Pelajaran Dan Inspirasi Dari Zukri Saad

Oleh : Risfan Munir

Walaupun kami sama-sama Alumni ITB, namun pertemuan saya dengan Uwan Zukri Saad justru setelah kami bekerja, khususnya dalam pemberdayaan ekonomi lokal. Pada sekitar tahun 2006/2007 saya berkiprah dalam pemberdayaan ekonomi lokal di delapan provinsi, termasuk Sumatera Barat, atas dukungan LGSP-USAID. Berbicara tentang pemberdayaan ekonomi lokal di Sumatera Barat, tidak mungkin tidak tentu perlu permisi dan melibatkan Uwan Zukri Saad, karena  beliau adalah jawaranya. Dari serial loka-latih, pendampingan bersama dengan peserta dari beberapa kabupaten/kota di Sumatera Barat itu, kami menjadi lebih kenal.

Itulah perkenalan saya secara tatap muka, dan menyaksikan aksi Uwan Zukri dalam memfasilitasi sesi-sesi pemberdayaan ekonomi lokal, yang diikuti oleh unsur birokrat Pemda kabupaten/kota, para pelaku ekonomi lokal (UMKM), para pendamping lokal, pemangku kepentingan terkait lainnya, dan kelompok masyarakat.

Pada waktu itu Uwan Zukri dengan akrab dan luwes mengajak peserta untuk berpartisi dalam mengenali potensi dan unggulan daerahnya, dari situ suasana yang terbangun auranya menjadi positif, percaya pada potensi daerah dan kemampuan insani dan lembaga-lembaganya untuk berkembang. Berikutnya peserta diajak untuk mengimpikan masa depan daerah mereka, wajah ekonomi daerah yang dicitakan di masa depan. Peserta antusias berpartisipasi dengan serius tapi dalam suasana santai. Setelah tiap kelompok peserta menyusun visi dan impian masa depan daerahnya, mereka difasilitasi untuk bersama menyusun program dan rencana tindakan.

Terus terang saya terkesan, karena selama loka-latih berlangsung, yang terjadi bukan debat konsep dan keluhan, atau kritik kepada Pemda, tetapi bersama menginventarisir potensi, kekuatan daerah (SDA, UMKM, insani dan lembaga yang ada), lalu berani mengimpikan masa depan daerahnya, bermimpi, dan kemudian menyusun langkah untuk mencapainya. Kesan ini saya sampaikan ke Uwan Zukri, sambil menikmati hidangan nasi kapau di suatu kedai di antara Bukittinggi dan Padang Panjang. Uwan Zukri menjawab bahwa dia memang menerapkan Appreciative Inquiry, dan pengalamannya sebagai fasilitator Scenario Planning. Dua pendekatan ini saya catat sebagai bagian dari jurus andalannya.

Dari perkenalan selama fasilitasi pemberdayaan ekonomi lokal yang mengesankan tersebut, yang saya pikir semacam “gunung es” dari pendekatan Uwan Zukri, saya coba menggali lebih jauh ilmu, kiat, knowledge yang layak dipetik dari kawan saya ini. Melalui obrolan dengan Uwan Zukri, serta informasi dari teman-teman serta pejabat yang kenal, dan terutama dari tiga buku kumpulan tulisan/esai inspiratif Uwan Zukri yang ditulisnya dalam rentang waktu 2003 – 2015 (“Partai Lokal”; “Menyimak Pengalaman Oita”; dan “Menjemput Masa Depan: Tawaran Berbasis Pembangunan Berkelanjutan”). Saya mencoba mengambil pelajaran dan inspirasi dari Uwan Zukri, terutama dalam kaitan dengan pengembangan wilayah dan pemberdayaan ekonomi lokal.

Appreciative Inquiry. Salah satu pelajaran dari Uwan Zukri ialah penerapan Appreciative Inquiry (AI) yang mewarnai pendekatannya dalam mempelajari potensi wilayah, manusia dan alamnya. AI merupakan cara pandang yang mendahulukan melihat kekuatan/potensi (strengths) dan peluang-peluang (opportunities), berbeda dengan pendekatan lain yang bisanya mulai dari identifikasi masalah. Dalam pendekatan AI, dikenal istilah SOAR – strengths, opportunities, aspirations, results (Cooperrider, 2005).

