Menyerak Hujan dari Lukisan Langit Wan Zukri

Oleh : Dina Kartika Sari

Nama Zukri Saad kudengar pertama kali disebutkan oleh kawanku “Al Japang” pada September 2007, saat itu aku sedang mengikuti training Pemandu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang difasilitasi oleh project USAID-ESP. Sebuah Program konservasi dan jasa lingkungan yang didanai oleh USAID dan tersebar di 4 propinsi Indonesia. Pak Zukri Saad hadir sebagai undangan dilokasi training BPTP Solok pada salah satu malam diskusi kelompok yang selalu dilakukan peserta training setelah selesai jadwal makan malam. Saat itu aku sungguh tak paham bahwa yang hadir itu adalah seorang aktivis senior yang sudah malang melintang didunia konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Kali kedua kudengar nama yang sama disebutkan seorang pimpinan di perusahaan sawit yang akan mewawancaraiku saat memperkenalkan diri sebelum sesi wawancara dimulai.

Pertengahan September 2015 itulah awal persinggunganku secara professional dengan Pak Zukri Saad. Aku menjadi bagian dari tim beliau dibawah payung Direktorat Sustainability Sinarmas Agribusiness, dengan posisi sebagai Specialist Community Development di Departemen CSR Strategic.

Seminggu bergabung, aku langsung dapat penugasan ke dusun Bian – desa Tua’ Abang, salah satu desa binaan perusahaan di kecamatan Semitau, kabupaten Kapuas Hulu – Kalimantan Barat. Dari hasil studi lapangan yang dilakukan, lahirlah sebuah program pemberdayaan ekonomi yang menyasar isu keamanan pangan – food security, dalam bentuk pengembangan sayur pekarangan dan budidaya padi darat organik. Pada fase perancangan program, Pak Zukri Saad banyak memberikan masukan dan pandangan dengan pengetahuan dan pengalaman beliau yang berlimpah. Satu pesan yang masih kuingat adalah Pak Zukri Saad memintaku agar tidak membatasi kreatifitasku dalam memfasilitasi implentasi program tersebut.

Setahun lebih aku bolak-balik Semitau-Jakarta dengan pola 3 minggu di lapangan 1 minggu di kantor Jakarta. Hingga masyarakat dusun Bian mengalami perubahan paradigma dalam memandang diri dan potensi desa mereka, dalam bentuk perwujudan sekitar 40 rumah memiliki kebun sayur dipekarangannya. Perkembangan positif lainnya adalah masyarakat mampu menghasilkan panen beras 3 kali lebih banyak dari produksi yang selama ini mereka peroleh dengan pola tanam lama, sesuai kebiasaan yang sudah dilakukan secara turun temurun.

Capaian ini sedikit banyak telah membuka pemahaman para pengambil kebijakan perusahaan, tentang pola interaksi sosial yang berbeda dalam membenahi kondisi hubungan dan komunikasi yang kurang harmonis dengan desa-desa sekitar kebun.

Apresiasi atas perubahan positif masyarakat desa ini, ditunjukkan dengan hadirnya pimpinan tertinggi perkebunan Kalimantan Barat dan pimpinan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu ke lokasi implementasi program. Selain untuk melihat langsung perubahan yang terjadi, juga untuk berdialog langsung dengan masyarakat dan pemerintahan desa tersebut.

Pak Zukri Saad punya cara berbeda dengan pimpinan yang lain dalam menunjukkan dukungan dan apresiasi atas capaian anggota timnya. Suatu hari aku mendapat panggilan dari Pak Zukri Saad untuk menghadap beliau diruangannya. “Dina, ini semua salahmu! Terlalu seksi kau buat program Food Security yang di dusun Bian itu,” ucap Pak Zukri Sa’ad padaku dengan nada gusar begitu aku datang menghadap ke ruang kerjanya. Aku tertegun. Tak tau harus merespon apa. Setelah senyap menguasai sejenak ruangan itu aku pun bertanya, “Itu kan proyek percontohan. Bapak minta aku berkreasi semaksimal mungkin. Aku sudah melakukan apa yang aku bisa. Mengapa pula sekarang aku yang disalahkan?” Kalimat itu ku ucapkan dengan ekspresi tidak terima sambil mendudukkan diriku pada salah satu kursi dihadapan meja kerja Pak Zukri Saad.

