Bang Zukri, Inspirator Kami

Oleh suami isteri: Adam Aziz dan Risweni

Bang Zukri, demikian kami selalu menyapa beliau, meskipun sebagian teman yang lain ada yang menyapanya dengan sebutan Uwan. Pada suatu siang di akhir 14 Juli 2020 saya menerima pesan  via WhatsApp dari Bang Zukri untuk “menulis tentang hubungan kita” dalam rangka HUT 65 tahun Uwan Zukri; Kisah-kisah Merantau Ke Kampung Halaman” dari saya dan isteri. Kira-kira judul sementaranya demikian sebagaimana tertera di WhatsApp. Kebetulan saya sedang bersama isteri dan langsung saya sampaikan kepada isteri saya. “Wah berat ini” komentar isteri saya sambil tertawa dan saya menimpalinya sambil tertawa pula.

Selanjutnya saya bertanya balik ke Abang, “model tulisannya bebas ya Bang?”. Tak lama kemudian beliau menjawab  “ Bebas sebebas bebasnya. Ekspresi apapun akan diterima dengan senang hati”. Reaksi kami ini mengisyaratkan bahwa tidaklah mudah untuk memaknai pola relasi dan persepsi kami tentang sosok seorang  Zukri  Saad yang sangat senior bagi kami berdua, sekaligus sebagai sosok saudara yang kami tuakan. Hal ini sangat beralasan mengingat segudang prestasi dan pengalaman beliau, serta usia yang terpaut 15 tahun di atas saya dan 19 tahun dengan isteri saya.

Saya mulai mengenal atau tepatnya mendengar nama Bang Zukri pada tahun 1995, dikala itu saya mulai bekerja pada sebuah LSM  lingkungan (WWF ID 0094) di Kerinci. Sebagai pekerja lingkungan, tepatnya hutan, saya mulai berinteraksi dengan beberapa LSM lingkungan/hutan di wilayah Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Melalui teman-teman LSM tersebutlah saya mulai mengenal nama dan cerita tentang sosok Bang Zukri. Dari cerita teman-teman, Bang Zukri layaknya seorang mentor dan panutan yang militan dan heroik bagi teman-teman LSM di Indonesia atau setidaknya demikian yang saya maknai dari cerita teman-teman LSM di ke empat Provinsi tersebut saat itu. Satu penggalan cerita misalnya, ada yang bilang bahwa beliau merobek Ijazahnya, dari pergurun tinggi ternama, karena alasan tertentu. Meskipun kemudian saya tidak pernah berani menanyakan langsung akan kebenaran hal ini.  Hebat sekali tentunya bagi saya yang saat itu sebagai pekerja pemula di sebuah  LSM,dan sebelumnya tidak pernah berinteraksi secara intim dengan aktifis LSM.

Sementara isteri saya mulai kenal dengan Bang Zukri, pada tahun tahun 2000 an, saat itu isteri saya mulai bekerja di KKI Warsi (sebelumnya di WWF ID 0107 Riau). Namun belum beriteraksi intens dengan Bang Zukri. Kami relatif sering bertemu dan ngobrol dengan Bang Zukri sejak 13 tahun yang lalu, ketika saya terlibat sebagai pengurus KKI Warsi bersama Bang Zukri, dan isteri saya sesekali ngobrol jika bertemu di KKI Warsi. Sejak itu tali silaturrahmi kami terus berlangsung hingga saat ini, baik itu berupa interaksi langsung maupun saling menanyakan hal-hal tertentu, atau hanya sekedar bertanya kabar satu sama lain melalui media sosial.

Setelah bertemu langsung dan berdiskusi dengan Bang Zukri, menjadi pembuktian bahwa benarlah adanya cerita tentang sosok Bang Zukri yang saya dengar dari teman-teman LSM sebelumnya.  Untuk tulisan ini saya dan isteri berdiskusi, guna mengerucutkan bagaimana sesungguhnya kesan dan persepsi kami berduatentang Abang yang kami tuakan ini. Ternyata kesan dan persepsi kami beda tipis, cenderung hanya beda penggunaan istilah saja. Kami dengan mudah bisa sependapat akan beberapa hal tentang Bang Zukri, antara lain sebagaimana kami ungkapkan dalam tulisan ini.

