Sang Penggugah Bernama Zukri Saad

Oleh : Fadli Rustam

Saya mengenal lebih utuh sosok Bang Zukri (selanjutnya disingkat ZS), demikian biasa dia dipanggil, waktu itu tahun 1986, saat dimana sebagai mahasiswa baru Fak. Pertanian Universitas Andalas, saya ikut kemah bakti mahasiswa di Komplek Institut Nasional Syafei, INS Kayu Tanam – Kabupaten Padang Pariaman – Sumbar. Tempat dimana ketidaklaziman berlangsung saat itu adalah, bagaimana mungkin segerombolan alumni ITB yang dipimpin oleh ZS mendedikasikan umur dan waktunya untuk pengembangan sebuah lembaga pendidikan  dengan pola aktif- kreatif-positif.

Tidak lazim waktu itu, kami mahasiswa baru melihat alumni lulusan perguruan tinggi terbaik di Indonesia, berkiprah terpuruk-puruk diperkampungan dengan tanpa gaji, sementara di kota besar banyak perusahaan besar menjanjikan gaji besar. Dua hari lamanya, siang malam, saya dan kawan kawan mahasiswa baru beserta senior, dikompori tentang hakekat insan terdidik beserta cerita pergerakan mahasiswa zaman Dewan Mahasiswa, ketika ZS di Bandung dulunya.

Bang Zukri, demikian panggilan akrab ZS oleh kawan kawan jaringan LSM Indonesia, sedang lebih dekat lagi kawan kawan aktivist LSM Lingkungan Hidup & Pemberdayaan Masyarakat di Sumbar memanggil ZS dengan panggilan Uwan, panggilan khas daerah darek di Sumbar untuk sosok orang dekat yang lebih tua dan dihormati.

Perkenalan berlanjut lebih mendalam lagi adalah tersesatnya dijalan yang benar, perjalanan hidup saya ke aktivitas  Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan Hidup karena berinteraksi dengan akhirnya hanyut terpengaruh oleh kiprah seorang ZS. Dimulai sejak tahun 1986 sebagai mahasiswa, saya di kampus aktif menjadi anggota Kelompok Pencinta Alam, yang kemudian kelompok ini menjadi anggota jaringan nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia yang di pandu ZS. Kami dikompori atau tepatnya dimentori ZS supaya mendirikan sebuah LSM sendiri, lembaga terpisah dari kampus, mengelola kegiatan sendiri, untuk seutuhnya merdeka berkegiatan dalam arti sebenarnya.

Kalau didalam kampus untuk berkegiatan, perlu minta izin dan restu dulu serta direcoki oleh penguasa kampus untuk aturan ini dan itu. ZS memasukkan rasa, kemudian menjadi pilihan sikap, yaitu menjadi manusia merdeka, dimulai dengan merdeka berkegiatan. ZS dikenal kawan-kawan aktivis LSM/NGO di Sumatera Barat sebagai peletak sejarah berkiprahnya  LSM/NGO Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Masyarakat. Belakangan saya tahu, di berbagai Propinsi ZS ikut membidani kelahiran kelahiran LSM/NGO Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Masyarakat  ini. Itulah mulai saya melihat bagaimana Jaringan LSM Sumatera Barat, Jaringan LSM Sumatera dan Jaringan LSM di Indonesia dirajut oleh ZS.

Untuk Indonesia, saya melihat ZS dikenal sebagai Net worker dan pe-Lobby handal. Kemampuan orasi yang menggugah dan memikat, dengan pilihan kata-kata berkelas intelektual membumi, buah pikiran ZS cepat dipahami. Kemampuan mencerahkan pikiran dengan semangat pemberdayaan masyarakat tertindas membuat ZS menampilkan warna tersendiri. Semangat dan antusiasme yang selalu ditanamkan adalah,  ketika berinteraksi dengan pihak penguasa adalah semangat “tegak kepala tidak menunduk”. Berani berdebat duduk semeja dengan penguasa, adalah kata kata sakti kala itu yang selalu di lontarkan ke kami sebagai kawan aktivis muda. Jangan punya mental penjilat, walau dengan ndoro (donor) sekalipun.

