Kenangan Yang Teringat Bersama Bang Zukri

Oleh : Efnizon

Ladang Padi, menjadi tonggak sejarah saya bersama Bang Zukri. Saat itu acara PKA – Pendidikan Konservasi Alam yang diselenggarakan oleh WALHI, Bang Zukri sebagai motivator dalam acara tersebut. Saya sebagai salah seorang peserta mewakili KOMMA FPUA – Kelompok Mahasiswa Mencintai Alam – Fakultas Pertanian Universitas Andalas – Padang.

Di awal acara betapa saya kurang merasa nyaman terhadap Beliau, karena beliau banyak mendominasi acara. Tetapi dalam perjalanan sampai hari ini, kondisi itu berbalik. Bahkan beliau menjadi salah seorang yang telah mengarahkan jalan hidup saya. Jalan hidup yang mirip dengan pilihan hidup beliau. Sampai-sampai sayapun dipanggil “Uwan” Oleh kawan-kawan lainnya sampai kini.

Ada duo “uwan”, pertama “Uwan Sunguik”, yaitu panggilan untuk Bang Zukri Saad. Satu lagi “Uwan Sarok”, panggilan populer untuk saya, Efnizon. Istilah “Uwan Sarok” muncul setelah seminar sampah di zaman Bapak Syahrul Ujud, sebagai walikota Padang. Sebagai Penyelenggara PKA, adalah KOMMA FPUA bekerja sama dengan PEMDA Tk II Padang, yang dikala itu masih berkampus di Air Tawar Padang, dan kami bersama beberepa rekan mejadi panitia.

Bang Sukri terlibat di belakang layar. Ide dasar dari judul seminar tersebut adalah dari beliau. Kenapa Efnizon yang di juluki “Uwan Sarok” ?. Karena gaya bahasa saya seakan meniru logat Bang Zukri. Saya merasakan begitu tajamnya penglihatan Beliau terhadap persoalan persoalan yang sedang dan akan dihadapi dimasa datang, buktinya sampai saat ini masalah sampah masih menjadi salah satu masalah utama kota Padang.

Kelanjutan seminar sampah kota itu, secara pribadi banyak bermanfaat kepada jalan hidup saya. Setelah Seminar, saya bersama teman panitia Zola Pandu sempat berkeliling beberapa kota di Jerman untuk melihat pengelolaan sampah kota disana. Semacam studi banding mirip yang dilakukan oleh legislatif kita. Acara yang disponsori oleh Pemerintahan Kota Padang ini, membuat saya dan Zola mengembangkan pilot model, saemacam uji coba pengolahan sampah berbasis RT. Lokasinya dekat rumahnya Zola di jalan karet – Padang.

Salah satu dampak lainnyanya adalah sebagai pengetahuan tatkala bekerja pada perusahaan rempah organic, adalah kedekatan hubungan emosional kami. Dalam perjalanan perusahaan mengembangkan wilayah kerja di Indonesia, saya “dibelakang layar” dibantu sepenuhnya oleh Bang Zukri. Tanpa dibayar. Beberapa kali kami mengembangkan pembelian dan setelahnya pemasaran rempah organik. Khusus untuk pembelian jahe, kami sempat berhubungan dengan tengkulak di Jawa Tengah. Pernah kami mencari kantor dan kebutuhan pergudangan di Bali, pernah juga survey untuk buka wilayah baru di Pulau Lombok. Jaringan Bang Sukri sangat membantu, misalnya melibatkan sahabatnya, Mas Eko (alm) dan para rekan jaringan LSM Lombok. Pernah pula survey Pala ke Pulau Siau (yang berbatas dengan Filipina, yang juga melibatkan Bung Max Diamanti, rekan Bang Zukri yang berasal dari Kabupaten Kepualan Kepulauan Sangihe Talaud. Banyak lagi kegiatan lain yang dibantu oleh Bang Zukri, seperti Pelatihan Motivator untuk semua staff perusahan wilayah barat yang diselenggarakan di Lampung.

Kesan utama saya adalah Bang Zukri mempunyai jaringan persahabatan yang sangat kuat di lapangan. Bisa jadi di seluruh Indonesia. Bang Zukri punya jaringan kerja yang sewaktu-waktu dapat dihubunginya.
Akhirnya, hubungan kami lebih dari sekedar bersahabat. Hubungan sudah meningkat menjadi “badunsanak”, sehingga saya mendapat berbagai dukungan kemudahan di lapangan kerja. Kalaupun harus membayar, honornya seadanya saja. Bagi Bang Zukri, sedikit banyaknya honor bukan alasan untuk membantu sepenuh hati. “Rezeki tak berpintu”, begitu selalu katanya.

