SEMANGAT DALAM PERTEMANAN, Catatan buat sahabat saya Zukri Saad

Oleh : L Anshori Djausal

Ketika di Kampus Ganesha, saya beberapa tahun lebih dahulu dari Zukri Saad dan bertemu saya sebagai seniornya di Student Center. Ketika itu sekitar bulan Juli 1976, kembang kolecer seantero Student Center sedang mekar-mekarnya, merah putih bertumpukan. Sejak pertama bertemu, saya mendapatkan Zukri seorang yang bersemangat dengan cara datang dan perginya yang tidak berubah, sampai saat ini. Semasa itu, sesekali saja bertemu dan berkegiatan di luar kampus, walaupun demikian Zukri adalah seorang yang tidak bisa dilupakan. Selalu bersemangat dan seorang teman dengan berbagai cerita, yang menjadikan pertemuan sebuah interaksi yang menyenangkan.

Walau saya kemudian harus pindah ke Lampung awal 80an, selalu mendapat kabar tentang kegiatannya yang membawanya ke lebih dari separo muka bumi ini. Berbagai perjumpaan dan juga kabar langsung selalu menjadi tanda Zukri ternyata membangun terus semangat dalam berbagai ide dan gagasannya. Dan selalu saja mampu mengajak saya ikut. Dia sangat pintar untuk itu. Dia tidak melupakan temannya ada dimana. Beberapa kali Zukri memang sengaja mampir ke Lampung, sangat memperhatikan yang kami lakukan di Lampung. Tampaknya seperti juga dia lakukan terhadap teman-temannya yang lain.

Pada masa reformasi (1999), yang berarti hampir 20 tahun kami berpisah dari kampus, saya diyakinkan Zukri untuk ikut kegiatan yang menurut saya saat itu barang baru. Sebuah kegiatan Dialog Nasional tentang Masa depan Indonesia, Indonesia yang baru saja menghadapi masa yang kritis. Dialog yang berpindah pindah dan bertemu berbagai pihak itu sangat menarik yang kemudian menghasilkan Skenario Indonesia Masa Depan 2020. Saya bukan lagi seniornya Zukri seperti di Kampus dulu, dia kini kolega dalam bekerja. Senang sempat bekerja bersama dengan Zukri yang semangatnya tak pernah surut.

Soft-landing Mine Closure Scenario. Delapan tahun setelah reformasi kembali Zukri mengajak saya ikut serta pekerjaan yang baru lagi buat saya, menjalankan sebuah gagasan “khas Zukri”. Gagasan diberi judul sangat menantang “ Soft Landing Mine closure” untuk kawasan paska tambang logam Nikel dari perusahaan tambang milik investor Kanada dan Jepang.

Kali ini saya berdua istri, DR Herawati Soekardi yang juga alumni Biologi ITB yang diajak ikut dalam kegiatan tersebut. Zukri, seperti juga dengan sahabat-sahabat kami yang lain, memang juga dekat dengan istri saya sejak di kampus ganesha dulu. Pekerjaan Skenario di Soroako ini terkait dengan reklamasi paska tambang Nikel. Istri saya juga diajak karena pengalaman kegiatan konservasi kupu-kupu di Gunung Betung – Bandar Lampung. Konservasi dengan konsep rekayasa habitat yang berkembang hingga kini, yang dikenal sebagai Taman kupu-kupu Gita Persada. Saya sendiri diajak barangkali karena diperlukan sebagai teman berdebat saja. Bersama kami juga belasan ahli pada bidangnya berhasil diajak Zukri bergabung dalam kegiatan perancangan scenario ini.

