Memori Abang Zukri Mamak yang terpaksa saya panggil Abang

Oleh : Zulfikar

 “Kalera!” bentaknya sambil duduk diatas meja, dengan sebelah kaki diletakkan angkuh diatas kursi. Meja kursi paling depan, dari 6 deretan meja-kursi kelihatannya memang sengaja dikosongkan panitia. Kami semua kaget dan tegang. Maklum 15 orang dari kami adalah mahasiswa baru di Bandung. Para perantau-pelajar mentah, yang dianggap lugu tapi sok tau dan selalu merasa hebat sendiri. Minimal itulah nggapan awal dari para mentor kami saat pelatihan “kepemimpinan” bagi kami para newbi ini.

Selesai kata “kalera” meluncur lantang, rentetan kata-kata campuran, sakarek ula, sakarek baluik, berhamburan dari mulutnya tanpa henti, tapi sistematis, menghujam dan menyentakkan kesadaran kami untuk mulai berprilaku sebagai anak kota yang terpelajar. Bukan lagi menjadi anak kampungan yang maunya menang sendiri, hebat sendiri dan hoby mencela (cimeeh). Taimpik nak diateh takuruang nak di lua. Ciluah! Saat itu beliau sedikit lupa kalau saya besar di Bogor. Sudah jadi anak kota cukup lama.

Bangsa jongos dibawah kendali aseng-asing; Seminggu kami “dipermainkan”, di-brainwashing, disiksa dengan logika terbalik-balik. Hanya 2 hari sessi dalam kelas, selebihnya kami diangkut dan “dibenamkam” di waduk Jatiluhur – Purwakarta. Salah satu game yang menarik adalah permainan kartu remi. Ya, kartu remi bisa yang beliau mainkan dengan cerdik dan membuat kami terperangah dan sekaligus membangun kesadaran kami bahwa bangsa ini sedang diskenariokan sebagai bangsa jongos saja oleh aseng.  Kekuasaan sudah dikuasai penuh oleh para kapitalis. Itu awal tahun 1986. Beliau secara sukarela menyediakan waktunya seminggu penuh untuk menggodok kami agar menyadari tentang besarnya tanggung jawab sebagai anak kampung, mahasiswa, anak bangsa dengan godaan buruk yang tidak ringan, Bandung tea.  Beliau tidak sendiri memang, didampingi beberapa sahabat aktivis, salah satunya adalah DR. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP yang sekarang menjadi anggota DPR (2020).  Ada juga Pematung terkenal Amrizal Salayan. Sukarelawan semua.

Satu dari 7 Orang Gila Indonesia;  Beliau itu adalah bang Zukri Saad, yang saya panggil Abang, karena semua yang ikut pelatihan memanggil beliau dengan sebutan Abang. Saya latah, ikut-ikutan. Sejak kecil saya tidak pernah kenal beliau dan setelah pelatihan pun saya jarang bertemu beliau lagi. Tetiba pada tahun 90-an, ibu saya menunjukkan headline Koran Kompas yang berjudul “7 Orang Gila Indonesia” dan salah satunya adalah Abang Zukri. Seketika itu juga ibu menegur saya, bahwa saya tidak sepatutnya memanggil beliau dengan “Abang” tapi “Mamak”.  Ops, sudah kito. Waktu berlalu, saya pun tidak pernah lagi berjumpa “orang gila” tersebut. Maka apapun, selanjutnya dalam testimony ini keterusan memanggil Abang. Sudah terlanjur soalnya.

Leukemia, perlu biaya besar; Ketika saya bekerja sebagai Urban Management Advisor (UMA) untuk Kota Bogor pada program BUILD-UNDP yang diikuti oleh 10 kota terpilih di Indonesia, saya bertemu kembali dengan Abang, sebagai salah seorang Narasumber program BUILD dan pembibing UMA Kota Sawahlunto. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, pada saat yang bersamaan, Dana anak bungsu beliau terdampak penyakit mematikan, kanker darah. LLA – Leukemia Limfositik Akut. Rumah sakit di Padang terbatas fasilitasnya, dan menyarankan agar Abang memutuskan membawa Dana berobat ke RSCM Jakarta. Tentu akan tidak sedikit biayanya.

