Sang Polimatik

Oleh : Vera Yuana

Excited, ketika saya menerima pesan Uwan Zukri, begitu saya memanggilnya, untuk menulis tentang beliau selama saya mengenalnya. Sebagai seseorang yang terus berproses belajar dalam menginspirasi masyarakat, melalui tulisan dan buku dengan visi serta misi berbeda, permintaan tersebut tentulah menjadi sebuah kehormatan yang luar biasa, melihat latar belakang pengalaman Uwan Zukri yang telah teruji mumpuni.

Sejujurnya saya sempat bimbang akan mengangkat sisi yang mana dari seorang Zukri Saad. Karena saya yakin, orang-orang hebat di luar sana, yang juga mengenal Uwan Zukri, lebih ahli menuliskan relationship mereka dengan metode kepenulisan yang jauh lebih baik dan berbahasa tingkat tinggi. Berbekal rangkaian kata sederhana sebab tak berlatar belakang jurnalis dan bukan seorang yang ahli merangkai kata, saya mencoba mengingat kembali perjalanan saya bertemu Uwan dalam bentuk feature yang mengandung unsur human interest.

Mengenal seorang Zukri Saad, membuat memori saya terlempar jauh kembali ke masa lalu, tepatnya pada bulan Juni tahun 2000, kala pertama kali saya mengetahui telah lahir sebuah surat kabar independen bernama Harian Mimbar Minang yang berkantor di Jl. Patimura No 18 Padang. Berbekal hasrat ingin resign dari pekerjaan lama dan mengincar salah satu posisi yang diiklankan Harian Mimbar Minang pasca satu tahun berdiri, saya melewati yang namanya rekruitmen regular.

Singkat cerita, saya berhasil mengalahkan 100-an pelamar untuk maju pada tes terakhir, Interview/Wawancara dengan Pimpinan Harian Mimbar Minang. Ada dua kandidat yang tersisa termasuk saya salah satunya dan kami berdua harus bersaing memperebutkan satu posisi strategis, dengan menghadapi tiga tim penguji, Zukri Saad sebagai Ketua Koperasi Ekuator Minang Media, Alm. Rusdi Zen sebagai Pimpinan Perusahaan Harian Mimbar Minang dan Edy Utama sebagai Anggota Dewan Redaksi Harian Mimbar Minang.

Tes wawancara berjalan lancer, kendati saya harus dikepung oleh tiga orang ini dengan pertanyaan yang berbeda. Dua orang terlihat sanggar yakni Uwan Zukri dan Rusdi Zen sedangkan satunya lagi nampak jauh lebih ramah. Tak banyak saya ketahui tentang Uwan kala itu, selain wajahnya yang serius. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya mulai mengenal kiprahnya melalui beberapa tulisan beliau di Harian Mimbar Minang yang tersaji rutin setiap hari Senin di kolom Insiprasi, termasuk cerita-cerita positif yang kadang beredar di antara para karyawan. Meski tidak selalu mengikuti tulisan Uwan karena kesibukan, namun nama Zukri Saad sudah sangat familiar di telinga  saya.

Sejujurnya, sebagai salah satu karyawan tetap di Harian Mimbar Minang, yang ditugaskan sebagai Kepala Personalia, secara hierarki pekerjaan memang tak berhubungan langsung dengan Uwan. Otomatis komunikasi dengan Uwan, tidaklah terlalu intens. Di samping tidak berkantor di kantor yang sama, kedatangan Uwan ke jalan Patimura 18, selalu luput dari perhatian saya. Entah pada waktu-waktu kapan saja beliau datang, saya benar-benar tidak mengetahuinya. Bahkan di setiap perayaan Ulang Tahun Perusahaan pun, Uwan boleh dikatakan jarang hadir karena aktifitas kemasyarakatannya yang seabreg.

Kalau boleh membuka sedikit rahasia, dulu saya selalu berusaha untuk tidak sering bertemu Uwan, komunikasi pun janganlah acapkali dilakukan. Pemahaman saya yang masih terbatas tentang sosok Uwan Zukri, membuat saya lebih senang menghindarinya. Di mata saya Uwan terlihat seperti seorang ilmuwan layaknya Albert Einstein berkaca mata, menghasilkan ide dan gagasan yang sama sekali tak terpikirkan oleh orang kebanyakan. Bukankah sejumlah ilmuwan dikenal dengan kepribadian mereka yang eksentrik dan polimatik, dengan pengetahuan yang tidak terbatas hanya pada satu bidang? Kadang seorang ilmuwan yang polimatik, bisa dituduh tak dapat memahami keterbatasan otak yang dimiliki orang lain, kendati itu butuh pembuktian.