Dalam pertemuan itu Pak Zukri Saad menyampaikan kepadaku bahwa pola-pola interaksi yang diterapkan di dusun Bian tersebut akan diadopsi oleh perusahaan. Selanjutnya akan diterapkan pada desa-desa binaan perusahaan di beberapa kabupaten berbeda, yakni kabupaten Gunung Mas (Gumas) – Kalimantan Tengah, Kabupaten Ketapang juga di Kalimantan Barat dan Kabupaten Indragiri Hilir – Inhil di Propinsi Riau. Diskusipun berlanjut diselingi corat-coret dibuku catatan sambil sesekali reflek berdiri menuju whiteboard untuk menuangkan ide-ide strategik inovatif yang muncul untuk mengantisipasi perubahan kebijakan internal yang terjadi. Begitulah bentuk dialog dan komunikasi keseharian antara aku dan pimpinanku. Ditantang dulu, baru buat rencana bersama. Itulah, Pak Zukri Saad akhirnya terbiasa kupanggil “Wan Zukri”.

Dua tahun berada dibawah koordinasi dan kepemimpinan beliau, tanpa disadari telah terbangun pola dan gaya berkomunikasi yang mungkin tampak kurang lazim bagi para pekerja kantoran umumnya. Kegusaran pimpinan ditanggapi oleh bawahan dengan kalimat-kalimat tanya yang membutuhkan penjelasan. Kalimat-kalimat argumentatif dilontarkan dengan penuh semangat dalam diskusi-diskusi, hingga terkadang luput mengendalikan volume suara yang mulai menarik perhatian rekan kerja lainnya. Sungguh komunikasi yang unik antara pimpinan dan bawahan. Namun keunikan gaya berkomunikasi itulah yang justru menciptakan relasi inter-antar personal yang menyamankan satu sama lain, tanpa mengurangi kesantunan dan sikap profesionalitas masing-masing.

Wan Zukri selalu punya ide-ide brilian dan kreatif dalam mengembangkan suatu kondisi sosial-ekonomi di wilayah unit usaha perusahaan. Dengan pengalamannya, beliau mampu membungkus partikel heterogen interaksi sosial di suatu kawasan, melalui satu konsep besar yang melibatkan banyak komponen dan sumberdaya. Sebuah pendekatan yang akan memberikan dampak positif-progresif bagi para pemangku kepentingan di wilayah tersebut, khususnya untuk peningkatan citra positif perusahaan.

Aku menyebut ide-ide brilian dan kreatif itu sebagai konsep “melukis langit”. Lukisan-lukisan langit yang digambarkan Wan Zukri dalam gambar besat – “Big Picture” itu, terkadang sulit dikunyah dan dicerna oleh pihak pendengarnya. Sehingga sering muncul reaksi penolakan diawal-awal pemaparan beliau, karena dianggap terlalu ideal dan mustahil untuk bisa diwujudkan.

Strategi yang Wan Zukri lakukan adalah membangun tim yang punya berbagai kemampuan spesifik, sehingga bisa menjabarkan konsep besar tersebut dan saling melengkapi dalam implementasinya. Sehingga konsep besar itu bisa diuraikan bagian-perbagian dan tahap-pertahap agar rasional untuk dilakukan. Dibutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan manajerial dan teknis yang spesifik untuk mengurai awan menjadi hujan – dalam lukisan langit Wan Zukri – agar butir-butir air hujan sampai ke bumi dengan ukuran, waktu dan lokasi yang tepat.