Saya simpulkan bahwa dalam berbagai kesempatan, Uwan Zukri selalu melihat potensi bentang alam suatu wilayah (bio-region), bukit-bukitnya yang subur dengan vegetasinya yang potensial secara ekonomi dan pelestarian lingkungan, danau-danau dengan potensi panorama dan perikanannya, bentangan pantai dan pulau-pulau serta ombaknya yang potensial bagi berkembangnya kehidupan nelayan, potensi bagi pengembangan pariwisata marina (marine tourism), dan sejenisnya. Begitu pula kepercayaannya atas kemampuan dan kearifan penduduk lokal (insani) dalam pemberdayaan ekonominya. Sebagaimana serial esai inspiratifnya tentang potensi di wilayah Bukit Barisan, ide selendang gunung dan aliansi Bukit Barisan; lalu potensi sungai dan danau-danau (Singkarak, Maninjau) yang ada di Sumatera Barat; serta tentang potensi pesisir, pantai, laut dan pulau-pulaunya – hingga kepulauan Mentawai (buku “Menjemput Masa Depan”, 2015)

Sambil melihat dan mengidentifikasi potensi alam dan manusia di tiap wilayah, Uwan Zukri, sekaligus juga punya kepekaan untuk melihat peluang-peluang pendaya gunaan potensi atau kekuatan-kekuatan tersebut menjadi peluang bagi pemberdayaan ekonomi lokal, sekaligus melihat pilihan pendekatan yang lebih sustainable, dengan tetap mengindahkan pelestarian lingkungan. Dalam serial esai inspiratifnya, Uwan Zukri, memerankan diri sebagai Bio-Regional Planner, mengajak semua pihak terkait untuk mengeksplorasi dan mengembangkan melalui pemberdayaan petani, nelayan dan kelembagaan local, untuk usaha tani, nelayan, dan produksi yang inovatif dan mengedepankan konservasi lingkungan.

Scenario Planning. Sejalan dengan pendekatan Appreciative Inquiry (AI), setelah mengajak audiens untuk mengidentifikasi kekuatan/potensi (strengths), dan peluang-peluang (opportunities), selanjutnya audiens diajak untuk berani menatap masa depan, merancang cita-cita, atau visi apa yang dapat diimpikan oleh semua pihak bagi peningkatan kualitas hidup warga dan wilayahnya. Disinilah kepiawaian Uwan Zukri sebagai scenario planner dalam memandu dan memotivasi audiens untuk dapat merangkai scenario masa depan, melukiskan impiannya setinggi dan sekongkrit mungkin. Semua pihak secara nyaman menjadi lebih berani dan percaya diri untuk menuangkan ide-ide dan harapannya.

 

Kemudian, setelah terbangun visi dan gambaran masa depan yang diimpikan tentang wilayah/daerahnya, audiens diajak untuk lebih konkrit memikirkan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk dapat mencapai hasil (results) sebagaimana visi yang diimpikan. Dengan demikian Visi tersebut bukan hanya mimpi semata, namun dapat disusun program/kegiatan, rencana aksi dalam mewujudkannya, termasuk pembagian peran untuk semua pelaku potensial, siapa harus melakukan apa, baik dalam hal pekerjaan, sumber pembiayaan, dan pola kerjasama diantara para pemangku kepentingan (stakeholders) potensial.

