbagi sesama penghuni asrama.Tak ada masalah baginya karena bisa berkumpul dengan teman-teman satu daerah dan kondisi sekitar asrama yang sangat mendukung kegiatan kemahasiswaan. Kekhawatiran saya mengenai kemampuan Zukri beradaptasi dengan kondisi dan situasi baru yang jauh berbeda dengan kehidupan ketika masih di SMA dan berada dekat orang tua di Padang, sirna setelah melihat dan berbicara dengannya.

Dia sudah bisa mengatur kehidupannya dengan dukungan wesel orang tua yang terbatas ditukuk sedikit uang saku dari saya tiap bulan. Zukri beruntung karena bisa tinggal di asrama Banuhampu, sekaligus mendapat bimbingan dari mahasiswa-mahasiswa senior tentang kiat hidup dan berkuliah di Bandung.

Saya melihat ada beberapa perubahan yang beda dengan kondisinya sebelum berangkat ke Bandung. Penampilannya nampak lebih kurus, namun semangatnya lebih mantap dan kelihatan lebih mandiri. Yang sangat berbeda adalah rambutnya gondrong sampai bahu dan sepertinya kurang terurus. Katanya itu gaya mahasiswa Bandung.

Dia mulai aktif ikut kegiatan organisasi kemahasiswaan, dan organisasi Banuhampu tempatnya berdomisili. Saya menasehatinya untuk harus mengutamakan kuliah dulu dan harus pandai membagi waktu karena beratnya tuntutan kuliah. Walaupun pada periode itu ketentuan mahasiswa drop-out (DO) belum begitu dilaksanakan.

Ternyata di kemudian hari setelah lulus test dan diterima sebagai mahasiswa di ITB jurusan kimia, kegiatan Zukri di organisasi kemahasiswaan ini menjadi awal dari panggilan nuraninya. Selanjutnya ia konsisten berkembang menjadi seorang aktifis sosial dan kemanusiaan selama bertahun-tahun, terutama dalam bidang pembinaan dan pengembangan masyarakat dan Lingkungan Hidup tingkat nasional. Aktifitas kemasyarakatan dan lingkungan itu membuatnya memiliki akses dan kontak efektif dengan lembaga-lembaga internasional yang mengedepankan misi dan tujuan serupa.

Sejak tahun pertama sebagai mahasiswa, Zukri ikut terjun langsung sebagai aktifis mahasiswa mulai dari struktur dasar sampai menjadi pimpinan Dewan Mahasiswa ITB, ikut terlibat mengedarkan “buku putih perjuangan mahasiswa ITB yang ada hakikatnya berseberangan ketika itu dengan kebijaksanaan pemerintah sehingga keluarlah kebijakan Normalisasi Kampus dan pengaturan aktiftas kemahasiswaan, yang dikenal dengan NKK/ BKK. Kebijakan mana diberlakukan ke seluruh kampus perguruan tinggi Indonesia.

Sebagai anggota dan pengurus organisasi mahasiswa Banuhampu Bandung, Zukri mempelopori penerbitan majalah Gelora Banuhampu yang terbit secara berkala. Aktifitas Zukri yang paling menonjol serta sangat bermanfaat yaitu sebagai pimpinan Yayasan Banuhampu Bandung yang mengelola asrama mahasiswa Banuhampu. Zukri bersama tim berhasil memugar asrama yang sudah tua menjadi bangunan baru bertingkat serta penambahan kamar dan fasilitas belajar sesuai kebutuhan penghuni. Zukri mengorbankan 2 semester menggalang bantuan dana dari donatur dermawan banuhampu Bandung, Jakarta, Padang dan dari berbagai wilayah di Jawa serta dari luar Jawa. Dalam waktu relatif tidak terlalu lama, asrama berhasil dibangun dan ditempati walau belum tuntas.

Zukri sepertinya larut dalam berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan intra-universiter, lembaga penerapan teknologi dan organisasi kemahasiswaan Minang. Hal mana berdampak pada penyelesaian tugas dan kewajibannya sebagai mahasiswa seakan menjadi hal sekunder. Kondisi penyelesaian kuliah itu diperparah dengan tugas akhirnya membuat penelitian / skripsi mengenai “Kerang Hijau”. Penelitian yang membutuhkan waktu panjang dan lama, karena tidak hanya pekerjaan laboratorium, tapi juga kegiatan lapangan di kepulauan seribu dan teluk Jakarta. Tak pelak lagi membuatnya baru bisa lulus dari ITB setelah 9 tahun.

Walaupun sehari-harinya dia bebas dari kecanduan merokok, tidak minum alkohol dan jauh dari kegiatan glamour serta berdasarkan informasi kiri kanan dari teman-temannya, Zukri tidak tampak punya hubungan dekat dan istimewa dengan seorang mahasiswi atau teman wanita. Mungkin ada yang dia taksir, tapi mungkin kurang bernyali untuk membuka hubungan intensif. Entahlah.

