Saya memanggilnya UWAN

Oleh : Ayang Harmudya

Uwan dalam bahasa Minang bentuk lain dari kata Tuan, yang dalam bahasa Indonesia berarti kakak laki-laki. Demikian orang biasa memanggil sosok satu ini, dikalangan anak muda era 90 an di Sumbar, khususnya di kota Padang. Sosok yang juga saya kenal dekat karena sehari-hari bergerak dan berlaku di ranah yang sama, yang pada saat itu disebut dengan ranah yang tidak berkejelasan (LSM….red). Ya, sosok yang saya maksud adalah “Zukri Saad” dipanggil Uwan Zukri.

Kesan pertama saat baru mengenal sosok ini, orangnya agak cuek dan tidak formal, kemana-mana sukanya pakai sandal jepit dan agak selektif terhadap orang baru. Melihat tongkrongannya sekilas kita bisa menangkap sosok yang cukup cerdas, serius dan sedikit berwibawa ditambah kaca mata minus yang cukup tebal berserta kumis yang sedikit kasar. Dengan tongkrongan cukup besar dan tinggi mendekati 170 sentimeter, “Uwan” cenderung tampil dominan disetiap lingkungan dia berada. Kedominanan tersebut didukung oleh kemampuan orasi dan wawasan beliau yang sangat luas.

Sosok Uwan Zukri ini cepat dikenal oleh lingkungannya (Sumbar, khususnya kota Padang) karena keberadaanya sebagai anti-mainstream pola pikir anak muda pada saat itu, yang lebih berorientasi jadi pegawai negeri sesudah menamatkan perkuliahan. Bahkan para orang tua pun, kalau ingin cari menantu, lebih cenderung yang pegawai negeri, jelas jenjang karirnya. Jelas pula penghasilannya. Pilihan lain calon menantu yang lain adalah mereka yang sukses dalam dunia ekonomi (baca : manggaleh).

Sebagai seorang alumni dari satu perguruan tinggi ternama di Indonesia (ITB-red), Uwan sama sekali tidak tertarik dengan itu. Dia kembali ke Sumbar bersama dengan beberapa temannya sesama dari Bandung tidak melamar untuk jadi PNS, tapi mencoba mengabdikan dirinya menghidupkan kembali sisa sejarah pergerakan bangsa dalam dunia pendidikan yakni sekolah INS Kayu Tanam (Sekolah Engku Syafei yang dirintis sejak zaman Belanda), yang kala itu sudah mulai dilupakan orang. Sebagai alumni dari perguruan tinggi ternama, peluang untuk dia mengakses dunia ambtenar (pegawai negeri) sebetulnya sangat terbuka lebar, tapi pilihan nya malah berdingin-dingin dan menepi di tengah hutan yang sepi, demi menghidupkan kembali kejayaan yang pernah dicapai oleh INS dimasa pergerakan dulu.

Uwan ini enak untuk diajak bicara tentang apa saja, boleh dikata tidak ada matinya. Diajak bicara tentang pendidikan yang memandirikan seperti cita-cita Inyiak Syafei ayo, cerita tentang kondisi perpolitikan (zaman Orba) dan pergerakan ayo, ceritra tentang lingkungan apalagi (karena beliau juga dikenal sebagai aktifis lingkungan). Cerita per-bonsai-an oke, karena Uwan memang punya koleksi bonsai dan yang paling menjadi keprihatiannya adalah upaya pemberdayaan masyarakat. Untuk mewujudkan semua gagasan dan pemikirannya itu, maka bersama teman-temannya Uwan mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dikenal dengan Yayasan Insan 17, karena pendirinya memang 17 orang.

Dikancah per LSM-an, Uwan cukup dikenal bahkan sampai ke level Nasional. Tercatat beliau merupakan salah seorang Direktur Nasional WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia). Uwan juga pernah menjadi pengurus di PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia). Kedua lembaga ini merupakan LSM besar di Indonesia yang jaringannya sampai ke berbagai Propinsi dan kota-kota. Di level regional Sumatera, selain penggiat dan penyemangat berbagai LSM daerah, Uwan juga merupakan salah seorang pendiri KKI-WARSI (Komunitas Konservasi Indonesia – Warung Informasi Konservasi), sebuah LSM lingkungan Sumatera Bagian Selatan yang berkantor pusat di Jambi dan kantor cabang dimana ada program lapangan.