Mengenai Scenario Planning yang diterapkannya, sebetulnya Uwan Zukri mengkritisi Perencanaan Strategis (Strategic Planning) yang biasa digunakan oleh teknokrat dan birokrat yang menurutnya sepihak, berdasarkan pendekatan teknokratis untuk mengatasi masalah semata. Padahal menurutnya, perencanaan bukan hanya mengejar target yang kuantitatif diterministik berorientasi mengatasi masalah saja, tetapi justru membangun harapan, impian bersama semua pihak terkait, menggapai misteri dan harapan-harapan masa depan yang terbentang luas. Dalam Scenario Planning, dia tegaskan: prosesnya diawali dengan (a) identifikasi pengalaman terbaik untuk (b) menemukan mimpi terindah. Selanjutnya, (c) dialog mencari dan memilih jalan terbaik, dan (d) kumpulan inovasi tentang apa yang akan dikerjakan, dirancang dalam wujud peta jalan (road-map) pembangunan (buku “Menjemput Masa Depan”, hlm 39). Ditegaskannya, bahwa perancangan skenario pada hakikatnya ialah konstruksi sosial atas realitas sumber daya alam dan sumber daya insani yang dimiliki suatu wilayah/komunitas, ditunjang oleh kekuatan imajinasi para perencana, yaitu warga wilayah itu sendiri difasilitasi oleh pendamping.

Perencanaan Skenario (Scenario Planning) ini telah diterapkan oleh Zukri Saad di berbagai wilayah dan kesempatan, termasuk di antaranya dalam: pengembangan wilayah pesisir dan kepulauan, perikanan serta pemberdayaan ekonomi nelayan di pesisir Sumatera Barat, pantai barat dan timur Aceh, kepulauan Sangihe-Talaud, Teluk Bone, dan lainnya; pemberdayaan petani hortikultura di kawasan Bukit Barisan di Sumatera Barat, dan beberapa wilayah dan komunitas lainnya; serta dalam pemberdayaan nagari-nagari di Sumatera Barat sendiri.

Salah satu skenario dan aspirasi warga yang digarap oleh Uwan Zukri secara konsiten sejak awal ialah pemberdayaan nagari-nagari dengan konsep One Nagari One Product, konsep yang dia adopsi dari OVOP (One Village One Product) yang dipelajarinya secara langsung dari prefektur Oita di Jepang (buku “Menyimak Pengalaman Oita”, 2012). Dalam hal ini Uwan Zukri tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi terjun langsung sebagai petani hotikultura, berinovasi dengan pertanian organik, dan bersama para petani lainnya secara berkelompok merintis dan mengusulkan beberapa hal dalam peningkatan produksi, pemasaran, dan penguatan kelembagaannya.

 

Arranger Kerjasama dan Kemitraan. Dari konsep berpikir, pengalaman, dan hasil kerja Uwan Zukri-nya, tentunya generasi muda dapat belajar dari kepiawaian dan ketekunan, konsistensi Uwan Zukri sebagai wirausahawan sosial (social entrepreneur) dalam mengajak, menjalin kerjasama para pihak terkait, baik dari kelompok masyarakat, LSM, unsur-unsur Pemda dan lembaga yang ada di suatu wilayah untuk bekerjasama, saling berkontribusi dalam mencapai impian daerahnya, atau mengatasi/ menghadapi permasalahan tertentu.

Pendekatan yang dikembangkan dan diterapkan oleh Uwan Zukri bukan pendekatan teknokratis, yang hanya dirancang di atas meja, tapi dikembangkan dan diterapkan bersama para pihak yang terkait (stakeholders). Uwan Zukri memetakan pihak-pihak yang potensial dapat berkontribusi untuk mendukung visi pengembangan wilayah (bioregion) dan pemberdayaan ekonomi masyarakatnya. Bukan hanya memetakan, tetapi mengajak, mempersuasi para pihak tersebut untuk berkontribusi, sesuai motif dan kemampuan sumberdaya yang mereka miliki. Melalui fasilitasi atau pendampingan yang dilakukan oleh Uwan Zukri dan Timnya, banyak pihak menjadi terpanggil untuk berkontribusi secara terpadu, sehingga sasaran hasilnya dapat terwujud, atau mendekatinya.