Lulus dari ITB, Zukri langsung pulang ke Padang dan mendirikan Lembaga Pengembangan INS Kayutanam. Hampir 5 tahun dia beraktifitas disama dengan segala suka dan dukanya. Karena perkembangannya tidak menggembirakan, Zukri mendirikan sebuah Yayasan yang bergerak dalam kegiatan pengembangan masyarakat yang dipimpinnya selama satu periode. Kemudian Zukri pindah ke Jakarta setelah terpilih menjadi Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan berkiprah sebagai pejuang Lingkungan Hidup, juga selama satu periode. Sebagai aktifis nasional dan memiliki jaringan kerja dengan berbagai lembaga internasional, Zukri aktif dan banyak sekali berpergian ke seluruh jaringan di Indonesia dan ke mancanegara.

Berjalannya umur tak terasa. Setelah sekian lama, belum juga tampak gelagat Zukri untuk berkeluarga. Sudah sejak beberapa tahun terakhir semua keluarga di Padang risau melihatnya seakan-akan terlena dan sangat sibuk mengelola kegiatannya di Walhi. Dorongan keras dari keluarga, terutama peran Amak serta bantuan teman-teman dekatnya, Zukri menemukan pendamping hidupnya dan segera diparalek-an di Padang. Waktu itu Zukri sudah mencapai hampir 39 tahun. Saya sekeluarga ke Padang menghadiri semua acara adat, pernikahan di kediaman pengantin wanita dan resepsi di gedung partemuan Ruhana Kudus, yang juga dikenal sebagai Gedung Wanita.

Zukri kelihatan begitu bahagia menerima ucapan selamat dari hadirin, terutama dari para aktifis yang berdatangan dari seluruh Indonesia. Teman-temannya di ITB juga banyak yang hadir, diantaranya Rizal Ramli yang dikemudian hari menjadi menteri beberapa kali di kabinet yang berbeda. Pejabat daerah juga banyak yang hadir, diantaranya Gubernur Sumatera Barat yang didaulat untuk memberikan sambutan mewakili tamu-tamu yang hadir.

Selanjutnya Zukri memboyong pengantin wanita-nya ke Jakarta, dengan memberhentikannya dari pegawai negeri. Zukri yakin, bisa mencari nafkah untuk keluarga dan ia berprinsip Istri diharapkan dapat mengelola keluarga internal. Belum setahun kumpul di Jakarta, istrinya hamil dan mereka memutuskan untuk melahirkan di Padang saja, mengingat banyak keluarga disana. Anak pertama lahir di Padang, namun karena segera disusul oleh kandungan anak kedua, akhirnya mereka memilih untuk selanjutnya menetap di Padang. Sekitar Juni 1996, Zukri menyelesaikan kiprahnya di Walhi, dan segera boyong perangkat rumah tangganya ke Padang. Di Padang, dalam tradisi Minang mereka boleh tinggal di rumah mertua sehingga beberapa waktu keluarga dengan 2 anak ikut nebeng di rumah mertua.

Setelah itu Zukri kembali ke Padang, untuk pekerjaan dan ekonomi keluarga, Zukri ikut temannya sesama alumni ITB membangun perumahan di Padang. Bersamaan dengan itu, ia mulai merenovasi rumah yang dicicilnya sejak bujangan dulu, lalu segera pindah seselesainya rumah yang berlokasi di kawasan Gunung Pangilun. Rasanya sempat dua tahun Zukri menjadi developer perumahan di tengah kota Padang.

Medio tahun 1997, dia mendapat kontrak dari Bank Dunia untuk pilot project Bank Dunia yang akhirnya memilih Kabupaten Solok sebagai salah satu lokasi. Bersamaan waktunya menjelang resesi ekonomi melanda Indonesia yang berakhir dengan reformasi pemerintahan RI. Pilot proyek setahun lamanya, sukses dilaksanakan. Sukses yang lain adalah Zukri mendapatkan lebih kurang 7 hektar lahan garapan di Alahan Panjang dengan pendekatan “siliah jariah”. Jadi, walau proyek selesai ia tetap bolak balik ke Alahan Panjang untuk menjadi petani dataran tinggi, berbasis komoditi sayur mayur dan markisa. Itu dilakoninya sampai ahir 1999, untuk punya kiprah baru di Padang, ikut mendirikan Koperasi Ekuator Minang Media.

Menjadi pendiri Koperasi Ekuator Minang Media, dengan beberapa anak perusahaan, antara lain menerbitkan harian umum Mimbang Minang, Penerbit Pustaka Mimbar Minang, Perkebunan Kopi dan Kantor Hukum.

