Memahami Zukri Saad

Oleh : Ka’bati

Man is condemned to meaning…..

(Maurice Merleau Ponty)

Pesan whatsApp dari Zukri Saad masuk ketika saya tengah membaca buku F. Budi Hardiman yang berjudul Seni Memahami. Sontak saya sambut tawarannya menuliskan selarik pengalaman untuk buku biografi Uwan–begitu saya dan sebagian besar mantan warga Patimura 18 memanggilnya. Saya anggap ini tugas pertama untuk memahami seseorang.

Saya kenal Uwan di akhir-akhir tahun 1999, saat masih menjadi mahasiswi di Jurusan Jurnalistik IAIN Imam Bonjol dan menjalani masa magang sebagai wartawan muda di Surat kabar harian Mimbar Minang. Surat kabar ini awalnya berkantor di Jalan Patimura no 18 Padang. Uwan, salah seorang pendirinya. Karena itulah kami semua menyebut diri sebagai warga Patimura 18.
Hal menarik yang pertama saya tangkap dari seorang Zukri Saad adalah cara pandangnya terhadap manusia. Bagi Uwan, strata, status dan kelas sosial tidak menjadi persoalan yang membedakan caranya bersikap terhadap seseorang. Bagi dia sepertinya sama saja, entah itu saya sebagai seorang wartawan ‘çulun’ yang masih berstatus magang ataupun Da In (Hasril Chaniago) wartawan super senior yang kala itu menjadi Pimpinan Redaksi.

Satu hari, saya sedang duduk membaca di ruang redaksi. Uwan masuk, dengan langkah penuh semangat. “Ayo, siapa mau ikut. Kita akan pergi ke tempat Pak Djoni.”

Pak Djoni yang dimaksud Uwan saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian Dan Holtikultura Sumbar. Beliau teman Uwan yang sama-sama unik. Kalau tidak salah, Pak Djoni sedang uji coba mengembangkan ikan puyu. Ikan ini sejenis ikan rawa-rawa yang liar dan hampir-hampir punah.

Merasa ditawari, saya langsung saja mengekor dengan rombongan Uwan. Kami naik Jeep menuju lokasi kolam Pak Joni. Ada Da In Pimpinan Redaksi, Ada redaktur senior Yongki Salmeno dan satu lagi kalau tidak salah Hendra Dupa, wartawan yang lebih senior dari saya. Sebagai wartawan magang, masih muda dan perempuan pula, ada juga rasa-rasa agak canggung awalnya ikut bersama dan terlibat obrolan dengan para senior tersebut. Apa lagi saya, yang dibesarkan dalam tradisi batangga naiak ba janjang turun, serta aneka aturan serta teori sumbang laku yang yang sangat mengkonstruksi pemikiran. Ajaibnya, rasa-rasai itu menguap karena hangatnya pembicaraan.

Uwan bergerak cepat, berpikiran terbuka dan selalu ingin melompat ke depan. Sepertinya tak ada waktu untuk mengulik-ulik kelemahan atau kesalahan orang lain. Apa lagi mempermasalahkan hal-hal yang bias, seperti persoalan jender, ras atau keimanan orang lain. Prinsipnya dima tumbuah disiangi, begitu saja yang tampak oleh saya. Simple dan cenderung pragmatis. Apakah ini hasil didikan kampus teknik terkemuka seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), yang memang menjadi icon modernisasi di Indonesia? Mungkin saja.

Tahun 2003 saya meninggalkan Mimbar Minang, menyelesaikan S1 di jurusan Komunikasi, menjajal kemampuan di beberapa lembaga pers yang baru dan menyambung sekolah ke Jurusan Kajian Media di UGM. Tak sempat selesai belajar di UGM, datang panggilan untuk mendampingi suami yang mengajar di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Korea Selatan, di sana saya mendalami kehidupan masyarakat Korea sambil juga turut mengajar di kelas Bahasa Indonesia untuk penutur asing. Sekali-kali saya mengirim tulisan bergaya inspiratif tentang masyarakat dan budaya yang saya lihat selama di perantauan. Cerita-cerita yang dulu sering disebut Uwan, kemudian saya temukan. Korea saat itu dalam masa yang sangat giat membangun. Gelombang Korea atau yang disebut dengan Hallyu (Korean Wave) tengah dipuncak kebangkitan. Pulang ke Indonesia, tahun 2011, saya menyambung lagi sekolah di jurusan Sosiologi Universitas Andalas. Tahun 2014, saya kembali meninggalkan Padang, merantau menemani suami mengambil program Doktor di Universitas Leiden, Belanda. Dan baru balik kampung lagi tahun 2018. Sepanjang rentang waktu itu, tak pernah lagi saya bertemu muka dengan Uwan. Tetapi tentu saja dunia sudah sangat global. Kami masih tetap bertegur sapa, sekali-kali, lewat media sosial. Jadi saya masih bisa tahu bagaimana dan dimana Uwan.