Sebagai umumnya aktivis penantang kekuasaan, zaman Orba pula, selalu hidup susah secara ekonomi. Pas-pasan. Kendaraan Panther tua dan sertifikat rumah satu-satunya, terpaksa digadaikan ke showroomkenalan beliau di Padang. Si empunya showroom tidak menerima tawaran Abang, karena ini bukan rumah pegadaian katanya. “simpan sajalah mobil Uwan di rumah, ini uang untuk ongkos, bawalah segera anak Uwan ke RSCM”. Terkesima sejenak, dan setelah mengucapkan terima kasih tak terhingga, beliau segera memboyong Dana ke RSCM.

Hasil diagnosa, Dana berpeluang besar untuk disembuhkan. Namun biayanya diperkirakan cukup mahal ! Perlu 10 kali Chemotherapy. Mata Abang berkunang-kunang, tapi pikirannya bekerja kencang, dan dengan sigap menyatakan, “Ga masalah, tangani anak saya segera”. Percaya dirinya memang tinggi. Ketinggian malah.

Kucing-kucingan dengan tentara dan Membakar Ijazah; Di samping RSCM, ada warung Padang, disana kami makan malam sambil mendengar cerita tentang pengobatan Dana dan dengan semangat 45 menceritakan hal-hal lucu yang sebenarnya menurut kami heroik. Cerita tentang suasana heroik terbangun, saat Abang menceritakan kucing-kucingan dari sergapan tentara. Abang bertumbuh menjadi aktivis  perlawanan terhadap kemapanan sehingga keterusan menjadi demonstran. Banyak kebijakan kampus yang menurut beliau tidak adil, beliau demo juga.  Rektor sering menjadi gerah dibuatnya.

Periode itu, berdasarkan peraturan, kampus harus mengeluarkan banyak mahasiswa tua – istilahnya mahasiswa abadi. Kebijakan itu ikut ditentang Abang dan kawan-kawan aktifis. Bersama aktivis lain Abang ikut membangun isu tandingan, tentang banyak Dosen ITB juga harus dikeluarkan karena jarang mengajar akibat kebanyakan proyek diluar. Waktu pimpinan kampus mengeluarkan daftar calon Drop-Out alias DO, Pimpinan mahasiswa juga mengeluarkan daftar dosen yang juga harus di DO.

Akhirnya para mahasiswa abadi hanya sedikit yang dikeluarkan, itupun karena alamatnya susah dilacak.  Puncak perlawanan pribadi Abang tentang kemapanan adalah setelah akhirnya lulus di bulan Februari dan mendapatkan ijazah sarjana pada awal Maret 1985. Malam setelah acara wisuda, Abang membuat ritual pribadi, dengan membakar ijazah sarjananya. Memang, gila ini Abang. Tapi menurutnya, ia sudah membayangkan jalan hidup ke masa depan, tanpa perlu selembar surat berharga itu. Itu dibuktikannya sampai hari ini.

Dicibir petani di kampung sendiri; Cerita berlanjut bagaimana awalnya beliau dicibirkan oleh para petani kentang di Alahan Panjang namun berujung dengan peningkatan kapasitas para petani yang tadi mencibirnya. Pelecehan dibalas dengan sedekah sosial-ekonomi yang memberdayakan masyarakat dataran tinggi di Kabupaten Solok itu. Sebelum tengah malam kami berpisah, sambil dengan basa-basi saya bertanya, bagaimana dengan biaya pengobatan Dana. Ternyata, beberapa teman seperjuangan beliau sudah mentransfer puluhan juta ke rekening Abang. Ada beberapa yang hanya atas nama Hamba Allah.  Kuasa Allah, dan bantuan para sahabat yang tulus, Alhamdulillah Dana bisa pulih. Akhir Juli tahun 2020 ini, Dana menyelesaikan kuliahnya dalam sebuah sidang sarjana berbasis daring dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH ITB). Jurusan baru ITB diarahkan beraktifitas di kampus Jatinangor – Sumedang.

Tiba lima hari setelah tsunami Aceh; Meski jarang bertemu, silaturrahmi via jarak jauh tetap tersambung. Kalaupun bertemu, kami lebih sering berjumpa di Bandara.  Saat musibah besar melanda Aceh pada tanggal 24 Desember 2005, tanggal 31 paginya Abang sudah berada di antara bangkai bangunan dan gelimpangan mayat. Menyatu dengan masyarakat nelayan yang masih tersisa, melakukan pencarian dan penguburan mayat yang semampunya ditemukan. Ribuan relawan menyusul turut membantu langsung berbagai hal. Namun Abang lebih fokus menguatkan daya dukung masyarakat lokal untuk mau dan mampu menyelesaikan persoalan mereka dengan kekuatan yang mereka miliki. Empowering. Bukan mendorong masyarakat untuk menengadahkan tangan mengharapkan uluran bantuan dari manapun.

