Bang Zukri, yang memilih jalan terjal

Oleh : Binny Buchori

“Jam berapa kau pulang hari ini Bin?,” tanya bang Zukri di suatu sore di Sektretariat WALHI (Wahanan Lingkungan Hidup Indonesia) di wilayah Pejompongan – Jakarta Pusat. Tubuhnya yang kurus tinggi , ditundukkannya agar bisa mendengar jawaban saya yang bertubuh pendek dengan lebih jelas.

“Biasa lah bang, paling habis maghrib,” jawab saya.

“Ahh pas lah itu. Kalau gitu aku tidur di kantormu ya nanti malam,” lanjut bang Zukri dengan logat Padang yang kental.

Saya mengangguk, mengiyakan. Diawal tahun 90 an itu, bang Zukri Saad adalah salah satu anggota Presidium Nasional WALHI, sedangkan saya adalah Country Director Ashoka Indonesia. Ashoka Indonesia, organisasi internasional yang mendukung dan memfasilitasi para inovator, pembaharu masyarakat, dengan menyediakan fellowship, agar para inovator ini bisa bekerja dengan tenang, tanpa terganggu dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi sehari-hari. Para inovator ini disebut fellow. Bang Zukri adalah salah satu fellow Ashoka, salah satu “innovator for the Public”.

Pada saat itu, awal tahun 90-an, Ashoka berkantor di pavilyun WALHI. Meski pun kantor Ashoka kecil, tetapi nyaman. Lantainya dihampari karpet polos berwarna coklat tua, sofa krem yang lumayan empuk, dan yang paling penting AC Window yang menghembuskan udara sejuk ke seluruh ruangan.

Mungkin karena “fasilitas “ini lah banyak tamu dan staf WALHI yang sering mampir sambil membawa kopi atau pun mentraktir saya dan rekan saya dengan berbagai camilan, sekedar duduk di sofa dan merasakan angin sejuk AC. Kantor Sekretariat WALHI saat itu berupa sebuah rumah besar, dengan beberapa kamar, serta sebuah ruang tengah yang besar dan terbuka. Ruang tengah ini berfungsi sebagai ruang rapat, ruang santai dan tempat kerja beberapa staf. Ketika musim kemarau datang serta teriknya matahari menghampiri Kantor WALHI, maka ruangan tengah itu terasa panas dan gerah. Maka kantor Ashoka pun nampaknya menjadi oase baik bagi staf dan tamu WALHI, seperti bang Zukri Saad. Bang Zukri dan beberapa tamu lainnya juga senang menginap di kantor Ashoka bila ada acara WALHI.

“Buat aku cukup tidur di kantor Ashoka, gak usahlah nginap-nginap di hotel, “ katanya. Maklumlah saat itu, menginap di hotel merupakan suatu kemewahan, karena harganya yang mahal. Di samping itu, apa pun yang berhubungan dengan kemewahan adalah salah satu hal yang tabu bagi aktivis pada masa itu. “Satunya kata dengan perbuatan,” menjadi motto perjuangan, sehingga mencari kenyamanan di hotel, sementara tujuan-tujuan kerja adalah memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat kecil yang tertindas, menjadi hal yang membuat aktivis enggan melakukannya.

Bang Zukri termasuk aktivis yang mencamkan motto tersebut, kehidupan kesehariannya juga sederhana. Dan bagi saya yang paling mengesankan adalah pilihannya untuk mengambil jalan yang tidak mulus setelah lulus dari ITB, menyandang gelar “tukang insinyur”. Ketika teman-temannya banyak yang masuk ke korporasi, BUMN atau pun menjadi PNS, Zukri Saad memilih pulang kampung ke Sumatra Barat, bahkan mengajak teman-temannya untuk bersama-sama pulang kampung. Tujuannya jelas, membenahi sistem pendidikan dasar dan menengah. Bang Zukri memilih bergabung dengan INS Kayutanam, Sumatra Barat, sebuah sekolah yang sarat dengan sejarah perjuangan kedaulatan Indonesia.

INS Kayutanam didirikan oleh Mohammad Syafei, seorang guru, pada tahun 1926. Sejak didirikan, INS menerapkan pendidikan yang tidak main-stream. INS Kayutanam adalah sekolah yang memungkinkan anak-anak mengenal jati diri mereka dan memiliki ketrampilan, sehingga lulusan INS Kayutanam mampu menjadi wiraswasta.