Mem-frame pembicaraan dan percakapan dengan semangat pemberdayaan masyarakat disertai ide, inovasi, solusi dan kerangka berpikir dan berkegiatan serta menginspirasi menjadi keseharian ZS. Hanya ada satu kata, memang luar biasa.  ZS sungguh sangat handal. Berlanjut meramu dalam skenario planning yang menampakkan dan diwarnai kesan Partisipatif, Kesetaraan, Kolaborasi, Inovasi dan Konklusi dari persoalan dan rangkaian kegiatan yang ada.

Pada pertemuan jaringan LSM Indonesia bagian Barat dan Indonesia bagian Timur tahun 1990-an, saya masih kuliah saat itu dengan konsekwensi bolos 3 minggu kuliah, ikut dalam kegiatan Learning and Linkageuntuk LSM kecil di Indonesia yang didukung oleh Badan Kerjasama Pembangunan Internasional, saya melihat kepiawaian ZS dalam meramu situasi dan kondisi. Perjalanan panjang dengan kapal laut beberapa hari dengan kawan kawan jaringan LSM Indonesia bagian Barat setelah menyusuri Kepulauan Mentawai, berlanjut dengan pertemuan dan pembicaraan  diatas kapal menuju Jakarta. Dari Jakarta berlanjut perjalanan darat menyusuri pulau Jawa, menuju Bali untuk pertemuan Nasional Jaringan LSM Indonesia Barat dan Jaringan LSM Indonesia Timur di Bali. Puncaknya di Bali tersebut saya melihat, sebagai pemandu pertemuan,  ZS mengkondisikan hari pertama pertemuan sidang, menolak bantuan yang didukung oleh Lembaga Pembangunan Internasional ini untuk fase kedua. Kondisi LSM yang ikut pertemuan saat itu adalah LSM kecil-kecil, yang kegiatannya sangat terbatas karena dukungan pendanaan tak jelas, walau begitu semangat beraktifitas tetap tinggi. Seakan akan kompak bersama menolak uluran dan tawaran grant/bantuan tanpa syarat sebuah Lembaga Pembangunan Internasional. Hari kedua paginya pertemuan Jaringan LSM ini tetap menolak kegiatan selanjutnya. Saya melihat Country Representative Lembaga tersebut, bule Amerika, raut mukanya berubah dari kesan putih, menjadi biru, merah, hijau, karena menahan ragam perasaan dan emosi. Mau membantu pihak yang akan dibantu belum bersedia menerima. Suasana tentu bercampur aduk. Bahkan ada kata kata,  to hell with your aids.

Kehandalan ZS adalah menghantarkan suasana sidang yang menolak pada awalnya, tetapi menerima pada akhirnya dengan semangat kesetaraan, kesepahaman, dan  elegan bagi semua pihak. Mensejajarkan diri tidak membungkuk atau menghamba pada kekuasaan, tegak kepala dalam berhadapan dan duduk semeja dengan terhormat, baik dengan penguasa maupun donor asing/internasional sekalipun.

Semangat kemandirian, keswadayaan, totalitas dan Integritas dalam berkegiatan ini selalu yang dipesankan ZS dimana saja. Saya dan kawan kawan muda ZS  mendapatkan itu, dampak perkawanan. Sebuah pilihan sikap tentunya. Posisi strategis LSM/NGO dalam mengambil segmen aktifitas, selalu di lontarkan ZS adalah,  “Tidak strategis LSM/NGO berkegiatan pada bidang bidang kegiatan, ketika tangan-tangan pemerintah sudah sampai disana”. Untuk apa sekedar kegiatan replikasi dan duplikasi, minim kreasi dan aktifitas. Istilahnya sekedar jadi “Pengrajin” atau sekedar kelas “Tukang”.

