Bang Zukri, Selalu Ada Yang Baru

Oleh : Rudi Syaf

Bang Zukri, demikian saya menyapa, tokoh yang pertama saya kenal pada akhir tahun 1980-an. Ketika itu beliau menjabat sebagai Presidium Walhi Sumatera Bagian Selatan, dan saya ketua Gita Buana Club, anggota jaringan Walhi di Jambi. Beliau sudah menjadi sosok penting di peta pergerakan tanah air, ketika saya masih langkah awal dalam pergerakan sebagai aktivis yang mencoba berorganisasi dalam skala lokal. Beliau sosok hangat dan humble, memberi warna tersendiri pada aktivis pergerakan seperti saya yang masih sangat muda. Kesan itu di dapatkan pada pertemuan perdana kala beliau berkeliling ke anggota jaringan Walhi, termasuk Gita Buana.

Beliau hadir ibarat kawan lama, ngobrol dalam perbincangan yang seolah setara, tidak terlihat bahwa beliau adalah senior yang harus dihormati. Beliau bicara tentang aneka gagasan dan ide serta pengetahuan yang baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Bahkan melawan arus kekuasaan yang sangat kuat mengontrol dunia pergerakan dan advokasi tanah air. Tak ada kegentaran dalam mengkritik dan mengkoreksi rezim meski masih dalam sebatas obrolan dan pemikiran. Sesuatu yang sangat tabu saat itu.

Perkenalan yang singkat, namun begitu hangat. Memberi kesan mendalam dan menambah semangat untuk terus berjuang untuk sebuah ide yang masih di angan-angan. Sebagai anggota Mapala, dan organisasi Gita Buana, kegiatan kepecinta-alaman dan aktivis organisasi memulai langkah untuk menajamkan konsep dan implementasi pemberdayaan masyarakat, bersatu dalam ide yang masih butuh dukungan.

Tahun berikutnya, kala Walhi menggelar acara pertemuan nasional di Sawangan Jawa Barat, menghadirkan aktivis lingkungan dari berbagai pelosok tanah air utamanya anggota jaringan Walhi. Para aktivis senior di Walhi juga hadir dalam pertemuan itu. Dalam pertemuan-pertemuan informal Bang Zukri memperkenalkan saya kepada sesama anggota Walhi lainnya sebagai Ketua Gita Buana. Seolah memperkenalkan kawan lama dan cara itu menjadikan orang yang diperkenalkan dan yang dikenalkan setara, tanpa pembatas. Sosok Bang Zukri yang unik itu, menjadikan saya makin tertarik dengan beliau.

Kekaguman saya dengan beliau semakin membuncah kala membaca halaman utama Harian Kompas, sekitar tahun 1992. Di bagian kanan bawah terdapat artikel yang ditulis Arya Gunawan berjudul 10 Orang Gila di Indonesia, tertera nama Zukri Saad satu diantaranya. Di artikel di koran paling berpengaruh di Indonesia itu menggambarkan sosok Bang Zukri mantan aktivis kampus yang pernah di penjara karena dianggap melawan pemerintah yang sah. Juga disebutkan lulusan ITB itu telah membakar ijazahnya.

Melawan arus utama bahwa ijazah bukanlah segalanya untuk melanjutkan hidup. Kuliah penting untuk mengisi kepala, tapi ijazahnya tidaklah penting baginya waktu itu. Pesan yang sangat keren bagi kami aktivis pemula. Pesan yang ditangkap, manusia akan bisa hidup dengan ide dan pemikiran serta aktif dimana saja, yang penting fokus dengan perjuangan yang sudah digariskan.

Gelorakan semangat untuk perbaikan kondisi lingkungan dan mendorong keberpihakan pada masyarakat, di tengah badai pembangunan yang mengesampingkan perlindungan hutan dan masyarakat disekitarnya. Keberpihakan pada lingkungan mutlak harus dilakukan, tanpa keseimbangan niscaya semua pembangunan hanya akan menunggu waktu untuk sebuah kerusakan yang akan menghadirkan bencana. Belum lagi keterabaian masyarakat di dalam dan sekitar hutan bahkan hanya akan menjadi penonton atas semua eksploitasi yang dilangsungkan. Prinsip pembangunan harusnya pembangunan berbasis rakyat dan berhitung keselarasan alam. Inilah yang menjadi titik tolak pergerakan tanah air.

Termasuk ketika Sumatera memiliki Taman Nasional terluas, lahirnya Taman Nasional Kerinci Seblat di empat Provinsi Sumtera, sebuah anugerah yang harusnya disyukuri. Namun di sisi lain, TNKS hadir dengan representasi kekuatan Negara yang mengabaikan hak-hak masyarakat lokal yang sudah turun temurun tinggal di dalamnya. Melalui program LELI, Lerning and Linkage Walhi yang dimitrakan ke NGO lokal, atas dukungan Bang Zukri, menjadikan kegiatan pemberdayaan dan pendampingan masyarakat sekitar TNKS mulai di lakukan. Tahap kedua aplikasi LELI, yang mencari formulasi pengelolaan Taman Nasional kolaboratif yang harusnya mendapatkan dukungan dari semua pihak dan menghormati hak-hak masyarakat setempat, di gelar seminar di Jambi pada akhir Desember 1991. Bang Zukri hadir di acara yang dihadiri perwakilan dari Bappenas dan pejabat Kementerian Kehutanan, tampil prima dalam memfasilitasi alur pertemuan. Masih dalam rangkaian workshop ini, Bang Zukri, yang juga mendorong pembentukan jaringan NGO disekitar TNKS guna menguatkan kerja-kerja konservasi di lapangan.

