Saya Murid Abang, Tapi Saya Tidak Setegar Abang

Oleh : Wahyu Saidi

Kampus ITB, Koridor Student Center, Oktober 1982. Saya terlibat pembicaraan dengan seorang mahasiswa ITB senior, baru saya kenal beberapa bulan, tapi dalam beberapa diskusi, pembicaraan terasa nyambung dan enak. Pembicaraan agak serius karena menyangkut dua teman seangkatan asal Palembang yang baru terancam kena skorsing. Senior itu mengingatkan “Kita semua ke sini untuk sekolah, orang tua berharap kita pulang membawa gelar sarjana, betapa kecewanya mereka kalau tahu kita tidak selesai, kena pecat”. Senior itu memberikan beberapa pemikiran tentang idealisme, dan menutup pesannya “berjuang itu perlu, tetapi jika mengecewakan orang tua, perjuangan itu tidak punya arti”

Memang baru saja kami menerima berita, dua teman ITB yang baru semester pertama, asal Palembang, angkatan 1981, dikenakan skorsing oleh ITB, karena mereka berdua ikut menandatangani petisi anti pemerintah atas nama Dewan Mahasiswa (DM) ITB. Kebijakan rektorat di tahun itu, semua yang mengaku ketua umum DM dan semua aktivitas yang mengatasnamakan DM akan dikenakan sangsi mulai dari peringatan, skorsing sampai drop-out alias DO.

Pada saat yang hampir bersamaan, dua mahasiswa, dari unit atletik, satu ketua umum unit, satu ketua panitia juga dikenakan skorsing. Mereka di skors karena mengadakan pertandingan atletik membawa nama DM ITB, memperingati hari lahir DM ITB. Ketua panitia adalah teman seangkatan di T15, wanita, dan tentu belum mengerti apapun perjuangan Dewan Mahasiswa.

Cerita skorsing di atas kemudian berlalu, selesai dengan bahagia, skorsing dibatalkan karena semua yang terkena, bersedia meminta maaf secara tertulis. Khusus untuk dua teman yang permohonan maaf keduanya diterima, mereka mengatakan bahwa menandatangani petisi karena diajak oleh kakak kelas, tanpa mengerti keseluruhan isi dari petisi.

Kejadian ini di semester pertama saya menginjak kaki di ITB, mampu memberikan kesan yang mendalam untuk saya.

SMA Xaverius I, Palembang, Bulan Januari tahun 1978. Saya kelas satu SMA, saat itu di Jakarta ada persiapan sidang umum MPR. Suatu pagi SMA kami ini di Palembang geger, karena di sekolah tertempel selebaran dan coretan anti Soeharto. Kegiatan ini terinspirasi oleh pernyataan Ketua DM/ SM se Indonesia yang dipelopori ITB. Penanda tangan petisi termasuk dari DM Universitas Sriwijaya. Menurut cerita, aktifis Universitas Sriwijaya ini yang mempengaruhi teman di SMA kami. Kakak kelas yang menempel selebaran sempat diperiksa petugas, tapi terbebas dari sanksi. alasannya mereka ikut-ikutan agar bisa libur.

Kejadian di awal 1978 ini, memperkuat cita-cita saya untuk masuk ITB. Nasehat orang tua dan cita-cita yang tertanam dari orang tua sejak kecil, untuk memperbaiki diri dan menjadi orang sukses, satu-satunya jalan adalah mencapai Pendidikan setinggi-tingginya. Papa yang tamatan Universitas Soedirman Purwokerto selalu bercerita, sekolah yang bagus itu adanya di Pulau Jawa. Feeling saya saat itu papa mengarahkan agar kuliah di UGM, tapi akhirnya saya pilih ITB. salah satu alasan saya, karena Bandung lebih enak, dan di ITB demonstrasinya pasti lebih seru.

