Bung Zukri Yang Berjalan Lurus

Oleh : Heironymus Tumimomor

Sebagai aktivis di LSM, saya tidak ingat lagi dimana pertama kami bertemu. Terlalu banyak forum pada zaman itu. Seingat saya ingat, kami bertukar alamat ketika suatu acara yang berbicara mengenai pentingnya penerapan pendekatan partisipatif dalam pemberdayaan masyarakat desa. Tempat pertemuan di Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

Beberapa belas tahun kemudian, kami berada di satu departemen Pengembangan Masyarakat – Community Development, dari sebuah holding Industry Perkebunan Besar Sawit (PBS) yang beroperasi di beberapa provinsi di Sumatera dan di seluruh provinsi di Kalimantan. Disamping perkebunan sawit, termasuk juga perkebunan cengkeh terluas di dunia yang berlokasi di Desa Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan – Sulawesi Utara. Kami bertugas membina koperasi kemitraan, memberi pendampingan pada masyarakat sekitar kebun dan yang tersulit adalah penyelesaikan konflik-konflik yang terjadi antara perusahaan dengan masyarakat di sekitar kebun.

Sebagai orang yang lama malang-melintang di LSM, yang roh dan jiwanya sudah terpatri membela masyarakat, kadang terasa bimbang juga untuk menempatkan diri menjadi pembela kepentingan masyarakat. Disaat itu Bung Zukri cuma bilang ” kita berada di posisi staf dalam perusahaan, untuk berjuang membela kepentingan masyarakat “. Rupanya gaji tinggi dan fasilitas sangat memadai, tidak bisa “membeli” idealisme dan jati diri seorang aktivis LSM sejati. Bung Zukri terkenal dengan kiprahnya 20 tahun terakhir, yang beradvokasi membela kepentingan lingkungan hidup yang berkelindan dengan perlunya peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai hasil akhir pembangunan nasional.

Dengan idealisme itulah kami bekerja di perusahaan perkebunan, mencari nafkah sambil tetap membela kepentingan masyarakat. Saya tak ingat lagi, berapa kali mendapat teguran dari pimpinan puncak perusahaan ; ” Bapak-bapak harus sadar, bahwa sekarang ini tidak lagi di LSM, tapi di perusahaan. Yang membayar gaji adalah perusahaan, jadi silahkan bekerja untuk kepentingan perusahaan “.

Banyak interaksi kami yang bisa saya ungkapkan disini, namun yang fenomenal adalah ketika Bung Zukri dan saya ditugaskan pihak perusahaan untuk menyelesaikan kasus konflik kepemilikan tanah dengan serumpun keluarga di Mentaya, Sampit – Kabupaten Kota Waringin Timur. Sengketa tanah ini sudah berjalan bertahun-tahun tanpa penyelesaian secara permanen.

Penyelesaian sudah diupayakan dengan pendekatan “keamanan,” yaitu dengan mengerahkan pasukan keamanan dari tentara dan polisi (Brimob). Pengerahan pasukan ini sudah belasan kali dilakukan. Hasilnya hanya reda sesaat, kemudian masyarakat yang berintikan satu keluarga itu mengklaim kembali dengan memblokade aktivitas perkebunan sawit yang luasannya beratus hektar. Mereka tetap merasa, perusahaan telah merampas lahan yang mereka miliki turun temurun.

Demikian juga upaya penyelesaian secara hukum legal formal, yang dilakukan belasan kali baik di tingkat kabupaten, propinsi dan nasional juga akhirnya mengalami kebuntuan. Padahal sudah belasan milyar uang yang terbuang percuma dan mengikis habis tingkat ketidak percayaan masyarakat terhadap perusahaan. Ibarat jurang, jarak interaksi semakin melebar dan makin dalam.

Suatu hari di tahun 2013, saat rapat interen perusahaan di Palangkaraya, Departemen hukum/ lisensi dan departemen keamanan (sekuriti) menyatakan diri ” menyerah” untuk menyelesaikan sengketa tanah tersebut. Mereka angkat bendera putih, karena tidak tahu akan punya strategi apa lagi untuk menyelesaikan konflik menahun itu. Padahal situasi teramat genting, dimana blokade pendudukan masyarakat terhadap ratusan hektar kebun sawit yang sedang dalam usia produktif, telah berlangsung hampir sebulan. Potensi kerugian ratusan juta rupiah perhari.