Apa nama jaringan ini? Bang Zukri yang langsung menyebut Warung. Warung Informasi Konservasi, disingkat Warsi. Sembari menggambar jaringan yang mengeliling TNKS. Perjuangan akan jauh lebih ringan ketika dikerjakan secara bersama dan terarah, dari pada berjalan sendiri-sendiri. Pilihan kata warung merujuk pada kesederhanaan, tempat orang-orang berkumpul dan pastinya istilah yang membumi. Jadilah nama jaringan itu Warsi dan berbilang tahun berikutnya berbadan hukum Perkumpulan dengan Bang Zukri sebagai pemegang kartu anggota 001.

Diawal-awal berdirinya Warsi, Bang Zukri hadir untuk sebagai pengayom langkah-langkah yang baru diayunkan. Disela kesibukan beliau sebagai Direktur Eksekutif Nasional Walhi, beliau tetap meluangkan waktu untuk membimbing Warsi. Bagaimana mengepakkan sayap dan mampu terbang tinggi. Kala itu di tahun 1993, untuk pertama kalinya saya sebagai Direktur Warsi berjuang untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Bang Zukrilah “mentornya.” Bagaimana menyusun proposal yang baik, merangkai kata yang mudah dipahami donor, Bang Zukri hadir memberikan perhatian lebihnya. Bahkan beliau menyediakan ruangan di kantor Walhi Jakarta untuk saya orang daerah yang baru akan memulai langkah.

Kisah sendal berganti sepatu, masih sangat kuat melekat dipikiran saya hingga kini. Bagaimana proposal yang sudah susah payah di susun rapi. Tinggal diantarkan kepada Lembaga donor dan beliau bersedia untuk menjembatani pertemuan itu. Bang Zukri ketika akan berangkat melihat kaki saya yang hanya beralaskan sandal jepit, sandal kebanggaan yang melambangkan kemerdekaan hidup. “Tuka sapatu angku , Tukarlah sandal itu dengan sepatu” ujarnya garang.

“Baa urang ka picayo, kalau penampilan bantuak iko, – Bagaimana mau dipercaya kalau penampilan kurang meyakinkan”, Imbuhnya.

“Ayo, siapa yang tadi kekantor pakai sepatu dan kakinya seukuran Rudi, cepat pinjamkan,” dengan tegas Bang Sukri bergerillya mencari sepatu yang seukuran.

Cocok, dapat pinjaman sepatu dan berangkatlah kami. Itulah negosiasi pertama Warsi dengan Lembaga donor dan berhasil dengan baik.

Hari-hari berikutnya ketika Warsi terus melangkah, Bang Zukri selalu hadir dengan petuah-petuah bernasnya. Kala Warsi membutuhkan beliau selalu ada, bergaul dengan anggota-anggota muda Warsi dan menjadikannya kawan diskusi yang hebat, persis ketika saya diperlakukannya puluhan tahun silam.

Kini di usianya yang tak muda lagi, beliau tetap bernas, masih kritis dan selalu tampil dengan semangat yang menggelora. Sehat terus Bang, teruslah menjadi pengayom untuk kami.

Jambi, 20 Agustus 2020

————

Ir. Rudi Syaf MSi., Alumni S1 jurusan Sosial Ekonomi – Fakultas Pertanian dan S2 Ekonomi Pembangunan – Universitas Jambi, menetap di Kota Jambi. Membumikan Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera merupakan prinsip hidupnya sebagai wirausahawan sosial. Bersama Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, lembaga yang sudah tiga kali menjadikannya sebagai Direktur, Rudi aktif memperjuangkan hak-hak masyarakat adat marginal dan pemberian akses kelola masyarakat di dalam dan sekitar hutan melalui program Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat.
Penguasaannya yang baik pada advokasi dan pendampingan masyarakat, menjadikan Rudi sebagai anggota satuan tugas lembaga bentukan pemerintah dalam menangani perubahan iklim Jambi dan Forum DAS Batang Hari Jambi. Selain itu, Rudi juga kerap dijadikan evaluator dan peninjau sejumlah kegiatan. Diantaranya Sebagai anggota tim fasilitasi pembangunan Perkebunan Kayu Rakyat di Sulawesi Tenggara, didukung oleh AFD (Agence Francaise de Developpement) 2012 hingga 2014, Anggota Panel Ahli II Proses Sertifikasi PT Wira Karya Sakti yang diselenggarakan oleh TUV dan LEI, 2008, dan lainnya.
Dengan kemampuannya, peraih Fellowship of ASHOKA ini juga kerap diundang oleh lembaga internasional untuk terlibat dalam diskusi dan kegiatan nasional maupun internasional. Menghadiri Konvensi Perubahan Iklim Dunia (UNFCC) di Bali 2007, Copenhagen 2009, dan Doha 2012. Di forum-forum ini Rudi menyampaikan kerja nyata lapangan keterikatan masyarakat mengelola hutan dengan kearifan yang diterapkan, sehingga memberikan nilai positif untuk masyarakat global.