Mengenal Abang Zukri

Oleh : Erizal

Saya pertama kali mengenal abang Zukri ketika saya melanjutkan kuliah ke Bandung pada pertengahan tahun 1984. Mengingat jauh merantau dari Pekanbaru – kota dimana saya mendewasa, saya memutuskan mencari tempat tinggal di Bandung yang dekat dengan mahasiswa yang berasal dari kampung halaman Banuhampu, Kabupaten Agam – Sumatera Barat. Rupanya ada asrama mahasiswa Banuhampu Bandung yang terletak di Jl Cisitu Baru No. 16 – dekat sekali ke pasar Simpang, kawasan Dago Utara – Bandung.

Kebetulan yang menjadi pengelola asrama mahasiswa waktu itu adalah abang Zukri. kami semua para yunior beliau memanggil dengan panggilan abang, sedang yunior lain yang bukan berasal dari Banuhampu ada juga yang memanggil beliau Uda Zukri dan belakangan setelah pulang ke kampung, ada panggilan lain yakni : Uwan Sukri.

Saya dan teman-teman yunior beliau mengidolakan Abang Zukri karena sangat senior diatas saya, dan telaten membimbing kami dalam berorganisasi. Abang Zukri adalah orator yang sangat piawai. Kami belajar mengemukakan pendapat dari para senior Mahasiswa Banuhampu Bandung dengan nama organisasi Gerakan Pemuda Banuhampu (GPB) Bandung. Belajar berdebat dipandu bang Zukri setiap bulan, khususnya dalam forum rapat di asrama. Kami mengistilahkan sebagai rapat kasir, dimana rapat itu membahas perhitungan pengeluaran kolektif bulanan, menyangkut biaya makan bulanan, sumbangan bulanan untuk asrama dan selanjutnya gaji bibik yang membantu masak sekalian laundry.

Disamping itu, ada juga asrama mahasiswa Minang Bandung di kawasan Cikutra, digunakan menampung mahasiswa Minang. Asrama Banuhampu sering kedatangan tokoh Sumbar dan Agam, baik dari pemerintahan dan DPRD. Kami berdiskusi tentang perkembangan kampung halaman dan selalu Abang Zukri yang menjadi moderator.

Setelah selesai kuliah saya bekerja di Bank Indonesia, pada tahun 1991 ditempatkan di Bank Indonesia Kantor Wilayah Sumbar, tepatnya di Padang. Hubungan personal kembali ter-rangkai dengan Abang Zukri, karena Abang-pun setamatnya kuliah juga kembali mengabdi ke kampung. Bersama kolega alumni Bandung, Abang mendirikan Lembaga pengembangan INS Kayutanam, dan berlanjut karena mendirikan sebuah LSM untuk sosial kemasyarakatan, yang saya lupa nama LSM nya. Biasanya pada hari libur /Minggu, saya mampir ke kantor Abang Zukri di Jalan Bandar Olo, untuk sekedar ngobrol atau temu kangen dengan teman-teman eks Bandung.

Ketika saya menikah pada tahun 1994 di Bukittinggi, abang Zukri berkesempatan hadir pada resepsi perkawinan kami. Saya ingat betul, Abang mengajak seorang gadis berbusana muslimah, yang mungkin pacarnya atau sedang pendekatan. Entahlah. Rupanya, memang sudah jodoh, karena setelah itu Abang resmi menikahinya. Alhamdulillah Abang jadi juga menikah, di umurnya hampir 40 tahun.

Kedekatan saya dengan Abang Zukri bertambah lagi ketika pada tahun 2006 kami sama – sama mendapat kesempatan menunaikan rukun Islam ke lima, yaitu ibadah Haji. Saya berangkat dengan isteri, abang Zukri dengan pak Can Toko Tiaga Padang kakaknya beserta isteri. Abang jadinya berangkat sendirian, karena Uni harus mengurus 3 orang anak-anaknya yang masih kecil. Kebersamaan kami mulai dari manasik haji selama 6 bulan di KBIH Nurzikrillah, di kawasan Sungai Lareh – Padang Pinggir Kota atau populer disebut Papiko. Lokasinya ditandai dengan miniatur Masjidil Haram – Makkah, dekat dengan lokasi tempat wisata Lubuk Minturun – Padang.

