Bung Zukri Saad yang saya kenal

Oleh : Gustaaf Adolf Lumiu

Awal mengenal Bung Zukri. Sekitar bulan November tahun 1993, kalau ingatan saya masih bagus, datang ke lembaga  PACT (Private Agency Collaborating Together – LSM Amerika Serikat yang beraktifitas di negara-negara berkembang seperti Indonesia) yang berkantor dijalan Danau Jeumpang, daerah Pejompongan/ Bendungan Hilir – Jakarta Pusat. Tampil seorang laki-laki muda mendekati usia paruh baya, berperawakan sedang tidak kurus tidak juga gempal tetapi berisi, menunjukan pria ini berolah raga dengan teratur. Berkumis lebat, berbicara dengan suara yang cukup jelas dengan tutur kata yang teratur, berikut senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya.

Pria ini memiliki bentuk wajah disebut bundar dengan ukuran lingkar kepala diatas rata-rata. Memakai pakaian dengan warna serasi antara baju yang dipakai dan celana panjang yang berwarna khaki dril atau beige dalam bahasa donal bebek. Santai memakai alas kaki terbuka atau biasa disebut sepatu sandal. Gambaran lazim seorang pemikir dan pengajar dari perguruan tinggi.

Datang ke kantor Pact sekitar pukul 10 pagi, bertemu dengan Andra Corrother, kepala perwakilan kantor Pact Indonesia. Zukri dan Andra keduanya kalau berbicara menggunakan ukuran suara sekitar kurang lebih 100 desibel dalam ukuran lemah dan kuat seperti orang yang sedang berdebat mempertahankan pendapat mana yang paling benar yang makin naik nadanya. Pact adalah sebuah organisasi nir-laba berkantor pusat di Washington DC, memiliki kegiatan dalam bidang memajukan harkat dan martabat manusia, atau disebut dengan program kemanusiaan di lebih dari 20 negara yang sedang berkembang di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Proyek Pact di Indonesia pada sekitar tahun 90an bergerak dalam bidang lingkungan hidup dan masyarakat.

Zukri nampaknya type Pemikir.  Mendengar nama Zukri Saad waktu kunjungan pertama tersebut, pertanyaan pertama darimanakah orang ini berasal? apa hubungannya dengan Pact? Seorang pengajar dari sebuah perguruan tinggi yang ternyata sama sekali tidak tepat atau istilahnya ngga nyambung memakai judul lagunya Orri. Menjawab pertanyaan dari manakah asalnya ? Kesan kuat adalah nama Saad ada hubungan nama dengan Agus Musin Dassad yang orang Lampung, peniaga hasil bumi terkenal kawan baik bung Karno sehingga mungkin Zukri Saad orang Lampung. Dugaan ini ternyata di kemudian haripun jaka sembung alias ngga nyambung. Zukri Saad pada waktu bertemu adalah penasihat ahli bidang penataan lingkungan, proyek Learning and Linkage – Pact Indonesia. Zukri  pernah menduduki jabatan Direktur Walhi awal tahun 90-an ini ternyara berasal dari daerah Sumatera Barat. Zukri tampil beda. Kesukaannya bukan berniaga, seperti umumnya orang Minang, tetapi pemikir dan pembicara yang baik. Malah mendekati type orator.

Zukri memang tampil berbeda. Saya sebutkan mendekati orator karena dalam beberapa peristiwa yang berhubungan dengan Zukri dikemudian hari antara lain bergabung dengan partai politik terutama jaman setelah eyang kakung lengser keprabon dimana partai-partai banyak bermunculan ibarat pepatah mengatakan seperti jamur tumbuh dimusim hujan. Kawan baik Zukri bernama Adi Sasono pada waktu jaman Paman Bibie jadi pemimpin negeri ini diangkat jadi Menteri Koperasi dan UKM. Adi Saseno selain menjadi Menteri juga mendirikan Partai Merdeka yang perduli pada rakyat. Zukri menggunakan kendaraan partai yang didirikan Saseno mencalonkan diri menjadi Gubernur Sumatera Barat. Seorang pemikir yang handal, pembicara yang baik, mendekati orator tapi belum orator tingkat atas. Gagal pencalonannya menjadi gubernur.

