Berkah Lain Persahabatan dengan Bang Zukri Saad

Oleh : J Anto

Dalam pandangan saya, Bang Zukri Saad, adalah sosok aktivis yang senantiasa gelisah. Pikirannya sesak berbagai gagasan “liar”. Terkesan, ia tak mau rehat dalam “zona nyaman”, meski ia sendiri yang menggagas dan mempraktekkannya. Maksud saya “zona nyaman” dalam konteks penguatan kerja-kerja masyarakat sipil. Gaya bicaranya juga menggebu-gebu, kaya referensi, terkadang membuat hanyut lawan bicaranya. Dalam bahasa lain, ia seorang lobiyist. Orang yang pintar memunculkan istilah atau terminology, sehingga membuat orang jadi lebih mudah memahami ide yang mau disampaikan.

Tahun 1994 – 1995 saat saya bekerja di YPSM Bina Insani Pematangsiantar, Bang Zukri memrakarsai pembentukan konsorsium LSM di dataran tinggi dan di dataran rendah Sumut. Di dataran tinggi Sumut, Walhi bekerjasama dengan PACT Jakarta, menginisiasi program konservasi lahan kritis berbasis penguatan ekonomi masyarakat di kawasan Danau Toba. Bang Zukri saat itu menjabat sebagai Dewan Eksekutif Walhi. Program konservasi yang bertujuan memberi dampak ekologis sekaligus ekonomi masyarakat itu, dilaksanakan konsorsium 5 LSM di Simalungun, yakni Bina Insani, Yapesdasi, Yayasan Cinta Desa, Bina Yasa dan YP Deluks.

Inti program adalah mengurangi tekanan lahan kritis di Kawasan Tambun Raya dan Tanjung Unta, Simalungun. Sebagaimana diketahui, lahan-lahan kritis di Tambun Raya memiliki tingkat kemiringan antara 15 – 45%, berbentuk plato dengan lereng curam. Sebagian besar petani bertanam jahe, bawang dan kacang tanah di lahan-lahan krtis itu. Tanaman umbi-umbian jelas tidak cocok untuk tanaman konservasi. Itu tersebab pemanenan tanaman dilakukan lewat cara membongkar tanah. Saat hujan, tanah bekas panen mudah dibawa air hujan ke bawah, maka terjadilah erosi.

Konsep konservasi berbasis masyarakat antara lain diwujudkan lewat penentuan jenis tanaman penghijauan yang diusulkan kelompok masyarakat. Kedua proses pembibitan tanaman dilakukan oleh kelompok masyarakat, bukan dibeli dari daerah lain. Ada pun jenis tanaman yang dibibit dan ditanam masyarakat, adalah kemiri, pinang, kayu manis dan ingol, nama lokal dari tanaman keras suren (Toona sureni). Kalangan masyarakat Batak, kayu ingol digunakan untuk membuat sampan. Sedang untuk peningkatan ekonomi jangka pendek, dilakukan kegiatan budidaya ikan mas di Danau Toba.

Di konsorsium 5 LSM Simalungun itu, saat itu saya menjabat sebagai sekretaris. Sejak Oktober 1993, saya memang telah “hijrah” ke kota kecil dekat Danau Toba yang masyhur itu. Ihwal kenapa saya sampai terdampar di Pematang Siantar ini, saya lahir dan besar di Jawa Tengah dan sebelum pindah ke Siantar, bekerja sebagai wartawan di Majalah Tiara Jakarta, bersinggungan erat dengan peran Bang Zukri. Sebelum bekerja di Jakarta, saya kuliah di FKIP Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Saat kuliah itulah saya mulai bersinggungan dengan dunia pargerakan mahasiswa. Di Salatiga, saya menjadi salah seorang pengurus Yayasan Gemi Nastiti (Geni). Geni adalah LSM mahasiswa, kegiatannya selain diskusi, melakukan advokasi ke petani korban pencemaran limbah pabrik konveksi, mendampingi pedagang pasar tradisional yang digusur karena pasarnya hendak dibangun jadi pasar modern, juga membuat kursus elektronik gratis dan sulap. Yang mengajar mahasiswa.

