Dewa Pedang dari Pinggang Marapi

Oleh : Zul Effendi

Jujur, saya agak kaget membaca pesan Uwan Zukri di WA tanggal 21 Juli 2020 itu. Pada alinea pertama, Uwan menulis, “Sahabat, 5 November tahun ini, saya mulai memasuki usia “Lansia Muda”, yakni akan menapaki usia 65 tahun.”

“Ah, Uwan 65 tahun, lansia muda?,” saya bertanya.

Tapi, pertanyaan itu tidak saya ungkapkan ke Uwan. Justru saya membalas,”Insya Allah, siap Uwan. Menjelang 65 tahun, semoga Uwan sehat, usia berkah, menebar manfaat dan selalu menginspirasi. Aamiin.”  Ini sebagai jawaban atas permintaan Uwan untuk menuliskan untaian kenangan sekaligus umpan balik dari para sahabat yang pernah berinteraksi dengan Uwan.

Pertanyaan membatin itu, harus saya jelaskan seperti ini. Bulan September 2019, sekitar 10 bulan sebelum pertanyaan ini muncul, saya bertemu Uwan Zukri di Dempo Anailand Resort, Padang Pariaman. Pertemuan dengan label “Reuni Keluarga Besar Mimbar Minang” itu dihadiri 20-an orang yang pernah mengelola dan bekerja di Koran Mimbar Minang antara tahun 1999-2005. Selain Uwan, hadir antara lain Hasril Chaniago, Eko Yanche Edrie, Akmal Darwis, Ismet Fanany, Atviarni, Jasriman, Afrizal, Kabati, Asrizal, Ezi, Cece dan Yaya Rahmawati, alumni Mimbar Minang yang kini jadi GM Dempo.

Pada pertemuan satu malam dan hampir satu hari itu, saya dan teman-teman yang hadir di Anai Resort, berinteraksi cukup intens dengan Uwan. Selain bertukar kabar tentang perkembangan masing-masing, kami akhirnya terlibat diskusi tentang ide untuk menghadapi tantangan era 4.0.

Lalu, apa hubungannya dengan rasa kaget saya dengan usia Uwan yang hampir 65 tahun itu? Nah ini dia. Saat di Dempo Anailand Resort itulah, Uwan di mata saya terlihat masih seperti 45 tahunan, saat seperti masih di Mimbar Minang, 20 tahun lampau. Fisiknya masih tangkas. Suaranya masih keras. Ketawanya masih lepas. Humornya masih cerdas. Dan ini yang sangat penting; pemikiran dan ide-ide Uwan, masih bernas. Segar dan selalu menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi, tapi berenergi. Membangkitkan semangat bagi yang mendengarnya. Itulah Uwan Zukri Saad !!

Secara pisik, saya mengenal Uwan pertama kali awal 90-an, waktu saya masih jadi reporter Harian Singgalang. Bersama sejumlah sahabat aktifis Insan 17 antara lain Yuhirman, Armizen Wahid dan Yongki Salmeno, saya bertemu Uwan Zukri di Sekretariat LSM lingkungan itu, di Padang. Uwan seingat saya waktu itu, Direktur Pelaksana Yayasan Insan 17 sekaligus juga Presidium Pleno Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera. Tak pelak, diskusi seputar lingkungan, aktifis dan jurnalis pun tak terelakkan.

“Bung, hakekatnya misi aktivis lingkungan, pers dan jurnalis punya banyak kesamaan. Tugas kita adalah menginformasikan dan mengedukasi masyarakat, terutama masyarakat lemah dan rentan agar mereka tahu, mengerti dan paham tentang hak-haknya, lalu mampu melindungi hak-haknya itu,” kata Uwan menatap saya, serius.

Aktifis, lanjut Uwan, terlibat dalam berbagai upaya untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik melalui advokasi, penggalangan dana dan juga bisa terjun langsung sebagai relawan. Sedang jurnalis, terlibat dalam peliputan dan penulisan untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran yang tujuan akhirnya adalah juga untuk kebaikan masyarakat. Kebaikan untuk negeri.

“Jadi, kerja jurnalis itu tidak main-main Bung. Ini tugas mulia. Tetaplah semangat dan asah terus kemampuan Bung,” ujar Uwan, sambil menepuk bahu saya.