Dalam pengembangan Bio-Region dan pemberdayaan masyarakatnya, Uwan Zukri mengetengahkan pendekatan Membangun Sistem. Suatu wilayah diasumsikan terdiri dari unit-unit kawasan yang masing-masing mempunyai produk unggulan, antara unit-unit kawasan tersebut diajak menjalin kerjasama saling komplementer, bekerja sama membentuk skala ekonomi optimal (economic of scale), dan mata-rantai pasok (supply-chain dan value-chain). Pada tiap unit kawasan dilakukan pendekatan pemberdayaan pengembangan produk unggulan tertentu (one product), sesuai perannya dalam mata rantai pasok wilayahnya (buku “Partai Lokal”, hlm 75). Dengan demikian, konsep pendekatan One Nagari One Village pun bukan berarti semata pembangunan per-nagari, tetapi jejaring nagari yang saling bekerjasama membentuk rantai pasok sistem ekonomi Provinsi Sumatera Barat. Bukan dalam bidang ekonomi wilayah saja, Uwan Zukri juga menawarkan ide Sinergi Regional dalam mengelola potensi dan risiko kebencanaan suatu daerah aliran sungai (DAS), seperti idenya tentang sinergi manajemen Bio-Region DAS di “Sumatera Barat – Riau – Jambi,” yang diutarakannya di hadapan para Alumni ITB dari tiga provinsi tersebut (buku “Menjemput Masa Depan”, hlm 403).

Berbagai kelembagaan, jaringan kerjasama, kemitraan, aliansi yang diusulkan, dan dijalin oleh Uwan Zukri di berbagai daerah di tanah air, beberapa di antaranya: membangun sinergi perikanan dan pelestarian pantai di Sangihe – Talaud (Sulawesi Utara), membangun kerjasama dan sinergi pengembangan kawasan rumput laut di Teluk Bone, memperkuat  kembali kelembagaan Panglima Laot paska tsunami di pantai barat dan timur Aceh, dan berbagai usulan serta inisiasi di Provinsi Sumatera Barat sendiri, termasuk : mengusulkan kerjasama 7 kabupaten/kota di pesisir barat Sumatera Barat dalam pengembangan wilayah pantai dan kepulauan untuk menggali potensi perikanan, pertambangan dan pariwisata; usulan untuk membangun Aliansi Bukit Barisan yang meliputi daerah-daerah (10 kabupaten/kota), dimana berada delapan gunung (Merapi, Singgalang, Talamau, Tandikek, Sago, Talang, Bungsu, dan Kerinci), dan lima danau (Maninjau, Singkarak, Danau Diatas, Danau Dibawah, dan Danau Talang) dalam kesatuan Bio-Regional (buku “Menjemput Masa Depan”, 2015).

Terakhir, kalau boleh menyarankan, ada sebaiknya Uwan Zukri Saad banyak melakukan kaderisasi, kiprah dalam pendidikan yang telah dimulainya sejak aktif dalam Perguruan Kayu Tanam. Berbagai pelatihan dan kaderisasi fasilitator dan aktivis pemberdayaan masyarakat dalam pemberdayaan ekonomi komunitas/lokal dan pelestarian lingkungan, maupun kewirausahaan sosial – perlu ditular kepada generasi penerus. Kaderisasi tidak hanya dalam bentuk memberikan kuliah di kelas, tetapi juga dalam praktik mengajak komunitas mampu mengidentifitasi potensi dan peluang, dan memotivasi para pihak untuk berani mengimpikan masa depan, merancang masa depan.

Dengan demikian, generasi penerusnya tidak perlu selalu harus “menemukan roda lagi” (reinvent the wheel), mulai dari awal, tetapi maju, praktik dengan bekal yang cukup dalam menerapkan Appreciative Inquiry, Scenario Planning, dan pengetahuan teknis dalam menjalin kerjasama (arranging), membangun hubungan jejaring (connecting people) diantara para pihak yang punya potensi dan seharusnya berperan, sebagaimana pengalaman Uwan Zukri Saad. Selamat Ulang Tahun, semoga selalu sehat, barokah dan produktif berkarya.

Jakarta, 22 Juni, 2020

————

Ir. Risfan Munir MSc., Alumni jurusan Planologi, Fakultas Tehnik Sipil dan Perencanaan – Institut Teknologi Bandung, dan Urban & Regional Planning dari University College London dan Finance dari The University Of Texas at Arlington. Saat ini menetap di Jakarta. Mengalokasikan hampir seluruh aktifitasnya profesionalnya sebagai Regional & Local Economic Development Planner untuk proyek World Bank, USAID, ADB dan Bappenas.

Adikku Zukri | Azmi Saad