Seuntai Kenangan Bersama Zukri Saad

Oleh : Finaldo Moechtar

Lama absen menulis, tiba-tiba datang permintaan dari seorang teman bernama Zukri Saad – untuk menuliskan untaian kenangan masa lalu – karena beliau memasuki usia 65 tahun nopember 2020 ini. Jadi, mohon maklum kalau tulisan ini isinya “banyak nan hampo dari pado nan boneh”.

Menyebut nama Zukri Saad, kenangan membawa saya ke Bandung sekitar 40 tahun silam. Tepatnya dipenghujung tahun 70-an dengan epicentrum kampus ITB di jalan Ganesha dan seputarnya. Sekedar ilustrasi, pada masa itu kampus-kampus di Bandung berada dalam kondisi sedang hangat-hangatnya mahasiswa meneriakkan pekik kebebasan mimbar dan kebebasan akademis yang berbasis moral force, berwujud koreksi terhadap berbagai kebijakan pemerintahan Orde Baru. Banyak aktiifis kampus bermunculan masa itu dan nama Zukri Saad adalah salah seorang yang moncer.

1. Setan Student Center. Mungkin dibutuhkan tulisan agak panjang bila harus menceritakan kiprah aktifis Zukri pada masa itu. Rapat-rapat di Dewan Mahasiswa, rapat umum dengan tokoh-tokoh vokal sampai apel siaga dan segala bentuk unjuk rasa yang mewarnai kampus saat itu, tidak lepas dari keterlibatan Zukri; sehingga sulit bertemu di pondokannya di Cisitu Baru. Barangkali dia tidak tahu kalau beberapa teman seperjuangan memberi dia julukan : setan student center. Ha…ha…haa.

2. Leading Actor. Selepas pergolakan kampus, Zukri Saad menceburkan dirinya dalam berbagai kegiatan mahasiswa dan pemuda Minang di Bandung. Untuk diketahui, ketika itu tidak kurang 27 organisasi ke-minangkabau-an yang eksis di Bandung dan sekitarnya. Ada perkumpulan alumni SMA, ada perhimpunan kenagarian, kecamatan, kabupaten, group kesenian, olah raga dan sebagainya. Kami waktu itu menyebutnya “organisasi lokal minang” atau “organisasi lokal” saja.

Saat itu, saya sendiri dipercaya memimpin Muda Mudi Gonjong Limo, sebuah perkumpulan anak muda asal Kabupaten Lima Puluh Kota, dengan markas dirumah Uda Renaldi di jalan Dago 87, sebagai tempat pertemuan dan latihan kesenian. Sementara Zukri bernaung dibawah panji Mahasiswa Banuhampu. Disertai beberapa ketua organisasi lokal yang cukup aktif kemudian saya mewacanakan sebuah kegiatan berskala besar untuk pemuda dan mahasiswa Minang, yaitu Latihan Kepemimpinan. Zukri mengajukan proposal Jambore Pemuda Minang.

Rekan Wirdhani, Ketua Organisasi Ampek Koto, melihat dua gagasan besar itu memang dirasa perlu untuk dilaksanakan, tapi yang mana yang jadi prioritas. Wirdhani kemudian mengajak Zukri menemui saya di Taman Sari dan kami bertiga bersepakat untuk mengadakan Latihan Kepemimpinan lebih dahulu. Lewat sebuah proses panjang dan melibatkan banyak pihak akhirnya terlaksanalah sebuah perhelatan besar yang bertajuk Latihan Kepemimpinan Pemuda dan Mahasiswa Minang Bandung yang pertama kali diselenggarakan. Dari sekitar 300 orang calon peserta yang mendaftarkan diri, terpilihlah 35 orang peserta mewakili berbagai organisasi yang ada. Alhamdulillah sukses. Semua orang tahu bahwa “lakonnya” (leading actor dan trainer utama) dibalik suksesnya penggemblengan calon pemimpin masa depan itu adalah Zukri Saad.

Setahun kemudian, diselenggarakan Jambore Pemuda dan Mahasiswa Minangkabau, bertempat di Cikole – Lembang. Sebuah perhelatan besar yang dihadiri ribuan partisipan. Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas dan Gubernur Aang Kunaefi juga naik panggung jamboree dalam rangka memberikan restu dan dukungan terhadap program “Sarjana Masuk Desa (Sarjana Minang Pulang Kampung)” yang diwacanakan saat itu.

