Menjadi Ideolog Lewat Cerita

Oleh : Agus Ekomadyo

Uwan Zukri in the Struggling. Tahun 2020 ini, ulang tahun Uwan Zukri Saad dirayakan dengan “kado” tulisan dari teman-temannya, termasuk saya. Rencananya, nanti akan dibukukan bila kondisi dukungan memungkinkan. Tentunya sebuah kehormatan buat saya. Agar menulis bukan menjadi beban, maka saya anggap menulis adalah bagian ber-media sosial, part of lifestyle, mengisi “waktu senggang”. Sekaligus menjadi “writing in the making”.

Karena sdg mendalami Actor-Network Theory, tentu ini mempengaruhi tulisan saya tentang beliau. Kalau Bruno Latour menggunakan “Following Scientist and Engineer in Societies”, saya coba mengikuti kiprah Uwan Zukri dalam masyarakat. Untunglah beliau orang yg gemar bercerita. Meski tidak bisa mengikuti langsung, bisa tergambarkan bagaimana relasi-relasi sosial yang mempengaruhi apa yang diperjuangkan Uwan Zukri.

Yg paling khas dari beliau bagi saya adalah menjadi “Ideolog”. Di zaman yg serba pragmatis dan artifisial seperti sekarang ini, ideologi seakan menjadi bagian masa lalu. Seperti runtuhnya tembok Berlin, usainya perang dingin, dan berakhirnya sejarah. Namun tidak dalam relasi Uwan Zukri dan saya. Ideologi, yang secara harfiah adalah seperangkat pengetahuan tentang gagasan-gagasan, menjadikan diskusi kami lumayan intensif dan hangat. Seusai berdiskusi dengan beliau, ada saja ide-ide yg masih tersimpan di kepala dan terbawa ke mana-mana.

Ideologi Lewat Cerita. Uwan Sukri, ini memang gudangnya cerita. Istilah “Ideolog” ini juga saya cuplik dari beragam cerita beliau. Waktu itu beliau cerita saat dimintai saran seorang petinggi negara ketika diminta menjadi Rektor sebuah universitas. “Wah, Bapak nggak cocok jadi rektor, karena bapak bukan seorang Ideolog”. Ideolog, lho, ya, orangnya. Bukan ideologi, barangnya, seperti yang lebih diberikan kepada kita. Lewat Uwan Sukri, “ideolog” jadi kosa kata baru bagi saya, bahwa kita pun bisa membangun seperangkat ide untuk mempengaruhi orang lain, dan bukan disuruh untuk mengikuti seperangkat ide yang dibangun oleh orang atau kelompok lain. Orang biasa-pun bisa dikategori ideolog karena mampu mengubah pandangan dan pola pikir lingkungannya.

Nah, modal cerita ini yang membuat Uwan sering bertemu dan kemudian berteman dengan para petinggi negara. Misalnya, saat Uwan dipanggil oleh presiden kedua RI, pak Harto. Dari mahasiswa hingga kini, Uwan dikenal sebagai pengritik pemerintah. Maka, panggilan sang “Bapak ” kepada salah satu “Anak Pembangunan” adalah untuk melunakkan relasi-relasi antara yg mengritik dgn yg dikritik. Hubungan mereka menjadi langgeng, sehingga menjelang Pak Harto berpulang, Uwan masih sempat menjenguk akmarhum ke rumah di Cendana untuk bersilaturahmi.

Namanya juga seorang Ideolog, dipanggil orang paling berpengaruh di Indonesia saat itu tak membuat Uwan merasa kalah pamor. Dengan merendahkan diri, merasa tersanjung diperhatikan khusus oleh Presiden RI, Uwan tak lupa “meninggikan mutu”: “Meskipun Bapak adalah Presiden dari 130 juta rakyat Indonesia, saya presiden juga, lho, pak”. “Presiden apa, dik”, pak Harto akhirnya terpancing kepo. Uwan mengaku (kena deh bapak, dlm hati), “Presiden Friends of the Earth”. Ya, ini adalah semacam LSM Internasional yg memberi nama jabatan pemimpinnya dengan sebutan presiden. Lalu Uwan bercerita, bagaimana lewat jaringan internasional yg dimiliki ia bisa menipu Paus. Dan cerita ini membuat Pak Harto tertawa-tawa mendengarnya. Ah, kok jadi ingat Gus Dur membuat Bill Clinton terbahak2 saat diceritain hantu-hantu di Gedung Putih.

