Silaturahmi Indah Dengan Uwan

Oleh : Tuanku Herman JRM

(Tuan dalam bahasa Minangkabau juga berarti Abang, bahasa cepat dalam memanggil adalah “Uwan”).

Rabu, 9 September 2020 setelah 2 minggu wafatnya Papa tercinta, tepatnya sudah sebulan di Jakarta, saya telepon Uwan Zukri karena sudah janji akan telepon beliau jika sedang di Jakarta. Dalam percakapan di telepon Uwan bertanya, apakah saya mau menulis tentang beliau, setelah sekian lama kami berinteraksi. Saya sanggupi, Insyaa Allah karena saya pikir Milad beliau masih 2 bulan lagi. Paling tidak dalam sebulan bisa menulis kisah silaturrahmi kami. Susulan WA dari beliau rupanya waktu yg diberikan  untuk menulis hanya 10 hari, wahh…, nampaknya harus kejar tayang).

Terakhir menulis beberapa tahun lalu, menganalisis kondisi bisnis Garuda Indonesia dan rancangan solusinya. Rasanya untuk menulis kisah saya belum pernah, namun karena Uwan yang meminta menjadi sebuah tantangan bagi saya. Saya hanya menulis pengalaman bergaul dengan beliau selama ini, dan dari tulisan tersebut pembaca dapat membuat kesimpulan sendiri mengenai ” Apa dan Siapa seorang (Uwan) Zukri Saad”.

Pertama kali mengenal Uwan, Saya bersama teman menawarkan program piranti lunak untuk Pemerintah Daerah Sumatera Barat. Kami dikenalkan oleh anak Papi almarhum Mazni St Tumangguang, dengan asumsi kedekatan Uwan dengan Bapak Gamawan Fauzi, Gubernur Sumatera Barat saat itu.

Sejak saat itulah tumbuh keakraban saya dengan Uwan, terlebih-lebih setelah Uwan mengetahui bahwa saya adalah kemenakan dari almarhum Ayah/Ulung (Akmal Hasan Jacoeb). Ulung merupakan kawan ideologis Uwan sajak lama, karena sesama pencinta rakyat Indonesia dan berpendapat bahwa seharusnya rakyat lebih sejahtera. Mereka secara informal berinteraksi di Masyarakat Sosialis Indonesia. Karena kesamaan itulah, terbentuk perkawanan ideologis yang langgeng.

Sewaktu pertama kali kenal dengan Uwan, dari gerak tubuh dan cara bicaranya, saya menilai beliau seorang Motivator. Kemudian hari, memang benar dugaan saya. Banyak cerita yang saya dapat, Uwan banyak memotivasi mahasiswa-mahasiswa di Bandung asal Minangkabau untuk kembali ke kampung setamatnya berkuliah. Uwan juga aktif memotivasi pemuda dan remaja Minangkabau sewaktu Uwan telah berkiprah di kampung halaman. Tak kurang, juga anak-anak muda pencinta alam menjadi sahabatnya, karena Uwan juga menggemari aktifitas alam bebas, baik di gunung maupun dilaut bahkan samudera.

Silaturrahmi diantara kami yang cukup intensif, sewaktu saya merantau ke kampuang halaman sekitar tahun 2013-2017 (saya lahir besar di Jakarta) karena ingin belajar berkampuang. Kami sempat bertiga bersama satu orang kawan lainnya, membuka usaha di bidang konsultan manajemen dan pelatihan. Namun karena partner usaha kami balik merantau ke Bandung, disusul Uwan juga balik merantau ke Jakarta, usaha tersebut tak mungkin dikembangkan. Mungkin sekali waktu bisa dimulai lagi.

Selama merantau ke Kampung Halaman, kalau ke Padang saya akan mampir ke rumah kayu beliau (jika Uwan sedang di Padang), atau kami bertemu di Istana Rakyat Lasi – Canduang. Suka pula beliau mampir dan menginap di rumah kami di Parak Kopi, Bukittinggi bersama istri beliau. Bahkan Kak Irina suka pesan Croissant Rendang atau makanan lainnya dari istri saya, dan Kakak sudah seperti kakak kami, khususnya bagi istri saya.

Silaturrahmi Saudagar Minangkabau  (SSM) I pada tahun 2007 mencanangkan akan membuat Minangkabau Trading House (MTH) di Jakarta. Idenya atas usulan Uwan dan konsep usaha kami buat bersama-sama dengan perantau Minangkabau lainnya. Ide mana kemudian disetujui oleh Bang Fahmi Idris serta diumumkan beliau pada saat penutupan SSM I. Beberapa saat sesudah SSM I, saya sempat kecewa karena tidak ada realisasi dari MTH. Kekecewaan itu saya utarakan kepada Uwan namun beliau hanya tersenyum. “itulah perjalanan biasa sebuah ide sosial, kadang berhasil dan umumnya akan gagal. Apalagi melibatkan banyak pemangku kepentingan”, ulasnya.

Beberapa kali kekecewaan saya terhadap rendahnya soliditas Rang Minangkabau dan kekecewaan tersebut saya utarakan ke Uwan. Secara pribadi saya sendiri juga membuat kesimpulan yang setelah saya sampaikan ke beliau, dijawab dengan hanya tersenyum simpul, lalu berkata “Angku lah bisa mambuek kesimpulan tersebut sajak lamo, namun tatap gigiah ka mambangun walaupun tahu akan gagal !!” Intinya, berbasis pengalaman sejak dahulu, sudah hampir pasti sebuah ide peningkatan ekonomi masyarakat akan gagal, tapi masih bersikeras untuk mengembangkan gagasan bernuansa sosial itu.