Selayaknya tim yang berisi orang-orang dengan kemampuan teknis spesifik, tentu juga memiliki karakter yang spesifik pula. Pergesekan ide dan ego kerap muncul dalam proses finalisasi konsep akhir. Namun Wan Zukri selalu punya cara untuk mengelola dan mengendalikan situasi yang terkadang meruncing dan memanas, menjadi kondisi yang kondusif untuk bekerjasama tanpa menghilangkan motivasi berprestasi diantara anggota timnya. Tak banyak pimpinan yang kukenal memiliki kemampuan tersebut, Wan Zukri adalah salah satunya.

Kemampuan mengelola anggota tim yang berkarakter spesifik cenderung unik tentu bukan hanya diperoleh dari panjangnya perjalanan karir seorang Zukri Saad. Kemampuan itu juga merupakan bagian dari karakter Wan Zukri yang bisa terbilang unik. Bagaimana tidak unik? Dari sekian pimpinan yang kukenal, Wan Zukri adalah pimpinan yang tidak menciptakan jarak dengan anggota timnya. Beliau tidak sungkan untuk bergabung minum kopi bersama anggotanya di warung kopi pinggir jalan belakang kantor atau makan di warung nasi yang sangat sederhana di setiap lokasi tugas yang dikunjunginya.

Bagi Wan Zukri, perbedaan posisi dalam struktural perusahaan hanya berlaku dalam urusan bekerja professional. Sementara dalam pergaulan sosial kemasyarakatan, beliau lebih menempatkan diri sebagai abang, sahabat atau orangtua. Sering kami terkaget-kaget dibuatnya, ketika beliau mendatangi meja kerja kita, lalu duduk dikursi yang kosong dan memulai percakapan dengan pertanyaaan, “Anakmu sehat? Bagaimana kuliahnya?”

Maka, tak heran bila Wan Zukri satu-satunya pimpinan di Direktorat Sustainability yang paling tahu masalah personal setiap anggota timnya. Tidak hanya sekedar mengetahui saja, beliau juga selalu meluangkan waktu sebagai tempat mencurahkan cerita suka dan duka seluruh anggota timnya yang terkadang dilengkapi dengan saran, nasehat dan solusi baik. Diminta atau pun tidak. Kepedulian yang berlebih itu tentunya bertujuan baik. Agar stabilitas motivasi dan produktifitas kerja anggota timnya tetap terjaga.

Ada kemampuan unik lainnya yang dimiliki Wan Zukri. Beliau mampu melihat aura tubuh seseorang, saat beliau menggunakan kemampuan tersebut. Selama menjadi anggota tim Wan Zukri, aku mengalami beberapa kali keterkejutan atas kemampuan unik beliau ini. Satu hari aku disapa oleh Wan Zukri, saat baru sampai di kantor pagi itu. “Kau sedang memendam kemarahan terhadap siapa Dina? Merah semua kulihat aura dibadanmu.” Aku tergugu. Keterkejutan yang tak bisa kujabarkan. Bagaimana bisa beliau sampai tahu, bahwa aku sedang marah besar saat ini?

Di hari lain, saat berdiskusi santai diruangannya, Wan Zukri menyampaikan bahwa sesungguhnya aura asli diriku adalah hijau. Orang yang beraura hijau, katanya “tidak bisa jadi pedagang, karena hatinya terlalu lunak. Gampang luluh terhadap kesulitan orang lain. Tak cocok untuk negosiasi dalam transaksi jual beli”. Saat itu aku tertawa lebar dan membenarkan analisa Wan Zukri yang diberikan terhadapku tanpa kuminta. Dengan kemampuan uniknya yang satu itu, Wan Zukri seperti memiliki “Mata Langit”. Tak banyak emosi yang bisa kita sembunyikan darinya.