Tahun 1978 dan setelah itu, Bandung pergerakan mahasiswanya lebih dinamis. UI yang sebelumnya juga dinamis sudah lebih adem, karena kampusnya sudah pindah ke Depok. Antar fakultas berjauhan, tidak ada student center tempat mahasiswa berkumpul. Dan kemudian Rektornya militer, yang juga merangkap jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Gejolak pra-remaja saya, memang ditandai dengan banyaknya pergerakan mahasiswa. Tahun 1974, saat saya kelas 6 SD, sudah mulai senang membaca koran, berita yang dicari adalah pergerakan mahasiswa. Tahun 1974 ada pertemuan DM se Indonesia pada tanggal 11 Januari, yang awalnya mendemonstrasi kedatangan PM Jepang Kakuei Tanaka. Demonstrasi yang berlanjut menjadi huru hara besar, bakar-bakaran. Gerakan dan demo berlanjut sampai saya SMP, dan beritanya masih bisa diikuti melalui media resmi, antara lain surat kabar Kompas, Merdeka dan Pelita.

Setelah sidang umum MPR 1978, terjadi pembreidelan beberapa media nasional selama beberapa bulan. Setelah media itu terbit kembali, berita mengenai pergerakan mahasiswa nyaris tidak ada lagi. Tetapi saya masih bisa mengikuti berita dengan lengkap, karena pada era ini saya masih mendapatkan surat kabar yang diterbitkan DM UI dan ITB, melalui distributor tidak resmi di Palembang. Surat kabar yang terbitnya tidak tentu, kadang mingguan, kadang sebulan baru muncul.

Saya menjadi mahasiswa angkatan 1981, adalah mahasiswa ‘yang malang’ dari sisi pergerakan perjuangan. Kami masuk saat telah diberlakukan system NKK-BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan), oleh Menteri Pendidikan Daoed Joesoef. Dengan NKK maka mahasiswa tidak diperbolehkan melakukan kegiatan politik praktis di kampus, dengan BKK lembaga kemahasiswaan yang selama ini terpusat, menjadi terpisah-pisah. NKK-BKK diputuskan tahun 1979, tahun 1981 sudah mengakar di hampir semua kampus. Pergerakan mahasiswa ITB tidak pernah menerima dan melaksanakan NKK-BKK, tetapi api perjuangan pelan-pelan melemah, meredup dan hampir padam.

Setelah NKK-BKK diberlakukan, tahun 1982 mulai diwajibkan penataran P4 untuk seluruh mahasiswa, kemudian dengan pemberlakuan azas tunggal. Kebijakan ini semua, membuat kegiatan politik praktis di kampus ITB meredup, mati suri. Di mata saya yang lagi menggelegak, tahun 1981-1986 saat saya jadi mahasiswa, tidak ada pergerakan mahasiswa yang masif, demo besar-besaran.

Demo besar mahasiswa ITB baru terjadi tahun 1989, ketika Menteri Dalam Negeri Rudini datang ke kampus dan disambut bakar-bakaran ban mobil di depan Gedung Serba Guna. Tahun 1989, api perjuangan mahasiswa di diri saya sudah lewat, sudah kuliah S2, sudah punya tambatan cinta dan pasti sudah siap untuk berumah tangga. Selamat tinggal perjuangan mahasiswa.

Balik cerita ke suasana ke kampus ITB lagi. Tahun 1981, Dewan Mahasiswa ITB membubarkan diri, kaderisasi dan pewarisan cita-cita perjuangan dikembalikan ke himpunan masing-masing jurusan dan ke unit kegiatan mahasiswa. Himpunan kemudian membentuk FKHJ, Forum Ketua Himpunan Jurusan dan BKUA, Badan Koordinasi Unit Aktivitas. Kami mahasiswa ITB angkatan 1981, tidak lagi bertemu dengan Lembaga Dewan Mahasiswa, kami mendapatkan warisan nilai-nilai perjuangan melalui FKHJ dan BKUA. Proses ini berbeda sekali dengan mahasiswa sebelum angkatan kami yang masih ada Orientasi Studi, disebut singkatannya OS dan aktivitas orientasi dilakukan terpusat. Saya cukup aktif di kegiatan FKHJ dan BKUA, saya aktif di Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakat, PSIK.