Panglima Laot Aceh; Mengingat banyaknya panglima laot dari berbagai Lhok yang berpulang karena bencana tsunami, atas inisiatif Bapak Sarwono Kusumaatmaja yang dikenal sebagai Bapak Nelayan Aceh, diadakan pertemuan besar para Panglima Laot se propinsi Aceh yang terdiri dari 18 kabupaten kota. Abang bersama relawan, diantaranya almarhum Baehaqi, aktifis dari Bogor, Bapak DR. Ir. Soeryo Adiwibowo, dari IPB yang kini menjadi Penasehat Senior Menteri LHK. Dan beberapa relawan lainnya. Kami membantu organisasi Panglima Laot untuk bangkit dari keterpurukan paska bencana. Abang membantu perencanaan lembaga dan revitalisasi organisasi. Mungkin karena cukup galak memandu acara mengingat peserta hampir 800 orang, mungkin juga dianggap ahli kelautan, akhirnya organisasi mengangkat Abang sebagai salah seorang Dewan Pakar Lembaga, bersama tokoh2 masyarakat Aceh dan tentunya Pak Sarwono. Jabatan itu diembannya sampai 2010.

Dalam kerutinan Abang bergiat, antara Jakarta-Padang-Aceh, diawal tahun 2006 kami bertemu di Bandara Soekarno Hatta dengan tujuan yang sama, Banda Aceh. Kebetulan saya bertugas pada program ETESP-ADB untuk membangun 7.500 unit rumah bagi korban gempa-tsunami Aceh-Nias. Diperjalanan, saya baru tahu kiprah Abang membantu nelayan di berbagai kabupaten, khususnya dalam membangun kembali armada nelayan untuk kembali bias melaut berikut infrastrukturnya.

Pak Harto terpingkal-pingkal; Abang diterima Presiden di Bina Graha, di ruang makan dengan meja yang besar panjang. Abang diminta duduk di kursi ujung meja. Tak lama berselang pak Harto datang, lalu duduk di kursi pada ujung meja yang lain. Sambil bedehem pak Harto mencermati Abang dengan seksama, penuh telisik dan dengan pandangan berat berwibawa. Suasana semakin tegang karena pak Harto tak kunjung mengucapkan sepatah katapun.  Dalam hati Abang berfikir keras, apa yang harus dia lakukan atau ucapkan, meski terbersit juga pikiran, “abis sudah awak kali ini”.

Tetiba, Abang ingat bahwa pak Harto hobi memancing ikan di laut, dan tanpa skenario bang Zukri menanyakan jenis ikan yang paling sulit dipancing namun pak Harto pernah berhasil memancing ikan tersebut. Entah bagaimana kalimat yang dilontarkan saat itu, dan entah bagaimana dialog lanjutan mengalir, yang pasti pak Harto tertawa terpingkal-pingkal, dan kemudian segalanya menjadi cair. Diskusi berlanjut dengan hangat dan saling timpal.  Abang sangat anti dan menentang dengan keras sistem pemerintahan orde baru yang otoriter dan korup, namun secara pribadi tidak sampai sampai pak Harto personal.

Abang Sang Penghasut; Setelah mendarat di bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, sebelum memulai bekerja, Abang selalu menyempatkan makan siang dengan menu ”ayam tangkap” di daerah Leung Bata – sisi kiri jalan menuju pusat kota. Ketika hidangan tersaji, ternyata wadah sajian terlihat seperti tumpukan dedaunan kering-goreng, dan diantaranya terdapat belasan potongan ayam goreng-gurih. Sambil mengunyah dedaunan, beliau bercerita, untuk menjaga kesehatan, herbal saja tidak cukup, dan hati-hati dengan diet karena harus disesuaikan dengan golongan darah. Begitu selesai menyantap “ayam tangkap” dengan dedaunan keringnya, beliau bercerita tentang diet yang beliau lakukan dengan pendekatan golongan darah. Meski beliau bukan ahli medis, namun penjelasannya kelihatan sangat ilmiah, masuk akal, dan “menghasut” saya untuk menirunya. Beliau memang pakar sekaligus praktisi penghasut di negeri ini. Hasutan yang berkonotasi “motivasi” tentunya. Saya pun mencobanya di kemudian hari, karena masih bersemangat untuk tetap makan jeroan diolah cara Padang yang dikenal sebagai tambunsu dan gajeboh.

