Sosok Zukri Saad

Oleh : Indera bin Saibi

Sejak tahun 1976 sampai sekarang, sosok Zukri Saad tidak berubah. Hanya rambut dan kumis tebal yang sudah mulai berubah warna. Zukri Saad adalah Seorang sahabat dan juga saudara, yang enerjik dan banyak kreasi. Banyak sekali pengalaman 30-an tahun silam yang masih terkenang. Kenangan yang kadang-kadang penuh canda diantara duka, saat menunggu kiriman wessel bulanan dari kampung. Suara bariton-nya seakan masih terngiang, apalagi kalau dia dengan suara itu memanggil saya : Kalek, selain panggilan formal In Saibi. Panggilan yang sekaligus meledek, karena memang kulit saya hitam manis kata orang.

Selama bersama, baik semasa satu asrama Banuhampu di Jalan Cisitu Baru, ataupun sama sama kontrak di sebelah asrama, saya tidak merasakan hal-hal tidak baik dari perilaku Zukri. Walau selalu bercanda ditengah keseriusan, banyak hal positif yang terbangun diantara kami berdua. Yang selalu teringat adalah, Zukri selalu membantu teman. walau dalam keadaan apa pun juga. Masih terngiang suara memelas kawan lain … “salang motor angku sabanta yo …..”, dan dia tidak ragu-ragu meminjamkan motor besarnya.

Seingat saya, Zukri sering menghilang entah kemana. Berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Ternyata sahabat kami semua ini, diam-diam membangun karir sebagai seorang aktifis, yang tentu menampilkan sikap kritis terhadap roda pemerintahan. Typikal aktifis zaman itu

Kenangan paling dalam di ingatan saya adalah ketika tendangan Maegeri Zukri menerpa kepala saya, tepat di pangkal telinga kiri. Duuhh., berkunang-kunang pemandangan waktu itu. Malam gelap sekali waktu kami berlatih di dojo kecil dibawah pohon jambu belakang asrama Banuhampu. Dia minta maaf, karena katanya itu tidak disengaja. Hampir saya emosi, tapi yaa…., itulah kini menjadi kenangan sangat manis.

Yang belum dapat dijawab sampai sekarang adalah kenapa Zukri tidak mempunyai keinginan bekerja sebagai seorang pegawai negeri atau swasta nasional dan perusahaan asing ?. Zukri lebih memilih jalur aktif di non pemerintahan. Pilihan boleh mana saja, tapi tabiat suka belajar dan tebar ilmu kemana pun sudah tradisi sejak mudanya. Makanya, dia diterima di berbagai kalangan karena sifat yang satu ini. Hal mana diimbuhi pula dengan karakter lainnya, yakni Zukri itu seorang pemaaf. Dalam banyak momen, saya melihat sendiri permaafan yang dilakukan terhadap pihak lain yang nyata-nyata merugikannya. Katanya : “dengan memaafkan kita dapat dua, kalau tidak memaafkan kita hanya dapat satu”. Demikian juga dalam hal hutang piutang, Zukri cenderung memberi maaf dan menyatakan hutang lunas agar pinjaman itu halal bagi si pengutang. Karena dia tahu si pengutang masih sulit hidupnya. Setahu saya, mungkin sikap itu pulalah yang membuat Zukri sekeluarga, tak kurang sesuatu apapun dalam mengayuh bahtera rumah tangga. Itu pula mungkin yang membuatnya sukses melalui cobaan keluarga, ketika anak bungsunya pernah sakit berat dan musibah 3 anaknya tertimpa bangunan waktu gempa bumi 2009 dikota Padang.

Selamat Bung Zukri, tempuhlah masa lansia yang penuh berkah dan sehat selalu bersama keluarga. Tentu dalam Lindungan dan Rahmat-Nya. Moga keinginan dan cita cita yang selalu timbul dan tidak semua terpenuhi, membuat Bung tetap eksis untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa. Saya tahu, itulah passion Zukri sedari dulu.

Bandung, 17 Agustus 2020

————

Indera bin Saibi SH, Menjalani masa pensiun dengan menetap di Bandung. Alumni jurusan Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Pajajaran – Bandung, telah mengalokasikan seluruh karir profesionalnya di PT. Jasa Marga (Persero) Tbk. Paska kebijakan pemerintah di bidang transportasi, mengharuskannya untuk purna tugas lanjut sebagai staf khusus bidang pembebasan lahan di PT. Jakarta Tollroad Development, yang membangun jalan toll Jakarta – Surabaya.

Adikku Zukri | Azmi Saad