Luar biasa! Saat pertama kali bertemu Uwan, saya baru memasuki tahun ketiga jadi reporter di Harian Singgalang. Sebagai kalene wartawan kala itu, saya merasa bangga sekali bisa berdialog dengan Uwan. Orangnya asyik. Gestur dan gaya bicaranya, memikat. Energik dan egaliter. Menginsipirasi sekaligus memotivasi. Itu kesan saya. Dia tipikal orang yang menghargai lawan bicaranya. Tidak memandang usia atau level.

Begitu ide dan topik yang dilontarkannya nyambung, maka dapat dipastikan, dialog akan berlangsung dalam durasi yang panjang.  Apalagi kalau disela dengan kopi dan rokok. Oaalah! Meski, pasti memang, Uwan nan mendominasi pembicaraan. Sah dan wajar, beliau kan dedengkot aktifis yang sudah malang melintang ke seantero nusantara. Wawasan dan pergaulannya tidak hanya nasional, tapi global. Makanya, bak mata air, setiap kali bertemu dan bicara dengan Uwan; ide demi ide, gagasan demi gagasan, mengalir begitu saja dari mulut Uwan. Bukan mulut saya kira. Tapi, pikiran. Ya pikiran alias otak Uwan, saya bayangkan adalah mata air yang tidak pernah kering dari ide dan gagasan. Tidak hanya tentang satu hal dan satu bidang, tapi banyak hal dan multi bidang.

“Uwan orang hebat,” pikir saya. Orang hebat berbicara ide-ide, orang biasa tentang kejadian, dan orang kecil berbicara tentang orang lain, demikian kutipan Eleanor Roosevelt, pejuang hak sipil yang istri Presiden Amerika Franklin Delano Roosevelt.

Pikiran saya bahwa Uwan itu orang hebat, rupanya tidak meleset. Satu tahun setelah saya bertemu Uwan di Sekretariat Yayasan Insan 17, Padang, saya dapat kabar, alumni ITB yang lahir pada pagi berkabut di pinggang Marapi, Pincuran Landai Nagari Kubang Putiah, Banuhampu itu, terpilih sebagai Direktur Eksekutif Walhi. Maka, setelah itu, saya mendengar cerita dari sahabat-sahabat aktifis dan membaca dari media nasional tentang sepak terjang Uwan, sang pejuang lingkungan hidup itu. Buntutnya, bagi saya, inilah yang kurang mengenakkan. Rasa bangga waktu bertemu dan berdiskusi dengan Uwan pertama kali di Padang itu, berubah jadi rasa kagum.

Ya, saya mungkin satu dari sekian ratus, bahkan ribuan adik-adik ideologis Uwan lainnya, yang mengagumi sikapnya yang tidak takluk dengan materi dan tidak runduk dengan kekuasaan. Harap maklum. Uwan memimpin Walhi waktu itu di era Orde Baru. Bayangkan, saya saja yang wartawan kecil di daerah, pernah merasakan tekanan kekuasaan, kala itu. Ceritanya, pada  21 Juni 1994, saat Uwan masih menjadi orang nomor satu di Walhi, majalah Tempo, Editor dan tabloid Detik dibredel pemerintahan Presiden Soeharto.  Dua hari setelah itu, saya bersama sejumlah wartawan muda Sumatera Barat, antara lain Ben Tanur dan Asraferi Sabri,  mengirim surat protes dan keprihatinan kepada Menteri Penerangan Harmoko. Aksi protes juga dilancarkan para wartawan dari berbagai daerah di Indonesia.

Tidak sampai satu minggu setelah itu, tekanan balik datang kepada wartawan yang ikut protes. Melalui Pemimpin Redaksi masing-masing, mereka diminta mencabut surat protes tersebut. Kalau tidak, diberhentikan! Akibatnya, sejumlah wartawan dan koresponden lain yang ikut protes, membuat surat pencabutan agar mereka selamat dari ancaman diberhentikan. Saya dan wartawan Singgalang, memilih diberhentikan daripada mencabut.