Secara pribadi kami mempunyai kesamaan waktu, khususnya bersamaan dalam prosesi pernikahan tahun 1994 dan juga waktu yang sama-sama berangkat untuk beribadah haji pada tahun 2006. Masih teringat, acara ngopi pagi setelah shalat subuh di tanah suci, di emperan Hotel Hilton. Menunya, segelas teh susu dan bakwan kecil-kecil 5 butir. Cukup 6 riyal untuk berdua. Tim sarapan pagi juga termasuk Bang H. Hasril Chaniago, penulis biografi ini.

Beberapa hal yang sangat mengesankan saya antara lain yang saya ingat adalah kunjungan kerja Bang Zukri dengan proyeknya Learning and Linkage – LELI, ke Jambi, Palembang, Bengkulu, dan Lampung. Perjalanan menggunakan mobil carry 1000 yang terpaksa harus membawa oli cadangan. Maklum ada kebocoran, oli selalu siap ditambahkan kalau ampere mesin terlihat memanas. Bang Zukri menyetir mobil lebih banyak dari saya, artinya fisik beliau lebih kuat.

Pengalaman lain, Sekali waktu masih dimarkas LP INS Kayu Tanam yang sungguh menusuk jantung pertahanan saya. Waktu itu, Kuliah saya segera akan berakhir dan akan diwisuda. Saya tanya kepada Bang Zukri, sebaiknya profesi kita jadi apa. Beliau mengajukan pilihan yang mencengangkan. Jadi dosen tidak mungkin, karena Indeks Prestasi hanya 2 koma sekian. Menjadi pegawai negeri/swasta koneksi terbatas. Mendaftar masuk ABRI jelas akan gagal, karena fisik tidak memungkinkan. Apalagi kalau menjadi ustadz, jelas sangat jauh dari kemungkinan berhasil. Maka dari itu jadilah diri sendiri, maka kamu akan sukses. Dimanapun kamu berada itulah dirimu. Sekilas, pernyataan itu tidak banyak berarti, tetapi akhirnya menjadi pedoman dalam kehidupan saya. Sampai hari ini.

Kenangan lain, dalam sebuah acara survey bersama proyek ADP (Area Development Proyect) di Pasaman Barat. Saya mengajukan pertanyaan pada anggota tim Yayasan Insan 17, Uda Yuswar, Bagaimana mengalihkan kesibukan Bang Zukri agar tidak terlibat langsung di Lapangan. “Gampang, caranya kasih saja tustel biar dia sibuk bikin foto-foto” : kata Uda Yuswar.
Kenapa itu perlu dilakukan, karena menurut kami Bang Zukri lebih menguasai peran sebagai konseptor, bukan terlibat langsung di lapangan. Itulah, survey beres, tapi Bang Zukri ketiban kerja keras menyusun laporan. Dua kali kerja, tapi itu memang keahliannya.

Kenangan mengarahkan idealisme Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat (LPSM) Bina Kelola, yang didirikan oleh anggota KOMMA FPUA yang sudah jadi sarjana. Diawal berdirinya tahun 90-an, kebanjiran program sehingga ada uang berlebih. Bang Zukri menjadi salah seorang mitra waktu itu. Beberapa anggota mengusulkan uang yang tersisa dari program diinvestasikan. Bang Zukri tidak setuju karena katanya itu uang hak rakyat, harus dikembalikan kepada rakyat sesuai peruntukan. Jadilah langkah itu diambil. Seandainya uang itu tetap jadi diinvestasikan sebahagian saja, mungkin hari ini kita berada di jalan yang berbeda dengan Bang Zukri. Wallahualam bissawaab.

Berharap kita, di perjalanan perantauan ketiganya ke kampung halaman ini, Bang Zukri tetap produktif dan terus bergerak menyalurkan energi kemanusiaannya untuk memakmurkan nagari-nagari yang sejak dulu menjadi obsesinya. Rakyat Sumatera Barat membutuhkan pandangan-pandangannya yang jauh ke balik cakrawala, sesuai kompetensi beliau sebagai perencana skenario pembangunan. Selamat menjalani umur 65 tahun Bang Zukri, sehat senantiasa.

Batusangkar 18 agustus 2020

————

Ir. H. Efnizon, menetap di Batusangkar sebagai petani petambak ikan. Menyelesaikan S1 di jurusan Sosial Ekonomi – Fakultas Pertanian Univeritas Andalas Padang. Banyak bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat Indonesia, khususnya dalam hal produksi dan ekspor rempah organik melalui perusahaan multi-nasional patungan Amerika – Eropah Forest Trade International.

Adikku Zukri | Azmi Saad