Interaksi lain setelah cukup lama tidak bertemu, Tahun lalu cukup ramai dan viral di sosial media wacana Kongres Rakyat Sumatera. Selidik punya selidik, wacana tersebut datang dari Uwan. Saya berfikir, apakah syahwat politik Uwan kembali naik, paska dulu Pernah akan mencoba peruntungan untuk mencalonkan diri menjadi pejabat daerah ? . Apakah mau turun gunung lagi untuk mengharu biru kancah politik yang jelas-jelas tak mungkin hitam-putih ?

Lalu saya kontak beliau apa tujuannya. Uwan menjelaskan, agar terjadi pemerataan tanggung jawab ekonomi pada tiap-tiap daerah, khususnya daerah yg pembangunan infrastrukturnya berdasarkan hutang namun semua masyarakat Indonesia yg menanggungnya walaupun tidak menikmati hasil langsung hutang tersebut. Uwan mencontohkan kereta api cepat Jakarta – Bandung yang akan dibiayai pembangunan fisiknya melalui hutang ke Republik Rakyat China.

Hutang sangat besar yang tak tahu bagaimana membayarnya, harus ditanggung oleh rakyat pulau-pulau lain yang tidak memperoleh manfaat langsung. Mestinya, kalau boleh bicara adil seadil-adilnya, bisakah hutang itu hanya ditanggung oleh rakyat DKI dan Jawa Barat saja sebagai penerima langsung manfaat dan kebanggaan daerah. Biarkan, rakyat wilayah lain cukup ikut berbangga tanpa mayoritas tak menikmati. Maka, selanjutnya, proyek mercusuar se moderen apapun silahkan dikembangkan, tapi beban biaya tidak dibagi rata. Bila ingin dibangun dipulau Jawa, seharusnya hutang apapun ditanggung oleh rakyat dari Pulau Jawa saja melalui pajak atau penghasilan apapun. Idenya, hutang pembangunan Sumatera ditanggung oleh rakyat Sumatera, pembangunan di Jawa ditanggung oleh rakyat Jawa, Kalimantan oleh rakyat Kalimantan, dan seterusnya.

Implikasi lanjut, hasil pembangunan per-wilayah, silahkan dimanfaatkan secara langsung oleh rakyat wilayah tertentu. Tidak lagi seperti sekarang, hasil pembangunan dibagi berbasis pengwilayahan populasi. Itu tidak fair menurut Uwan. Ketimpangan pembangunan dan pembagian hasil timpang yang terjadi selama ini, yang jelas terbaca dengan melalui hadirnya dikotomi Jawa – luar Jawa, Sanbar – Santiri, tidak dijawab oleh rezim pemerintahan yang sekarang diberi mandat mengelola pembangunan.

Rupanya, walau itu hanya wacana yang dihadirkan Uwan dalam suatu diskusi terbatas di Bandung, telah viral di dunia virtual dan mewacana ke berbagai kalangan. Uwan dengan tenang menjelaskan itu, dan yakin itulah seharusnya pendekatan pembangunan yang tampil paska reformasi. Semua rakyat setuju dengan NKRI, tapi perlu penyempurnaan melalui pemerataan pembangunan. Itu saja tuntutannya.

Dalam interaksi Uwan didunia kekuasaan, Istilah syahwat politik ditampilkannya pada saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumatera Barat (Sumbar) tahun 2015 lalu, diawali saat beberapa kelompok masyarakat mendatangi Uwan dan meminta beliau ikut dalam Pilkada, namun permintaan tersebut beliau tolak. Alasan penolakan yg Uwan nyatakan ke saya, Uwan sudah kehilangan syahwat untuk berkuasa.

Beberapa tahun lalu saat masih merantau ke kampuang halaman, Uwan bilang bahwa beliau ditawarkan menjadi Komisaris pada salah satu BUMN Keuangan. Twaran penghubung itu ditolaknya. Uwan takut berhutang budi, disamping tak punya fasilitas untuk “biaya” pencalonan itu. Intinya tidak siap lahir bathin.

Uwan lebih menikmati menjadi seorang professional yg berkarya tanpa beban. Apalagi sekarang, di usia akan mencapai 65 tahun. Uwan merasa tiap insan perlu persiapan khusus untuk menghadap-NYA, sehingga bekerja bebas mencari nafkah sebagai selingan, beribadah harus lebih diprioritaskan.  “Beribadah adalah prioritas utama Bung”, imbuhnya. Itulah sekelumit Silaturrahmi Indah saya dengan Uwan.

Malang, 20 September 2020

————

Tuanku Herman Jambak Rajo Malano, alumni S1 dari Universitas Krisnadwipayana bidang Sumberdaya Manusia dan manajemen Ekonomi; Alumni S2 dari Universitas Indonesia Bidang administrasi dan Pengembangan Sumberdaya Manusia, kini menetap di Malang. Mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Awak Kabin Garuda (IKAGI) 1999 – 2000 dan President Federasi Awak Kabin Udara Indonesia (FAKUI) 2000 – 2002.
Cucu dari Ketua Umum I Perti hasil Kongres I Perti 1932 Buya H. Hasan Basri (alm) ini, mempersunting seorang Syarifah (keturunan dr Ampel), putri (alm) KH Abdullah Iskandar, Ulama Habaib yg disegani di Jawa Timur. Saat ini Pengurus Bidang Kerjasama Luar Negeri PB Tarbiyah-Perti dan Wakil Ketua Dewan Pusat (Majelis Syura) DPP Syarikat Islam.

Adikku Zukri | Azmi Saad