Aktifis dan argumentatif. Meskipun beberapa tahun terakhir bang Zukri tidak lagi sepenuhnya menghabiskan waktunya sebagai aktifis, akan tetapi cara berfikirnya masih kentara mempelihatkan  bahwa beliau aktifis, bukan orang teknis. Dalam mengupas segala sesuatunya selalu dibangun dengan narasi narasi argumentasi sedemikian rupa, dengan dimensi yang kompleks. Selalu syarat dengan hal-hal yang ideologis, meskipun ini dapat diperdebatkan oleh sebagian orang. “Cara penyampaiannya  yang berapi-api  dapat menularkan panas”, serta “membuat orang lain bergairah untuk melanjutkan diskusi ”, pungkas isteri saya. Diskusi-diskusi yang terbangun tidaklah “kering”, tapi juga selalu diselingi dengan senda gurau.

Visioner-kejauhan. Bertemu dan diskusi dengan Bang Zukri selalu ada isu dan topik baru, Pemikiran Bang Zukri selalu melampaui apa yang kami pikirkan. Pengalaman beberapa tahun bersama sebagai pengurus KKI Warsi, Bang Zukri salah satunya yang selalu membangun mimpi kemana atau seperti apa KKI Warsi lima, sepuluh atau bahkan dua puluh tahun ke depan, dan seperti apa standing position lembaga ini untuk jangka panjang. Walaupun terkadang sulit dicerna untuk sebagian orang dan  dianggap “kejauhan”, setidaknya pernah dirasakan oleh isteriku yang memberikan masukan (sambil tersenyum) ketika tulisan ini saya buat. Namun kemudian isteri saya menimpali bahwa itu lebih dikarenakan oleh ketidakmampuannya untuk mencerna tentang apa yang dimaksudkan oleh Bang Zukri.

Membangun dan memelihara jejaring. Untuk istilah ini saya lebih senang katakan bahwa Bang Zukri selalu membangun dan memelihara silaturrahmi dengan siapapun. Di kota manapun beliau berkunjung, beliau selalu menghubungi teman-teman setempat, bertemu, makan-makan dan ngobrol tentang berbagai hal, termasuk cerita tentang anak-anak dan keluarga masing-masing. Beliau senang berbagi cerita tentang anak-anaknya, atau hal-hal baru yang menarik perhatiannya. Tidak ada kendala beda usia, Bang Zukri selalu dapat saja nyambung untuk ngobrol dengan siapapun meski dengan jarak usia yang terpaut jauh. Selalu ada topik yang sesuai, baik itu tentang situasi kekinian maupun cerita masa lalu. Bahkan cerita pengalaman baik orang lain yang beliau tahu dan yang layak untuk ditiru, sebagai sebuah pembelajaran.

Kuliner dan kesehatan. Salah satu media untuk silaturrahmi dan ngobrol adalah sambil makan. Di beberapa kota Bang Zukri selalu punya pilihan tempat makan favorit dan pasti enak, setidaknya buat saya yang sesama orang Sumatera. Misalnya, rumah makan Munir kalau di Jambi, rumah makan  Ikan Tudeh (menu Manado) kalau di Jakarta, dan beberapa tempat lainnya. Namun disisi lainnya, beliau juga selalu berbagi tips tentang pola hidup sehat, termasuk jenis makan yang dimakan.

Sepertinya beliau sadar betul  menu favoritnya tidak selalu sejalan dengan pola hidup sehat. Hingga terakhir  kami bertemu tahun lalu, kami masih makan siang dirumah makan Munir, meskipun beliau sedang diet Keto dan menunya tidak terlalu baik untuk kolestrol. Tapi yakinlah Bang Zukri selalu ada cara untuk mengatasinya.

