Berkah Dari Kayutanam Dan Asa Sang Mentor Yang Belum Tertunai

Oleh : Zulfahmi Amir

Uwan, begitulah panggilan akrabnya kini. Namun saya biasa memanggilnya dengan sebutan Bang, Bang Sukri. Itu berlaku sejak pertama kali berinteraksi dengan sosok Bang Zukri Saad pada tahun 1977, di Asrama Banuhampu Bandung. Di tempat mana kami secara intens bergaul, berkegiatan dalam buhulan silaturahim sesama anak nagari di Banuhampu – Agam Sumatera Barat.

Kedekatan kami lebih bersifat personal karena berasal dari daerah yang sama. Namun karena kedekatan secara personal itulah, saya banyak dilibatkan Uwan ikut berinteraksi dengan jejaring aktifitasnya yang luas sebagai penggiat sosial kemasyarakatan dan lingkungan hidup. Tahun 1985, selesai menamatkan pendidikan tinggi di Bandung, saya ikut bergabung dengan Uwan bersama rekan-rekan lainnya di Lembaga Pengembangan INS (LP-INS) Kayutanam Sumbar dan kemudian berlanjut dengan Yayasan Insan 17 yang berkantor di kota Padang.

Pada tahun 1986, selain beraktifitas di LP-INS Kayutanam, saya mulai aktif mengajar di Program Studi Teknik Universitas Andalas yang merupakan cikal bakal Fakultas Teknik Universitas Andalas. Tahun 1987, saya berkesempatan menyelenggarakan Field Camp untuk mahasiswa/i angkatan pertama Teknik Sipil Unand di Kampus INS Kayutanam, dibantu rekan-rekan yang tergabung dalam LP-INS Kayutanam. Pada masa-masa penyelenggaraan Field Camp inilah, bermula Uwan terpikat dengan sosok mahasiswi yang kemudian hari menjadi pendamping hidupnya.
Menjemput Berkah Kayutanam. Sejak tahun 1992, Uwan telah kembali beraktifitas di Jakarta. Momen yang tak terlupakan, saat itu Uwan pulang ke Padang dan mengajak saya untuk hadir pada acara pernikahan sdr. Badrul Mustafa yang dilaksanakan di Bandung. Sepotong dialog berikut ini mengisyaratkan bahwa Uwan mulai gamang dan sepertinya mulai terpikir untuk mengakhiri masa lajangnya.

“Zul, ikut ya ke acara pernikahan Badrul…”, ajak Uwan.
“Lihat sikon dulu Bang…, tapi tunggu dulu…, kita bagaimana…?, apa udah siap digudangkan?”

Biasanya pembicaraan seperti itu, akan dianggap angin lalu saja. Tapi kali ini terlihat Uwan tercenung dan termenung lama. Bisa jadi selama ini, walau si bungsu (Indra Catri) dalam group kongkow kami telah menikah, tapi masih ada rasa aman karena Badrul Mustafa sebagai rekan sejawat juga belum berkeluarga. Namun kini? Tentu tidak lagi untuk masa ke depannya karena semua rekan kongkow sudah berkeluarga.

Waktu berjalan, hari pun berganti, suatu ketika Uwan telepon dari Jakarta, menanyakan khabar. Ya udah, saya bilang baik-baik saja. Ada keanehan, tumben penting amat untuk hanya sebatas menanyakan khabar saja. Besoknya Uwan telepon lagi juga bertanya khabar, tapi kali ini ditimpali dengan menanyakan khabar seseorang yang akrab dengan saya, dan dikenali Uwan sebagai sosok satu jurusan dan seangkatan dengan pendamping/istri Uwan semasa kuliah di Unand dulu. Baru saya maklum, kemana arah tuju Uwan menelepon dalam dua hari ini. Langsung saya sambar menanyakan sesuatu yang tersirat itu. “Bang… gimana.. apa udah siap digudangkan atau pingin diuruskan dengan yang dulu itu?”

“Iya lah…apa orangnya mau..?”, sergah Uwan balik bertanya.
“Beres itu…”, jawab saya ringkas mengakhiri pembicaraan.

Setelah dapat informasi yang memadai, bersama dengan Badrul Mustafa, misi dijalankan dan alhamdulillah “pucuk dicinta ulam tiba”. Sejak itu, resmi sudah bola diserahkan kembali kepada Uwan, untuk memulai proses dan tahapan selanjutnya, sampai akhirnya dapat juga dipetik “berkah” dari sesuatu yang terbawa dari Kampus Kayutanam. Hasilnya tiga putra-putri yang cerdas dan semuanya telah menamatkan pendidikan perguruan tinggi. 2 putra dari ITB dan 1 putri lulusan UI.

Sekardus Markisah Untuk Profesor. Kalau tidak salah tahunnya, pada tahun 1997 Uwan kembali berkiprah di kampung halaman. Istilah Uwan, merantau ke kampung halaman jilid 2. Komunikasi dan silaturahmi dengan Uwan sekeluarga tetap terjaga. Pada masa itu saya berkesempatan melanjutkan studi ke UTM Malaysia.