Kesan bagi saya orang non Sumbar, untuk menjadi pemimpin yang baik selain dibutuhkan seorang yang pandai juga seorang yang saleh, taat beribadah dan beragama dengan baik dalam ucapan dan tindakan. Tidak berlebihan Zukri memiliki karakter seperti itu untuk bias menjadi seorang pemimpin di Sumatera Barat, itu sebabnya tidak heran mendengar ketika Zukri mencalonkan diri menjadi Gubernur Sumatera Barat. Satu hal lagi yang nampak dari Zukri adalah tidak pernah melupakan sholat dimanapun berada. Sebagai seorang pemikir sudah pasti luas bahan bacaannya selain juga senang bertanya kepada siapapun dalam hal apapun termasuk pengetahuan mengenai agama-agama lain. Dengan pengetahuan dan pengetahuan yang dimilikinya tidak terhalang dalam hal melakukan kegiatan agamanya selain juga terbuka dengan pandangan pelaku kepercayaan lain.

Zukri dan konsep pemikiran. Pada tahun 2013, waktu kunjungan ke Kabupaten Sangihe Talaud – Sulawesi Utarayang mayoritas penduduknya beragama Kristen, Zukri memperlihatkan karakternya sebagai seorang yang bersifat terbuka. Ia berbicara dengan tokoh-tokoh daerah tanpa melupakan dirinya. Kesan yang agak berbeda yang dialami Zukri dan disampaikan kepada saya pada waktu mengunjungi Kabupaten Kepulauan Sangihe. Satu hari Zukri diajak berkunjung ke kota kecamatan yang di sebut Peta. Peta kota kecil terletak di pantai timur kepulauan Sangihe Besar menghadap ke Lautan Pasifik, selain toko-toko yang berjajar sepanjang pantai juga terlihat perahu-perahu ukuran 5 sampai 10 ton yang digunakan pulang balik ke Davao, yang pada waktu musim tidak berombak bisa ditempuh dalam waktu 7 jam menggunakan tenaga mesin laut berukuran 20 tenaga kuda. Peta adalah juga tempat asal dari Profesor A. Makagiansar seorang tokoh pendidik pernah menjadi direktur Unesco, menikah dengan gadis berasal dari Sumatera Barat. Berkunjunglah Zukri ke pusat pasar yang menjual hasil-hasil industri kecil dari Davao, Mindanao Filipin. Bertemu dengan pedagang disana dan kesan yang didapat menurut Zukri cara menawarkan barang dagangannya lebih hebat dari awak Padang. Masuklah Zukri ke satu toko mencari barang kecil untuk oleh-oleh. Beberapa langkah belum memasuki toko disambutlah Zukri oleh seorang enci pemilik toko dengan ucapan Asalam Mualaikum ucapan yang jarang terdengar didaerah Sangihe. Seperti biasa toko-toko di Peta terkenal dengan minyak wangi yang harum dan tahan lama berasal dari Filipin, si enci langsung menyemprotkan minyak wangi yang terwangi ke badan Zukri mulai dari telapak tangan kanan menuju pundak ke punggung ke lengan kiri sampai telapak tangan habislah satu botol. Dengan tertawa Zukri “harus” membeli minyak wangi tersebut. Zukri Saad seorang yang terbuka dan mudah bergaul dengan siapapun dan kesan ini menjadi olah pikir Zukri keluarlah suatu konsep pembangunan dengan judul Menengok Kelaut Dompet Masa Depan Sangihe disampaikan dalam petemuan dengan Bupati Kepulauan Sangihe, Salindeho dan jajarannya. Lebih jauh lagi konsep ini dikembangkan Zukri dengan sebutan konsep pembangunan berbasis Archipelago (kepulauan) bukan berbasis Continental karena Indonesia adalah Negara kepulauan. Konsep ini kemudain hari disampaikan dalam acara bincang bebas di kantor Pak Santo, BPPT ahli perancang dan pembuat kapal laut. Dalam bincang tersebut keluar istilah yang lebih dalam yaitu “Pagar Laut Nusantara” memagari laut Indonesia yang pada waktu itu marak pengambilan sumber daya ikan dari laut Indonesia tanpa bisa berbuat apapun.

