Gagasan, Persaudaraan, dan Buku

Oleh : Sabastian Saragih

Perkenalan dengan Bang Sukri membawa sejarah penting dalam hidup dan pilihan hidup saya. Saya mengenal beliau ketika masih “nyantrik” sebagai volunteer di BITRA Indonesia, sebuah paguyuban LSM di Medan Sumatera Utara yang didirikan oleh Mas Soekirman atau yang popular dipanggil Mas Kirman. Mas Kiriman kini menjabat sebagai Bupati Kabupaten Serdang Bedagai – Sumatera Utara.

Mas Kirman memperkenalkan Bang Sukri, sebagai Presidium WALHI mewakili Sumatera. Mantan aktifis ITB terkenal yang begitu lulus membakar ijazahnya. Bang Sukri adalah juga anggota Ashoka, sebuah skema dukungan bagi individu-individu yang punya gagasan luar biasa untuk membangun perubahan sosial. Sebagai seorang anak muda yang baru menemukan tempat merekonstruksi respon atas kebencian terhadap Orde Baru, moment perbincangan dengan Bang Sukri adalah moment yang selalu ditunggu dan dirindukan. Posisinya sebagai salah satu orang penting di gerakan lingkungan hidup di Indonesia, tidak membatasinya untuk bergaul dan bicara apa saja dengan kami para “cecoro” atau para pemula yang tidak dikenal oleh siapapun. Bagi saya itu adalah sebuah berkah yang sangat luar biasa.

Bang Sukri adalah pribadi yg selalu bersemangat, hangat, datang dengan ide-ide “out of the box”, penuh perhatian kepada siapa saja dan yang terpenting mendorong orang untuk berani membangun profesi dan karir di dunia LSM. Karenanya saya meletakkan trademark utama Bang Sukri adalah membangun persaudaraan dengan gagasan. Walaupun memang kalau kita bertanya kepada seluruh teman-teman Bang Sukri, yang paling menonjol dan membekas dan menjadi trademark Bang Sukri, saya yakin akan menyebutkan gagasan. Tetapi menurut saya sharing gagasan adalah cara beliau membangun persaudaraan yang hangat dan mendalam.

Sewaktu beliau menjadi direktur WALHI di tahun 1994-an, Mas Soekirman menjadi direktur di PACT, sebuah LSM Amerika Serikat. Waktu itu saya sedang hangat-hangatnya membangun relasi serius dengan bekas adik kelas semasa kuliah di Fakultas Pertanian Brawijaya yang tinggal di Malang. Satu hal yang Bang Sukri sering ucapkan “kita sebagai orang LSM tidak boleh kelihatan miskin di depan pacar dan keluarga, apalagi keluarga pacar”. Nah prinsip ini memang merubah banyak hal.

Hampir setiap 3 bulan sekali saya bisa “ngapel” ke Malang dan tinggal 2-3 hari di Malang atas fasilitas kegiatan training, seminar yg dikelola WALHI, PACT dan jaringannya. Pada zaman itu, bisa ke Jawa dari Medan itu cuma kelasnya pejabat. Jadi walaupun saya di LSM yang tidak jelas pendapatan dan posisinya, tapi dari soal seringnya “ngapel” ke Malang, memberi kelas sendiri di mata pacar dan keluarganya. Prinsip ini juga berpengaruh ketika saya menikah dan pada saat itu posisi saya sebagai staff BITRA Indonesia di Medan. Posisi Bang Sukri di BITRA adalah sebagi Ketua Badan Penasehat.

Pada suatu rapat pleno, dia bilang gaji staff BITRA yang laki-laki tidak boleh lebih rendah dari gaji istrinya. Akibat prinsip ini maka BITRA Indonesia dipaksa memperbesar programnya dari yang biasanya setahun hanya sekitar USD 50.000 menjadi USD 500.000. Kami para penggiat di BITRA yang sebelumnya “taboo” membicarakan gaji, tiba-tiba secara serius melakukan “repositioning” gaji staff dibandingkan sektor-sektor yang lain.  Padahal waktu itu istri saya sudah menjadi manajer terendah (kantor unit) di salah bank swasta terkenal. BITRA Indonesia kemudian keluar dari kepompong “small is beautiful” yang selama ini dibangun dan berubah dari paguyuban menjadi Yayasan.