Tapi, untunglah, Uda Basril Djabar, Pemimpin Redaksi Singgalang saat itu, membuat surat pemberhentian “pura-pura” untuk meredam tekanan pusat. Toh, pejabat Deppen yakni Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika (PPG) Kosky Zakaria yang urang awak itu, akhirnya tahu juga, bahwa saya tidak sungguh-sungguh diberhentikan. Waktu kunjungan jurnalistik wartawan nasional ke Aceh, saya yang ikut dalam rombongan “dipanggil” khusus Dirjen PPG. “Hati-hati dan pandai-pandailah, dalam nagari co iko, jaan dipaturuikkan bana darah mudo tu,” kata Pak Kosky. (Hati-hati dan pandailah, dalam negeri seperti ini, jangan diikuti benar darah muda itu—red).

Begitu benarlah sensitif dan reaktifnya penguasa Orde Baru kala itu. Hanya karena aksi sepele, memprotes dan menyatakan keprihatinan kepada menteri, buntutnya bisa dicabut ‘tali akinya’. Saya tidak bisa membayangkan tantangan, intimidasi dan ancaman yang dialami Uwan, dedengkot aktivis lingkungan ketikamemimpin Walhi. Protes dan prihatin, itu mah, hal keciil. Berbagai proyek dan kebijakan pemerintah, justru dilawan bahkan kalau perlu digugat ke pengadilan. Pada periode Walhi di bawah kepemimpinan Uwan, tercatat yang paling fenomenal adalah gugatan Walhi terhadap PT Freeport Indonesia (1995) dan gugatan kepada Presiden Soeharto (1994) terkait penyaluran dana reboisasi sebesar 183 juta dolar untuk proyek pesawat terbang IPTN yang diketuai Menristek kala itu, BJ Habibie.

Membayangkan ketegaran Uwan menghadapi tekanan kekuasaan saat memimpin Walhi, akhirnya saya biarkan terus rasa kagum terhadap Uwan tersimpan dalam diri saya. Ah, saya agak malu sebenarnya mengungkapkan hal ini. Tapi, menjelang usia Uwan 65 tahun ini, biarlah saya akui saja.  Kepada Uwan, tidak sekali pun saya menyampaikannya. Rasa kagum ini mungkin dipicu kegemaran waktu kecil saya membaca komik silat semisal  “Pusaka Dewa Pedang” karya Man, “Panji Tengkorak” karya Hans,  “Jaka Sembung” karya Djair atau serial superhero “Gundala” karya Hasmi dan “Godam” karya Wid NS. Para pedekar dan superhero fiktif karya anak bangsa, itu adalah pejuang pembela rakyat tertindas. Seperti itulah saya membayangkan sepak terjang Uwan membela kaum lemah di banyak daerah tertinggal dan terbelakang yang ditemuinya. Dia rela menghadang resiko dan berhadapan dengan penguasa yang mempunyai banyak antek-antek dan tukang pukul sakti.

Pendekar dan superhero adalah panggilan jiwa. Sama agaknya dengan aktifis dan jurnalis. Kalau hanya sekedar untuk kerja dan mencari nafkah, lebih enak jadi pegawai atau eksekutif perusahaan besar. Apalagi untuk seorang Uwan Zukri Saad yang lulusan ITB dan pernah jadi Ketua Dewan Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat dan Aplikasi Teknologi. Itu amat mudah, rasanya. Seandainya jalur ini yang dipilih Uwan, kursi pejabat tinggi atau bahkan menteri sekali pun, mungkin sudah didudukinya.

Tapi, tidak! Uwan tidak jadi birokrat ataupun eksekutif BUMN. Dia justru memilih ‘jalan pedang’. Jiwanya gelisah melihat ragam ketimpangan pembangunan. Itulah yang mematri tekadnya untuk jadi aktifis LSM. Dan pilihan medan pemberdayaan itu, sungguh tidak main – main. Uwan proklamirkan secara total dengan membakar ijazahnya di halaman rumah kost di Cisitu Baru, Bandung. Mungkin maksudnya agar dia tidak tergoda dan berpaling arah. Entahlah. Hanya Uwan dan Tuhan yang tahu. Yang jelas, setelah itu, koran sekelas Kompas pernah menjulukinya sebagai “Satu dari Tujuh Orang Gila Indonesia.”