Menjadi pemeo dan sindirin ZS waktu itu dalam interaksi beraktifitas, kelas LSM/NGO masuk dalam kategori, LSM pelat merah, LSM pelat kuning dan LSM pelat hitam. Juga ragam pekerjaan yang dipelesetkan seperti ayam kampung dan ayam ras. Ayam kampung pagi sudah lepas dari kandang, berbulu kurik kurik dan tidak seragam, paruh dan jengger penuh luka kerena berjuang dalam keseharian, mengais makanan, entah ada atau tiada makanan, bersaing , berebut pengaruh dan  menguji keberanian .Tidak mapan. Namun harga dan nilai telur ayam kampung senantiasa selalu  diatas harga pasaran telur. Ayam ras berbulu seragam, ada meja dan kursi, disekap dalam kamar untuk beraktifitas, diberi dan tersedia makan teratur, diminta bertelur kalau perlu dua sehari, senantiasa dalam masa produktif, kalau tidak akan diselesaikan dalam fase dipensiunkan alias disembelih. Harga telur ayam ras biasanya lebih rendah dari ayam kampung.

Semangat anti kemapanan inilah juga yang selalu ditularkan oleh ZS ke banyak kawan, terutama kawan-kawan muda. Masuk dalam zona kemapanan membuat orang tidak  maju-maju, minus tantangan cenderung tidak berpikir kreatif dan enggan punya terobosan. Istilahnya main aman. Semangat tidak masuk dalam zona zaman itu selalu dijaga dan di tularkan ZS ke siapa saja dan dimana saja.

Berinteraksi dengan ZS dan melihat aktifitas yang dilakukannya, saya dapat memahami bahwa Pendidikan Tradisional kita mengalami perubahan pesat, setidaknya dalam wujud fisik. Menurut ZS terlihat runtuhnya nilai-nilai lama dan kemudian didominasi ide-ide masyarakat moderen. Konsekwensi modernisasi inilah kemudian menjadi fungsi-fungsi kehidupan lebih beraneka ragam. Pembicaraan dengan ZS tentang pendidikan formal, telah memberikan gambaran yang kurang menggembirakan.  Menurutnya Sistem Pendidikan yang dianut  telah menghasilkan lulusan yang hanya bisa menggantungkan diri pada ketersediaan lapangan kerja dari pemerintah dan sektor swasta. Sangat terlihat bersifat elitis, berorientasi keatas, mengagungkan kerja otak tapi mengabaikan kerja fisik, tercerabut dari akar budaya/tradisi sebagian besar masyarakat pendukungnya, mengandalkan diploma/ijazah serta kurang memperhitungkan prestasi dan kiprah sehingga tidak pernah relevan dengan kebutuhan pembangunan bangsa dan negara umumnya.

Dapat dikatakan sistem formal pendidikan ini sebagai sesuatu yang kurang produktif, tidak siap memasuki dunia kerja , meningkatkan pengangguran, tidak memiliki sikap mental aktif-kreatif-positif, miskin inovasi, serta berpola administratif yang hanya relatif cocok mengisi sektor kerja di perkotaan. Hal ini dalam pemahaman Z.S, cukup merisaukan, mengingat ditimbulkannya konflik antara sistem nilai desa dan kota, antara masyarakat lapis bawah yang tidak mendapat  sarana  cukup untuk hidup disektor moderen dengan lapis menengah–atas yang mampu hidup disektor moderen.  Ini dipahami karena dulu sistem kolonial yang cenderung membutuhkan sedikit orang terdididik untuk melayani sektor administratif perkantoran serta serba sedikit tenaga ahli di bidang produksi, sehingga wajar saja kalau ditemui kekurangan.

Sistem pendidikan bukan lagi cerminan keadaan masyarakat, tapi sudah menjelma menjadi masyarakat kecil yang lain, yang terpisah dari keseharian kehidupan dalam arti luas, yang berbeda coraknya dengan lingkungan dimana ia berada. Sistem pendidikan moderen itu telah melakukan pelembagaan nilai nilai yang akhirnya hanya menimbulkan polusi fisik, polarisasi sosial dan impotensi psikologis. Tiga dimensi dalam suatu proses degradasi global dan kesengsaraan moderen. Imajinasi murid hanya dilatih untuk sekedar menerima jasa, bukannya membentuk nilai dan sikap. Mereka telah dididik sehingga kekurangan kemampuan  menghadapi sekitarnya, hilang kepercayaan diri dan itulah kemiskinan struktural.

