Abangku Seorang Inspirator, Inovator

Oleh : Adiyos Adnis

Nama Zukri Saad saya kenal sejak tahun 1986. Pada tahun itu ada acara Musyawarah Besar (Mubes) Gerakan Pemuda Banuhampu (GPB) di Nagari Ladang Laweh, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam – Sumatera Barat. Zukri Saad sendiri tidak hadir pada acara Mubes GPB tersebut, namun namanya sering disebut oleh peserta Mubes. Tak heran, karena Zukri Saad adalah jebolan Perguruan Tinggi terkenal di Tanah Air yaitu Institut Teknologi Bandung. Kala itu tak banyak orang Banuhampu yang bisa masuk ke ITB. Selain itu, nama Zukri Saad juga sudah dikenal cukup luas sebagai seorang tokoh sewaktu menjadi mahasiswa.

Peserta Mubes GPB waktu itu antara lain ada nama Zulfahmi Amir yang juga lulusan ITB. Waktu itu Zulfahmi Amir berstatus sebagai Dosen di Universitas Andalas. Nama lain yang kini sudah menjadi orang terkenal pula di Sumatera Barat antara lain Dr. Alfan Miko (Dosen FISIP Unand), Ir. Yosmeri (Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar), Ir. Efendi (Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sumbar), Deliarti (Staf Ahli Gubernur Sumbar) dan banyak lagi yang sudah sukses dalam karier mereka.

Sejak itu, hasrat saya ingin kenal dengan Zukri Saad sangat besar. Allah kemudian mempertemukan kami ketika saya pindah tugas tahun 1993 sebagai Wartawan Harian Singgalang dari Bukittinggi ke kantor pusat di Padang. Maklum sesama orang Banuhampu, pembicaraan kami tak lepas dari bagaimana memajukan kampung halaman. Tentunya sesuai dengan kapasitas dan bidang masing-masing. Zukri Saad waktu itu saya panggil Uda, karena dia lebih tua tujuh tahun dari saya.

Setiap kali bertemu dengan saya, Uda Sukri menginformasikan perkembangan warga Banuhampu di perantauan, khususnya di Jakarta dan Bandung, karena dia sering ke kedua kota besar di Indonesia itu. Saya selalu dikirimi Majalah Nusa, majalahnya orang Banuhampu yang terbit di Jakarta. Saya pun diminta membantu mengisi majalah tersebut menginformasikan seputar perkembangan Banuhampu. Sayang, majalah tersebut kemudian berhenti terbit karena berbagai faktor.

Saat terjadi reformasi tahun 1998, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden BJ Habibie mempermudah perizinan pendirian surat kabar. Timbul niat bagi kami yang 18 orang untuk menerbitkan surat kabar. Pada 25 November 1998, kami menyatakan mundur dari Harian Singgalang dengan tujuan untuk menerbitkan surat kabar baru. Waktu itu, belum ada penyandang dananya. Setelah mendapatkan masukan dari berbagai pihak, akhirnya kami sepakat menerbitkan surat kabar di bawah koperasi. Maka dihimpunlah anggota dari berbagai kalangan, salah satunya yang bergabung Uda Zukri Saad.

Wadah tempat berhimpun tersebut kemudian diberi nama Koperasi Ekuator. Uda Sukri dipercaya menjadi ketua. Ada tiga usaha Koperasi Equator ini, Surat Kabar Mimbar Minang, kantor hukum dan perkebunan kopi di Pinang Awan – Solok Selatan.

Karena berada dalam satu wadah, hubungan saya dengan Uda Sukri makin dekat. Pertemuan kami makin intens. Hampir tiap malam Uda Sukri datang ke kantor Ekuator di Jalan Ahmad Yani dan kantor Harian Mimbar Minang di Jalan Pattimura Padang. Berkat peran Uda Sukri, Harian Mimbar Minang diluncurkan dalam suatu acara yang meriah di Hotel Bumiminang pertengahan 1999 oleh Menteri Koperasi Adi Sasono yang tak lain adalah teman dekat Zukri Saad.

Selain mengurus koperasi, Uda Sukri banyak melahirkan ide-ide untuk kemajuan surat kabar. Dia seperti tak kenal lelah. Kehadirannya memberikan semangat bagi kawan-kawan. Dia selalu berfikiran optimis.

Kawan-kawan di Mimbar Minang, baik tua maupun muda memanggil Zukri Saad dengan panggilan Uwan Sukri, hanya saya sendiri yang memanggilnya Uda. Lama-lama saya terbawa arus juga dan mengubahnya dengan panggilan Uwan Sukri, meski saya sendiri merasa heran kenapa kawan-kawan memanggilnya Uwan. Soalnya, bagi orang Banuhampu, panggilan kepada kakak laki-laki adalah Uda.

