Bang Zukri Mentor Kami

Oleh : Elfi Malano

Sebagai Mahasiswa baru angkatan 82 di ITB, kami datang pada saat semua Lembaga Kemahasiswaan sudah diberangus paska Gerakan Mahasiswa 1978, yang menuntut turunnya Suharto dari jabatan Presiden RI. Kehadiran kami di kampus ITB diwarnai dengan telah diterapkannya konsep NKK (singkatan dari Normalisasi Kehidupan Kampus), yang merupakan wujud de-politisasi kampus-kampus. Konsep besutan Menteri Pendidikan DR. Daoed Joesoef ini ingin melokalisir aktifitas mahasiswa dalam tataran teori, proses analisis dan steril untuk kelak mengisi sektor kerja tertentu. Aktifitas Mahasiswa dianggap haram, Gerakan mahasiswa adalah Gerakan bawah tanah yang apabila ketahuan sanksinya bisa dipecat dari ITB.

Kondisi represif itu tidak membuat sebagian kami takut dan mematuhi kebijakan pengelola kampus. Aktifitas di Unit Kegiatan malahan semakin menyuburkan semangat kebangsaan kami. Kebetulan saya dan beberapa teman yang kelak menjadi aktifis ITB, tergabung dalam Unit Aktifitas Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB. Belakangan, saya tahu unit aktifitas ini banyak menghasilkan aktifis ITB, yang pada gilirannya mewarnai dinamika politik Indonesia. Walau di permukaan gerakan mahasiswa ITB dianggap sudah bisa dilumpuhkan, tapi semangat perlawanan generasi berikut tak kunjung berhasil dipadamkan pemerintah. Rasanya, tinggal tunggu momen yang tepat untuk kembali dimunculkan.

Makanya, secara diam diam ada diantara kami mencoba mencari dan mendengar informasi dari berbagai sumber yang masih ada. Tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa 78 mulai kami hubungi dan membangun komunikasi, seperti melakukan kontak dengan mantan Ketua Umum DM ITB Herry Akhmadi, Pjs DM ITB Yusman Syafei Djamal dan lain-lain. Aktifis yang bergerak diluar kampus, juga mulai kami dekati. Waktu itu ada Perhimpunan Indonesia Merdeka (Perhima) yang menghimpun tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa 78 yang tetap melakukan kerja-kerja politik. Ada sebagian aktifis yang berpendapat bahwa kekuasaan otoriter akan tumbang sendiri, bila rakyat Indonesia sudah cerdas dan bisa menentukan nasibnya sendiri. Mereka tergabung dalam Yayasan Mandiri. Dialog dengan mereka menguatkan kami, bahwa gerakan moral dari kampus tetap harus digelorakan.

Kondisi dibawah ancaman itu, membuat sebagian besar mahasiswa senior sepertinya tiarap dan kelihatan hanya fokus ke bangku kuliah saja. Kebesaran Gerakan Mahasiswa ITB yang terkenal itu memang seperti tak terlihat jejaknya sama sekali. Tapi, gerakan diluar kampus telah menjadi referensi kami untuk tetap menyirami persemaian nilai kebangsaan generasi 80-an.

Lambat laun terbentuklah solidaritas dan perkawanan yang erat diantara sebahagian kami se-angkatan. Secara rutin kami melakukan diskusi khusus diluar kegiatan wajib perkuliahan dengan beberapa tokoh mahasiswa yang masih berada di kampus, seperti Zukri Saad, Iwan Basri, Hendardi, Harry Wibowo, Radhar Tri Baskoro dan si kembar Amir Sambodo (sekarang sudah almarhum) dan Umar juoro. Khusus untuk senior Zukri Saad, selanjutnya dalam terstimoni ini akan disebut Abang saja.

Sedikit berbeda dengan temannya Iwan Basri, Amir Sambodo, Umar Juoro, dan Radar Tri Baskoro yang piawai berorasi membakar semangat di tengah massa mahasiswa bak pidato Bung Karno di lapangan Ikada, Abang sangat piawai berbicara dalam forum yang lebih kecil seperti diruang diskusi dan kelas mentoring. Bahasanya terstruktur dan mengalir lancer. Cukup mengasyikkan bagi kami aktifis muda.

Cerita dan analoginya mengena dan sangat tangkas dalam menjawab pertanyaan serta kritik dari peserta diskusi. Sekilas kami membayangkan, tipikal Abang beginilah dahulu tokoh-tokoh Minang yang piawai dalam berbicara, bernegosiasi dan berdiplomasi. Berbasis keterampilan itu pulalah mungkin kontribusi terbesar aktifis etnis Minang di awal kemerdekaan dulu.