Beternak LSM; “Dima angku kini?” adalah kalimat khas beliau ketika akan ke Bogor, kota tempat saya dibesarkan. Saya sudah paham maksudnya. “Alun takilek alah takalam”. Segala acara harus saya batalkan karena Abang pasti perlu tour guide di Bogor. Biasanya beliau naik Commuterline dari Jakarta ke Bogor.  Setelah beliau membanting pintu mobil tua saya, dan seperti lumrahnya seorang Mamak, selalu menanyakan kondisi dan kesehatan bapak, ibu, istri, dan anak-anak saya.

Sesuai arahan Abang kami meluncur ke daerah Sindangbarang-Loji Bogor, sambil mencari tahu alamat sebuah kantor yang mempunyai akreditasi untuk mengeluarkan sertifikat pertanian organik. Setiba di kantor BIOCERT kami dilayani seorang marketing dan Abang mendapatkan penjelasan prosedur & mekanisme sertifikasi produk organik. Tapi baru beberapa saat saja sang marketing memberikan penjelasan, lalu mematut-matut Abang dan perlahan air mukanya berubah, sedikit memerah sambil bertanya; “mohon maaf, ini Pak Zukri Saad bukan?”. “Ya, betul, kenapa gitu?”. Sang marketing  langsung berteriak ke arah ruang dalam kantor, ada beberapa orang kelihatannya di dalam sana. “Ada pak Zukri Saad!”. 4 orang berhamburan keluar dan menyalami Abang dengan penuh suka cita dan rasa hormat mendalam.

Mendapat sambutan tak disangka-sangka, Abang jadi rada bengong, apalagi saya. Dalam perjalan pulang, kembali ke stasiun Bogor, beliau “menyesali” atas kekhilafannya yang sudah lupa atau mungkin karena faktor usia, bahwa yang mendirikan BIOCERT itu adalah beliau sendiri. Saking banyaknya kiprah beliau membangun kekuatan masyarakat pada berbagai strata di bidang lingkungan sehingga “profesi” beliau sering disebut sebagai “peternak LSM”. Sekarang BIOCERT adalah salah satu lembaga sertifikasi organik besar di Indonesia yang mempunyai jaringan internasional dan menjadi standar produk pertanian organik untuk ekspor ke Eropa, Kanada dan Amerika.

Menghasut aktivis Bogor; Pada awal tahun 2007 Abang menelpon saya dan mau pamer kantornya yang baru di gedung bergengsi Wisma BNI 46 yang ikonik di jantung ibukota DKI Jakarta. Rupanya Abang menjadi Direktur PT. PEACE, sebuat perusahaan start-up yang akan memulai pengembangan perdagangan Karbon sebagai implikasi protokol Kyoto. PT. PEACE didirikan oleh beberapa tokoh Yayasan Pelangi. Abang adalah anggota Dewan Pembina Yayasan Pelangi yang bekerjasama dengan beberapa negara/lembaga donor internasional untuk Abang ikut merumuskan pembangunan berkelanjutan, diantaranya proyek REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation).

Setelah basa basi menjelaskan programnya kepada saya “anak didik”nya, Abang kangen mau main ke Bogor, sekalian  ketemu Ahmad Baihaqi (almarhum), temannya sesama fasilitator waktu memfasilitasi pertemuan Panglima Laot di Aceh paska Tsunami 2005. Selain aktifis LSM, almarhum Baihaqi juga berkegiatan di Pusat pengembangan Wilayah IPB. Suatu sore seminggu kemudian, di kampus IPB Baranangsiang kami menemui Baihaqi dan kebetulan ada beberapa akademisi lain yang hadir, Rata-rata dosen senior.

Abang diminta untuk memberikan masukan tentang degradasi yang terjadi di Kebun Raya Bogor (KRB), dan ujung-unjungnya beliau “menghasut” para akademisi dan aktivis lingkungan lainnya untuk mendorong Kebun Raya Bogor sebagai Wolrd Heritage Site/WHS UNESCO. Singkat cerita, disepakati berdirinya forum Bogor100 dengan misi utama mengusung KRB sebagai WHS UNESCO.  Abang tentulah salah satu pemrakarsa Bogor100, walau ber-KTP jauh di Kota Padang.