Dua puluh tahun semenjak 1999, tepatnya September 2019, kami para warga Patimura 18 berkumpul kembali dalam sebuah acara reuni di Anai Land, sebuah resort di kawasan Lembah Anai. Uwan hadir, agak terlambat, tetapi masih dengan gaya yang sama. Penuh semangat dan lengkap dengan gagasan-gagasan baru yang tak pernah kering. Kebaruan gagasan tentu saja bukan selalu berarti orisinil. Biasanya gagasan-gagasan yang dibawa dan ditawarkan Uwan, dia bawa dari tempat yang jauh lalu dia tukikkan ke bumi. Soal akan tumbuh atau tidak, tampaknya itu bukan masalah bagi Uwan. Memang tampaknya Uwan bukan tipe orang yang betah berkurung dalam masalah atau maeto kain saruang, dia seolah selalu ingin terkurung di luar dan terhimpit di atas, manusia yang terbebaskan. Seorang cerdik pandai, begitu (mestinya) orang minang menempatkan manusia seperti Uwan.

Saya terpaksa mengurung kata ‘mestinya’ untuk Uwan, karena seringkali orang seperti beliau tidak mendapatkan tempat yang semestinya. Memasyarakatkan ide-ide baru memang bukan pekerjaan instant, tinggal seduh lalu langsung bisa diminum, tidak!

Perubahan menuju yang lebih baik, terutama perubahan masyarakat, adalah proses panjang. Inovasi berupa penemuan, gagasan-gagasan maupun tindakan yang baru sebagai dasar untuk memulai perubahan hanya akan menemukan gaungnya bila dia menyebar ke masyarakat. Itulah yang disadari dan dilakukan oleh Uwan. Buku Inspirasi, Menjemput Masa Depan ataupun Menyimak Pengalaman Oita, semua bicara soal masyarakat dan perubahan. Perkara ditolak, diterima, berhasil atau gagal itu adalah kelumrahan dalam proses manusia menjalani hidup serta memaknainya. Seperti kata Ponty, bahwa kegagalanpun tetap sebuah makna karena manusia memang dikutuk untuk itu.

Sehari sebelum mendapat pesan dari Uwan, saya bertamu ke rumah Adrial Logan, seorang seniman kramik yang kemudian menepi di sebuah perkampungan bernama Galogondang. Da Ad bercerita tentang persahabatannya dengan Wan Zukri dan juga menyinggung soal rencana Uwan menerbitkan biografi menyambut usia ke 65. Mereka sesama alumni ITB.

Kala itu saya hanya menanggapi: “Uwan memang selalu punya gagasan.”
Lalu dijawab oleh Da Ad: “Ya. Tapi entah akan terwujud, saya tidak tahu.”

Begitulah cara kita memahami dirimu Wan. Ya, begitu saja baru. Saya anggap ini sebuah tantangan bagi Uwan juga bagi diri saya sendiri. Mari Wan, kita beradu kepandaian di kampung sendiri.
Selamat Ulang Tahun.

Panjang Umur, Panjang Akal selalu, Amin!

————

Ka’batiPenulis saat ini bekerja sebagai Direktur Ruang Kerja Budaya (RKB) sebuah lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan, menginventarisir arsip-arsip budaya khususnya di Sumatera Barat, mengorganisir iven budaya dan penerbitan. Selain itu juga menjadi asisten pengajar di Fakultas Dakwah untuk mata kuliah Komunikasi Inovasi dan Komunikasi Pembangunan.

Adikku Zukri | Azmi Saad