Saat itulah petinggi managemen perusahaan tingkat pusat memutuskan agar penyelesaian konflik diserahkan kepada Departemen Pengembangan Masyarakat dibawah kepemimpinan Bung Zukri. Berbasis pengalaman penyelesaian konflik sejak dulu di LSM yang mengetengahkan pendekatan musyawarah-mufakat, Bung Zukri dan saya dibantu Manager CD dan Asisten Manager CD setempat, turun ke lapangan. Tanpa kelihatan ragu-ragu apalagi merasa takut, kami berangkat menemui pimpinan masyarakat yang memblokir kebun. Suasana interaksi cukup panas, tapi Bung Zukri tak kelihatan gentar. Sorot mata penuh empati dan senyum tipis selalu menghiasi bibirnya.

Bung Zukri ketika itu hanya berkomentar ” …Ayo Pak Tumimomor, kita selesaikan dengan cara kita (LSM maksudnya)..”. Yang pertama kami minta, agar perusahaan menarik semua pasukan Brimob yang bertugas di lapangan. Juga membatalkan keterlibatan pengacara perusahaan dan penasehat hukum dari Jakarta dalam mengelola penyelesaian konflik.

Kepada Rumpun Keluarga (sanak saudara) yang bersengketa dengan perusahaan, kami juga minta mereka untuk memutuskan hubungan dengan penasehat hukum yang mereka biayai dengan susah payah. Demikian juga, untuk sementara jangan melibatkan tokoh adat atau pihak ketiga lainnya, seperti para preman-preman spekulan tanah dan mereka yang mengaku bisa berperan menjadi penyelesai masalah. Bung Zukri dan saya hanya mau berhubungan langsung dengan para pemilik tanah, yang memblokir kebun.

Disepakati untuk mengadakan pertemuan di tempat netral, yaitu di salah satu hotel di Banjarmasin. Jadi tidak seperti kebiasaan selama ini yang bertemu di kantor desa, kantor camat, kantor bupati atau sekalian di kantor gubernur. Atau bertemunya di kantor Polisi ( Polsek, Polres atau Polda).

Pertemuan Banjarmasin diarahkan untuk menggali sejarah konflik, akar masalah, pihak-pihak yang terlibat, persepsi para pihak termasuk pemerintah daerah dari seluruh tingkatan, dan diakhiri dengan menyamakan persepsi. Dokumen pertemuan ditandatangani oleh kedua belah pihak. Selanjutnya, disepakati untuk pertemuan berikutnya di salah satu rumah keluarga yang bertikai dengan perusahaan. Interaksi di “kandang lawan” berkonflik ini diharuskan agar masyarakat luas di kampung boleh terbuka mendengar dan mendiskusikan tuntutan masyarakat, besarnya tuntutan ganti rugi dan pesyaratan-persyaratan ganti rugi lainnya. Seluruh anggota keluarga harus dihadirkan, agar diperoleh keputusan dengan suara bulat, kelak kalau sudah ditemukan kesepakatan bersama.

Pada pertemuan ketiga di Banjarmasin, ada sedikit “masuk angin” baik oleh masyarakat dan pihak pimpinan managemen perkebunan setempat. Masyarakat dipengaruhi dan diprovokasi oleh para preman tanah perkebunan, yang menganggap perusahaan hanya menunda-nunda penyelesaian. Dan pihak pimpinan perusahaan, juga curiga dan meragukan. Menganggap ” Koq begitu gampang dan cepat negosiasi penyelesaian sengketanya, serta hanya butuh biaya sangat sedikit..”.

Terpaksa kembali dibuat pertemuan di Banjarmasin. Dengan syarat hanya dihadiri oleh pihak perusahaan, yaitu Bung Zukri dan Saya, berunding hanya dengan keluarga inti (ayah dan anak) yang bersengketa. Saat pertemuan itulah disepakati besaran ganti rugi, jadwal pembayaran dan syarat-syarat pembayaran.

