Bang Sukri yang konsisten

Oleh : Witra Marta

Perkenalan pertama saya dengan Bang Sukri terjadi tahun 1982 di tahun pertama saya kuliah di ITB. Sudah menjadi tradisi di ITB, setiap Mahasiswa baru di beri kesempatan untuk mengikuti kegiatan extra kurikuler di lingkungan kampus. Tiap mahasiswa baru memilih salah satu unit kegiatan kemahasiswaan yang ada di kampus saat itu. Saya memilih unit kegiatan Mahasiswa Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan atau dikenal dengan nama singkatan PSIK ITB. Saya tertarik karena konon banyak aktifis Mahasiswa ITB kelas berat pernah melalui unit kegiatan ini.

PSIK adalah unit kegiatan yang berseberangan dengan kebijakan kampus pada saat kami angkatan 1982 memasuki dunia kampus. Aktifitas kemahasiswaan dinilai tidak bersahabat dengan kebijakan kampus yang ingin lebih fokus mengajarkan Science, Engineering dan Seni. sedangkan isu isu sosial kemasyarakatan seperti ketidak adilan, kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan dan hal hal yang berkaitan dengan politik, sangat tabu bagi mahasiswa untuk membicarakannya. Saat itu Bang Sukri adalah ketua PSIK ITB.

Sebagai Aktifis Mahasiswa Bang Sukri mengambil sikap yang konfrontatif menolak tegas kebijakan pemerintah tersebut, yang terkenal dengan kebijakan NKK/BKK. Normalisasi Kehidupan Kampus mensyaratkan dibatasinya bahkan dilarang kegiatan politik Mahasiswa berbasis kampus. Konflik pimpinan kampus dan gerakan mahasiswa cukup tajam, berbuntut pelarangan kegiatan ekstrakurikuler tertentu.

Sikap yang konsisten, berpihak kepada rakyat kecil yang selalu terpinggirkan dalam derap langkah pembangunan Ekonomi, telah menumbuhkan dan membentuk pribadi Bang Sukri. Ia tampil sebagai sosok yang merdeka, mandiri dan percaya diri dalam mencari alternatif pemikiran yang berpihak kepada rakyat kebanyakan. Sikap inilah yang mendorong Bang Sukri, dan beberapa teman teman aktifis lain di pertengahan tahun 80-an, untuk kembali ke kampung halaman. Setelah dibahas cukup matang, mereka memutuskan untuk membangkitkan kembali Institusi pendidikan INS Kayu Tanam. Institut yang idkembangkan oleh M. Syafei ini berorientasi menghasilkan anak didik yang mengandalkan pengalaman lapangan, mandiri, merdeka, percaya diri serta tidak tergantung kepada bantuan pihak lain, apabila bantuan tersebut menghilangkan kebebasan dalam mencapai tujuan atau cita cita.

Beralihnya kekuasaan dari Rezim Sukarno ke Rezim Orde Baru di tahun 1965 telah merobah pola pembangunan ekonomi. Rezim Orde Baru mengambil kebijakan pegembangan ekonomi berpusat ditangan pemerintah pusat, yang bercorak kapitalis serta berpihak kepada pemilik modal besar serta terbuka kapada para investor asing. Implikasinya, keuntungan terbesar akan diraih oleh pemilik modal dan para individu yang memberikan kontribusi terbesar, sedangkan sebaliknya rakyat kebanyakan yang kurang pendidikan karena faktor ekonomi lama kelamaan akan terpinggirkan.

Keserakahan para pemilik modal besar dalam mengeksploitasi alam guna menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya, telah menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan, penggusuran terhadap masyarakat karena tanahnya digunakan untuk membangun komplek perumahan kalangan atas dan industri. Dinamika ketidak-adilan ini menciptakan kantong kantong kemiskinan dan kesenjangan ekonomi yang melebar antara si kaya dan si miskin, yang kaya tambah kaya yang miskin tambah miskin. Hadir diwaktu itu kritikan bahwa pembangunan sudah mengkasilkan kesenjangan kota – desa, Jawa – luar Jawa dan Kawasan Indonesia Barat versus Indonesia Bagian Timur. Waktu itu dikenal dengan istilah dikotomi pembangunan akibat strategi yang dipilih berjudul trickle down effect, pembangunan yang menetes untuk rakyat Indonesia. Rakyat akhirnya dapat tetesan belaka.

Pola pembangunan Ekonomi Orde Baru yang tidak berpihak kepada rakyat kecil, telah mendorong aktifis LSM pada saat itu untuk mencari alternatif pemikiran pembangunan Ekonomi. Tawarannya adalah pembangunan yang berbasiskan kepada rakyat (community based Development atau peole centered development). Model pembangunan yang ditawarkan ini, menempatkan rakyat sebagai pusat dari pembangunan itu sendiri. Rakyat difasilitasi untuk mampu mengelola perencanaan yang telah dirumuskan bersama, untuk memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Dimulai dengan keterlibatan rakyat secara aktif, secara bersama sama mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi, merumuskan solusi dan rencana aksi. Peran LSM mendorong hadirnya proses tersebut, mereka menyebutnya perencanaan pemba ngunan yang partisipatif.