Kalau tidak karena gagasan Zukri yang dia rancang bersama sahabatnya Harry Asmar yang kala itu sebagai GM Tambang di PT. INCO – Soroako, tentulah saya tidak akan sampai ke sana. Suatu lokasi tambang yang beberapa tahun lagi akan habis. Penutupan tambang pasti terjadi, apa yang akan ditinggalkan pada masa pasca tambang. Lingkungan yang rusak? Kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang akan mati. Bagaimana dengan berbagi infrastruktur dan kota yang ada? Gedung, jalan,lapangan terbang, perumahan dan masyarakat yang telah hidup disitu selama tambang masih ada hasil. Suatu pemikiran ‘Soft Landing” yang sangat ‘menggugah dan manyadarkan’ betapa pentingnya sebuah kepedulian. Saya bangga pernah menjadi seniornya Zukri.

Zukri mengundang berbagai keahlian untuk bersama membangun skenario yang dimaksud. Berhasil mengajak sekian keahlian dan kepedulian, saya percaya ini terhimpun karena semangat pertemanan yang dimiliki Zukri untuk kemudian mendukung rancangan ‘mining closure’ yang baik bagi masyarakat dan lingkungan pada paska tambang. Zukri juga merekatkan pertemanan baru dalam kelompok kerja yang dilakukan di Soroako. Itulah sosok Zukri yang makin saya kenal setelah bertahun-tahun lalu sama-sama di kampus Ganesha.

Berani dan Bernyali. Selain di Kampus , saya dan Zukri juga bersama teman-teman lain berada dalam aktiftas pengembangan masyarakat Yayasan Mandiri. Yayasan yang didirikan tahun 1979 ini bekegiatan dalam bidang teknologi Tepat Guna. Semua anggota juga mempunyai ciri yang khas juga. Diantara teman-teman di YM, Zukri adalah teman yang selalu bersemangat dan berani ide-idenya. Ide baru yang terkadang tidak masuk akal, tetapi dia jalankan. Berdiskusi dengannya tidak akan pernah kehabisan bahan. Banyak keinginan atau mimpinya yang seolah berkejaran dengan waktu. Ketika sudah pensiun-pun masih punya mimpi-mimpi baru. Yang tetap ingin dia jalankan.

Zukri punya kemampuan komunikasi yang istimewa. Dia menjadi direktur WALHI pada masanya, dia terdengar pulang kampung berkiprah di bidang Pendidikan di Kayu Tanam. Kembali lagi ke Jakarta, ke pusat berbagai kegiatan besar, bekerja kembali sebagai employee dari perusahaan industri kelaspa sawit. Dia lakukan ini semua justru karena cintanya kepada keluarganya. Dia sangat cinta keluarganya. Dia merasa bertanggung jawab untuk menjadikan anaknya sebagai sarjana. Bila dia hanya sampai jenjang pendidikan S1, maka anak-anaknya haruslah S2 atau terus S3. “Itu baru perbaikan generasi”, katanya.

Menurut saya Zukri adalah seorang yang “Pemberani dan Bernyali”. Apalagi sekarang, diumur lansia muda, pulang ke propinsi Sumatera Barat untuk kembali membangun sesuatu. “Masih ada mimpi yang harus diwujudkan di kampung”, katanya. Kembali merantau ke kampung halaman jilid 3 untuk merealisasi mimpi itu.

Bandar Lampung, 25 Desember 2020

————

Ir. H. Anshori Djausal MT, Alumni Tehnik Sipil ITB dan pensiunan pengajar dari Fakultas Tehnik Universitas Lampung, menetap di Bandar Lampung. Beberapa periode menjadi Staf Ahli Gubernur Provinsi Lampung, memiliki berbagai minat yang perlu direalisasikan : Ahli ferocement untuk konstruksi bangunan dan kapal nelayan, ketua ikatan layang-layang Indonesia, Mengelola bersama istri DR. Herawati Soekardi Djausal berikut anak dan menantu sekeluarga dengan mendukung aktifitas konservasi Tahura Gunung Betung, fokusnya mengembangkan konservasi berbasis Taman Kupu-kupu Gita Persada Bandar Lampung. Di usia senja masih sangat aktif, akhir-akhir ini banyak terlibat dalam membangun infrastruktur mobilitas di kawasan konservasi / Taman Nasional di Indonesia.

Adikku Zukri | Azmi Saad