Menakar Sang Pembakar

Oleh : Rahmat Hidayat

Terpapar Sang Pembakar. Apa lagi yang lebih membanggakan bagi seorang “plonco” mahasiswa baru angkatan 88, sekaligus peserta Pendidikan Dasar Cinta Alam (PDCA) Kelompok Mahasiwa Mencintai Alam – Fakultas Pertanian Universitas Andalas (KOMMA_FPUA), saat mendapat kesempatan diajak bertemu dan berdiskusi dengan kiblat aktifis di Ranah Minang saat itu. Dengan kaca mata bulat seperti penyanyi idola Ebiet G. Ade, kumis tebal melintang ala tentara, celana lapangan Alpina hitam dengan kaos oblong senada, sendal jepit plus rokok yang selalu terselip ditangannya. Mulut saya ternganga kagum, otak saya silih berganti mendapat gizi pengetahuan dan pembelajaran dari aktifis penggiat alam bebas,  Mantan Ketua Dema ITB, Fellow Ashoka, guru di INS Kayu Tanam, Direktur Yayasan Insan 17, Aktifis Lingkungan Hidup – WALHI dan Pendiri Yayasan Mandiri – Bandung serta akan sangat panjang kalau semua dideskripsikan.

Setiap kata yang keluar bagaikan api yang membakar. Hampir semua ceritanya menginspirasi, oposisi, kritis, nakal bahkan cenderung liar dizaman itu. Suasana militeristik dan otoriter ORBA, dimana saat keseragaman menjadi keharusan serta tatkala keberagaman dianggap sebagai ancaman. Keberuntungan Saya menikmati cerita  perjuangannya saat harus mengelabui intel paska demo, atau menceritakan pengalaman mengorganisir masyarakat Galo Gandang – 50 Kota untuk membuat kerajinan gerabah, mendorong masyarakat Mudiak Simpang – Pasaman Barat didalam memenuhi kebutuhan energi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) serta memfasilitasi pengembangan koperasi konveksi di Sungai Pua – Agam. Itu semua masih biasa. Yang menjadi luar biasa bagi Saya, sekaligus mempengaruhi pilihan hidup Saya kedepan adalah episode “membakar Ijazah sarjana” dari Institut Teknologi Bandung, begitu selesai wisuda dan hanya menyerahkan salinan kepada orang tua sebagai bagian dari pertanggung jawaban. Argumentasinya sangat heroik, yakni untuk membuktikan tanpa mengandalkan pendidikan formal bisa menjadi sosok yang berguna bagi seama, walaupun bukan sebagai tentara, polisi, pegawai perusahaan ataupun pegawai negeri, nyatanya tetap bisa berkontribusi untuk Ibu Pertiwi.

Hidup jangan mengandalkan ijazah untuk melamar pekerjaan kian kemari, tapi dari otak, tangan dan hati, Kau bisa menjadi apapun yang diidamkan dengan fikiran yang tidak biasa, kerja keras serta komitmen akan kemanusian dan lingkungan” ucapnya sambil menghisap rokok dalam-dalam. Itulah perjumpaan pertama Saya dan diikuti oleh perjumpaan yang lebih sering berikutnya dengan Zukri Saad atau biasanya secara akrab kami memanggilnya dengan Bang Zukri, Uwan Zukri, ZS atau nama panggilan akrab lainnya.    Dan… 14 tahun kemudian, saat sudah menjadi Deputi Direktur di KKI WARSI ijazah Saya semuanya terbakar. Saat rumah kontrakan di Bangko terbakar. Ini bukan untuk mengikuti jejak sejarah, namun karena musibah. Karena darah Saya masih belum sepekat Uwan Zukri.

Temu berikutnya Saya makin terpapar dengan semangat yang tertangkap dari sorot mata dan kata-katanya. Apapun yang disampaikan sangat mempesona. Apalagi diberikan izin untuk membaca buku di pustakanya yang sangat jarang diketemukan di pustaka kampus. “Bacalah sepuasnya, tapi jangan dibawa pulang”, itu ucapan yang terus terngiang. Karena kalau dibawa pulang cenderung tidak dibaca dan bisa hilang. Uwan sangat teliti dengan buku-bukunya, bahkan langsung tahu kalau ada yang dipotong pakai silet halamannya (karena dulu foto kopi mahal, sehingga modal silet sangat penting untuk dapat halaman yang penting) karena keisengan para peminjamnya. Dan sampai hari ini, kalau main kerumahnya yang asri di Gunung Pangilun, membaca buku koleksinya menjadi tujuan utama. Sekarang Saya baru paham, bahwa Sang Pembakar bukan hanya membaca buku-buku yang dulu dianggap “radikal” seperti Madilog, Pendidikan kaum tertindas dan lainnya. Tapi juga penyuka berat Pendekar 212 Wiro Sableng (koleksinya sangat lengkap) ataupun juga buku-buku fiksi kurenah anak Minang karya Makmur Hendrik.