Pasca reformasi dan turunnya Soeharto sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998, mengilhami sejumlah perubahan besar di Indonesia. Pun di daerah. Gerakan perubahan dan pembaruan, menjalar di mana-mana. Di Sumatera Barat, 18 jurnalis Harian Singgalang yang gelisah, akhirnya menyampaikan permohonan pamit kepada pimpinan dan koleganya tempatnya bekerja. Mereka berhenti, tidak karena pindah ke perusahaan surat kabar yang lain. Tapi, “mengistirahatkan diri” dan siap jadi  “pengangguran” beberapa bulan kemudian. Tujuannya, hanya satu. Delapan belas jurnalis yang menyatukan diri dalam kelompok “Eksis Komunika” (Eks Singgalang Sehati dalam Komunikasi) ini, bercita-cita mewujudkan ‘mimpi’ membangun koran baru berbasis masyarakat.

Siapakah 18 wartawan Eksis Komunika itu? Mereka adalah Hasril Chaniago, Muslih Sayan, Edi Suardi, Eko Yanche Edrie, Ismet Fanany, Akmal Darwis, Asraferi Sabri, Tun Akhyar, Luzi Diamanda, Dodi Nurja, Replianto, Budi Putra, Atviarni, Afrizal, Alfian, Marjeni Rokcalva, Yusril Ardanis Sirompak dan saya sendiri.

Begitulah, setelah sempat ‘bermaskas’ sekitar enam bulan di sebuah ruangan 3 kali 4 meter bekas garase mobil di Jalan A Yani, 18 wartawan yang juga sempat dicap “gila” oleh sejumlah kalangan itu, akhirnya mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Tak kurang 400 orang tokoh dari berbagai kalangan, mulai dari pengurus organisasi kemasyarakatan, akademisi, ulama, ninik mamak, bundo kanduang, birokrat, pengacara, seniman, budayawan, pedagang sampai aktivis dan jurnalis, sepakat berhimpun mendirikan koran baru yang diberi Mimbar Minang.

Mimbar Minang bernaung dalam sebuah wadah yang bernama Koperasi Ekuator Minang Media (KEMM). Selain 18 wartawan Eksis Komunika, motor utama pendiri koperasi ini ini antara lain H Gusman Gaus, Marlis Rahman dari ICMI Orwil Sumbar, Irman Gusman, Musliar Kasim, Maidir Harun dan Zukri Saad.

Prof Marlis Rahman saat itu Rektor Unand, sehingga dengan pengaruh beliau, banyak akademisi, tidak hanya Unand tapi juga dari IKIP Padang (kini UNP), IAIN Imam Bonjol (kini UIN) dan Universitas Bung Hatta (UBH) yang bergabung dalam KEMM.  Koperasi ini didirikan dalam sebuah rapat di Kampus Fekon Unand di Jati. Terpilih sebagai Ketua Prof Sjahruddin. Tapi, karena kesibukkan beliau, mantan Dekan Fakultas Ekonomi Unand ini digantikan oleh Uwan Zukri Saad.

Nah, di sinilah bermulanya. Saya yang dipercaya mewakili Tim Eksis Komunika duduk sebagai Wakil Ketua KEMM, yang nota bene tentu wakil dari Uwan Zukri. Sekretaris Musliar Kasim, Wakil Sekretaris H Syamsurizal, Bendahara Prof H Maidir Harun. Pak Mus, begitu saya biasa memanggil Musliar Kasim, beberapa tahun kemudian terpilih sebagai Rektor Unand dan sebelum masa jabatan beliau berakhir, Pak Musliar diangkat sebagai Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sedang Pak Maidir, begitu saya memanggil Maidir Harun, juga terpilih sebagai Rektor IAIN Imam Bonjol – Padang.

Bagi saya, masalahnya bukan karena dua pengurus inti KEMM itu jadi Rektor, tapi bagaimana saya harus menempatkan diri sebagai wakil dari orang yang saya kagumi, yakni Uwan Zukri. Sang “Dewa Pedang” versi Man atau “Godam” karya Wid NS itu, rupanya selesai menjadi Direktur Eksekutif Walhi tahun 1996, ‘merantau’ ke kampung dan belajar bertani sayur di Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Namun, takdir sebagai aktifis akhirnya mempertemukan Uwan dengan sejumlah “adik-adiknya” di Yayasan Insan 17 dulu, seperti Armizen, Yongki dan Yuhirman yang juga bergabung di KEMM. Termasuk saya, kalene wartawan yang sembilan tahun lalu sempat ‘diracuni’ Uwan bahwa kerja wartawan itu adalah tugas mulia.