Perkenalan melalui proses Mentoring dan diskusi ini, membuat solidaritas kami semakin kuat untuk kembali menghidupkan Lembaga sentral Kemahasiswaan ITB, yang selanjutnya dapat menjadi kekuatan moral dalam mengkritisi Pemerintahan Orde Baru yang tetap makin otoriter. Puncak solidaritas kami sebagai mahasiswa tingkat 1 (TPB) saat itu adalah saat kami melakukan demo besar-besaran saat hari wisuda sarjana awal Maret 1983. Aksi demonstrasi ini tentunya mengejutkan berbagai pihak di Bandung khususnya, karena sudah cukup lama hilang dari dinamika kemahasiswaan sejak dibubarkannya DM/KM ITB beberapa tahun yang lalu.

Beberapa kami dipanggil ke Rektorat dan syukur hanya mendapatkan peringatan lisan dari pimpinan ITB. Namun yang lebih penting , ternyata aktivitas kami ini telah menarik perhatian serius dari senior aktivis mahasiswa yang sudah menepi. Tak lama setelah demo besar itu, sebagian dari kami ini dan para senior aktivis yang menepi tersebut bersepakat untuk melanjutkan cita-cita bersama melalui apa yang disebut Latihan Kepemimpinan dan Organisasi, disingkat LKO. LKO dipersiapkan untuk menghadirkan aktifis ITB generasi baru, yang pada saatnya akan matang mengelola lembaga kemahasiswaan sekaligus melaksanakan gerakan moral mahasiswa mengontrol kekuasaan.

18 orang, yang menurut para senior dianggap sebagai tokoh masa depan fungsionaris kemahasiswaan ITB, dikumpulkan dalam satu camp pelatihan di dekat lokasi Pendidikan Militer di Kawasan Situ Lembang. Posisinya di Bandung Utara. Selama 5 hari kami diberikan materi yang sangat beraneka ragam. Silih berganti para aktivis memberikan masukan, mulai dari ekonomi, politik, sejarah dan tentunya tentang pola-pola pergerakan mahasiswa, baik di Indonesia maupun di belahan dunia lain.

Bang Zukri sebagai Host yang rajin dan gigih dengan tutur katanya yang runut dapat merangkai semua materi menjadi suatu kesatuan yang utuh dan mudah dipahami. Masih terngiang di telinga kami ungkapan bang Zukri : “ Sebelum melakukan Tindakan, kalian pikirkan kembali, ini alat atau tujuan.”

Sederetan rencanapun dibuat sebagai buah dari LKO Situ Lembang ini. Buah dari LKO ini secara nyata terlihat beberapa tahun kemudian, 18 orang ini hampir semuanya berhasil menduduki posisi ketua Himpunan Mahasiswa ITB dan Unit Aktivitas mahasiswa ( Lembaga mahasiswa yang legal waktu itu). Dimotori alumni pelatihan yang berbasis di Himpunan Mahasiwa dan Unit Aktifitas, selanjutnya dibentuklah FKHJ ( Forum Ketua Himpunan Jurusan).

Gegap gempita FKHJ menelurkan lembaga eksekutif berwujud Satuan Tugas/ Satgas FKHJ yang lingkup kerjaannya mirip Dewan Mahasiswa. Kedua badan ini terus eksis dan berkembang, kemudian menjadi titik awal kembalinya Lembaga Kemahasiswaan KM ITB sampai saat ini.

Tahun berubah musim berganti, sejak tahun 1988 satu persatu kami mulai meninggalkan kampus ITB untuk memasuki dunia kerja yang nyata hingga saat ini, dan siapakah 18 Mahasiswa Angkatan 82 itu? Berikut mungkin Sebagian anda kenal : Pramono Anung Wibowo, M. Fajrul Rahman, Alm. Theodores Jacob Koekeritz/Ondos, Ridwan Jamaludin, Irfan Setiaputra, Muhammad Khayam, Firdaus Ali, Agus Riyanto, Syamsu Alam, Alm. Muhammad Ridwan, M. Farhan Heilmy, Riawandi Yakub, Angga Dinata, Elfi Malano, M. Hidayat Nasution, Benny Situmeang, Indra setiajid, dan Mangarimpun Parhusip.

Walaupun beberapa diantaranya menjadi tokoh nasional seperti Menteri, juru bicara Presiden, Direktur Jendral, Pimpinan BUMN dan berkiprah secara efektif di berbagai bidang, Berharap saya, mereka semua tidak akan pernah melupakan ilmu kepemimpinan yang pernah Abang Zukri ajarkan. Terima kasih Abang Mentor kami….

Jakarta, 17 Agustus 2020

————

Ir. Elfi Malano, menyelesaikan pendidikan di jurusan Elektro – Fakultas Teknologi Industri ITB pada tahun 1989, telah berkarir sebagai professional di bidang industri telekomunikasi, elektronika, energi dan manajemen otomotif. Menetap di Jakarta.

Adikku Zukri | Azmi Saad