Sebagai pembelajar, Saya menyimak ucapan dan tindakan yang dilakukan. Bagaimana Saya pernah kena tempeleng dan push up 50 kali saat membuang sampah sembarangan, saat ada kegiatan pecinta alam dilapangan.  “Bagaimana kau tabalkan dirimu sebagai pecinta alam, tapi tindakanmu bisa merusak apa yang kau cintai. Kau harus konsiten dengan apa yang kau ucapkan, kau janjikan dengan perbuatan serta tindakan”  Ucapnya dengan mata bersinar. Saya tidak marah atau benci, justru berterimakasih dengan peringatan ini. Karena peristiwa ini yang kemudian menjadi pengingat pentingnya konsistensi antara perkataan dan perbuatan dalam berbagai aktivitas kedepan.

Warna-warni Pelangi (BILA, INSAN 17 KOMMA?). Keberuntungan terus berulang, saat berkegiatan di KOMMA-FPUA sekaligus menjadi relawan di LPSM-BILA (Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat Bina Kelola) salah satu organisasi non pemerintah yang bersekretariat di perumahan Jondul IV Blok TT.19 Tabing Padang. Intensitas diskusi makin meningkat, baik melalui pelatihan-pelatihan, kegiatan langsung di lapangan atau sekedar ngobrol di kantor Insan-17 di Bandar Damar yang nyaman dan penuh dengan buku-buku referensi. Uwan Zukri saat itu menjadi mentor yang sangat kuat untuk advokasi, gerakan lingkungan hidup, lobby dan “membakar semangat”.  Apalagi saat mengikuti kegiatan pemantapan KOMMA-FPUA di Pulau Pasumpahan, berkolaborasi dengan Uda Amrizal Salayan (Pesilat dan Pematung) dari Bandung dan Farouk (Camp Club), kami mendapatkan berbagai pengetahuan dasar kepecinta-alaman, survival, gerakan lingkungan hidup, kepemimpinan, solidaritas, kerelawanan serta tehnik berkomunikasi.

Kalau diibaratkan sebagai mobil, Uwan (panggilan khas orang Bukittinggi untuk kakak) adalah gas yang memang dibutuhkan untuk mempercepat, memanaskan sekaligus menggelorakan. Namun kalau hanya terus tekan gas, mungkin nasib mobil akan masuk jurang atau hancur tak beraturan saat tabrakan. Dibutuhkan rem sebagai penyeimbang. Dan… sekali lagi, saya merasa beruntung dengan segala kebaikan Tuhan. Saya juga mendapatkan mentor yang lembut, runtut, penuh senyum dan sejuk. Bang Ichsan Malik, Direktur PKBI Sumatera Barat (saat ini Dosen di Universitas Pertahanan dan pendiri IM Centre) mengajari Saya bagaimana memfasilitasi forum, manajemen nirlaba, komunikasi dengan para pihak serta pendampingan yang inklusif. Keduanya adalah warna utama didalam gaya saya melakukan pendampingan, keseimbangan Yin dan Yang, kolaborasi gas dan rem. Sedangkan untuk praktek langsung dilapangan saya banyak belajar dari Uda Efnizon atau biasa disebut Wan Sarok (Sarok adalah sampah, ini adalah salah satu prestasinya didalam mengelola sampah di Kota Padang sehingga mendapat Adipura Kencana dan magang di “Jerman Barat” untuk belajar pengelolaan sampah perkotaan), Zolla Pandu, Fadli Rustam dan Firdaus Jamal yang memberikan kesempatan untuk menjadi relawan terkait dengan isyu pengelolaan sampah, pertanian organik, pendampingan dan konservasi.

Akhir 1980-an itu, Keberadaan Ornop di Sumatera Barat masih bisa dihitung dengan jari, apalagi untuk advokasi dan pengembangan masyarakat. Keberadaan WALHI yang digawangi Uwan Zukri (kususnya untuk Sumatera Bagian Selatan) dengan dukungan PACT-USAID menjadi media peningkatan kapasitas, implementasi lapangan, memperkuat simpul jaringan (Ornop-Masyarakat-Pecinta Alam). Disini Saya banyak belajar bagaimana Uwan yang penyuka tehnik bonsai ini mengelola jaringan, advokasi yang tajam (PLTA Singkarak, PLTA Koto Panjang, Taman Nasional Kerinci Seblat), aksi pendampingan lapangan  di Singkarak, Pesisir Selatan, Solok (Muara Labuh, sebelum menjadi Solok Selatan), Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung dan Riau.