Begitu juga berangkatnya saya satu kelompok terbang (kloter) dengan abang Zukri, juga satu kelompok ibadah dan kebetulan lagi abang yang menjadi ketuanya. Karena kloter 1, setelah mendarat di airport jeddah, kloter ini naik bis menuju Madinah untuk kemudian lanjut ke Makkah. Selama perjalanan ibadah di Madinah dan Makkah, kami yang laki-laki dikelompokkan dalam satu kamar.

Abang Zukri orangnya suka keluyuran dan senang mencoba hal-hal yang baru. Waktu senggang di luar waktu shalat selama di Madinah dan Makkah, beliau sempatkan pergi ziarah dan jalan-jalan tempat- tempat yang tidak termasuk ziarah resmi rombongan, seperti ke Medan Magnet, ke peternakan onta, gua Tsur. Berbekal pengalamannya, beliau dapat saja tempat makan yang sesuai selera orang Indonesia. Setiap kembali ke maktab beliau selalu cerita pengalaman petualangannya. Abang Zukri senang jalan bersama Bung Hasril Chaniago (penulis biografi ini) yang juga menunaikan ibadah haji, tapi dari KBIH yang lain. Mereka nampaknya punya hobi sama. Mereka selalu sarapan dan ngopi pagi di emperan hotel Hilton, disisi luar pagar Masjidil Haram.

3 (tiga) hari menjelang wukuf di Arafah, saya dan keluarga mendapat ujian yang sangat berat. Anak perempuan saya yang bungsu, yang masih berusia 8 ½ tahun kelas 4 SD diambil Allah SWT. Kejadiannya, hari Senin tanggal 26 Desember 2006 saya menelepon ke Padang dari Masjidil Haram, namun tidak masuk-masuk. Perasaan saya tidak enak. Pada malam harinya setelah shalat maghrib di Masjidil Haram, saya terima beberapa sms dari kerabat yang intinya menasehati agar sabar, perasaan saya makin gundah.

Ternyata setelah bisa kontak ke Padang, anak saya sedang kritis di ICU RS Yos Sudarso. Malam itu juga, saya dan isteri tidak pulang ke hotel. Kami bermalam di Haram untuk menenangkan diri dan sepenuhnya berdoa. Saya telepon abang Zukri, memberitahukan bahwa anak saya sedang kritis di Padang. Abang Zukri menasehati supaya sabar dan berdoa serta bertawakal kepada Allah agar anak saya sembuh.

Ternyata Allah berkehendak lain, tepat di depan Ka’bah tempat kami bersimpuh, menjelang waktu subuh saya menelepon ke Padang, ternyata anak kami telah dipanggil Allah SWT. Abang Zukri beserta jemaah satu kloter-lah yang menguatkan mental serta menghibur kami selama sisa perjalanan haji sampai kembali ke tanah air. Bersama pembimbing ibadah haji dari KBIH, Bapak Prof. DR. H. Masnal Djazuli, Abang menyarankan untuk berdoa intensif suami istri, agar Allah kembali menganugerahi keturunan pengganti yang lebih baik. Alhamdulillah, kami dianugerahi kembali anak perempuan, walau istri sudah lama tidak melahirkan. Kini, sudah gadis 12 tahun, masuk SMP kelas 1 di kawasan pasar Minggu – Jakarta.

Sampai saat ini saya masih sering berkomunikasi dengan abang Zukri. walaupun sama-sama tinggal di Jakarta, tapi kami jarang bertemu. Ketemunya kalau ada alumni Banuhampu Bandung yang tinggal di Jakarta hajatan baralek mantu, biasanya kesempatan itu digunakan untuk reuni-an sesama alumni Bandung. Dengan adanya media komunikasi whatts-up, interaksi makin intensif untuk berkomunikasi, namanya group Alumni Banuhampu Bandung(ABB) dan group khusus Parak Banua, untuk dialog pembangunan dan rencana investasi di kampung halaman.

Selamat berhari jadi yang ke 65 tahun Abang Zukri. Semoga abang sehat selalu, usia yang barokah dan tetap berkarya untuk masyarakat banyak. Sebagai mana adagium GPB se Indonesia, “Untuk Nusa Kubangun Desaku”.

Depok, awal Juli 2020

————

Erizal, Alumni Banuhampu Bandung, Ahli Informasi Teknologi, pensiunan Bank Indonesia – Jakarta

Adikku Zukri | Azmi Saad