Harian Mimbar Minang akhirnya terbit perdana pada 19 April 1999. Launching-nya di Hotel Bumi Minang, Padang. Dihadiri langsung Menteri Koperasi Adi Sasono, sohib Uwan Zukri. Mas Adi, begitu Uwan memanggil Menkop itu, adalah aktifis LSM yang pernah dicap oleh salah satu media di luar negeri sebagai “Indonesia the most dangerous man”. Keberpihakannya untuk rakyat kecil, tidak diragukan lagi. “Saya mendukung penerbitan Mimbar Minang, bukan karena saya sahabat Uwan Zukri. Tapi, karena inilah baru satu-satunya penerbitan yang didirikan oleh koperasi, yakni Koperasi Ekuator Minang Media. Sangat tepat, Mimbar Minang didirikan melalui wadah koperasi di negeri tempat lahirnya Bapak Koperasi Indonesia, Bung Hatta. Saya, insya Allah, mendukung penuh,” demikian antara lain, komentar Adi Sasono kepada media waktu Launching perdana Mimbar Minang.  

Maka, berbunga-bungalah hati pendiri dan anggota KEMM serta pengelola koran Mimbar Minang yang punya motto “Untuk Pembaruan dan Silaturahmi” itu. Pemimpin Umumnya Irman Gusman, Pemimpin Redaksi Hasril Chaniago, Pemimpin Perusahaan Akmal Darwis, yang kemudian digantikan Rusdi Zen. Sebagai jurnalis, saya yang duduk sebagai Wakil Ketua KEMM, juga dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana di Mimbar Minang, berduet dengan Eko Yanche Edrie. Sejumlah anak muda militan dan profesional di bidangnya, direkrut memperkuat tim “MM”, begitu inisial koran ini sering disebut. Di barisan ini, selain tim Eksis Komunika ada Yaya Rahmawati, Vera Yuana, Bob Yusbar, Amsir Rustam, Seli. Untuk redaksi, ada wartawan energik Israr, Hendra Dupa, Sely Neswati, Ummil Khalis, Ka’bati, Mairi Nandarson, Jhoni Firdaus, dll.

Tahun pertama kehadiran “MM”, sambutan publik, luar biasa. Meski berkantor di sebuah rumah sederhana yang disewa di Jalan Patimura 18, Padang, namun hampir setiap hari, markas “MM” ini silih berganti didatangi tokoh-tokoh penting, daerah maupun nasional. Mulai budayawan, ninik mamak, bundo kanduang, ulama sampai walikota, bupati, gubernur, Azwar Anas, Amien Rais dan  M Jusuf Kalla.  Dari kalangan akademisi yang sering datang ke “MM” sekaligus menjadi penulis tetap antara lain Sjofyan Asnawi, Werry Darta Taifur, Elfindri, Alfitri, Saldi Isra dan Damsar.

Di bawah kepemimpinan Uwan Zukri, KEMM dan “MM” bergerak begitu dinamis. Ide dan gagasan terus meluncur. Diskusi juga melibatkan pengasuh “MM” , anggota dan Dewan Pertimbangan KEMM seperti Irman Gusman, Rusdi Zen, Ucok “Silungkang”, Herry, Bupati Solok kala itu, Gamawan Fauzi, Walikota Padang Zuiyen Rais, Guspardi Gaus dan Buya H Mas’oed Abidin. Masih di tahun pertama itu juga, lahirlah sejumlah anak perusahaan KEMM. Di antaranya, portal berita mimbarminang.com, Penerbit Pustaka Mimbar Minang, Perusahaan TI Ekuator Minang Cyber, Kantor Hukum Ekuator dan Perkebunan Kopi Arabika Ekuator Minang Agro.