Uwan juga sosok yang oleh Allah diberikan keberkahan jarang sakit, mungkin karena beliau ini juga takut dengan jarum suntik. Biasanya kalau perasaannya kurang sehat, dia tidur kemudian dilanjutkan dengan olah raga sampai keringatnya bercucuran, ujungnya tentulah makan enak dan sepuasnya. Uwan biasanya sakit kalau dalam seminggu beliau tidak bisa ceramah (maota .. red) didepan orang. Pernah satu kali saya dengan beliau ini berencana menghadiri pertemuan di Sungai Penuh, Kerinci. Dari Padang dengan kendaraan kami berangkat satu mobil, dari saat berangkat beliau sudah mengatakan kurang enak badan. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam, sampailah kami di Sungai Penuh. Rupanya kami sampai lebih dulu dari rombongan peserta lain yang berasal dari Sumbar, Jambi, Bengkulu, Sumsel dan Lampung. Setelah selesai urusan administrasi peserta, Uwan langsung tidur. Agak lama juga Uwan tertidur, begitu bangun teman-teman peserta lain dari berbagai provinsi tersebut sudah berdatangan. Sambil ngopi dan acara kangen-kangenan mulailah Uwan beraksi mengambil posisi berceramah (ngota-red). Ngalor ngidul dengan berbagai topik, saking semangatnya sampai keluar keringat. Lupa beliau bahwa tadinya dari Padang kondisinya kurang sehat. Begitu-lah Uwan, kalau sudah berkumpul dengan teman-teman, beliau selalu merasa sehat dan bersemangat.

Dalam kehidupan pribadinya, Uwan ini memang menarik, bukan karena gagahnya (tampang biasa saja) tapi karena kharisma-nya. Banyak gadis yang suka pada sosok Uwan ini, tapi sepengetahuan kami para yuniornya kala itu tidak satupun yang jadi teman dekat nya (pole dalam bahasa Minang). Semua gadis yang mendekat dianggap “kamanakan” (pokanan-red). Sementara para yuniornya satu persatu mulai berkeluarga, Uwan masih betah dengan kesendiriannya dan pekerjaan. Maka tidak salah kalau beliau baru menikah pada usia sudah mendekati kepala empat, itupun atas desakan dari semua orang.

Alhamdulillah, dari pernikahan tersebut Uwan saat ini sudah diberikan rezeki oleh Allah anak tiga orang (dua laki dan satu perempuan) yang juga pintar pintar dan sudah sarjana. Kedua anak lelaki beliau telah menyelesaikan pendidikannya, mengikuti jejak sang ayah di ITB sedangkan yang perempuan menamatkan pendidikan S1 nya di UI.

Inilah sekelumit kisah yang bisa saya tuangkan dalam tulisan pendek ini dalam rangka menyambut 65 tahun perjalanan hidup seorang tokoh penggerak dan pemberdaya masyarakat bernama lengkap : Zukri Saad. Seorang putra Minang tulen asal Nagari Kubang Putiah – Kabupaten Agam Sumatera Barat. Semoga tulisan ini bisa menjadi penisik anyaman rangkaian perjalanan hidup beliau., Semoga.

————

Ir. Ayang Harmudya, alumni fakultas Peternakan Universitas Andalas tahun 1986, menetap di kota Bengkulu. Aktifis PKBI Padang 1986 – 1990, Direktur Eksekutif Daerah PKBI Provinsi Bengkulu 1990 – 2017, Team Leader Program Kotaku Provinsi Bengkulu 2010 – 2020. Pendiri Woman Crisist Center (WCC) Cahaya Perempuan Bengkulu.

Adikku Zukri | Azmi Saad