Sahabat Zukri, Sang Pendobrak

Oleh : Ahmad Syarmufni

Aku sama sekali tidak terkejut, ketika seseorang berkata lirih, “ijazah ITB-nya dia bakar Pak”. Sang pendobrak memang bukan orang kebanyakan, tekadnya, istiqamahnya, keberaniannya, keuletannya, kesabarannya dan ketangkasannya, dalam mendobrak kebuntuan, sungguh sesuatu yang langka. Kebetulan aku tak pernah menilai sesuatu dari kegemilangan, tapi sangat mengagumi dan menghormati niat, keringat dan darah yang tertumpah dari sebuah perjuangan.

Karena diujung perjuangan selalu berlaku intervensi Allah, untuk memutuskan memberi yang terbaik pada sang pejuang. Kalahkah, lukakah, menangkah, syahidkah, semuanya menjadi anugerah Allah, karena sang pejuang telah berikrar untuk siap dan ikhlas menerima apapun hikmah dan karuniaNya, agar lulus dalam ujian yg diberikan Sang Khalik. Itulah yang aku lihat pada dirinya.

Bagiku Zukri Saad adalah sahabat sejati, yang hangat, humoris, penyabar, pemaaf, setia dan murah hati. Bertahun kami terpisah jauh, namun kenangan padanya tak pernah hilang di hati. Sejak remaja hingga manula kini, semangatnya tak pernah berubah. Bara di matanya tak pernah redup, gurat luka-lelah perjuangan di wajahnya, tak mampu meredupkan auranya.

Suatu ketika kamar kost-ku di Yogya, diketuk seseorang. Dia muncul begitu saja seolah malaikat maut. “Zukri, darimana loe bisa tau gue kuliah dan kost disini”?. Dia tak mau menjawab, juga tak menjelaskan untuk apa mencariku. Dia telah menempuh ratusan kilometer hanya agar dapat bertemu dan bersilaturahmi dengan sahabatnya. Alangkah mulianya hatimu.

Aku tak pernah lupa celotehnya ketika mengisahkan senda guraunya dengan presiden, ketika berpeluh yang tercampur tanah saat menekuni kebun perjuangannya, saat berlelah letih memajukan sekolah binaannya, saat melanglang buana menjadi pendekar lingkungan bagi negerinya. Kiprahnya di industri, kegiatan sosial yang tak terhitung, entah apa lagi yang masih engkau simpan dariku.

Zukri juga rajin membuat buku, seolah tak mau berpisah dengan kenikmatan menjadi pejuang, membagikan pengalaman untuk mencerahkan. Aku jadi teringat ucapan pak rektor kami dulu, “buku adalah pengawetan ilmu”. Engkau benar sahabatku.

Aku kembali terkejut ketika pesannya tiba-tiba masuk ke handphone ku, memintaku agar menulis untuknya, untuk dimasukkan pada buku memoar ulangtahunnya yang ke 65. Apa yang bisa kutulis untukmu sahabatku?. Engkau telah terbang jauh tinggi mengarungi langit, sedang aku hanya diam duduk di sini.

Setujukah engkau bila kukatakan, kita selama ini mungkin telah keliru, karena terlalu gandrung menekuni ayat-ayat alam semesta, namun lupa menekuni ayat-ayat kitabullah, yang berisi petunjuk, yang hanya dengan mengikutinya barulah manusia dapat mudik pulang ke kampung halaman di surga.

Nenek moyang kita adalah penduduk surga, sedang kita adalah makhluk abadi yang nanti akan pulang menetap selamanya di sana, jika dan hanya jika, kita lulus pada ujian di dunia ini. Jadi, dengan cara apa sisa umur kita akan kita arungi?, setelah 65 tahun kita habiskan?, bila tidak mendekatkan diri kepadaNya, agar diterimaNya tobat kita?.

Tentu engkau akan menyanggah sahabatku, karena hingga di akhir hayat, amar-ma’ruf nahi munkar akan tetap menjadi kewajiban kita. Apakah engkau bermaksud akan beribadah, makan dan tidur saja sambil menanti mati?. Bagaima jika Allah memberimu 120 tahun?. Sahabatku, saat ini kita sedang menyaksikan dan sekaligus mengalami derita kerusakan di muka bumi, akibat ulah tangan manusia.

Telah 6 bulan pandemi menerpa dunia, yaitu ketika kita memilih hidup bersama Sarskov-2, namun ternyata tak sanggup. Ilmu manusia dalam mengatasi virus ternyata hanya terbatas pada membuat vaksin, yang pembuatannya butuh waktu sekurangnya satu tahun. Jadi ummat manusia harus menunggu hingga awal 2021, itupun jika berhasil.

Dan setelah 6 bulan pandemi, barulah manusia yakin, bahwa sarskov-2 dapat mengambang di udara, tertiup angin ke seluruh penjuru dunia, ketika manusia yang mati telah lebih dari setengah juta. Dulu ketika Uni Sovyet runtuh, aku bergumam, ya Allah bagaimanakah cara Engkau nanti, ketika meruntuhkan Amerika yang sombong itu?. Virus inikah sekarang jawaban-Mu?. Bahkan bersama negaraku juga?.

Zukri sahabatku, disaat aku kehilangan kacamata 10 kali sehari, karena lupa menaruhnya, engkau masih bicara perjuangan ke masa depan. Nanti setelah aku mati duluan, kemudian engkau juga menyusul mati, ketika tak engkau temukan aku di surga, tolonglah tanyakan kepada Allah dimana sahabatmu ini berada, mintalah agar Dia mengampuniku, menyelamatkanku dan mengijinkan aku menetap bersamamu di surga.
Selamat ulang tahun ke 65 wahai sahabat setia. Semoga bahagia selalu dalam lindungan Allah subhanahu wata’ala.

Jakarta, 20 Juli 2020

————

Ir. Achmad Sjarmufni M.App.Sc, Free-lance geologist (mineral exploration), pensiunan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang menetap di Jakarta. Menempuh pendidikan di Akademi Geologi dan Pertambangan (AGP), Bandung; S1 Teknik Geologi – Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan S2 dari Applied Geology, University of New South Wales, Sydney – Australia. Mengikuti berbagai pelatihan dalam dan luar negeri. Memiliki kompetensi teknis di bidang Uranium Exploration; Nuclear Power Plant Siting; Nuclear Power Plant Radioactive; Waste Disposal Siting; National/International Scientific Seminars/Conferences; Scientific Auditor/Reviewer.

Adikku Zukri | Azmi Saad