Sang Uwan dan Kehidupan Activist

Oleh : Diah Y. Suradiredja

Kenal Wan Sukri?  Tanya beberapa kawan padaku sekitar 20 tahun lalu.  Ah, siapa yang tak kenal activist gaek yang selalu bersuara tajam dengan senyuman khasnya.  Aku mengenalnya pada deretan activist pertama yang berdiri berseberangan dengan pemerintah.  Dia selalu terkekeh-kekeh jika menceritakan betapa buruknya Rezim Suharto.

Awal pertemuan pertama, di Padang, kami banyak diskusi tentang “terobosan” barunya dari pekerjaan LSM langsung menjadi petani.  Saat itu, Uwan Sukri banyak bercerita tentang ladangnya dan tanamannya yang berhasil.  Tentang mimpinya untuk mengembangkan desa menghasilkan pangan mandiri.

Aku sendiri terheran-heran bagaimana pemikiran itu beralih dan mendapat dukungan masyarakat.  Jawabnya “gini Diah, kalo kita ngobrol dengan petani kita akan dapat banyak ide original dari mereka.  Tinggal kita kembangkan dan wujudkan di depan mereka….maka semuanya akan melakukan dan berkembang maju…oleh mereka. Kita tinggal senyum2 saja di ladang.  Ngopi ngopi dan melihat hasil mereka…”.

Tampak sederhana gagasannya, tidak terlihat “ide liar” seperti yang banyak dilakukan oleh Activist angkatannya.   Tapi aku yakin, bahwa proses dan upayanya tidak sesederhana yang diucapkannya. Uwan menjadi sosok yang tidak perduli dengan apa yang dilakukannya, tidak diikuti generasi selanjutnya.  Dia juga tidak bosan menceritakan dan menyemangati apa yang dia lakukan kepada siapa yang dia temui.  Uwan juga sering lupa bahwa dia banyak bercerita hal yang sama padaku. Dan aku tertarik tanpa upaya.

Suatu kali, saat aku sedang meneliti tentang Nagarinya orang Minang di seputar danau Maninjau – Kabupaten Agam.  Aku bertemu Uwan di Kota Padang.  Dengan senyumnya yang khas dia mendengarkan sambil sesekali menertawakan ceritaku. aAku panjang lebar bercerita  temuanku tentang politik perempuan minang dan kehidupan bernagari disana.  Dari matanya, aku tahu dia terkagum-kagum dengan temuanku.  Uwan tidak mencela atau menyela.  Responnya yang selalu aku ingat waktu itu “Diah, itulah urang awak. Tidak mudah mempelajari dan menemukan kesejarahannya. Urang Awak pandai berkelit di kata-kata…”.

Jeda pertemuanku dengan Uwan Sukri dapat dikatakan panjang. Beberapa bulan sekali kami bertemu, namun selalu ada diskusi serunya.  Selalu ada hal-hal baru yang ingin Uwan update ke aku dan selalu menginspirasi pada diskusi-diskusi politik lokal.  Cukup aneh waktu itu, Uwan tidak tertarik masuk kancah politik seperti yang dilakukan banyak kawan activist semasanya.  Uwan masih sibuk dengan urusan petani dan menebar semangat kemandirian masyararakat.  Padahal, banyak kawannya adalah pimpinan daerah.

Ada hal lucu manakala kami bertukar cerita tentang pandangan anak tentang kerja kerja kami di dunia LSM.  Aku bilang, anakku sering bingung jika ditanya Ibunya kerja apa.  Dengan terkekeh-kekeh, Uwan bercerita bahwa anaknya juga ditanya oleh gurunya, Ayahmu kerja apa “Ayahku kerja di Bandara….”.  kami tertawa lepas saat itu.  Anak2nya rupanya selalu mengantarkan Uwan sampai bandara, saat Uwan harus pergi ke Jakarta atau menuju wilayah lain. Beberapa waktu kemudian kembali, dengan satu ransel pakaian yang kotor! Dialog lebih lanjut, “….. Ayah kelihatannya angkut-angkut barang di bandara !!” .

Suatu saat aku dengar Uwan hidup berbulan-bulan berada di RSCM.  Menunggu anaknya yang menderita Leukemia.  Aku sendiri hampir malu karena tidak bisa membantu apa apa saat Uwan sedang sangat sulit.  Hebatnya Uwan, upaya sendiri mencari kesembuhan anak dan nyatanya berhasil.  Alhamdulillah, aku banyak mendapat cerita luar biasa saat itu.