3. Abang Zukri, Uda Zukri dan Uwan Zukri. Dalam pergaulan sehari-hari yang begitu cair di kalangan mahasiswa Minang, penyebutan paling lazim bagi para senior adalah Uda dan Uni kendati jarak umur terpaut jauh. Alasannya karena para senior diposisikan sebagai “kakak kelas”. Tapi kaidah itu tak belaku untuk Zukri. Sebagian besar yunior tidak memanggilnya dengan sebutan Uda Zukri, tapi Bang Zukri.
Okelah, terlepas itu berlaku atas kehendak para yunior atau bukan, yang jelas Zukri dipanggil sebagai Abang. Namun sejak berusia 40 tahun, panggilan akrab buat Zukri bukan lagi Bang Zukri, tapi Uwan Zukri. Dan sepertinya dia juga merasa lebih nyaman dan menikmati sebutan Uwan itu. Barangkali setelah menginjak umur 65 tahun, nanti akan ada pula sebutan baru pengganti “Uwan” itu. Siapa tahu.

Sepengetahuan saya, teman-teman lainnya tidak mengalami perubahan penyebutan sebagaimana yang terjadi pada Zukri. Kalau sebelumnya senior lain dipanggil Uda Arsyad, sampai kapanpun tetap Uda Arsyad. Uda Wirdhani, tetap Uda Wirdhani. Tanpa mau menuduh (tapi cuma menduga), Zukri sendirilah yang menciptakan penyebutan yang dia inginkan bagi dirinya sendiri. Dan ternyata orang lain menurut saja, ha…ha…haa..

Tanpa disadari, gelagat ini menunjukkan kepada kita bahwa Zukri tak ingin memposisikan dirinya pada level rata-rata dalam komunitas dimana dia berada. Dengan kata lain, dia ingin dimasukkan kedalam golongan “mentor” atau “senior citizen”. Dan dia cukup konsekwen dengan predikat mentor yang disandangnya itu. Paling tidak, para yunior merasakan kehadiran Zukri dalam mewarnai berbagai kegiatan “mentoring tidak resmi” yang dia ciptakan sendiri. Jelas dia menuai keberhasilan yang cemerlang karena para senior lain tidak melakukannya.., mengirap entah kemana.

4. Sumur ide yang tidak pernah kering. Diposisinya selaku seorang mentor, Zukri punya kemampuan yang mumpuni dalam melihat setiap potensi yang dimiliki oleh setiap individu yang ada disekitarnya, apalagi para yuniornya. Dia juga memiliki kemampuan yang hebat dalam mengkapitalisasi setiap potensi yang dimiliki yuniornya. Dalam ungkapan orang Minang : “pandai mangumpua-kan nan taserak”!.

Begitu panjang daftar yang harus dibuat, andai ingin menuliskan keterlibatan Zukri dalam bidang pengabdian masyarakat, sejak dari masa kuliah sampai saat ini. Beberapa yang saya ingat sampai saat ini, adalah Lembaga Pengembangan INS Kayutanam, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Koran Minang Minang, Yayasan Minang Bandung, dll. Bahkan akhir-akhir ini dia sukses pula mengumpulkan beberapa yunior untuk menemaninya olah raga sepekan sekali di Senayan. Namanya “Perjaka Semba” (Persatuan Jalan Kaki Senayan Minang Bandung). Ha …ha…haa.

Selalu saja ada ide yang keluar dari kepalanya untuk tujuan kemaslahatan umat dengan memanfaatkan potensi yang ada disekitarnya. Dia juga memiliki kemampuan yang hebat dalam meyakinkan orang atas ide-idenya tersebut, mulai dari para yunior sampai para pengambil keputusan negeri ini. Zukri layak dimasukkan kedalam golongan orang yang “pandai berpandai-pandai”.