Bagi saya, Uwan adalah Sang Polimatik itu. Sempat terpikir, bicara dengan Uwan berarti harus bicara soal keilmuan. Tentang kimia, tentang lingkungan, tentang alam, tentang kompleksitas kemasyarakat, tentang ekonomi rakyat serta lainnya dan saya paham betul, keilmuan saya belum merambah sampai ke sana. Saya hanya paham hukum, kepersonaliaan dan sedikit dunia psikologi dari kebiasaan membaca.

Dalam perjalanan pekerjaan, keinginan saya untuk seminim mungkin berinteraksi dan berkomunikasi dengan Uwan, ternyata tidak dikabulkan Allah, justru malah sebaliknya. Pertemuan dan komunikasi malah terjadi di luar rencana, kala Uwan berhasil menjahit kumpulan tulisannya yang terbit di Harian Mimbar Minang dalam keindahan sebuah buku yang yang berjudul “Inspirasi”. Sesuai dengan nama kolom yang diasuhnya. Sepengetahuan saya, Insiprasi adalah buku pertama Uwan yang diterbitkan oleh Pustaka Mimbar Minang pada tahun 2001. Sayalah orang yang diamanahkan Uwan untuk mendistribusikan bukunya pada dua toko buku yang cukup besar di Kota Padang. Kepercayaan itu akhirnya terus berlanjut tatkala Uwan kembali menerbitkan buku ke dua yang berjudul “Imajinasi Sosial” tahun 2003.

Diberi amanah seperti ini membuat saya belajar banyak hal, termasuk bagaimana mendistribusikan buku. Pengalaman belasan tahun itu, membawa pengaruh positif bagi pemasaran dan distribusi buku karya saya sendiri hari ini, Senandung Sabai (novel, 2015), Tulisan Pun Ikut Berbisik (kumpulan tulisan dan quotes dari media sosial saya, 2017 ) dan Kidung Kambari (novel, 2018). Ketiga buku ini pun akhirnya bertengger di toko buku yang sama dengan buku Uwan di Kota Padang.

Membaca tulisan-tulisan Uwan tampak jelas bahwa Uwan bukanlah orang yang berkarakter ceroboh. Biasanya orang-orang yang memiliki berjuta ide dan gagasan seperti Uwan termasuk dalam kategori serius, penuh perhitungan dan jenius. Terbukti pilihan Uwan untuk memilih profesi yang melenceng dari gelar akademiknya (Jurusan Kimia-ITB), bukan sebuah candaan. Tulisan-tulisannya pun bukan recehan. Semua pasti membutuhkan pemikiran, perenungan, pertimbangan dan imajinasi yang tidak bisa dicokol dalam waktu sehari.

Kecintaannya terhadap alam dan lingkungan serta wisata bahari dan kenelayanan rakyat, membuat Uwan memilih jalur aktivitas yang anti mainstream dengan ritme kerja bertempo tinggi. Beliau persis kutu loncat yang setiap saat bisa berpindah-pindah lokasi dengan aktivitas yang padat. Kecintaan yang dilatarbelakangi minat, memang impian banyak orang, karena bekerja sesuai passion seperti hobi yang dibayar. Hebatnya, Uwan berhasil membuktikan itu, termasuk passion menjadi seorang petani sayur-sayuran bervisi alami di dataran tinggi Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Uwan selalu menyebut aksi berkebunnya itu dengan istilah Merantau Ke Kampung Halaman, Baliak Ka Nagari.

Mengikuti pemikiran Uwan, menurut saya, tidaklah mudah. Uwan adalah seseorang yang tidak bisa dijangkau kedalaman otaknya. Kecepatannya di dalam mengolah ide selalu saja tidak biasa. Disaat kita baru mulai belajar menemukan konsep dari sebuah ide, Uwan malah telah menerapkan ide konsep itu dengan segala variable pemikirannya. Di kala kita masih berjuang menjalankannya, Uwan justru telah selesai dengan itu dan memulai ide dengan konsep baru. Jangan heran kalau kita membutuhkan kolaborasi dari ketajaman pikiran dan imajinasi tanpa batas, untuk bisa masuk ke alam pikiran Uwan dan berjalanan beriringan bersamanya. Tidak mudah memahami ide, gagasan dan pemikiran seorang Uwan, apabila kita gagal berimajinasi serta memahami kecerdasannya berpikir. Uwan bukan saja ahli di dalam mengkonsep ide dan gagasan, tetapi dia juga ahli membuat skenario perencanaan.

