Bang Zukri Pejuang Yang Tak Berpamrih dan Tak Kenal Letih

Oleh : Bambang Hariyanto

Pada pertengahan tahun ‘80-an, dinamika kehidupan kampus berkembang dengan segala batasan-batasan, sebagai pengaruh kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) dari pemerintah Orde Baru. Dinamika itu membuat tidak banyak pilihan untuk beraktivitas bagi Mahasiswa selain organisasi resmi, seperti Senat Mahasiswa dan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Mahasiswa pada saat itu, banyak mengikuti kegiatan ekstra kampus.

Aktifitas kemahasiswaan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang, selain Senat dan BPM, terdapat organisasi pencinta alam yang sangat aktif, yaitu WIGWAM. Kegiatan-kegiatan WIGWAM ini selain kegiatan kepencintaalaman, lintas alam, camping, mendaki gunung, susur sungai dan goa, juga banyak sekali aktivitas sosial yang dilakukan termasuk pendidikan-pendidikan konservasi alam dan/atau lingkungan hidup secara umum.

Salah satu organisasi yang waktu itu paling banyak berhubungan dengan kegiatan pencinta alam di kampus, adalah WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia). Sejak dulu WALHI sudah sering bersentuhan dengan kegiatan kampus lewat kegiatan-kegiatan pecinta alam seperti pendidikan konservasi alam (PKA). Kemudian ada event tahunan WALHI yaitu Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) dan berbagai event lainnya.

Bang Zukri ini berasal dari Padang Sumatera Barat. Ia merupakan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sudah lebih dulu aktif di organisasi pencinta alam WALHI dan pernah menjadi Direktur WALHI. Karena dia berdomisili di Padang, sementara WALHI berkantor di Jakarta, jadi sering bolak balik Padang-Jakarta dan pasti melewati Lampung, Palembang, dan Jambi. Dalam perjalanannya itu beliau selalu menyempatkan singgah di kampus ke WIGWAM, di situlah sebetulnya awal perkenalan dengan Bang Zukri Saad.

Bang Zukri ini pandai merajut hubungan baik dengan berbagai organisasi, termasuk pula mempertemukan dengan lembaga-lembaga donor yang bisa membuat program bersama. Salah satunya, program konservasi yang dibiayai Bank Dunia yang berlokasi di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Selain itu, banyak kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, misalnya kegiatan pendampingan masyarakat di Desa Napak Licin Provinsi Sumatera Selatan, juga di Provinsi Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Barat.

Kegiatan demi kegiatan terus dilakukan, sampai akhirnya kita sering bertemu dan berkomunikasi dengan intensitas cukup tinggi. Salah satunya komunikasi dengan 12 lembaga pencinta alam pada waktu itu, dan melahirkanlah sebuah organisasi yang kita sebut dengan WARSI. Awalnya, WARSI adalah perkumpulan yang dimotori oleh kawan-kawan dari Gita Buana Jambi yang kemudian jadi konsorsium dari 12 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan yang dipelopori juga oleh organisasi pencinta alam kampus serta beberapa organisasi ekstra kampus, seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan PKBI yang itu semua tidak lepas dari pengaruh Bang Zukri. Sampai hari ini, WARSI fokus pada konservasi alam, dia tidak banyak menyentuh bidang-bidang advokasi seperti WALHI.

Pada awal tahun ’90-an WARSI yang merupakan konsorsium berbadan hukum yayasan, kemudian Saya menjadi Ketua Dewan Pengurus yang pertama. Pada waktu itu saya sudah aktif di LBH Palembang sebagai Ketua Bidang Operasional. Sejak menjadi Mahasiswa Fakultas Hukum UNSRI saya sudah aktif di LBH sebagai Volunteer. Karena memang LBH ini berkonsentrasi pada pembelaan masyarakat tertindas karena struktur politik, oleh karenanya LBH juga fokus pada isu-isu politik dan demokratisasi dalam bingkai yang disebut Bantuan Hukum Struktural. Dalam konteks itulah, LBH juga banyak berhubungan dengan LSM Lingkungan, organisasi buruh, organisasi mahasiswa, dan organisasi petani sebagai mitra strategis.

Terlibat dalam program-program bersama bagi LBH adalah keharusan dengan strategi menjalankan program Bantuan Hukum Struktural. Di situlah mengapa LBH banyak terlibat program bersama dengan WALHI dan LSM lokal. Diskusi-diskusi dengan aktivis nasional dan lokal adalah bagian dari perjuangan kawan-kawan di LBH. Di situlah kita bicara tentang lingkungan, perburuhan, HAM, dan bantuan hukum struktural pada umumnya.

Kembali ke figur Bang Zukri, tokoh ini memang memiliki kemampuan retorika dan pribadi yang baik, dia juga pandai menjalin hubungan dengan kawan-kawan dari berbagai kalangan dan lembaga, dan sikapnya yang konsisten sampai hari ini. Dia terus “menganyam” begitu istilah yang sering kami pakai untuk menyebut keahlian Bang Zukri, menjalin hubungan ini menjadi satu, sampai menghasilkan ikatan cukup kuat sampai hari ini. Bukan saja secara kelembagaan tetapi juga secara personal. Bahkan di luar program-pun, ikatan pertemanan dengan Bang Zukri tetap terjalin. itulah salah satu kemampuan luar biasa yang kita lihat dari Bang Zukri, yang banyak mempengaruhi kawan-kawan termasuk saya.