Daya bakar ini terus menjalar, sehingga semangat anak-anak muda di Sumatera bagian Selatan untuk isyu pemberdayaan masyarakat dan lingkungan tidak pernah padam. Bahkan saat Alumni Kima ITB ini menjadi salah satu Direktur WALHI Nasional, saya beberapa kali bolak-balik untuk mendapat dukungan bagi penyelenggaraan PKAN (Pekan Konservasi Alam Nasional) yang akhirnya diselengarakan oleh KOMMA-FPUA di Singkarak tahun 1992 yang dihadiri oleh berbagai Organisasi Pecinta Alam di Indonesia. Ada yang terbakar? Ya. Dari titik ini mulailah dilakukan advokasi atas pembangunan PLTA Singkarak yang saat ini penuh silang sengkarut. Kususnya terkait dengan aspek lingkungan dan hak-hak masyarakat Nagari selingkar danau. Bahkan hasil advokasi Tim KKD WALHI Sumatera Barat ini menjadi laporan utama Majalah Tanah Air saat itu.

Poros BILA-INSAN17-KOMMA ini (kalau dalam bahasa minang “bila-Insan17 koma? Berupa ledekan yang artinya kapan Insan 17 koma/sakit) sangat dipengaruhi oleh Uwan, baik didalam beraktivitas maupun pengembangan kelembagaannya. Ternyata ledekan itu terbukti saat ini dimana BILA dan Insan 17 sudah tidak terdengar lagi. Mungkin ini salah satu “catatan kuning” Uwan didalam regenerasi di Insan 17, yang didirikannya bersama 17 Alumni ITB lainnya.

Musim Panen Perubahan. Menakar Uwan Zukri sangatlah berat, karena kemampuannya untuk bisa mengisi posisi apapun dengan tema bagaimanapun diwaktu kapanpun. Saat menginisiasi pertemuan Forum LSM dan Pecinta Alam Sumatera Bagian Selatan di tahun 1992 di Hotel Sederhana Jambi, Saya menjadi salah satu saksi kunci bagaimana Uwan tampil dengan ide liar yang membakar. Bermodal spidol serta kertas plano berlembar-lembar. Munculah nama WARSI (Warung Informasi Konservasi) yang sampai hari ini masih terus berkibar. Kemampuan yang luar biasa dari pecinta Buku Wiro Sableng ini, menjadi virus yang terus menular. Baik dari kesungguhan untuk mendampingi secara mendalam masyarakat didalam dan sekitar kawasan hutan, memperkuat solidaritas dan kerelawanan serta meningkatkan kesejahteraan tanpa mengorbankan kepentingan anak-cucu kedepan. Itulah filosifi konservasi bersama masyarakat yang diimpikan dan dicita-citakan. Untuk berpuluh tahun kemudian intensitas komunikasi dan diskusi Saya terus berlanjut dengan media lembaga konservasi bersama masyarakat ini, baik sebagai board, praktisi maupun penulis yang produktif.

KKI WARSI sebagai lembaga yang turut dibidani, dirawat, dibesarkan dengan penuh kasih sayang saat ini,telah berubah dari lembaga yang berkantor di tas pengurusnya menjadi lembaga yang tertata secara manajemen, mempunyai staf yang kompeten, mengembangkan unit usaha untuk keberlanjutan dan dukungan komunitas, mengembangkan perluasan wilayah layanan dari Sumatera Bagian Selatan ke Pulau Kalimantan (Timur dan Utara) bahkan pernah di Papua Barat (Kabupaten Kaimana). Kemajuan lembaga ini tentunya tidak lepas dari peran Uwan sebagai “Tonggak Tuo”, kritik-kritik tajam selalu disampaikan agar Kami tidak terlena dalam kemapanan. Pesan Uwan, “Kemapanan akan menurunkan daya kritis, kreativitas dan perubahan”.

Makan tangan Uwan juga sangat terlihat saat mendesain “Sebapo Institut” (SI) sebagai lokasi pembelajaran konservasi, pemberdayaan dan perubahan iklim Sumatera. Saat pembukaan yang bertepatan dengan Musyawarah Besar KKI WARSI yang dihadiri oleh  Kepala UKP4 Kuntoro Mangkusubroto yang sekaligus menandatagani prasasti SI. Diharapkan dengan keberadaan media belajar ini, para pihak (Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, Praktisi, Petani dan masyarakat desa hutan, Ornop, pelajar serta mahasiwa) bisa belajar berbagai hal terkait dengan pemberdayaan, konservasi serta perubahan iklim secara langsung dilahan yang ditata untuk ruang pembelajaran, penginapan, pelatihan, pendidikan lingkungan dan ekowisata. Saat ini SI telah menjadi tempat pelatihan sekaligus lokasi wisata yang menjadi andalan kabupaten Muara Jambi.