Walaupun ikut menjadi pendiri KEMM dan kemudian menjadi ketuanya menyusul ketua sebelumnya mengundurkan diri, aktifitasnya dalam kegiatan kemasyarakatan dan lingkungan hidup Indonesia tidak berhenti. Mobilitasnya tinggi sekali, mengefektifkan waktunya berpergian ke seluruh Indonesia, termasuk kedaerah-daerah pelosok seperti Sangihe di utara Sulawesi utara, Sumba di NTT Selatan, Taka Bone Rate di Sulawesi Selatan dan berbagai daerah terpencil lainnya.

Kalau dia transit di Jakarta dan tidak sempat mampir ke rumah, dia hanya menelpon saja. Kalau punya waktu, dia menyempatkan mampir dan menginap dirumah saya di kawasan Pondok Gede. Dia menceritakan mengenai perjalanannya, pencapaian dan kontribusinya dalam pengembangan sosial kemasyarakatan dan lingkungan hidup. Dia sering memberi saya souvenir barang kerajinan daerah yang saya gemari berupa senjata tajam khas daerah, tasbih dan batu akik. Waktu ia menunaikan ibadah haji, saya dibelikan beberapa Al Quran dengan berbaberjumlah sekitar 300 oranggai bahasa.

Sebagai kakaknya, seing saya ditanya oleh kawan-kawan dan famili, apa pekerjaan Zukri. Saya tidak mempunyai kata yang tepat untuk menjawabnya. Akhirnya sesuai dengan istilah Zukri sendiri, saya jawab “Zukri sadang manggaleh babelok – pekan ke pekan” (Zukri menjadi pedagang keliling, dari pasar ke pasar). Kegiatan berkeliling mana dijalani sampai ia berumur 55 tahun. Ia merasa sudah waktunya pensiun serta dilihatnya sudah banyak generasi muda yang muncul dan konsisten sebagai aktifis lingkungan hidup dan kemasyarakatan. Zukri kemudian menjalani hidupnya sebagai konsultan di beberapa perusahaan perkebunan dan pertambangan yang membutuhkan pengalaman dan pengetahuannya. Hal lain lagi, ia sering menjadi narasumber dalam berbagai pertemuan dan seminar, baik tingkat lokal maupun nasional.

Disamping urusan pemenuhan ekonomi keluarga, di tingkat keluarga besar Syekh H. Abdul Malik, Zukri aklamasi diangkat menjadi Ketua Yayasan Syekh Haji Abdul Malik, disingkat Yayasan SHAM, dengan anggota seluruh anak, cucu, cicit dan piut. Kakek kami menghadirkan 7 anak laki-laki dari 4 orang istrinya. 7 kakak beradik ini, menghadirkan anak cucu dan cicit sebanyak lebih dari 300 orang. Rencananya, disamping meningkatkan silaturahmi, tolong menolong antar sesama seketurunan, adalah menghadirkan kembali sarana pendidikan di kampung halaman dengan fokus mengembangkan keahlian kakek kami yang ahli hadis pada zamannya. Semacam pesantren hafidz, tapi dilengkapi dengan ilmu hadis. Sampai saat ini, belum banyak program yang dikembangkan, terhambat pendemi covid-19 yang belum tahu kapan akan teratasi. Zukri sendiri, juga penyintas pandemi itu, awal januari 2021 yang lalu.

Memasuki usia 65 tahun, setelah ketiga anak-anaknya menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi dan masuk ke dunia kerja, Zukri kembali ke Padang, kembali ke rumahnya. Kembali menempati kediamannya yang asri. Rumah itu juga difungsikan sebagai perpustakaannya, dengan koleksi ribuan buku mengenai minatnya di bidang sosial, lingkungan hidup, agama, filsafat dan teknologi. Zukri sendiri sudah mengarang dan menerbitkan beberapa judul buku. Disamping menyelesaikan memoar ini bersama rekannya Hasril Chaniago, ia sedang berkutat mempersiapkan buku yang mendefinisikan hakikat kebahagiaan menurut suku-suku bangsa di Indonesia. Menurutnya, GNP – Gross National Product sebagai standar kemajuan mesti diganti dengan GNH – Gross National Happiness. Bukan produktifitas tapi kebahagiaan sebagai standar kesejahteraan rakyat Indonesia.

Bekasi, 1 Februari 2021

————

Azmi Saad SH., Alumni Universitas Gajah Mada dan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, menetap di Jakarta. Menghabiskan seluruh waktu profesionalnya dengan bekerja di berbagai perusahaan multinasional, yang menghantarkannya berkunjung ke berbagai negara.

Adikku Zukri | Azmi Saad