Melakukan perjalanan dinas bersama Wan Zukri selalu menyenangkan. Banyak pembelajaran yang bisa diserap. Beliau sangat kritis dalam melihat potensi dan masalah disuatu wilayah. Dalam kunjungan dinas tersebut, – biasanya kegiatan survey awal sebuah pilot project -, kami kerap mencoba memetakan beberapa potensi yang ada (alam, manusia, budaya lokal, ekonomi, konflik sosial serta kebijakan pemerintah tentang isu tertentu) dan menyusun puzzle konsep besar yang mungkin untuk diterapkan di wilayah tersebut. Yang menarik bagiku adalah aku merasa bisa mengikuti alur pikir Wan Zukri, yang bagi sebagian orang terlalu mustahil untuk diimplentasikan.

Setiap kali Wan Zukri mulai menyapukan kuasnya untuk melukis langit membentuk konsep besar, menggambarkan keterkaitan antara langit, matahari, awan, angin dan manusia yang ada dibumi, aku pun mulai membayangkan bagaimana menyerakkan awan pada lukisan langit itu agar terburai menjadi titik hujan yang akan menyirami bumi beserta isinya.

Dari mana memulainya? Apa dan bagaimana bentuk program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat dengan memaksimalkan semua potensi yang ada? Apa saja yang perlu dilakukan? Bagaimana cara melakukannya? Siapa-siapa saja stakeholder yang akan terlibat? Apa keuntungan dan manfaat yang diperoleh oleh masing-masing pihak? Dukungan apa saja yang dibutuhkan dan dari mana saja bisa didapatkan? Pada tahapan mana saja perusahaan bisa berkontribusi? Kebijakan internal dan ekternal yang mana yang bisa menguatkan? Berapa lama proses tersebut sebaiknya dilakukan? Apa ukuran capaian keberhasilannya dan bagaimana cara mengukurnya? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang bermunculan dalam proses membumikan lukisan langit Wan Zukri tersebut. Proses-proses pembelajaran yang kuperoleh selama menjadi bagian dari tim Wan Zukri mematangkan kapasitasku dalam menjalankan peranku sebagai salah satu tim sosial di perusahaan ini. Proses belajar tanpa ruang kelas yang kesempatannya tidak didapatkan oleh setiap orang. Betapa beruntungnya aku.

Saat ini sebagian dari lukisan langit Wan Zukri telah terealisasi dibeberapa wilayah usaha perkebunan Sinarmas. Meski belum seluruhnya dapat diimplementasikan. Perjalanan mengurai awan menjadi hujan ini masih cukup panjang. Masih butuh kondisi suhu yang tepat dan sesuai agar hujan bisa terbentuk lebih banyak dan airnya dapat menyirami bumi sesuai harapan.

Cara-cara kerja yang telah dicontohkan oleh Wan Zukri bersama timnya yang selama ini sudah dilakukan, masih terus berjalan meski tidak lagi dibawah pengawalan beliau. Pondasi dari metode bekerja tersebut adalah warisan yang ditinggalkan oleh Wan Zukri. Warisan berharga yang bisa dijadikan acuan bagi perusahaan dalam melakukan interaksi sosial diseluruh wilayah bisnis perusahaan berada. Terima kasih Wan Zukri.

Jakarta, Akhir September 2010

————

Dina Kartika Sari, pernah belajar di IKIP Jakarta, menetap di Jakarta. Mengalokasikan hampir seluruh waktu produktifnya untuk memfasilitasi pengembangan masyarakat melalui isu pertanian berkelanjutan, perhutanan sosial dan saat ini menjabat Technical Lead Strategic CSR di perusahaan sawit besar yang mengelola perkebunan berpendekatan sawit berkelanjutan. Mantan wartawati ibukota, berpengalaman bekerja dengan Lembaga pembangunan Internasional dari berbagai Negara dan terlibat dalam program recovery Propinsi Aceh Paska Tsunami.