Multi Talenta yang (terkadang kurang) Konsisten. Saya mengenal Uwan Zukri sejak akhir 80an sampai hari ini adalah orang yang multi talenta. Dari mulai aktivis, pekerja sosial, penulis, kolumnis, penggiat koperasi, petani dataran tinggi, traveller, jago kuliner, pengurai konflik perusahaan, pemberdaya kampung halaman dan politikus. Mungkin karena sangat banyaknya kegiatan dan kepeminatan yang dilakukan, membuat saya menjulukinya AKI (bukan kakek ya, karena beliau belum punya menantu apalagi cucu) atau “Abang Kaya Inspirasi”.

Ratusan tulisan telah dihasilkan, puluhan buku telah diterbitkan, ratusan lokasi makan diberbagai sudut nusantara selalu diinformasikan, ratusan obyek wisata dan kota-kota ternama telah ditaklukkan. Ini yang kemudian menjadi inspirasi bagi Saya untuk mengikuti langkahnya. Paling tidak, Saya sudah ada 8 buku tulisan bersama maupun sendiri yang dihasilkan, tulisan di media masa juga sudah terpublikasikan, puluhan makalah dan ratusan di Medsos.

Kekayaan pengetahuan, inspirasi dan inisiasi (mungkin karena terlalu banyak) terkadang tidak terkelola dengan baik. Pada saat boom “pengobatan alternatif” ditahun 2010 Saya “dibakar kembali” untuk turut belajar Reiki sebagai metode pengobatan sendiri (Saya, istri dan beberapa teman ikut belajar). Namun kemudian Uwan sebagai inspirator berpindah ke diet golongan darah, puasa, Kangen Water, terapi air putih, dan kemudian berubah lagi dengan diet Ketofastosis. Saya selalu memaknai ini dengan positif, karena memang apa yang “digalehkan’ (dijual) idenya selalu menarik dan masuk akal. Sehingga saya sering menjadi pengikut.

Tapi satu hal yang selalu saya teladani dan pegang adalah konsitensi untuk berbagi pengetahuan dan keberpihakan kepada masyarakat yang kurang beruntung. Bahkan dalam satu kesempatan Uwan menyampaikan “jangan takut bersedekah, karena didalam hartamu ada hak orang lain. Dan yakinlah saat dirimu bersedekah, Tuhan akan membuka semua pintu rizqimu dari berbagai arah”. Ini yang secara konsisten saya coba lakukan dan Alhamdulillah, Saya menemukan kebenaran dari apa yang disampaikan.

Saya juga menteladani kekonsistenannya dengan tetap yakin untuk memilih jalan sunyi pengelolaan sumberdaya alam hutan berbasiskan masyarakat, sebagai jalan baru menuju masyarakat yang berkesejahteraan, berkeadilan dan terlindunginya hutan sebagai ruang hidup dan berkehidupan. Sehingga sejak mengenal “Sang Pembakar” di akhir tahun 80an, sampai detik ini saya tetap berkelindan dalam pilihan itu. Saya tidak tergoda ketika isyu pemilu (pendidikan pemilih dan lainnya) paska reformasi jadi ngetop, isu governance yang moncer, isu infrastruktur dan lainnya. Sehingga banyak orang menganggap Saya puritan dan tidak mau berubah. Namun saya selalu ingat dengan pertemuan pertama, “memegang komitmen”. Alhamdulillah… obor yang diletakan dalam hati, terus bersinar dan membakar sampai hari ini.

Catatan Akhir untuk Sang Pembakar Multi Tafsir. Saat ini Saya sebagai “murid” sudah melangkahi usia lewat setengah abad, meniti langkah enampuluh lima tahun usia yang telah dibentang terlebih dahulu oleh Sang Guru. Saya sendiri sering “membatin”, apakah perjalanan hidup Saya bisa penuh warna sepanjang usia seperti Uwan? Yang selalu ditunggu dan disambut dengan respek oleh semua kawan, yang pembicaraannya bisa sebagai penyulut semangat seperti yang saya rasakan, yang kemulti-talentaannya bisa memberikan solusi pada berbagai persoalan, kekonsistenannya didalam menyedekahkan pengetahuan, ketawanya yang membahana penuh kegembiraan serta keberhasilannya mengantarkan anak-anaknya sukses dijenjang pendidikan.