Semangat dan energik. Sebagai aktifis yang visioner hampir pasti selalu bersemangat dan energik.  Selalu ada cara dan pemikiran yang optimis, mencari celah solusi dalam berbagai persoalan yang dihadapi. Pada masa sulit selalu ada ikhtiar yang beliau lakukan untuk dirinya, atau saran dan pendapat  bagi sahabat yang kesulitan. Misalnya, pada suatu pertemuan sekitar 7 tahun silam, saya bercerita kepada teman-teman tentang kesulitan anak yang kurang sehat dan sedang bersekolah di Jakarta. Layaknya seorang Abang, spontan Bang Zukri memberikan saran dan itu masuk akal. Seminggu kemudian atas bantuan teman lain anak saya sudah bisa pindah Sekolah ke Jambi dan jadilah satu masalah teratasi. Hingga hari inipun Bang Zukri masih selalu beraktifitas dan berkarya, termasuk penulisan buku ini merupakan bukti nyata bahwa beliau bersemangat dan tetap energik dalam setiap momentum.

Realistis dan Bertanggungjawab. Beberapa tahun silam bang Zukri memilih bergabung pada sebuah perusahaan besar yang mengelola kebun sawit dan sumber daya hutan. Meskipun sebagian teman saat itu menentang pilihan tersebut.  Kami menduga ini pilihan sulit bagi Bang Zukri, dan pasti ada alasan sangat mendasar  dengan pilihan realistis situasional saat itu. Dalam persepsi kami, selama berada di perusahaan tersebut, mestilah beliau cukup kuat mencoba untuk menerapkan segala pemikiran, keahlian, dan niat baik untuk merealisasikan pemikiran-pemikiran beliau sebelumnya, meskipun itu tidaklah mudah bagi beliau.

Terlepas dari pilihan profesi Bang Zukri, kami sangat respek dan salut kepada Bang Zukri  yang telah berhasil mengantarkan 3 putra-putrinya menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Sukses untuk profesi dan pendidikan anak-anak. Dalam pangdangan Bang Zukri, kalau dulu orang tuanya mampu menyekolahkannya sampai jenjang S1, maka untuk anak-anaknya seharusnya mampu mencapai S2. Itu baru disebut peningkatan generasi.

Cerita perjalanan dan pengalaman hidup beserta segala talenta Bang Zukri sebagai seorang aktifis LSM lingkungan menjadi salah satu “cermin  pembelajaran” bagi kami yang berprofesi sebagai pekerja Lingkungan. Dengan harapan, segala nilai-nilai baik yang beliau miliki dapat menjadi inspirasi bagi kami untuk dapat menjadi aktifis lingkungan yang sesungguhnya.

Banyak terima kasih kepada Bang Zukri Saad, atas kesempatan yang diberikan untuk menyampaikan tulisan ini. Persepsi dan pemaknaan kami berdua tentang Bang Zukri pastilah ada kelemahan dan kekurangannya, untuk itu mohon dimaafkan. Salam hormat, teruslah berkarya untuk menginspirasi kami semua. Semoga sukses selalu dan berada dalam perlindungan Allah SWT (AA dan WN).

————

Adam Aziz S.Sos. MSi. Bekerja sebagai profesional di bidang rekayasa sosial dan saat ini sedang menjabat sebagai  Direktur  Opersional PT. REKI – Hutan Harapan, sebuah usaha swasta yang didukung oleh pemerintah Inggris untuk restorasi ekosistem dan pelestarian hutan. Menyelesaikan studi S1 dan S2 di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik – Universitas Andalas – Padang

Risweni berkarir sebagai Manajer Keuangan di jaringan Komunitas Konservasi Indonesia-WARSI, perkumpulan penggiat konservasi Indonesia yang berbasis di kota Jambi). Menyelesaikan Studi S1 Ekonomi Akutansi di Universitas Jambi.

Adikku Zukri | Azmi Saad