Di PSIK saya masih sempat mendapatkan ceramah, ikut diskusi dengan tokoh-tokoh mahasiswa yang terlibat di gerakan tahun 1978. Mengerti pola pikir dan tujuan gerakan mahasiswa tahun tujuh puluhan, walau kemudian sejarah mencatat, ketika sampai satu titik, tidak semua bisa mempertahankan idealisme mahasiswanya. Menjadi idealis tidak mudah, tarikan untuk menjadi pragmatis bahkan mungkin opportunis makin kuat ketika kita makin berumur, sudah berkeluarga. Apalagi jika sudah ada di dalam kekuasaan. Dengan bertambahnya umur, saya memandangnya sebagai sesuatu yang wajar dan sangat realistis.

Di forum PSIK inilah saya berkenalan dengan Zukri Saad, saya memanggilnya Bang Zukri. Bang Zukri inilah senior yang menasehati saya di koridor student center seperti disebut di awal tulisan ini. Ada yang khas yang saya ingat dari Bang Zukri. Dia selalu punya waktu untuk mendengar dan berdiskusi. Tempat kami biasa ngobrol di student center barat depan sekretariat KPM – Komite Pembelaan Mahasiswa. Pikiran-pikiran lugu saya dan mahasiswa lain tentang jatuhkan Soeharto, sosialisme, marxisme didengarnya dengan penuh perhatian. Setelah kami selesai dan puas berteori, baru dia memberikan wejangan. Kalau diingat sekarang sebetulnya Bang Zukri lagi bilang, kalian tuh salah, yang benar itu seperti ini. Saat itu kami tidak merasa, justru senang bisa ‘diterima’ oleh aktifis senior terkenal.

Beberapa aktivis 1978, sesuai karakternya dalam diskusi. Ada yang bicara radikal, memanaskan dan mendorong mahasiswa untuk bergerak. Setelah aktifis ini bicara, dilanjutkan dengan diskusi, kami yang mulai menggelegak. Justru kami didinginkan oleh Bang Zukri. Ungkapan kata yang selalu saya ingat, “mari kita tinjau dari sisi lain” dan berdampak kami menjadi berpikir moderat lagi.

Tapi ada juga aktifis yang tipe konseptual anti radikal, memaparkan bahwa perjuangan itu butuh konsep, butuh pemikiran, harus ada argument dan boleh saja memperbaiki dari dalam. Ketika kami dibikin jadi ‘lembek’ sesi ini, Bang Zukri justru memanaskan, “hidup itu harus punya prinsip, dan prinsip boleh diperjuangkan dengan cara keras dan tanpa kompromi”.

Diskusi dan perkenalan cukup lama, dengan Bang Zukri ketika ada latihan kepemimpinan PSIK di Jalan Riau selama seminggu. Saya lupa itu kantor apa, mungkin kantor LSM. Saat itu kami menginap, olah raga, diskusi dan makan bersama. Bang Zukri mengajarkan kita boleh tegar, keras konsisten tetapi tidak menabrakkan diri ke dinding yang keras.

Persahabatan berlangsung sampai saat ini, walau tidak selalu bersama. Bang Zukri akhir nya tamat (juga) dari ITB, nyaris DO tentunya dan saya dengar ijazah ITB-nya diambil, lalu dibakarnya. Setelah itu dia pulang dan berjuang dari kampung, merajut cita-citanya.

Saya tetap aktif sambil tetap ingin selesai di ITB. Persembahan untuk Bang Zukri, guru dan sahabat, saya bersama beberapa teman mendirikan unit karate Kyokushinkai dan berhasil jadi ketua Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS). Saat menjadi ketua HMS karena urusan OS tahun 1985, saya dapat surat ancaman tertulis akan di skorsing dari pimpinan (suratnya masih saya simpan sebagai kenang-kenangan).

Saya disuruh untuk minta maaf, agar skorsing dibatalkan. Saya tetap ingat Bang Zukri, yang selalu tegar, ada pikiran untuk melawan dan menerima skorsing. Tapi itu tidak saya lakukan, saya bukan Bang Zukri yang dididik di kampus era 1978-an, saya produk NKK-BKK dan P4. Itulah adanya. Selamat ulang tahun guruku, sahabatku.

Jakarta, 17 Agustus 2020

————

Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc. Alumni ITB, menetap di Jakarta. Tukang Bakmi, Ketua PII Learning Center, Hp. 081 8754173 Email : wahyusaidi@gmail.com

Adikku Zukri | Azmi Saad