Geni juga membuka perpustakaan gratis, pembacanya sebagian besar anak-anak dari barak sosial yang berada dekat sekretariat Geni. Tokoh intelektual Indonesia seperti Arief Budiman, Ariel Heryanto dan George Junus Aditjondro adalah dosen UKSW yang kerap diundang untuk diskusi di Geni. Rumah Arief Budiman dan George Junus Aditjondro kebetulan dekat dengan sekretariat Geni. Anggota Geni banyak terlibat dalam demonstrasi-demonstrasi mahasiswa. Termasuk yang disebut kasus “Jogja Berdarah” tahun 1989, demo menuntut pembubaran SDSB di Jakarta dsbnya. Tahun 1990 setelah tamat kuliah, saya jadi Direktur Geni. Sore hari Arief Budiman dan Leila Budiman, sering boncengan naik vespa mengantarkan pisang dari kebun mereka. Sebaliknya saya dan pengurus Geni pun sering bertandang ke rumah Pak Arief.
Tahun itu, sejumlah anggota Geni a terlibat dalam demonstrasi bersama aktivis mahasiswa dari Jogjakarta, Bandung, Jakarta, Surabaya, Solo dan Semarang, mendukung warga Kedung Pring, yang sawah dan rumah mereka digusur untuk pembangunan waduk raksasa Kedung Ombo. Meski air waduk telah menggenangi 40.000 hektar tanah petani Sragen dan Boyolali, termasuk tanah dan rumah mereka, namun puluhan warga Kedung Pring menolak pindah. Mereka tetap menutut ganti rugi pembebasan tanah yang wajar.

Stanley, salah seorang anggota badan pendiri Geni, bahkan menjadi koordinator demonstrasi itu. Buntutnya, sejumlah aktivis dipanggil Mendagri Rudini. Mereka juga diinterogasi tentara. Saya sendiri saat itu tengah mengikuti masa PKL selama sebulan di sebuah sekolah. Dampaknya setelah demonstrasi Kedung Ombo, saya yang tinggal di sekretariat Geni, kerap didatangi intel. Mencari tahu keberadaan aktivis Geni yang terlibat demonstrasi.

Tak lama setelah itu, tahun 1990, saya ikut dalam program penelitian yang diadakan Walhi, Program Global Climate Change. Walhi saat itu berkantor di Jalan Penjernihan, Pejompongan. Di situlah saya berkenalan dengan Bang Zukri Saad dan Wahyudi, saat itu jika tak silap, Bang Zukri adalah Presidium Walhi dari Sumatera sampai akhirnya terpilih sebagai Dewan Direktur Eksekutif Walhi. Dalam program itu juga saya lalu kenal Bang M.S. Zulkarnaen, Sandra Moniaga, Emy Hafield, Abdon Nababan, Suraiyya Afiff, Lili Hasanudin, Alex Nekabija, termasuk Taufiq yang paska peristiwa kudatuli 1997 lari menyebrang ke Medan. Saya akrab dengan para aktifis nasional itu, terlebih karena selama penelitian saya tinggal di kantor Walhi.

Bagi saya perkawanan dengan Bang Zukri, telah membawa berkah. Ada dua berkah yang telah menjadi bagian sejarah hidup saya. Semuanya bermula tahun 1993 usai Sidang Umum MPR yang menetapkan kembali Soeharto sebagai Presiden RI untuk kesekian kali. Di sebuah surat kabar, seingat saya, muncul berita pernyataan Pangkopkamtib Laksamana (Purn) Sudomo, tentang komitmen pemerintah meneruskan kembali penanganan hukum terhadap tersangka pengedar Kalender Tanah Untuk Rakyat yang terjadi tahun 1990. Pernyataan Pangkopkamtib itu merespon pertanyaan seorang anggota dewan dalam rapat kerja dengan Pangkopkamtib.

Saya dan teman saya, Matius Hosang, adalah orang yang tengah jadi pesakitan hukum sehubungan peredaran Kalendar Tanah untuk Rakyat (TUR) di Salatiga. Selama kurang lebih 3 tahun kasus hukum Kalender TUR “didiamkan”, mungkin karena rezim Orde Baru saat itu sedang sibuk menghadapi isu suksesi politik. Salah seorang yang kerap menyoal adalah Jendral Soemitro, dan Amin Rais dari kalangan intelektual. Saat itu ada juga isu rekonsiliasi antara Suharto dengan Jendral (Purn) Nasution, demo mahasiswa di Gedung DPR/MPR yang minta Suharto turun, termasuk kasus interupsi Jendral Ibrahim Saleh dalam SI MPR 1993.