Tahun 1997, Saya pergi sekolah ke Aberdeen dan ketika kembali ke Indonesia posisi saya didorong ke luar dan tidak lagi menjadi staff BITRA Indonesia. Saya bekerja dan bertempat tinggal berpindah-pindah. Namun Bang Sukri tetap menjadi sosok penting dalam hidup saya.

Tahun 2000 saya pindah bekerja dan kemudian menetap di Jogjakarta. Kalau beliau ke Jogja dan kebetulan saya lagi di Jogja maka kita pasti bertemu, sekedar makan atau berkunjung ke teman lain dan tentu saja belanja buku. Teman selalu ada dalam list yang pasti akan kami dikunjungi adalah Mas Rizal Malik dan Pakde Wahono. Lalu kami akan pergi makan. Dan dalam hal makan ini banyak sekali teori yang dikembangkan Bang Sukri dalam hubungannya dengan kesehatan dan berkembang terus atau tepatnya berubah terus. Lalu agenda ketiga jika ada di Jogja adalah belanja buku. Kalau sudah belanja buku Abang satu ini memang suka kalap. Dua tempat favorit untuk belanja buku adalah Social Agency dan belakangan Toga Mas. Terkadang berburu buku juga ke “shopping” lapak buku bekas dan fotokopian di Yogyakarta. Tidak jarang beliau hanya mengirim text dan meminta saya mencarikan buku-buku yang hilang di pasaran.

Selama pertemuan-pertemuan saya dengan Bang Sukri, memang posisi saya selalu sebagai adik yang akan mendengarkan banyak dan menjawab kalau ditanya. Seingat saya, jarang sekali saya meng-argue sharing-sharing beliau kecuali kemarin soal pilihan presiden. Tapi itupun sambal tertawa sepanjang perjalanan sehabis belanja buku.

Gagasan dan hal-hal baru adalah yang selalu ditunggu dari pertemuan dengan Bang Sukri. Namun memang ada perbedaan jenis gagasan dan hal-hal baru di beberapa tahun belakangan ini. Kalau 20-30 tahun lalu banyak gagasan tentang teknologi, bisnis bisnis tak pernah terbayangkan maka pertemuan beberapa tahun belakangan dengan  beliau banyak bicara di sektor kesehatan mulai tehnik penyembuhan Reiki dan yang terakhir tehnik diet Ketofastosis.

Selisih usia kami sekitar 10 tahunan dan tampaknya  dalam 2 hal yang terakhir ini saya semakin sulit merekonstruksi gagasan tersebut sebagai respon terhadap tantangan kehidupan baru zaman now, dibandingkan gagasan-gagasan di area 20-30 tahun lalu. Dulu membayangkan bisnis mengumpulkan satelit yg berserakan di angkasa sana sulit tapi masih bisa saya konstruksikan  dalam sebuah respon, namun untuk reiki dan diet keto saya belum bisa. Mungkin masih perlu 10 tahun lagi berjalan bersama untuk bisa memahami dengan baik reiki dan diet keto dan kemudian mampu mrekonstruksinya sebagai sebuah respon terhadap tantangan kehidupan khususnya dari aspek kesehatan.

Selamat ulang tahun bang Sukri.

Yogyakarta, 08-08-2020

————

Sabastian Saragih saat ini berdomisili di Yogyakarta Indonesia. Dalam 10 tahun belakangan ini terlibat mendalami, mempromosikan, dan mengembangkan pendekatan pembangunan berbasis pasar dan hak asasi manusia bersama corporates dan local governments di Asia Pacific lewat beberapa platform dan pendekatan seperti Market System Development, Creating Shared Value, Biofach Southeast Asia, dan Human Rights Cities Approaches.

Bersama dengan beberapa teman mendirikan sebuah koperasi untuk pengembangan kapasitas organisasi pengembangan masyarakat yang bernama Circle Indonesia.

Adikku Zukri | Azmi Saad