Pernah suatu ketika, waktu pulang kampung dan akan kembali ke Malaysia, dapat oleh-oleh 2 (dua) kardus markisah dari parak Uwan di Alahan Panjang. Satu kardus markisah saya serahkan kepada Profesor Pembimbing, dengan harapan akan dibagi-bagikan pula kepada para pensyarah/ Profesor yang lainnya. Sore hari menjelang magrib, profesor pembimbing tersebut menuju parkiran, membawa seutuhnya satu kardus markisah untuk dibawa pulang ke rumahnya. Berarti markisah itu tidak akan dibagi-bagi dengan pensyarah lainnya. Esoknya, ketemu sang profesor pembimbing dan bilang dengan gembira, karena dapat merasakan markisah yang enak dan sempurna manisnya.

Markisah itu memang sempurna masaknya, karena menurut Uwan dalam proses mulai berputik sebagian daunnya dipotong (penjarangan daun), agar dengan demikian putiknya tidak banyak rontok dan buahnya matang sempurna, karena dapat pencahayaan cukup dari sinar martahari.

Kembali ke Ibukota. Saya resmi mengundurkan diri sebagai dosen dari Universitas Andalas sejak tahun 2003, dan sampai kini menetap di Jakarta. Uwan masih berkiprah di kampung halaman Sumatera Barat dengan segala suka dukanya. Masing-masing kami yang dulu terjun bersama di LP-INS Kayutanam telah memilih jalan sendiri-sendiri. Namun, komunikasi kami satu sama lain tetap berjalan. Kan ada medsos.

Sejak saya menetap di Jakarta, kami jarang berinteraksi lagi dalam kerja-kerja kegiatan sosial kemasyarakatan. Walaupun begitu, bukan berarti semua terputus sama sekali karena tahun 2004, sempat diajak Uwan studi banding bersama Amrizal Salayan dan Witra Marta ke telaga Sampireun – kampung Ciparay, suatu objek wisata yang tidak jauh dari pusat kota Garut. Tujuannya untuk menyerap ide kreatifnya, agar dapat pula dikembangkan untuk kawasan telaga Sungai Tanang – Agam, Sumatera Barat. Begitu juga sekitar tahun 2005, saya bersama uda Asril Badar pernah berkontribusi dan mengunjungi proyek parak kentang Uwan di Alahan Panjang.

Sejak tahun 2015 Uwan kembali berkantor di Jakarta, berkiprah di PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (PT SMART Tbk). Satu hal yang paling menonjol dari Uwan adalah selalu meluangkan waktu untuk bersilaturahmi, sehingga mampu menjaga keutuhan jejaring aktifis dan kesejawatan yang telah dibangunnya sejak awal perkuliahan di Bandung dulu. Uwan memang sudah mendarah daging dalam hal silaturrahmi, kawannya dari berbagai kalangan. Petani gurem pedalaman, pejabat propinsi sampai tingkat Menteri. Dari seluruh Indonesia dan manca negara. Dalam hal membangun jejaring tangguh, Uwan adalah pakarnya.

Asa Sang Mentor Yang Belum Tertunai. Sebagai sejawat yang punya kedekatan personal sebab berasal dari daerah yang sama, tentunya setiap perjumpaan silaturahmi, acap kali perbincangan kami berkisar tentang kondisi kampung halaman di Banuhampu. Banyak gagasan yang terlontar dari Uwan untuk membangkitkan geliat ekonomi Banuhampu, ada asa sang mentor yang belum tertunai untuk kemajuan kampung halaman.

Dengan segudang pengalaman yang Uwan miliki dalam berkontribusi, berkiprah di sudut-sudut kawasan wilayah nusantara ini. Tentunya banyak kisah sukses yang harus dipetik, dibalik kegagalan yang tentu juga mengiringinya. Akankah dengan segudang pengalaman tersebut dapat dijadikan sebagai sumber pemikiran untuk Pendekatan, Perencanaan dan Perancangan Skenario untuk Uwan berkiprah merealisasikan asa di kampung halaman? Untuk itu semua, jawabannya terpulang kepada Uwan sendiri yang sebentar lagi akan memasuki usia lansia muda (65 tahun).

Semoga asa Uwan untuk berkiprah di kampung halaman jilid 3 dapat tertunaikan, sehingga episode merantau ke kampung halaman berlanjut ke episode menetap di kampung halaman. Mungkin untuk selamanya.

Salam Silaturahim,
Bukit Golf Riverside – Bogor,17 Agustus 2020

————

Ir. Zulfahmi Amir MSc., Konsultan Tehnik Penginderaan Jauh, Menetap di Bogor. Menyelesaikan studi S1 di jurusan Geodesi – Fakultas Tehnik Sipil dan Perencanaan – Institut Teknologi Bandung. S2 Geoinformasi dan PhD Cand. Close Range Photogrametry di University Technology Malaysia – Johor Bahru – Malaysia.

Adikku Zukri | Azmi Saad