Sejak munculnya berita itu, saya menjadi merasa tak aman lagi,. Rasa was-was akan ketahuan intel menghantui. Saya harus menjalani hidup secara bohemian di Jakarta. Dalam arti berpindah-pindah dari satu tempat kos ke tempat kos lain. Termasuk mengungsi ke Kota Batik, Pekalongan. Di kota saya tinggal kurang lebih sebulan. Saya sempat menulis artikel di koran Wawasan tentang rekonsiliasi Jendral Nasution dan Soeharto. Tentu artikel itu saya tulis bukan atas nama saya, tapi teman saya, Handoko Wibowo, dia juga yang mengirimkan tulisan tersebut ke Wawasan. Honornya lalu diberikan ke saya.

Waktu itu saya memang memilih untuk tak mau “membentur tembok”. Meski rezim Orde Baru tengah digoyang isu suksesi dari kalangan masyarakat sipil, tapi menurut saya mereka masih kuat. Jika strategi membentur tembok dipilih, hasilnya mudah ditebak. Jujur, waktu itu saya sendiri belum siap untuk hidup sekian lama dalam dipenjara. Saat itu saya lebih memilih opsi “melarikan diri”. Saya mendiskusikan masalah ini dengan teman saya, Stanley.

Stanley ini orang yang juga sangat berjasa dalam hidup saya. Ia boleh dibilang sutradara yang merancang sekaligus mengeksekusi “pelarian” saya. Saya memercayakan seluruh skenario itu ke Stanley. Untuk memuluskan skenario itu, Stanley bersama saya menemui Hendardi, Mulyana W Kusuma (alm) dan Luhut Pangaribuan di kantor YLBHI. Saya mendapat identitas baru dari Hendardi. Pada saat itu seingat saya masih sempat dibahas mau lari kemana saya, luar negri atau dalam negri. Saya bilang lebih baik di dalam negeri saja. Persoalannya, siapa yang mau menampung “pesakitan politik” jaman orba?

Saya harus menunggu beberapa hari untuk mendapat tempat pengungsian. Saya tinggal di tempat kos Stanley, tidak terlalu jauh dari kantor Kompas. Stanley saat itu bekerja sebagai wartawan Jakarta-Jakarta. Di tempat kos itu juga tinggal Heru Hendratmoko, juga wartawan Jakarta-Jakarta. Kurang lebih seminggu, saya nyaris hanya tinggal di rumah saja. Tak berani keluar rumah. Saat itu saya ingin segera pergi ke tempat yang agak jauh. Sebuah lingkungan baru, dimana tak ada orang yang mengenal saya. Hari-hari rasanya jadi terasa panjang. Bayangkan, saya tadi bekerja di LSM, lalu jadi wartawan di Majalah Tiara, biasa pergi kesana kemari menemui dan melakukan wawancara dengan narasumber. Namun kini sehari-hari hanya berkurung diri di rumah. Tidak bisa keluar bebas. Malam hari memang pernah keluar cari makan di sekitar kebun jeruk. Cari warung makan pinggir jalan dengan Heru Hendratmoko, makan nasi uduk dengan rendang jengkol.

Beruntung kamar kos Stanley ada di lantai 2, sehingga jika sedang jenuh, saya bisa melihat atap-atap rumah. Kerja saya sehari-hati kalau nggak membaca, nonton tv, juga membantu melakukan transkip hasil wawancara Stanley dan Pramoedya Ananta Toer dengan Pak Oei Tjoe Tat, Menteri Negara Presidium Kabinet Kerja. Hasil wawancara itulah Stanley menulis buku Memoar Oei Tjoe Tat Pembantu Presiden Soekarno yang diterbitkan Hasta Mitra tahun 1995. sampai suatu hati Stanley memberi tahu bahwa saya akan bersembunyi di Pematangsiantar. Ada sebuah LSM yang akan menampung saya. Tugas saya adalah membuat majalah untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan LSM tersebut. Saya pun merasa lega. Saat itu, yang berkecamuk dalam pikiran saya adalah segera menjauh dari Jakarta. Pergi ke sebuah kota kecil. Tak banyak orang yang kenal saya.
Dari Stanley, mungkin juga M Anung DBK, Bang Zukri Saad adalah orang yang telah melakukan lobi agar saya bisa diungsikan ke sebuah LSM di Pematangsiantar. Saya pun merasa lega saat itu. Di jaman Orba, ada orang yang mau menampung seorang pelarian politik adalah suatu keberanian tersendiri. Saya juga tak tahu lobi seperti apa yang dibuat Bang Zukri sehingga LSM itu mau menerima saya.