Saat tawar-menawar “ganti rugi” itu Bung Zukri dan saya bergumul dalam hati. Menawar terlalu rendah, maknanya menguntungkan perusahaan dan merugikan masyarakat. Menuruti tuntutan masyarakat, sama dengan mengiyakan tuntutan yang sebenarnya secara legalitas cukup lemah. Kami lalu meminta ketegasan pihak perusahaan berapa toleransi ” plafon” ganti rugi yang disiapkan oleh perusahaan.
Berdasarkan plafon anggaran itu kami mulai mengadakan tawar-menawar. Harga yang disepakati ternyata kurang jauh dari yang disiapkan perusahaan, itupun sudah ditukuk dengan bonus janji akan diundang untuk ibadah Umroh bersama.

Jadilah, Ganti rugi menjadi ” Ganti Untung”. Masyarakat senang. Perusahaan beruntung, karena nilai ganti rugi jadinya hanya sekitar 50% dari plafon ganti rugi yang disediakan. Dalam waktu singkat, konflik tanah menahun itu bisa selesai secara permanen. Sampai hari ini…….

Kunci keberhasilan adalah (1) melokalisir pihak keluarga inti yang benar-benar hadir dari pihak masyarakat, tanpa adanya campur tangan pihak lain yang umumnya mengatasnamakan diri sebagai pihak; (2) Memetakan seluruh permasalahan secara mendetail dan notulensi rapat ditandatangani oleh kedua belah pihak; (3) Kemampuan efektif dalam berkomunikasi, khususnya dalam memformulasi substansi konflik dan tehnik menawarkan solusi “menang-menang”; (4) Kemampuan membangun suasana pertemuan penuh empati dari kedua belah pihak, sehingga rumusan yang disepakati diharapkan akan menyelesaikan konflik secara permanen berkelanjutan; (5) Tehnik appreciative inquiry, yang dimainkan oleh Bung Zukri sungguh sempurna mengunci para pihak untuk berkomitmen memelihara perdamaian jangka panjang. Tentu diimbuhi oleh terbukanya lapangan kerja, sistem CSR perusahaan berjalan efektif sehingga untuk jangka panjang diperoleh apa yang disebut “social license to operate – dukungan social untuk keberlanjutan usaha”.

Itulah. Sampai kami sama-sama ” pensiun ” dari perusahaan, perjuangan menegakkan idealisme sebagai aktivis tetap terjaga dan terawat dengan baik. Komitmen perjuangan membela rakyat tertindas, membela HAM, dan kemanusiaan tak pernah berubah. Seorang Zukri Saad adalah contoh ideal orang yang teguh memperjuangkan semua itu. Idealisme tak akan pernah tua. Idealisme tak akan pernah mati. Tentulah tentu, selama bisa disinergikan dengan hakikat hidup berjalan lurus di bumi Allah. Puji Tuhan.

Selamat Berulang Tahun ke 65, sahabatku Zukri Saad. Hidup yang bermakna adalah hidup yang menghidupi orang lain.

Waingapu, 20 September 2020

————

Heironymus “Dimba” Tumimomor, Alumni Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi – Universitas Satya Wacana Salatiga. Setelah kerusuhan Poso 2004, sampai kini menetap di Salatiga. Setamatnya kuliah, Aktifis LSM dan peneliti Suku Pedalaman ini pulang ke kampung di Kabupaten Poso, mendirikan Yayasan Bina Dinamika Pedesaan Poso, yang mengkhususkan diri pada pelayanan Suku Pedalaman (Suku Terasing) Wana, di Sulawesi Tengah (1977-2004). Penggagas Desa Damai saat kerusuhan Poso, dengan mendirikan pemukiman bersama antara pengungsi Muslim dan Nasrani yang berasal dari beragam suku bangsa. Terakhir bekerja di Holding Makin group sebagai Community Development Specialist.

Adikku Zukri | Azmi Saad