5. Pakar melebihi bidangnya. Zukri itu belajar di Fakultas MIPA – ITB Jurusan Kimia. Tapi, hampir tak pernah kita dengar dia bicara seputar dunia kimia dalam banyak kesempatan. Bicara tentang apa saja (selain bidangnya) dia tampak lebih meyakinkan…, dan mampu meyakinkan lawan bicaranya apapun topik yang dia bicarakan. Semasa kuliah memang dia memilih Unit Kegiatan PSIK (Pusat Studi Ilmu Kemasyarakat) dan menjadi dedengkot Unit tersebut. Andaikata PSIK itu dapat dianggap sebagai sebuah mata kuliah, Zukri harus lulus dengan nilai A. Atau layak menyandang gelar insinyur pe-es-i-ka. Kala itu dikalangan alumni ITB sendiri, tak jarang terdengar selentingan yang bernada self reminder : sarjana ITB itu ahli dalam segala bidang…., kecuali bidangnya sendiri. Wallahua’lam.

6. Manggaleh Babelok. Tak tercatat dalam ingatan saya tahun berapa Zukri mengalami wisuda sarjana; apakah sebelum atau sesudah saya. Yang pasti dia duluan masuk ITB. Dalam catatan saya, juga tidak ditemukan informasi yang sahih di instansi atau perusahaan mana dia bekerja setelah tamat kuliah. Penjelasan tentang dunia kerja formal yang ditekuninya, mungkin cuma dia sendiri yang tahu.

Kepada beberapa kawan yang memberanikan diri bertanya tentang pekerjaannya, dia cuma menyebutkan bahwa dia manggaleh babelok. Entah seperti apalah barang yang dia galeh-kan …, entah nagari mana pula dia pergi babelok itu. Dengan jawaban mangaleh babelok tersebut, orang yang bertanya harap puas. Tak usah bertanya lebih jauh. Anehnya, istilah mangaleh babelok kemudian jadi populer di kalangan beberapa teman dalam menjelaskan tentang pekerjaan apa yang sedang dia geluti; bahkan masih viral sampai sat ini. Ha…ha…haa.

7. Jeruk manis dari Kak Tangah. Mereka yang ada di Bandung seputar tahun 80-an tentu maklum dengan suasana dan tradisi wakuncar yang berlaku atas anak muda dan mahasiswa. Wakuncar adalah singkatan dari wajib kunjungi pacar yang jadwalnya jatuh pada setiap malam minggu. Sabtu sore adalah saat yang sibuk bagi pelaku wakuncar mempersiapkan diri. Cuci motor, seterika baju, pilih (atau pinjam) jaket atau apa sajalah demi tampil kinclong didepan kabogoh.

Pulang wakuncar sekitar jam 22.00 atau lebih sedikit para peserta wakuncar tidak langsung masuk kamar. Ada sedikit waktu yang dihabiskan di teras rumah kost untuk berbagai cerita tentang ini dan itu. Di Taman Sari, tempat saya kost setidaknya ada empat atau lima orang pelaku wakuncar aktif, termasuk saya pribadi. Pas pada saat kumpul di teras itu biasanya Zukri datang ikut bergabung.

Mengendarai motor trail dan mengenakan jacket hijau pupus khas milik serdadu sedang perang. Kehadiran Zukri selalu ditunggu, karena dia akan cerita tentang pacarnya yang baik hati. Dari kantong jacketnya, Zukri mengeluarkan sebuah jeruk manis yang ranum dan besar atau sebuah apel merah yang dicurigai tak murah harganya; sebagai bukti autentik bahwa dia memang baru pulang dari tempat pacarnya. Jangan coba-coba minta buah itu untuk dimakan ramai-ramai. “Ini oleh-oleh khusus dari Kak Tangah angku ..he..he..”, begitu selalu dia beralasan. Dia memang membahasakan pacarnya dengan sebutan kak tangah.

Okelah, kami maklum. Barangkali dibalik jeruk dan apel yang menggiurkan itu ada sebentuk cinta yang berwarna dan lebih ranum. Cuma kami tidak pernah diberi tahu dimana rumah kak tangah itu dan siapa orangnya… Boro-boro mau diperlihatkan fotonya… apalagi dikenalin. Ha..ha..haa..

8. Upiak Rambahlah Paku. Suatu kali Indra Catri (sekarang Bupati Agam dan calon wakil gubernur Sumbar) datang ke Taman Sari. Entah dari mana dia tidak cerita. Yang dia cerita Cuma ketemu Zukri di Aquarius, toko kaset musik di Jalan Dago. “Da, tinggi juga rupanya selera musik Bang Zukri itu..”, begitu Indra mengawali ceritanya. “Tadi di Aquarius ketemunya di depan rak koleksi lagu-lagu klasik..”. Dalam hati saya mungkin dia lagi cari kaset Mozart atau Bethoven atau apalah sejenis itu.