Bang Zukri yang sangat khawatir melihat sistem pendidikan pada masa Orde Baru, yaitu penyeragaman metode pendidikan dan seringkali mematikan kreatifitas siswa, melihat INS Kayutanam sebagai sebuah arena perjuangan pendidikan yang perlu diperkuat.

“INS (Kayutanam) mendefinisikan pendidikan harus lengkap menyasar 3H (Head-Heart-Hand) dengan alam terkembang menjadi guru. Guru perannya longgar, sekedar fasilitator proses pencarian jatidiri dalam membantu siswa merumuskan tantangan masa depannya,” jelas bang Zukri kepada saya.

Bang Zukri dan teman-temannya memberikan konsep kekinian dalam Kayutanam, yaitu memperkenalkan teknologi tepat guna, yang perlu dikuasai oleh murid-murid INS Kayutanam. Salah satunya adalah penguasaan siswa atas komputer. Saat itu, akhir 1980-an, komputer baru dikenal segelintir orang di Indonesia. Ketrampilan mengoperasikan komputer dan teknologi informasi, masih langka. Zukri Saad bersama teman-temannya berjuang untuk mendapatkan komputer bekas.

“Kami bekerja keras untuk membeli/ mendapatkan komputer yang boleh dioprek siswa berhari-hari sampai mereka menyimpulkan sendiri keberadaan teknologi dalam peradaban umat manusia,” kenang bang Zukri

Bagi bang Zukri, penguasaan teknologi tepat guna, merupakan bekal bagi para siswa, di samping pendidikan formal, untuk menjadi wiraswasta. “Dengan mencetak wiraswasta, kita mengurangi jumlah pengangguran,” terang Zukri, seperti dikutip di laman Ashoka, Everyone is a Changemaker (www.ashoka.org ). Namun bukan hanya gagasannya yang menyebabkan ia terpilih menjadi fellow Ashoka, tetapi innovasi dalam penyusunan starteginya: merekrut para sarjana perguruan tinggi untuk menjadi relawan, guru/mentor dan menggabungkan pendidikan teknologi tepat guna di sekolah dengan program pengembangan masyarakat. Berbekal teknologi tepat guna, Zukri Saad dan teman-teman berhasil mengembangkan industri rumah tangga bagi kelompok perempuan di Sungai Geringging – Pariaman, antara lain mampu memproduksi minuman segar dari bahan air kelapa yang difermentasi sederhana untuk dijual. Saat ini minuman itu dikenal dengan Nata de Coco.

Di samping mengurusi pendidikan di Institut Kayutanam, Zukri Saad juga aktif dalam gerakan lingkungan hidup di Indonesia. Karena itulah ia terpilih sebagai salah satu Presidium Nasional WALHI. Sebagai aktivis lingkungan, suaranya pun nyaring, mengkritik berbagai kebijakan yang tidak mempedulikan perawatan bumi serta keberlanjutan. Rasanya tidak berlebihan bila saya menyebut bang Zukri telah memilih jalan terjal, jalan yang tidak biasa, sebagai jalan hidupnya. Bukan status, kemapanan dengan gaji tinggi yang dicari oleh lulusan ITB ini, namun pergelutan bersama masyarakat, mengupayakan perubahan, memberikan warna pada pembangunan. Itulah pilihannya.

Pilihan ini bukan tidak ada ongkosnya: pendapatan yang tidak pasti, tidak ada jenjang karir yang jelas, dan mungkin juga bukan jadi idaman calon mertua. Untuk yang terakhir ini: diterima sebagai calon menantu, nampaknya tidak terlalu merisaukan bang Zukri. Karena, meskipun ia mungkin tidak masuk kriteria menantu idaman, banyak cewek-cewek yang mengagumi bang Zukri. Ini tidak mengherankan bagi saya, karena bang Zukri sangat ramah, idealis, pengetahuannya luas dan jaringannya kuat. Bagi saya, dan mungkin juga bagi para gadis di masa itu, idealisme bang Zukri untuk menekuni dunia pendidikan, terjun di dalam pemberdayaaan masyarakat, kembali ke kampung menunjukkan integritas serta kemampuan untuk mendahulukan kepentingan orang banyak ketimbang kepuasan diri sendiri. Berintegritas dan tidak egois, adalah modal utama untuk menjadi pasangan hidup.