Sagala daya dan upaya sudah dilakukan untuk kemajuan Harian Mimbar Minang. Namun mengurus surat kabar tak semudah yang kami bayangkan. Tidak cukup hanya kecakapan kita menulis berita. Banyak faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan. Faktor kecukupan modal salah satunya sangat mempengaruhi. Satu persatu kawan mulai mencari penghidupan baru dengan pindah ke media lain. Tak bisa dipungkiri, kawan-kawan yang pindah media ini karena ingin pendapatan yang mencukupi. Semangat saja tak cukup membuat mereka bertahan di Mimbar Minang yang lama kelamaan terus bermasalah dari segi kecukupan dana untuk terbit, apalagi membayar gaji karyawan. Sementara asap dapur harus selalu mengepul.

Saya bersama dua teman, Eko Yanche Edrie dan Rusdi Bais akhirnya menyerah. Kebetulan di Haluan, terjadi pergantian pemimpin redaksi dari Azurlis Habib kepada Asril Kasoema. Uda Eri, demikian saya memanggil Asril Kasoema mengajak Rusdi Bais bergabung. Rusdi Bais kemudian juga mengajak Eko dan saya. Meski dengan berat hati, kami bertiga menyatakan berhenti dari Mimbar Minang untuk bergabung dengan Haluan.

Uwan Sukri kelihatan cukup terpukul waktu itu. Tapi dia pantang menyerah. Harian Mimbar Minang tanpa kehadiran kami bertiga tetap terbit. Meski kami sudah tidak sekapal lagi dengan Uwan Sukri, tapi komunikasi tetap berjalan. Hari-hari lowong, kami tetap datang ke kantor Mimbar Minang dengan pemimpin redaksinya Hasril Chaniago dan Kantor Hukum Ekuator yang dipimpin oleh Uda Rusdi Zen (almarhum). Bahkan Uwan Sukri kami ajak menulis di Haluan, selain di Mimbar Minang. Tawaran kami dipenuhi Uwan Sukri dengan mengirimkan tulisan-tulisannya yang inspiratif.

Tak hanya sampai di situ, ketika ada seorang pengusaha yang ingin mengambil alih Haluan, kami pun mengajak Uwan Sukri untuk bergabung. Cuma saja, kami tidak ‘berjodoh’ dengan pengusaha tersebut dengan berbagai alasan. Pada awal pengelolaan Haluan diambil alih Basko Group, Uwan Sukri juga banyak menulis di Haluan. Maklum, para pengelola ‘Haluan Baru’ banyak adik-adik dari Uwan Sukri yang dulu satu kapal Mimbar Minang.

Sejak delapan tahun terakhir, saya jarang bertemu Uwan Sukri karena dia lebih banyak berada di luar Sumbar mencari ‘peruntungan’ baru. . Katanya, anak-anak makin besar dan membutuhkan biaya yang besar pula. Tanggung jawab orang tua untuk menjadikan anak-anaknya sukses.

Sekali lagi, jarak tak membuat hubungan kami terputus. Melalui telefon dan whatsApp, komunikasi kami tetap jalan. Bahkan, beberapa kali pertemuan dengan alumni Mimbar Minang, Uwan Sukri selalu hadir. Dia penambah semangat kami untuk maju. Uwan Sukri memang layak disebut tokoh inspirasi. Dia banyak melahirkan ide-ide untuk kemajuan baik untuk pribadi maupun orang banyak. Tinggal lagi bagaimana kita menangkap ide-ide cemerlang yang lahir dari Uwan Sukri.

Tak terasa, kini Uwan Sukri tidak muda lagi. Pada usia 65 tahun ini, pemikiran Uwan Sukri masih dan tetap diharapkan banyak orang. Ilmu dan pengalamannya bisa menjadi motivasi, terutama bagi anak-anak muda bahwa tamat perguruan tinggi bergelar sarjana, yang tidak mesti menjadi pegawai negeri. Banyak pekerjaan lain, yang terhormat dan bisa memberikan kehidupan yang layak. Uwan Sukri bisa menjadi motivator.

Selain itu, sebagai umat muslim, Uwan Sukri diharapkan lebih memperdalam ilmu agama dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian, makin lengkap ilmu yang dimiliki Uwan Sukri, dunia sekaligus akhirat. Perpaduan ilmu ini, tentunya makin mengena bagi banyak orang jika Uwan Sukri tampil sebagai motivator.
Hari-hari senggang bisa pula digunakan untuk bertani kecil-kecilan di pekarangan rumah.***

Padang, 17 Agustus 2020

————

Ismed Fanani Rangkayo Basa, menetap di Padang dan saat ini masih bekerja di Harian Haluan. Profesional di dunia media, setelah berhenti sebagai Pemimpin Redaksi, tahun 2018 lalu, sejak itu dipercaya sebagai Manajer Sumber Daya Manusia (SDM) dan Pengawasan. Saat senggang bertani kecil-kecilan di kampung, di Dusun Bulaan Gadang, Jorong Parik Lintang, Kenagarian Ladang Laweh – Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam.

Selain itu, sebagai Bendahara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Sumate Barat dan Bendahara Komite SMA Negeri 7 Padang.

Adikku Zukri | Azmi Saad