Saya tak diberi tahu nama LSM yang akan menampung saya. Saya hanya diiberi secarik potongan kertas, berisi nomor telpon. Tugas saya sesampai di Pematang Siantar saya telpon ke nomor tersebut. Nanti akan ada orang yang menjemput. Namanya Ned Purba. Saat itu nama Ned, terdengar seperti Net, maklum saya saat itu belum terlalu akrab nama-nama Batak. Bahkan sesudah tinggal di Siantar pun pernah menulis alamat surat ke pemilik nama Saur Tumiur Situmorang dengan tulisan Bapak, ternyata seharusnya ibu.

Yang jelas keberangkatan saya sangat tertutup. Tak banyak orang tahu. Bahkan dibuat rumor, seolah saya telah berangkat ke luar negeri. Cerita ini tentu baru saya ketahui setelah reformasi 1998. Singkat cerita, begitu taksi yang saya tumpangi hendak sampai di Pematang Siantar, saya ditanya sopir, mau turun jalan apa. Ditanya begitu saya sempat gelagapan, lalu minta diturunkan di tengah kota tapi yang ada telpon umum.
Sopir taksi lalu menurunkan saya di deretan ruko yang di depannya ada telpon umum.

Setelah menurun barang bawaan, saya pun segera menelpon ke nomor telpon yang ada di secatik kertas. Saat itu sekitar pukul 11.00. Nada telpon masuk, tapi tak ada yang mengangkat. Saya coba lagi, sama hasilnya sama. Saya pun mulai dihinggapi rasa cemas. Bagaimana jika ternyata saya tak bisa jumpa dengan Ned Purba? Saya baru pertama kali ke Pematang Siantar. Tak ada satu teman atau famili saya di sini.
Setelah berkali tak diangkat, mata saya tiba-tiba melihat bahwa persis di sebrang saya menelpon, ada sebuah losmen. Bangunannya berbentuk ruko. Karena saya membawa tas, saya memutuskan untuk beristirahat dalam losmen. Saya tak ingin kehadiran saya menarik perhatian orang karena tak tahu kemana alamat yang mau saya tuju di Pematang Siantar. Yang jelas waktu itu saya juga merasa tak aman.
Setelah membayar sewa losmen, saya masuk ke kamar untuk istirahat. Siang hari saya keluar dari losmen untuk mencari makan siang. Rencananya, setelah itu saya akan menelpon lagi. Baru beberapa langkah keluar dari losmen ke arah kota, sebuah teriakan keras membuat saya terkejut setengah mati. Bukan kerasnya teriakan yang membuat terkejut. Tapi karena teriakan itu menyebut nama saya! Nyaris hal itu membuat saya berdiri kaku tak bergerak.

Di depan saya berdiri Damanik, mahasiswa Fakultas Hukum UKSW, abang dari teman saya Jayadi Damanik, aktivis Geni. Jantung saya langsung berdebur keras. Tak menduga sama sekali akan bertemu dia di sini. Apalagi setelah saya tahu ia bekerja di Dinas Imigrasi Pematang Siantar. Berbagai pikiran negatif langsung bermunculan di benak saya. Saat itu saya merasa, bubar sudah pelarian saya itu.

Dalam kebingungan apa yang mesti harus saya katakan tiba-tiba ia bertanya apakah saya masih bekerja di Majalah Tiara. “Masih, ini saya mau membuat liputan ke danau Toba. Sekarang menginap sehari di Siantar besok langsung ke Danau Toba.” Saya merasa agak sedikit lega. Setelah ngobrol kesana kemari, kami lalu berpisah. Meski begitu, perasaan tetap tak tenang. Belum juga sampai ke alamat yang dituju, sudah ada orang yang mengenali saya di Pematang Siantar. Sore hari saya telpon lagi Ned Purba. Kali ini diseberang telpon langsung menyahut suara laki-laki. Saya jelaskan siapa saya. “Oke, dimana anda sekarang? Oke, saya jemput sekarang.” Tak terbayang rasa lega saya waktu itu.