Bebarapa tahun kemudian Ketika Ibu Susi Pujiastuti menjadi Menteri Keluatan dan Perikanan dlam Kabinet Pertama Pak Jokowi terkenal dengan semboyannya yang mendunia : “tenggelamkan”. Apakah hasil bincang bincang Bung Zukri di kantor BPPT terdengar sampai ke pendengaran Ibu Susi nobody knows. Pemikiran Pagar Laut Nusantara memiliki semangat yang tidak berbeda dengan konsep yang disampaikan Pak Jokowi menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Zukri melangkah kedepan. Sekitar tahun 2019, penulis mengajak Zukri makan siang setelah bersepakat dipilihkan sebuah rumah makan terletak tidak jauh dari pusat belanja pertama di Indonesia Sarinah kalau berdiri jaman sekarang bisa saja ditambah sebutan mall supaya terdengar keren.

Sarinah ikon Jakarta sejak tahun 1970 tetap namanya sampai saat ini tidak jauh terletak dari kantor dimana Zukri bekerja. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar satu jam sambil menikmati hidangan khas Sumatera. Zukri dengan berbagai informasi yang dimilikinya enak diajak berbincang apa saja, “hard-disk” Zukri memiliki daya simpan dalam ukuran tera byte dengan pengolah data berkecepatan tinggi.

Bincang-bincang dalam pertemuan tidak pada pokok bahasan tertentu, lebih kepada bagaimana melihat kedepan sehubungan dengan usia kami berdua dan juga kawan-kawan lain yang seiring seperjalanan misal bang Kirman, Monang, Yustina, Rondang, Imam, Syahril, Kasto, dan lain lain telah berada pada kisaran kepala enam. Setelah bincang sana sini Zukri mengatakan ia tiap hari melangkahkan kakinya sejak bangun tidur dipagi hari sampai kembali keperaduan dimalam hari minimal sebanyak 10.000 langkah. Penulis sedikit terperanjat bagaimana menghitung 10 ribu langkah tersebut. Ditunjukanlah sebuah alat yang dipasang di pergelangan tangan semacam penghitung waktu digital. Zukri dengan perawakan yang tidak pernah berubah kecuali kumis yang sudah tidak ada lagi dan rambut yang makin menipis, tidak terlihat lemak pada bagian lingkar perut karena tetap dengan kebiasaannya berolah raga yang paling mudah dilakukannya sejak usia muda yaitu jalan kaki dan olah nafas. Setiap hari sejauh sepuluh ribu langkah apabila setiap langkah berukuran 25 sampai 30 sentimeter jarak yang ditempuh Zukri setiap hari 3 kilometer. Olah raga menyehatkan tubuh, jiwa dan pikiran itulah salah satu cara Bung Zukri yang saya kenal tetap sehat sejak muda sampai saat ini dan kedepan.

Masih banyak cerita dan kesan lain mengenai Zukri Saad tetapi biarlah kawan-kawan yang lain bisa menceritakan.

BUNG ZUKRI SEMOGA SEHAT SELALU – IKUTI PROTOKOL COVID19 : JAGA JARAK ;PAKAI MASKER; SELALU CUCI TANGAN

Manado, 8 Agustus 2020

————

Gustaaf A Lumiu, kelahiran Morotai dan mendewasa di Jawa Barat sehingga fasih berbahasa Jawa dan Sunda selain berbahasa Inggris. Lulusan Asian Institute of Management (AIM) – Manila Philipina, focus Pembangunan Bidang Keuangan, memiliki keahlian khusus membangun model-model keuangan alternatif. Profesional mengelola dana-dana bantuan internasional bilateral, multilateral seperti Bank Dunia, USAID, AUSAid, UKaids. Berhasil merancang Reksa Dana Hijau – Yayasan Kehati dan Indeks Keuangan Berkelanjutan kerjasama Yayasan Kehati dan Bursa Efek Indonesia. Saat ini dipercaya sebagai tenaga eksekutif di lembaga antar 7 pemerintahan Asia Pasifik dalam program Segitiga Terumbu Karang (CTI CFF), berkedudukan di Manado.

Adikku Zukri | Azmi Saad