Selain ramah, bang Zukri juga rendah hati. Bang Zukri dengan senang hati berbagi ilmu, pengalaman, dan menemani aktivis-aktivis muda, aktivis mahasiswa yang sering berkumpul di WALHI. Sebagai anak baru, yang baru terjun di dunia LSM, saya merasakan betul keterbukaan bang Zukri. Saking sayangnya sama bang Zukri dan juga penasaran kok belum nampak memiliki pasangan tetap, pernah juga saya mecoba mencomblangi bang Zukri dengan seorang teman, namun rupanya panah cupid tidak hadir pada saat itu.

Di samping passionnya terhadap kelestarian alam, bang Zukri juga paling tidak suka dengan sentralisasi kekuasaan, apalagi penyeragaman kebijakan. Bagi bang Zukri kebijakan publik yang baik, adalah kebijakan yang bisa diterapkan di berbagai tempat di Nusantara ini dan mampu beradaptasi dengan keragaman budaya lokal.

Itu lah sebabnya ketika saya terlibat dalam inisiatif penyusunan Indonesia Masa Depan 2020, yaitu sebuah kolaborasi berbagai stakeholder yang dikoordinasikan oleh KOMNAS HAM, Bang Zukri dengan sungguh-sungguh meminta kami, para penyelenggara di Jakarta (Marzuki Darusman, Asmara Nababan, Emmy Hafield, Felia Salim) untuk juga menyelenggarakan dialog-dialog kota/lokal. “Jadi jangan Jakarta yang menuliskan Skenario Indonesia, tetapi kita semua. Pandangan dan pengalaman luar Jakarta harus kuat tergambarkan di Skenario Indonesia 2020,” katanya. Maka dilaksanakan lah dialog lokal di beberapa kota, antara lain: Yogya, Surabaya, Padang.

Di sebuah resort wisata, pulau Sikuai, yang tidak jauh dari Padang terjadilah dialog Kota Padang. Karena bang Zukri lah, maka pertemuan dihadiri oleh berbagai kelompok masyarakat: akademisi, wartawan, aktivis, ormas, dan masih banyak lagi. Pada awalnya dialog diliputi sedikit ketegangan, karena ada kesan orang Jakarta datang untuk mendikte. Namun berkat kemampuan diplomasi Bang Zukri, dialog bisa berlangsung dengan baik, serius tapi santai dan sarat gagasan. Disamping sarat dialog, waktu tiga hari itu diselingi dengan aktifitas snorkeling di pantai yang indah depan lokasi pertemuan. Sungguh menghadirkan kenangan tersendiri.

Perkenalan saya dengan bang Zukri dimulai ketika saya menjadi Direktur Eksekutif Ashoka Indonesia, di awal tahun 90an, namun persahabatan kami berlanjut terus bertahun-tahun setelah saya meninggalkan Ashoka dan bang Zukri sudah tidak lagi menjadi Presidium Nasional WALHI dan Direktur WALHI. Pertemanan saya dengan bang Zukri dimulai di masa Orde Baru, dilanjutkan di masa Reformasi dan berlanjut sampai Pasca Reformasi. Kami mengalami Presiden ke 2 sampai ke 7, dari masih ada GBHN sampai ke masa RPJP, dari Pemilu Presiden tidak langsung sampai ke Pemilihan Presiden langsung.

Dalam rentang masa sekitar 30 tahunan ini, saya dan bang Zukri sering berpapasan, di berbagai acara dan komunitas. Setiap kali bertemu bang Zukri, perasaan saya selalu terbang ke kantor WALHI dan aktifitas Ashoka di Jl. Penjernihan I, Pejompongan Jakarta Pusat, puluhan tahun yang lalu, saat ia berkata: “aku nginap di kantor Ashoka ya Bin…”

Terima kasih bang Zukri Saad atas persahabatan selama ini, terima kasih telah menjadi teman, kakak dan guru dalam perjalanan panjang mencintai Indonesia.

Bintaro, 22 Februari 2021

————

Adikku Zukri | Azmi Saad