Skenario yang dirancang Uwan, bukan sebatas teori tetapi kadang dia juga menjadi penggerak – boleh disebut pemain – dari beberapa skenario itu. Uwan mencoba menerapkan metodologi skenario dalam melakukan tugas profesionalnya sebagai konsultan di berbagai bidang. Salah satu di antaranya adalah ketika Uwan menawarkan gagasan “soft landing mine closure scenario” dalam upaya merehabilitasi lahan bekas tambang nikel di Kabupaten Luwu Timur di batas garis Wallacea.

Skenario itu menghadirkan tahap awal pengembangan Saweri Gading Botanical Garden di jantung kota Sorowako, dilengkapi taman tambang dan persiapan kawasan konservasi bekas tambang Bukit Butoh. Hari ini, wilayah tersebut sudah masuk dalam destinasi wisata di Luwu, Sulawesi Selatan. Bahkan proses berkelanjutan ekosistem, proses penghijauan bekas tambang, masih terus berlangsung. Tumbuhan sebagai wadah, dibibitkan sendiri dengan terus melindungi flora asli dari daerah.

Skenario penutupan tambang ini sebagai tempat wisata alam yang bernuansa ilmu pengetahuan, lingkungan dan tekhnologi, berjalan baik. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, Sorowako menjadi rujukan bagi para ahli, peneliti, pelajar, ekowisatawan serta menjadi pusat pengetahuan botani, kawasan konservasi, pendidikan dan penelitian.

Sebagai seorang yang memiliki banyak ide, gagasan dan pemikiran, Uwan paham betul, kelebihan yang dimilikinya itu tidak akan bermamfaat jika hanya disimpan dan dinikmati sendiri. Uwan merasa butuh sarana, untuk bisa menuangkan dan menyatukan pikiran-pikiran yang berserakan untuk bisa dilemparkan ke ruang publik. Akhirnya Uwan menemukan siasat paling klasik, menjembatani keinginannya itu dengan cara menulis.

Menurut saya, menulis adalah sebuah proses yang sangat personal. Ada kalanya ekspresi-ekspresi spontan dalam tulisan lahir dari pengalaman perasaan serta kedalaman pikiran penulis. Namun tak jarang juga terlahir dari aktivitas membaca, hasil dari mendengar pengalaman orang lain yang menyentuh dan reaksi dari melihat kejadian yang melekat ke jiwa. Saya yakin, proses menulis Uwan telah melewati fase tersebut sehingga buku-bukunya menjadi rujukan bagi siapa yang ingin Mejemput Masa Depan di tengah persaingan global.

Sebagai orang yang sama-sama mencintai dunia kepenulisan dan buku, saya bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan sejarah buku-buku Uwan. Tak pernah terpikirkan bahwa saya pun, akan melakukan hal yang sama seperti yang Uwan lakukan belasan tahun lalu. Menjadi penulis/pengarang dengan jalur berbeda dan mengeluti aktivitas yang sama melencengnya, dari apa yang saya pelajari ketika masih duduk di bangku kuliah (Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang).

Diiringi doa terbaik untuk Uwan dalam menapak usia yang ke-65 tahun, tentu saya berharap Uwan tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang. Teruslah menjadi produsen dari produk generasi masa depan serta tak berhenti menghasilkan ide dan gagasan yang tidak biasa melalui tulisan dan buku.

Mendadak saya ingat kata-kata dari Ali bin Abi Thalib, “Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak”. Barangkali ini pulalah yang menggerakkan hati nurani Uwan (juga saya), memilih dunia kepenulisan dan buku sebagai jalan dakwah dan berinvestasi kebaikan di dunia ini agar Insyaa Allah bisa dipetik hasilnya di akhirat kelak. Semoga pilihan sederhana ini mampu memberikan kontribusi amal shaleh dalam menggapai rahmat dan kasih sayang-Nya. Aamiin.

Kota Bekasi Di Tengah Pandemi, Agustus 2020

————

Vera Yuana SH., Alumni Jurusan Perdata Fakultas Hukum Universitas Andalas yang berkarir sebagai penulis dan menetap di Bekasi. Menggeluti dunia sosial dan kemasyarakatan sejak di Padang dan kini di Bekasi, telah menerbitkan 6 judul buku dibawah bendera Sabai Management. Sabai Management bergerak di bidang pelatihan kepenulisan, pemasaran dan distribusi buku-buku. Saat ini Vera sedang menunggu kelahiran bukunya yang ke tujuh.

Adikku Zukri | Azmi Saad