Memasuki tahun kedua, “MM” dan unit usaha KEMM lainnya, mulai menghadapi tantangan. Modal kerja yang diharapkan dari Kementerian Koperasi, tidak jadi turun. Setelah Presiden BJ Habibie berhenti karena laporan pertanggungjawabannya ditolak MPR pada 20 Oktober 1999, otomatis berakhir pula tugas Adi Sasono sebagai Menkop. Padahal, waktu Launching “MM”  sebelumnya, Adi Sasono berjanji setelah satu tahun jalan, KEMM akan dibantu pinjaman modal untuk membesarkan MM dan unit usaha KEMM lainnya.

Modal “MM” waktu pertama terbit hanya cukup untuk memutar roda penerbitan enam sampai 10 bulan. Modalnya berasal dari simpanan anggota dan simpanan penyertaan para anggota KEMM.  Saya baru sadar, sehebat-hebatnya tim pengelola dan sebesar-besarnya ide dan gagasan untuk pengembangan, modal riil, berupa dana segar, ternyata amat diperlukan untuk menumbuhkembangkan sebuah penerbitan media. Termasuk manajemen pemasaran dan usaha. Ini, sangat penting.

Begitulah, di tahun kedua dan seterusnya, perjalanan “MM” kian terjal. Sejumlah teman-teman pengelola, mulai sesak nafas dan ada yang memilih istirahat. Tapi, tidak dengan Uwan. Dia tetap tegar. Tetap semangat. Dalam setiap pertemuan menghadapi tantangan, ide-ide Uwan selalu mengalir, menembus celah mencari jalan keluar. “Bung, sabar. Percayalah, selagi kita masih bergerak dan berikhtiar, pasti ada jalan,” ujar Uwan, menyemangati saya dan kawan-kawan.

Sampai Harian “MM” jadi mingguan dan berhenti terbit enam tahun kemudian, ide dan semangat Uwan, saya lihat tidak pernah padam. Begitu juga semangat kekeluargaan yang dia tularkan di KEMM dan “MM”, tetap terpelihara. Meski pengurus, anggota KEMM dan tim “MM” sudah bubar dan berpencar di berbagai penjuru negeri, toh silaturrahim tidak pernah putus. Setiap ada kesempatan berkumpul, ya bertemu. Bisa di Batam, di Padang, di Jakarta atau dimanapun. Boleh satu-dua orang saja. Bisa juga sepuluh atau dua puluh orang, seperti pertemuan di Dempo Anailand Resort, September 2019 lalu.

Bagi saya, mengenal Uwan tidak hanya dalam perjumpaan pisik dan komunikasi langsung saja.  Sepak terjang, kiprah, ide dan gagasan Uwan bisa dilacak melalui tulisan-tulisannya di “MM” dalam kolom “Inspirasi”. Atau bisa disibak pada kolom “Skenario” yang terbit di Harian Haluan sejak tahun 2012. Kini, dua kumpulan kolom “Inspirasi” dan “Skenario” telah menjadi buku.

Dari perjumpaan dan pengenalan saya dengan Uwan, imajinasi saya mengukuhkan, bahwa Zukri Saad adalah “Dewa Pedang” dari Pinggang Marapi itu. Kehebatan ide-ide dan hujaman semangatnya untuk menebar kebaikkan, nyaris tidak pernah berhenti. Kapanpun dan di gelanggang manapun. Tak soal, apakah ide dan perjuangannya itu, membuahkan kemenangan atau tidak.

Akhirnya, izinkan saya mengutip ujung kalimat Uwan dalam pengantar buku kumpulan Skenario “Menjemput Masa Depan”. “Berusaha dan berusaha adalah fitrah. Setiap langkah sekecil apapun pastilah berkontribusi untuk perjalanan panjang menuju ridha-NYA.” Uwan tetaplah melangkah dan menginspirasi.*

Padang, 17 Agustus 2020

————

Zul Effendi SH, wartawan senior menetap di Padang. Alumni Fakultas Hukum Universitas Andalas – Padang dan Alumni Lembaga Pers Dr. Soetomo ini mengalokasikan hampir seluruh umur produktifnya di dunia media. Mengawali karir di Harian Singgalang Padang, Harian Mimbar Minang, Harian Riau Mandiri Pekanbaru, Harian Sijori Mandiri – Batam, Harian Haluan di Padang. Karir lainnya sebagai Wakil Ketua Koperasi Ekuator Minang Media dan kini Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia – PWI Sumbar sampai 2021.

Adikku Zukri | Azmi Saad