Sangat susah untuk menyamainya, dan tidak mungkin akan sama. Karena Uwan adalah sosok “role model” kehidupan generasi kami. Tinggal kita bagaimana menyesuaikan sesuai dengan kondisi diri sendiri. Banyak yang menafsir, memandang dan memaknai Uwan dengan berbeda, ada yang menganggap tidak konsisten karena memilih bekerja di perusahaan yang merusak lingkungan, “gadang ota”, politikus yang setengah hati dan lainnya. Silahkan, itu pandangan yang dipotret sesuai dengan “kondisi kejiwaan” sipenafsir saat itu. Tapi bagi Saya (tidak dalam rangka membela atau membalas jasa), banyak hal yang mungkin tidak dimengerti oleh orang lain kalau tidak berinteraksi langsung dalam waktu yang panjang. “Ruok” beda dengan isi, jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja.

Dalam catatan kehidupan Saya, ada banyak warna Uwan Zukri yang melaburi pemikiran, pendekatan, cara bertindak dan kekonsistenan saya didalam melayari kehidupan sampai hari ini. Baik sebagai pecinta alam, aktivis, pendamping, pekerja sosial, pengelola lembaga, pekerja internasional maupun sebagai murid. Saya belajar ikhlas berbagi pengetahuan untuk sesama, saya menyerap penuh semangat untuk pantang menyerah, saya selalu berbesar hati saat menerima kritik bahkan “permusuhan” yang tidak pernah diketahui apa penyebabnya, dan saya juga belajar “raso pareso” saat berkomunikasi dengan para pihak. Menjiplak Uwan tidak akan mungkin bisa, namun menteladani apa yang sesuai dengan kita itu yang bijak sana.

Termakasih banyak Uwan, Abang, ZS….. yang telah mewarnai hari-hari dan langkah kiprah Saya, menerima tanpa syarat sebagai murid kehidupan. Mencecap sekenyangnya pengetahuan yang dibagikan tanpa mengharap imbalan, mempertunjukan bagaimana mengelola keluarga agar Samara, mempraktekkan hidup sehat tetap dengan makan enak, menjaga silaturahmi sampai akhir usia. Selamat  bertambahnya Usia Uwan, lalui dengan sederhana dan penuh syukur pada-Nya. Bertambah usia bukan musibah, namun berkah menuju kebaikan yang sesungguhnya. Hanya Gusti Allah SWT yang akan membalaskan segala kebaikan yang telah Uwan berikan. Satu hal….. pejuang tidak akan pernah mati, dia akan hidup berkali-kali karena ilmu pengetahuan bermanfaat yang diberikan tanpa syarat, akan menjadi amal ibadah yang tidak akan pernah mati. Panjang Umur……. tetap memberikan manfaat yang luar biasa bagi lingkungan dan sesama.

Ka Tuiak Koto Gunuang bertanam padi;

Padi dijemur si orang Tanjung Pati.

Setulus hati mengucap selamat berhari jadi;

Berharap semangat dihati takkan pernah mati.

Enak sungguh rang Situjuh memasak gulai kari;

Dibawa ke rumah mertua dengan pinggannya.

Terimakasih atas segalanya … Uwan Zukri;

semoga kelak Syurga sebagai imbalannya.

Jambi, 25 Oktober 2020

————

Ir. Rahmat Hidayat, alumni 1993 Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas, menetap di Jambi. Biasa dipanggil Kang Rahmat, pria kelahiran Cirebon setengah abad lewat yang menimba pengetahuan di ranah Minang, melalui pendidikan “alam takambang manjadi guru” pada berbagai guru, baik di kampung dengan para tokoh adat, penggiat sosial, kampus maupun birokrasi. Mendapat gelar adat Sutan Pangeran saat menikahi “gadih” suku Guci dari Jambak Sianok.
Pernah menjadi Ketua KOMMA FPUA, Redaktur Genta Andalas, Relawan LSM Biana Kelola, Deputy Direktur dan Direktur KKI Warsi 2000 – 2014; Fasilitator Program – DFID, Project Coordination Associate Badan Pengelola REDD+, Saat ini menjadi Manajer Perhutanan Sosial dan Transformasi Konflik WRI Indonesia, Dewan Anggota KKI Warsi dan Anggota Dewan Kehutanan Nasional (DKN). Waktu senggangnya banyak dihabiskan untuk berkelana rasa, belajar memasak dari para tetua sekaligus belajar sejarahnya, berpetualang di alam bebas serta menapaki kampung-kampung, membaca dan menulis.