Sistem pendidikan akhirnya hanya menawarkan seberkas barang dagangan , suatu komoditi paket nilai dengan daya tarik tinggi, yang lazim disebut ijazah. Sikap dan rasa serta pemahaman seperti itulah selalu di tularkan oleh ZS kepada sejawat aktivist terutama yang muda muda. Bahkan dibeberapa forum pertemuan yang saya ikuti, ZS mengatakan dengan lantang bahwa ia sudah membakar ijazahnya. Maksudnya adalah sebagai sebuah pilihan sikap untuk totalitas dilajur oposisi dan manusia merdeka.

Tahun 1990-an sebagai Koordinator Daerah Wahana Lingkungan Hidup Sumbar, saya ikut forum  Nasional dan Internasional yang saat itu pertemuan diadakan untuk menggugat PT Freeport dengan jaringan Internasional FoE (Friends of the Earth) yang di pimpin tokoh dunia, Al Gore waktu itu. Pertemuan dengan utusan anggota FoE dari berbagai negara, serta juga hadir beberapa orang  Kepala Suku dari Papua dan juga dari Jaringan Wahana Lingkungan Hidup seluruh propinsi di Indonesia. Itulah gugatan serius dan sangat berani, dengan memperkarakan PT Freeport secara terbuka. Saya melihat kejadian langka saat itu dimana sebuah perusahaan di perkarakan secara bersama dan terbuka. Terjadi debat dari banyak peserta berbagai negara yang harus dihadapi oleh manajemen PT Freeport saat itu. Pertemuan ini dalam sessi tertentu dihadiri oleh Petinggi Kementrian LH. Menjelang acara sessi itu dimulai saya melihat keakraban seorang ZS dengan Menteri Lingkungan Hidup waku itu, Ir. Sarwono Kusuma Atmaja. Diruang samping acara ZS nampak meng-update informasi dan perkembangan acara. Terlihat sangat akrab dengan panggilan Mas Sarwono,  diselingi canda dalam pembicaraan. Kami yang dari daerah juga diajak berbaur bersama bicara.

Menumbuhkan banyak Jaringan LSM di Indonesia adalah gawean ZS. Salah satunya, jaringan LSM konservasi, kurun waktu akhir tahun 1980-an, ZS memfasilitasi bertemunya beberapa LSM dengan DHV Konsultan dari Belanda menyusun rencana kegiatan untuk kegiatan Hibah sebuah Badan Pembangunan Kerjasama Internasional. Disanalah dikembangkan pemahaman ternyata banyak LSM kecil, gurem. Tetapi kalau berjaringan akan lebih kuat dan punya posisi tawar lebih. Di rajutlah Jaringan LSM untuk Sumatera Bagian Tengah. Bersepakat LSM Lima Propinsi di Sumatera berjaringan untuk berkegiatan konservasi di daerah penyangga TNKS di lima Propinsi dengan istilah Warung Informasi Konservasi disingkat WARSI,bersama WWF Indonesia. Berkegiatan membangun Kesepakatan Konservasi Desa-Desa disekeliling kawasan Taman Nasional. Perjalanan panjang jaringan ini dari awal dengan dengan semangat kesetaraan, keterbukaan dan kemandirian melalui juga fase naik turunnya LSM berjaringan. Dari semangat sebagai Jaringan Institusi LSM, dipertengahan perjalanan berubah menjadi perkumpulan perorangan, jadilahPerkumpulan Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, disingkat KKI Warsi. Perubahan Yayasan menjadi Perkumpulan salah satunya disebabkan adanya perubahan perundang undangan tentang Yayasan setelah era reformasi. Sampai sekarang Perkumpulan Komunitas Konservasi Indonesia Warsi masih eksis berkiprah di Indonesia.