Dengan wajah yang masih tersenyum, Uwan bercerita tentang pembelajaran mendampingi anaknya yang sakit. Upaya seorang Ayah untuk anaknya yang mungkin tidak bisa dilakukan lelaki lain. Aku kagum.

Sampai beberapa tahun lalu, aku mendengar kerumunan para activist yang menggunjingkan Uwan.  “Uwan Sukri bekerja di PT Sinar Mas, dan mengurusi sawit…” . release berita itu seperti berita yang mengindikasi bahwa Uwan “jual diri” ke perusahaan perusak lingkungan.  Uwan Sukri menjadi kelompok pendosa, dan Uwan Sukri layak dicoret dari daftar nama Activist LSM yang vokal menentang pemerintah dan perusahaan besar.  Aku tak terpengaruh, karena aku harus mendengar sendiri dari Uwan Sukri. Pasti ada sesuatu yang menjadi pemikiran Uwan.  Aku harus menemuinya.

Bergejolak hatiku  saat itu.  Mencoba menerka apa yang Uwan pikirkan dengan menerima pekerjaan itu, dan “dibuang” kawan-kawan activist karena dianggap berkhianat.  Walau pasti aku hormati pilihannya, hanya aku ingin tahu pemikirannya tentang hal itu.

Sampai akhirnya aku bertemu dan Uwan tidak perlu mendengar pertanyaanku.  Dengan senyum dan matanya yang menerawang ke atas, aku mendengarkannya dengan hikmat. “Diah, Uwan ini sudah berumur di 61 tahun. Harus ada karya dan harus ada kerja yang berpenghasilan pasti untuk anak-anak yang sangat membutuhkan. Anak-anak sudah mulai besar dan memerlukan biaya yang tinggi”. Memang waktu itu 3 anaknya mulai berkuliah, 2 anak kuliah di ITB – Bandung dan 1 anak perempuannya berkuliah di UI – Depok.

Kadang sebagai activist memang menjadi frustasi jika pemikiran, ide dan kerja-kerja di lapangan atau di masyararakat, harus menunggu disetujuinya proposal dari donor.  Upaya sendiri memerlukan sumberdaya yang tidak sedikit.  Apalagi activist seperti Uwan Sukri, banyak upaya-upaya yang langsung ke masyarakat dan melihat persoalan yang harus diselesaikan tanpa perlu menunggu donor membantu.

Uwan Sukri bukanlah activist yang berteriak tentang wacana dan bergaya bisa menyelesaikan persoalan dengan gampang.  Baginya, karya itu adalah bagaimana bisa membuat masyarakat mandiri dan memiliki ruang hidup yang lebih besar.  Uwan menggunakan cara lain dengan masuk ke dalam perusahaan dan menanamkan benih-benih itu.

Uwan tidak malu, karena Uwan punya visi dan misi yang jadi daya tawar ke perusahaan”. Apapun, debat konsep perlu terus dilakukan, namun perusahaan sawit setidaknya menghidupi 20 jutaan rakyat Indonesia. Itu realita. Apalagi ada temuan baru, minyak sawit berpeluang menggantikan BBM sheingga Indonesia bisa mandiri energi. Bahwa ada masalah sosial dan lingkungan, tentu ada solusinya. Menurut Uwan, melakukan pembangunan jauh lebih efektif ketimbang tidak membangun sama sekali.

Solusi berupa jasa itulah yang ditawarkan Uwan kepada perusahaan, khususnya resolusi konflik lahan dan upaya reduksi kerusakan terhadap lingkungan. Sejak 1990-an Uwan adalah mediator konflik bersertifikat SPIDR – Amerika, dan sejak 2012 Uwan adalah mediator konflik bersertifikat Mahkamah Agung.

Berbasis kompetensi itulah Uwan membangun tim resolusi konflik internal perusahaan. Belasan staf ikut pelatihan mediator konflik bersertifikat dan ratusan tim lapangan diikutkan pelatihan negosiator. Dapat kabar, 4 tahun berkiprah menangani konflik lahan antara perusahaan dengan masyarakat, hampir 200 kasus dapat diselesaikan permanen. Artinya konflik tak perlu berakhir di pengadilan resmi.

Seorang activist santun, senyumnya yang khas dan selalu terkekeh-kekeh melihat persoalan Negeri ini dari dalam. Itulah Uwan Sukri yang aku kenal.

————

Diah Y. Suradiredja, Penulis Buku Obrolan Lapau, Obrolan Rakyat (2002); Meretas Kiprah Yang Tak Tercatat (2015), dan Buku Perempuan di Singgasana Lelaki: Atlas Kepemimpinan Perempuan di Indonesia.  (2019).

Adikku Zukri | Azmi Saad