Sejak itu saya pun bekerja di Bina Insani, Pematang Siantar. Di LSM ini juga saya kenal Ronsen Purba, aktivis buruh yang pernah dipenjara setahun setelah demonstrasi buruh yang berakhir rusuh pada 1994. Juga Daulat Sihombing, dan beberapa aktivis LSM yang mampir ke Bina Insani seperti Soekirman, Alamsyah Hamdani, Parlin Manihuruk dll. Sampai tahun 1994 datang Bang Zukri. Saya jadi kagok saat ia memanggil saya dengan nama baru saya. Tahun 1996, saat saya pacaran dengan boru Butar-Butar, bang Zukri kebetulan tengah ke Siantar, saya langsung minta tolong untuk “melamar” boru Butar-Butar. Intinya saya minta bang Zukri memberi tahu bahwa calon suaminya adalah aktivis LSM. Kerjanya nyerempet-nyerempet politik. Jangan kaget jika suatu saat kelak berurusan dengan hukum. Saat itu saya memang belum memberi tahu identitas siapa saya sebenarnya. Termasuk nama saya sebenarnya.

Saya lupa apa yang dibilang bang Zukri saat itu, yang saya ingat pertemuan itu dilakukan sambil makan siang di Rumah Makan Miramar. Inilah 2 berkah lain yang saya terima dari pertemanan saya dengan bang Zukri. Setelah reformasi, saya mulai muncul secara terang-terangan. Saya kaget, namun tak heran saat bang Zukri dan teman-temannya membuat koperasi surat kabar. Mendirikan Harian Mimbar Minang. Saat saya ada kegiatan di Padang saya mampir ke Mimbar Minang, juga ke rumah bang Zukri. Di Mimbar Minang saya berkenalan dengan Budi Putra, kelak ia dikenal sebagai bloger pertama di Indonesia setelah keluar dari litbang Majalah Tempo.

Pertemanan saya dengan bang Zukri terus berlanjut meski saya mukim di Medan sejak 1996. Saya dan kawan-kawan jaringan di Institut Studi Arus Informasi (ISAI) mendirikan LSM yang bergerak di bidang kajian media massa, pendidikan dan penerbitan. Namanya Kajian Informasi, Pendidikan dan Penerbitan Sumatera (KIPPAS). Sebelumnya saya pernah jadi koresponden media online dan Majalah D & R untuk liputan Sumut.

Saya dan bang Zukri biasanya bertemu saat bang Zukri ada urusan dengan Bitra Indonesia. Terakhir tanggal 10 Februari 2020 lalu, saat ada kegiatan di Bitra. Tak banyak yang berubah dari bang Zukri. Bicaranya masih kenceng, berkobar-kobar. Kali ini ia banyak bicara soal kopi dan bambu. Soal bambu ini ia membayangkan di sekitar danau Toba bisa dibudidayakan bambu. Bambu katanya bisa punya banyak kegunaan untuk wisata. Bang Zukri juga kopi, fasih sekali tampaknya. Itulah Bang Zukri, tak da yang bisa merubah impian dan mimpinya tentang Indonesia.

Akhh Bang Zukri, saat memasuki usia 65 tahun pun ia seolah tak pernah mau rehat berpikir “liar” untuk memikirkan gagasan demi kemaslahatan masyarakat. Ibarat menu restoran Minang, dibenaknya selalu tersedia aneka gagasan, muncul silih berganti. Siap-siap menampunglah.

Medan, 14 September 2020

————

J Anto, alumni Pendidikan Dunia Usaha FKIP Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga tahun 1990. Pernah menjadi Direktur Yayasan Geni Salatiga tahun 1990-1991. Wartawan dan redaktur majalah trend dan informasi perilaku Tiara Jakarta tahun 1991 – 1993. Pengelola media internal Bina Insani Pematang Siantar 1993 -1996. Direktur Eksekutif KIPPAS Medan (1999 – 2014), menulis sejumlah buku diantaranya Gerakan Perempuan Sumatera Utara, Sebuah Nukilan Sejarah (bersama Dina Lumbantobing, 2009), Biografi dr. Sofyan Tan: Dokter Penakluk Badai (2009), Menolak Menjadi Miskin, Gerakan Rakyat Porsea Melawan Konspirasi Gurita Indorayon (bersama Benget Silitonga, 2004), Biografi Supandi Kusuma: Totalitas Pengabdian (2018) dsb. Sejak 2016 menjadi Redaktur Harian Analisa Medan, menetap di Medan.

Adikku Zukri | Azmi Saad