Beberapa hari kemudian ketemu lagi Indra Catri, katanya habis dari tempat Zukri. Tanpa pendahuluan dan mukadimah yang lazim, Sampia (begitu panggilan akrab Indra Catri) langsung nyerocos …”Waah …, rupanya kita salah sangka selama ini. Kita sangka Bang Zukri ini suka musik klasik .., ee.. ternyata bukan”. “Memangnya kenapa”, tanya saya. Tadi pas datang ke kamarnya, Dia lagi putar lagu Minang berjudul “Upiak Rambahlah Paku”. Ha…ha..haa..

9. Pantun Gubahan Zukri. Rapat-rapat para tokoh organisasi lokal yang tergabung dalam Forum Komunikasi Organisasi Pemuda dan Mahasiswa Minangkabau biasa bertempat di sebuah sekolah dasar disamping Pasar Balubur. Rapat membahas segala bentuk kegiatan yang akan diselenggarakan. Biasanya rapat berlangsung dalam suasana santai penuh keakraban. Maklum, hampir semua peserta rapat adalah teman akrab. Tapi, sekali-sekali terjadi juga ketegangan kecil dalam beradu argumen yang agak memanas. Bahkan, kadang-kadang ketegangan kecil itu sengaja diciptakan untuk memancing floor agar tidak mengantuk. Biasalah..Salah satu tools yang sering dipakai untuk meredakan ketegangan itu adalah sebuah pantun yang berbunyi : “Nan kuriak kundi, Nan merah sago. Nan baiak budi, nan indah baso”. Tapi, pantun itu diplesetkan menjadi : “Nan kuriak kundi, Nan merah sago. Nan cadiak Zukri, Nan gagah Nando”. Ada saja salah seorang dari floor yang meneriakkan pantun itu. Tapi bukan suara Zukri. Seketika tawa merebak dalam ruangan dan suasana kembali aman damai. Adem kata saudara kita dari Jawa. Namun prasangka baik saya mengatakan bahwa orang pertama yang memplesetkan pantun itu adalah Zukri. Entah siapa pula yang mengajari dia memperkosa pantun. Wallahua’lam.

10. Kesimpulan Sementara. Insya Allah.., dalam usianya yang ke 65 ini Zukri tetap mengantongi ciri khasnya, yang dimata saya cukup menonjol dibandingkan dengan para senior lainnya; yaitu berupa kemampuan memproduksi (dan merakit) ide dalam mencari jalan keluar dari setiap persoalan dan tantangan yang ada. Lebih dari itu, kemampuannya dalam mempengaruhi orang untuk bersepakat dengan ide yang dia lontarkan patut diacungi jempol. Seharusnya para yunior yang mengidolakan Zukri dapat melihat dua hal penting ini. Adalah merugi apabila “ilmu” ini tidak dapat diwarisi dari Zukri.

Zukri dengan segala kiprah yang pernah diperbuatnya demi kemaslahatan umat, sesungguhnya tidak semata mengandalkan gagasan murni yang keluar dari kepalanya, tapi boleh jadi itu datang dari orang-orang sekitarnya. Tapi kemudian Zukri sukses melambungkan gagasan itu menjadi big-bang yang bergema hebat. Orang ramai rela sependapat dan dengan riang gembira menyediakan diri untuk bersama-sama menjalankan gagasan tersebut.

Diatas semua itu, jiwa seorang mentor sejati yang dimiliki Zukri terlihat dari kemesraannya berbaur dengan para yunior sambil terus “menggembalakannya”. Tidak bisa dibayangkan, seperti apa galaunya dia tanpa kehadiran yunior..

Diluar kemampuan akademik, kiranya inilah bentuk kepandaian lain yang tidak diajarkan di kampus : “pandai berpandai-pandai”. Zukri Saad adalah salah seorang yang saya kenal berhasil menguasai ilmu “pandai berpandai-pandai” tersebut. Wallahu a’lam bissawab..

Depok, 18 Agustus 2020

————

Finaldo Moechtar, Alumni Sarjana Desain Interior – Seni Rupa – Fakultas Tehnik Sipil dan Perencanaan – Institut Teknolgi Bandung, menetap di Depok.

Adikku Zukri | Azmi Saad