Bang Sukri sebagai aktifis LSM, terlibat aktif mengembangkan pola pembangunan berpusat kepada rakyat ini. Perjalanan kehidupan profesionalnya telah memberi beliau pengalaman panjang sebagai fasilitator lapangan guna mencari solusi terhadap tiap persoalan yang membutuhkan solusi tersendiri. Berada ditengah rakyat kebanyakan itu tidak semata-mata mengandalkan semangat seorang aktifis saja.

Bang Sukri juga pembelajar yang tekun memahami substansi persoalan kemasayarakatan yang ditemuinya. Ia belajar banyak dalam perjalanan karir pemberdayaan masyarakat yang diminatinya. Setahu saya, dia pergi belajar ke Eropah, ke Amerika Latin, ke India, kenegeri China dan negara-negara kecil miskin di Afrika. Disamping memenuhi hobbinya melihat negeri orang, ia sebenarnya selalu mencari pemenuhan dahaga intelektualnya yang tak pernah terpuaskan. Itulah makanya, ia baru berkeluarga pada usia tidak muda lagi, 40 tahun ! Maaf Bang Sukri untuk yang satu ini.

Sebagai seorang aktifis LSM dengan pengalaman lapangan yang panjang, Bang Sukri mempunyai keahlian tersendiri. Ia selalu yakin akan ketepatan solusi dari permasalahan yang ditemui ketika melakukan observasi langsung di lapangan. Katakanlah itu indera keenam, khususnya dalam berinteraksi dengan masyarakat tempatan. Setiap desa mempunyai persoalan yang spesifik, karenanya solusi yang dihadirkan haruslah sangat sesuai dan unik. Tentu memerlukan keahlian khusus yang tidak didapatkan dari bangku kuliah. Itu terbentuk berdasarkan pengalaman lapangan. Inilah kekuatan Bang Sukri, ia mampu merumuskan persoalan yang dihadapi masyarakat secara spesifik dalam waktu singkat berbasis pengalamannya.

Bang Sukri telah membuktikan keampuhan pengalaman lapangan ini, sewaktu beliau bekerja sebagai tenaga ahli pada suatu perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang perkebunan dan pertambangan. Beliau dihadapkan dengan tantangan untuk menyelesaikan sengketa lahan antara perusahaan dengan penduduk setempat. Sengketa yang telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa ada solusi yang memuaskan semua pihak.

Bang Sukri dengan pengalaman lapangan dan negotiation skill yang ditempa dari pengalaman lapangan yang panjang, mampu menyelesaikan persoalan tersebut dengan memuaskan semua pihak dalam waktu yang relatif singkat (win win solution). Kata Bang Sukri, itu hanya persoalan membangun suasana komunikasi yang setara antar para pihak. Kemampuan komunikasi personal dan komunikasi social adalah modal besar dalam menyelesaikan konflik kepentingan. Dalam ceramah-ceramahnya, Bang Sukri selalu mengetengahkan perlunya meningkatkan kompetensi tim kerja dalam berkomunikasi, ia menyebutnya Human relation skill dan social communication skill. Tugas tambahan kampus harusnya memberi perhatian khusus untuk alumninya, yakni kompetensi berkomunikasi.

Dengan pengalaman lapangan yang sangat panjang, Bang Sukri mempunyai expertise yang unik. Beliau mempunyai naluri terobosan atau manaruko dalam mengembangkan suatu daerah. Menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada guna kemajuan daerah. Namun dibalik cerita sukses itu, Bang Sukri tentu mempunyai kelemahan tertentu, yakni dalam mengelola daerah untuk pengembangan lebih lanjut. Oleh karena itu, Bang Sukri harus didampingi oleh seseorang yang mempunyai kemampuan management skill yang kuat. Maksudnya agar supaya apa yang telah dikembangkan tidak berhenti di tengah jalan, tapi berhasil mencapai tujuan nya secara maksimal.

Dalam menginjak usianya yang akan mencapai 65 tahun, Bang Sukri berencana kembali pulang ke kampung. Ia menyebutnya sebagai yang perantauan ketiga. Setelah anak-anak beliau menyelesaikan kuliah mereka dan memasuki dunia kerja, beliau kembali ingin bertani, seperti yang pernah dirintis-nya di masa yang lalu.

Semoga pulang kampung yang ketiga ini, dengan pengalaman lapangan yang panjang, beliau tetap produktif berkiprah memberikan manfaat kepada orang banyak. Itu jihad menurut keyakinannya. Semoga.
Jakarta 24 Agustus 2020

————

Ir. Witra Marta, Alumni Tehnik Kimia Institut Teknologi Bandung, Pensiun dan menetap di Jakarta. Praktisi berpengalaman di bidang Perminyakan dan Gas. Berkarir lama di Perusahaan Minyak multinasional seperti British Petroleum dan Total Indonesie, kini menjalani pensiun dengan menetap di Jakarta.

Adikku Zukri | Azmi Saad