Usulan ini ditentang oleh Kepala KRB saat itu (2007), namun seiring waktu, tahun 2017 Kepala Kebun Raya Bogor yang baru, atas nama LIPI telah menyampaikan proposal kepada UNESCO. Sebagian besar materi dokumen proposal diambil dari materi yang disiapkan oleh tim Bogor100.

 

Menghasut Urang Kampuang; Kelamaan berkiprah di rantau orang, pada suatu kesempatan, saya meminta Abang berbuat sesuatu untuk kawasan Bukittinggi-Agam, kampung halamannya sendiri.  Sebenarnya sudah berkali-kali beliau menyampaikan pikiran dan gagasan visioner-praktis kepada para pimpinan di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam, namun hanya berhenti sebagai referensi saja. Pernah juga Abang menawarkan prototype rumah terapung anti gempa di Maninjau, paska gempa Padang 2009. Semua gagasan gagal dipahami sehingga Abang sedikit patah arang.

Mungkin karena jatuh kasihan kepada saya dan teman-teman pemerhati Kota Bukittinggi, suatu malam kami rapat di Hotel Kharisma, difasilitasi langsung oleh pemiliknya, Almarhum Ir. Mirza Thaher, juga aumni ITB. Singkat cerita Abang menawarkan sebuah proses perumusan skenario perencanaan masa depan Bukittinggi Salingka secara partisipatif dengan pendekatan appreciative inquiry. Berbasis partisipasi publik, bajanjang naik batanggo turun. Abang menilai, pendekatan perencanaan strategis yang sampai hari ini masih dianut oleh perencana Kota/  kabupaten telah gagal menghasilkan mandat publik, salah satunya karena pendekatan dari atas – top-down approach. Gagal dari hulu-nya.

Satu bulan penuh kami menyiapkan sebuah acara rapek gadang para tokoh masyarakat Bukittinggi dan nagari-nagari Agam yang berbatasan dengan Kota Bukittinggi, dibawah program perencanaan Bukittinggi Salingka. Dibawah arahan dan jaringan intelektual Abang, pada tanggal 27 Juni 2013 terselenggaralah Seminar Perancangan Grand Scenario Bukittinggi Salingka di Ruang Utama Istana Bung Hatta (Gedung Tri Arga). Puluhan orang rantau pulang dari berbagai propinsi, representasi berbagai lapisan masyarakat, mulai dari jawara parkir, pedagang kaki lima, pengusaha sukses, kalangan militer, niniak mamak, ulama, politisi, akademisi, berperan-serta pada pertemuan tersebut. Lebih kurang 300 orang representasi masyarakat Bukittinggi Salingka memberikan padangan, masukan, harapan masa depan Bukittinggi Salingka.

Acara yang berbasis partisipasi publik ini, dikemas secara variety show dengan penampilan awal penyanyi dan gitaris Minang tunanetra legendaris yang terlupakan, Zulkarnain. Tampilannya memukau sekaligus jenaka, membawa hadirin ke alam tahun  70-an. Pemutaran film Bukittinggi masa lalu dan hari ini, membuncahkan rasa cinta hadirin kepada kota Bukittinggi. Hadirin luluh dibawa emosi masa lalu keindahan kota yang diapit 3 gunung : Marapi – Singgalang – Sago. Makanya dikenal istilah Tri Arga.

Dua acara pertama ini disebut sebagai proses membongkar dinding egoisme kelompok dan sektoral menuju kesamaan rasa, menyambung dan mengeratkan tali empati yang sudah nyaris putus. “Menyambung silaturahmi nan gantiang, mengumpua nan taserak“. Itulah proses pengkondisian suasana. Ketika suasana kebersamaan mulai terbangun, ayat suci dikumandangkan, doa dipanjatkan, lalu Walikota dan Bupati diminta tampil menyampaikan sepatah dua patah kata, disambung dengan perwakilan Niniak Mamak yang dituakan dan disegani.

Alim Ulama sudah, Niniak mamak sudah, tiba saatnya Cadiak Pandai menyampaikan pandangan akademik-empirisnya bagaimana sebaiknya Bukittinggi Salingka dibangun bersama-sama para pemangku kepentingan. Para narasumber menyampaikan pandangan-pandangan ilmiah teroritis-empirisnya dan saran teknis membangun masa depan.