Uwan Zukri dan Kertas yang Dibakar. Apa persamaan cerita Batman dan cerita Uwan Zukri Saad? Bukan…bukan urusan daleman. Juga bukan urusan heroisme, karena Uwan bukan vigilante dan berjuang lewat advokasi. Ini cerita ttg “No Way Back”.

Dalam film Batman Dark Knight Rises, dikisahkan ada sebuah penjara di dalam gua bawah tanah yang jalan keluarnya adalah lubang di atas tanah setinggi 50 meter dari dasar gua. Para tahanan mencoba peruntungan untuk melarikan diri dgn memanjat tebing gua menuju lobang. Tak ada yang berhasil, namun juga tak ada yg mati atau cidera, karena mereka memanjat tebing dengan tali pengamat. Sampai seorang anak gadis berhasil lolos, karena ia berani memanjat tebing tanpa tali pengaman. Tali ternyata juga memenjara pikiran, nggak lolos nggak papa toh ada pengaman. Beda dengan sang gadis kecil yang hanya berpikir lolos atau mati. Dan ia lolos.

Menjadi aktivis di tengah masyarakat menjadi pilihan jalan hidup Uwan Zukri. Pilihan yang suatu saat menghadapkan Uwan untuk terus bersama masyarakat atau kembali beralih menjadi karyawan biasa. Di tengah hutan perenungan personalnya, Uwan Zukri akhirnya memutuskan melepas tali pengaman perjuangannya: dibakarnya kertas yang menegaskan bahwa ia telah lulus sebagai Sarjana Kimia ITB. Tak ada lagi jalan kembali, tak ada perusahaan yang percaya keahliannya tanpa kertas penanda itu. Namun itu yang membuat Uwan berjibaku untuk terus mendampingi masyarakat. Di tengah hutan, dengan pasokan beras kiriman. KIprah berlangsung tahun ke yahun, hingga ia menjadi salah pimpinan LSM terkemuka di Indonesia.

Konon, ketika perang kemerdekaan Amerika, George Washington juga membakar perahu saat setelah menyeberang sungai. Karena nggak ada jalan pulang, pasukannya bertempur untuk maju terus supaya selamat dan akhirnya menang! Membakar kapal, seperti Uwan membakar kertas penanda sarjana, ternyata jadi ungkapan populer kini.

Dan Uwan Zukri maju terus dengan gagasannya untuk memajukan masyarakat. Aneka cerita ia sisipkan dalam rangka menyebarkan ide-idenya. Orang boleh tidak setuju dengan ide2, namun sewajarnya akan tertarik dengan cerita-ceritanya. Menjadi Ideolog lewat cerita. Itulah legasi Uwan Zukri melewati usia biologis 65 tahun. Selamat Ulang tahun, teruslah berkiprah dan jangan pernah berhenti.

Bandung, 5 September 2020

————

Dr. Agus S. Ekomadyo, Alumni ITB angkatan 91, mengajar di Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung, menetap di Bandung. Minatnya adalah tentang Inovasi Budaya (dan juga Budaya Inovasi). Dikenal sebagai “Ahli Pasar” karena sering membagi cerita saat “blusukan” ke pasar rakyat, meski juga sering berbagi cerita “blusukan” ke tempat-tempat eksotik lainnya. Perkenalannya dengan Uwan Zukri, juga Anshori Djausal, yang dianggapnya sebagai mentor memantapkan pemikirannya tentang kemaslahatan teknologi – termasuk desain lingkungan binaan – bagi masyarakat, melalui pendekatan budaya.

Adikku Zukri | Azmi Saad