Untuk  Propinsi Sumatera Barat sosok ZS cukup mendapat tempat, terlihat beberapa Gubernur dan Bupati/Walikota sejak ZS “pulang kampung” merasa perlu saran dan pertimbangan serta solusi kekinian yang mungkin dapat dilakukan daerahnya. Banyak kegiatan dan seminar serta pertemuan terkait saran dan kontribusi pikirannya dalam pembangunan Kabupaten – Kota.. Pemahaman Keminangkabau-an ZS sangat mumpuni, diimbuh kearifan dan kiat-kiat cerdik dan cerdas serta diplomasi dalam berinteraksi, mewarnai pembicaraan dan tulisan ZS.

Kesan intelektual juga terlihat dengan sangat banyak-nya koleksi buku-buku tentang Minangkabau, Adat Istiadat, Tokoh Daerah, Nasional dan Internasional. Buku-buku pikiran Pembangunan Tokoh tokoh Nasional dan Internasional. Buku-buku langka dalam dan luar negeri. Serta dizaman Orde Baru dulu ada juga buku-buku terlarang beredar dimiliki oleh ZS. Beberapa souvenir khas daerah Indonesia dan cendera mata dari banyak negara terlihat melengkapi penampilan di ruang kerja Z.S.

Mampu mengendalikan forum dalam jumlah audience besar dalam satu pertemuan, disertai kemampuan sebagai fasilitator pertemuan andalan yang bergaya bersahabat untuk sebuah proses penyelesaian masalah atau resolusi konflik sesuai tema pertemuan. Pilihan bahasa dan kata kata memikat pendengar dan pembaca tulisannya yang mudah dimengerti dan dipahami. Kemampuan membuat gurauan segar dan kekinian dalam pembicaraan, ber-empati dengan sahabat lama nampak dari meluangkan waktu untuk  berkunjung atau menelepon walau sekedar say hello sudah lama tak bersua, apalagi kalau sahabat lama itu sedang kesusahan dan kemalangan, tidak berat langkah mengunjungi.  ZS mengatakan itu sebagai The Power of Silaturrahmi.

Memposisikan orang per-orang dan sesuatu pada tempatnya, sesuai alur dan kepantasannya. Tetap masih ingat nama-nama orang yang pernah dikenal dimana saja dan kapan saja. Memasuki masa usia lansia muda ini,  ZS jangan pernah berhenti beraktifitas. Kemampuan menggugah siapa saja dengan warna dan kesan spesifik ZS yang kadang banyak ditiru oleh kawan kawan muda ZS, dan membuat kagum pemegang kekuasaan dan penguasa.

Berharap derap langkah terus diayunkan ZS, sebagai Sang Penggugah. Dimana saja, dikegiatan apa saja, dalam lingkar kekuasaan maupun luar lingkar kekuasaan, dalam kegiatan berbayar dan tidak berbayar, peran strategis ZS adalah sebagai advisor, pencerah dan penebar semangat. Kita tentu berharap sosok ZS tetap rajin bertandang ke tempat handai-taulan karib kerabat, tetap menjadi tuan rumah yang hangat ketika dikunjungi. Tetaplah bersemangat menjadi nara sumber dan motivator dalam banyak pertemuan. Baik dalam kegiatan swasta maupun di pemerintahan. tetaplah memberi pemahaman, konsep dan skenario berkegiatan yang tepat guna, tepat lokasi dan tepat waktu. Sembari juga tetap sebagai kolumnis  diberbagai media dan juga penulis buku. Selamat menyusuri fase umur Lansia Muda, yang penting tetap ada istilah “Muda” !!.

————

Ir. Fadli Rustam, Sarjana Teknik Pertanian , Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas, menetap di Padang. Semenjak kuliah sampai sekarang aktif di beberapa LSM Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan Hidup. Menjadi Konsultan Pembangunan untuk banyak program pemberdayaan di Indonesia yang dibiayai hibah negara donor. Saat ini sudah memasuki dua periode bertugas menjadi Dewan Pengawas Perumda Air Minum Kota Padang.

Adikku Zukri | Azmi Saad