Melihat kehidupan aktivis seperti Bang Zukri kelihatannya asyik dan menarik, ketemu banyak teman, memotivasi kawan-kawan dan masyarakat dampingan dengan keberpihakan yang jelas dan tegas pada keadilan. Jiwa yang bebas dan mandiri, ditambah pengaruh perjuangan sebagai aktivis LBH, mungkin sama dengan Bang Zukri, saya belum pernah melamar untuk bekerja.

Kalau kita flashback lagi ke belakang, tahun ’80-an itu zaman orde baru, belum banyak lembaga-lembaga yang memang konsen membela kepentingan masyarakat. Lembaga seperti KOMNAS HAM belum ada, sehingga kalau ada masyarakat menyampaikan laporan, pengaduan dan keluh kesahnya, memang tidak ada pilihan bagi mereka selain LBH. Karena memang lembaga-lembaga yang berani terang-terangan dalam arti “menggugat” kebijakan pemerintah, itu hanya WALHI dan LBH. Jadi, kita kaya dengan pengalaman-pengalaman itu di LBH.

Aktif di LBH adalah kebanggaan pada waktu itu, karena tidak banyak lembaga yang berani secara tegas melakukan perlawanan kepada penguasa Orde Baru. Maka tak heran, jika dari lembaga ini muncul tokoh-tokoh yang menjadi simbol demokrasi dan hak azasi, seperti Yap Thiam Hien, Adnan Buyung Nasution, dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Sebut saja Abdurrahman Saleh yang pernah menjadi Jaksa Agung, Mulyana W. Kusumah, Teten Masduki, Munir, dan tentu alumni LBH Palembang yang juga cukup dikenal di panggung Nasional. Generasi berikut tampil ke tingkat nasional diantaranya seperti Nur Kholis di KOMNAS HAM dan Munarman yang dikenal sebagai pembela HTI.

Ada satu lagi lembaga yang bersentuhan dengan masyarakat di Pedesaan, yaitu Yayasan Bina Desa yang dipimpin Pak Karcono almarhum. Bina Desa lebih konsen melakukan pendampingan masyarakat di pedesaan. Mereka mengorganisir masyarakat pedesaan dengan program-program sederhana yang dulu kita sering terlibat, misalnya ada program pelancar musyawarah, mengajarkan demokratisasi, bagaimana kita bermusyawarah dan bagaimana kita mengambil keputusan di level terkecil di desa. Bagus betul programnya. Bina Desa sendiri tidak melakukan advokasi, artinya tidak terang-terangan berbeda atau bertentangan dengan pemerintah, tapi memiliki peran yang cukup bagus membangun demokratisasi di level grassroot. Berbeda dengan WALHI, apalagi LBH dengan jargonnya “lokomotif demokrasi”, selalu berada di depan bicara soal-soal advokasi lingkungan, advokasi Hak Azasi dengan cukup tegas.

Karena perlawanan para aktifis yang memiliki background beragam, dengan berbagai bentuk aktifitas ini berjalan dengan baik. Sehingga reformasi tahun ’98 itu tidak lepas dari peran-peran lembaga tadi dalam membangun demokratisasi dan membangun berbagai stakeholders baik itu mahasiswa, buruh, organisasi pencinta alam, maupun organisasi di lingkup pedesaan yang itu semua saling terkait, yang pada akhirnya membangun sebuah kesadaran.

Kalau hari ini kita renungkan apa yang kita lakukan di tahun 80-an sampai akhir 90-an, semuanya saling kait mengkait dan semuanya mempunyai peran sekecil apapun kontribusinya. Itu semua hanya bisa dilakukan oleh kawan-kawan yang punya semangat yang luar biasa, di antaranya oleh Bang Zukri dan semua kawan-kawan aktifis telah berkontribusi melahirkan reformasi dari negara yang represif di bawah pengaruh militer di masa Orde Baru mampu menjadi negara yang cukup demokratis.

Sampai hari ini, Bang Zukri tetap eksis dengan cita-cita awalnya yaitu membangun masyarakat yang madani, yang demokratis dimana rakyat turut berperan dalam proses pembangunan dan pengambilan keputusan. Kalau berfikirnya pragmatis, mau gampang, mau enak, sebenarnya bagi dia mudah saja, tapi dia tidak lakukan itu. Dia lebih nyaman dengan kehidupannya seperti sekarang, menjadi orang bebas. Bebas dalam pikiran dan bebas dalam tindakannya. Sehingga dia bisa melakukan kontribusi dengan caranya yang leluasa sebagai konsultan di banyak tempat.

Pada awal pandemi Covid-19 ini, kami berdiskusi tentang cita-cita untuk membangun sebuah lembaga yang akan fokus tentang penyelesaian konflik sumber daya alam, semoga ide ini dapat segera dilaksanakan. Akhirnya, saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun ke 65 Bang Zukri, mudah-mudahan sehat, panjang umur, dan cita-cita membangun masyarakat madani, masyarakat yang egaliter, masyarakat yang adil dan makmur dalam negara hukum yang demokratis yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, InsyaAllah segera terwujud.

Palembang, 17 September 2020

————

H. Bambang Hariyanto SH. MH. FCBArb., Menyelesaikan S1, Magister Hukum dan saat ini sedang menyelesaikan S3 di Universitas Sriwijaya – Palembang. 10 tahun bergiat di LBH Palembang. Ketua IKADIN Palembang (2005 – 2011); Ketua PERADI Palembang 2008 – 2018; Wakil Sekretaris Jenderal DPN PERADI (2015 – 2020). Arbiter di Badan Arbitrasi Nasional Indonesia (BANI) dan aktif melakukan pembelaan hukum selaku Pengacara Senior di seluruh Indonesia.

Adikku Zukri | Azmi Saad