Ketika tiba pada giliran Abang, tidak satupun kisah pembangunan perkotaan beliau ceritakan, meski ratusan kota dunia pernah dikunjungi sambil dicermatinya. Abang turun dari panggung, dan meminta seluruh hadirin untuk merumuskan masa depan kota. Sulit dibayangkan, bila 300-an orang para tokoh dari berbagai kalangan diminta untuk menyampaikan pikiran, gagasan, ide dan pendapatnya, pastilah acara akan kacau balau dan tentu bisa berakhir larut malam, dan buntutnya peserta yang bertahan bisa dihitung dengan jari. Ini akan menjadi preseden buruk.

Namun dengan kepiawain Abang, hanya dalam waktu tidak lebih dari 1 jam, seluruh peserta telah selesai menyampaikan pandangan, pikiran, gagasan dan idenya, bahkan terdokumentasikan dengan baik. Dalam waktu singkat pula hasilnya pun dapat dirumuskan serta ujungnya disepakati bersama. Tidak satupun hak suara peserta yang hilang. Semuanya antusias dan merasa puas karena mendapat ruang demokrasi yang hakiki pada pertemuan akbar bergengsi itu.

Selain jam terbang dan kepiawaian sebagai penghasut publik, rahasianya adalah teknik appreciative inqiury menggunakan metaplan dan ada tim kecil yang mendukung secara teknis. Ini memang soal ilmu pengetahuan dan keahlian teknis-khusus, tidak bisa sekedar mengandalkan pengalaman saja.

Ketika saya bertugas ke Lampung Barat, turut memfasilitasi petani Kopi untuk mengembangkan perkebunan kopi organik, sempat berdebat sehat-tegang dengan rekan-rekan WWF, mahasiswa dari Perancis dan dosen Universitas Lampung yang juga sedang memfasilitasi petani kopi agar tidak merambah hutan di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).  Perdebatan mereda dan menjadi lebih konstruktif sesaat setelah saya sampaikan bahwa saya adalah “anak didiknya” bang Zukri Saad. Demi kebaikan bersama, terpaksa menjual nama mamak, Abang Zukri.

Terakhir saya terlonjak kaget, saat berbincang-bincang dengan seorang kapten kapal Phinisi asal Australia di Bira – Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ketika perkenalan awal kami saling menyebutkan negeri asal kelahiran (mother land). Dia asli penduduk Sydney merantau ke Darwin dan dia ingin tahu juga asal kampung saya. Tentu saya sebut “West Sumatera”, lalu disambut dengan kalimat; “Wow, I know. Dadiah, Padang, Mentawai, Sianok. You know, Dadiah is the best yoghurt in the world”. Kami berbincang sampai larut malam dan singkat cerita, sang  Kapten meminta saya untuk menyampaikan salam untuk ”Mr. Saad”??. Rupanya sesama anggota peselancar dunia.

Iyo sabana gilo baladiang Mamak nan surang ko! Ibu saya cuma bilang, waktu kecil “si Eri tu iyo sabana jaek, bacakak sen karajo-no”. Ini info shaih, karena kenakalan baliau waktu kecil selalu terpantau dengan mudah oleh ibu saya. Rumah kami berhadap-hadapan di jorong Pincuran Landai, dan kebetulan posisi rumah saya lebih tinggi dari rumah Abang, sehingga sebagian besar ruang dalam rumahnya terlihat jelas. Rumah Abang yang berpintu banyak itu masih terawat baik sampai hari ini.

Akhirnya, usia Abang 65 tentu ada maknanya. Usia 65 adalah usia Tauhid. 6 sehat 5 sempurna – 6 Rukun Iman 5 Rukun Islam. Selamat Ulang Tahun Abang, tetaplah berkiprah sampai akhir hayat. Jangan pernah berhenti.

————

Ir. Zulfikar adalah Perencana lulusan Planologi – Universitas Islam Bandung, menetap di Bogor. Berkarir sebagai Perencana free-lance di puluhan kota dan Kabupaten di Indonesia, berbasis dukungan lembaga nasional dan internasional seperti Bappenas, UNDP, USAID, World Bank. Saat ini menjadi pendamping Walikota Bogor dalam penguatan Civil Society. Work From Home sudah dilakoni sejak tahun 1997, Small office – home office. Namun agar terlihat sedikit berkelas, saat ini menjadi Peneliti Senior di Pusat Penelitian, Perencanaan dan pengembangan Wilayah IPB, meski bukan lulusan IPB.

Adikku Zukri | Azmi Saad