Sparing partner Untuk Pengembangan Masyarakat

Oleh : Ichsan Malik

Awal mengenal lebih jauh kawan Zukri Saad dimulai pada pertengahan tahun 1986, ketika kami pada waktu bersamaan memulai kerja pengembangan masyarakat. Ketika itu saya mulai merintis kembali Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di Sumatera Barat, sedangkan dia sedang merintis kegiatan Yayasan Insan 17. Sebelumnya di Bandung kami pernah berjumpa karena saya aktif dibidang kependudukan dan kemiskinan, sedang Zukri aktif dibidang lingkungan dan teknologi tepat guna. Karena umur kami hanya beda sedikit, dia lebih tua, dalam pergaulan saya memanggil nama saja jadi rasanya lebih akrab dan tidak banyak basa basi.

Ketika kami memulai kegiatan “pengembangan masyarakat” di Sumatera Barat pada tahun 1986, kata itu masih merupakan kata asing ditelinga masyarakat. Pada masa pemerintahan Suharto saat itu yang dikenal hanya kegiatan pemerintah, dilakukan oleh pegawai negeri, atau kegiatan organisasi keagamaan. Tidak heran kalau kegiatan pengembangan masyarakat ini kadangkala mengundang rasa curiga dan tidak banyak mendapat dukungan. Serta orang-orang yang terlibat di dalam kegiatan pengembangan masyarakat masih dianggap orang yang tidak biasa atau agak menyimpang. Kalau diketahui latar belakangnya pernah menjadi aktifis mahasiswa, maka kegiatannya perlu dipantau.

Saya lebih fokus kepada kegiatan pengembangan kependudukan, pendidikan, dan kesehatan, sedangkan Zukri fokus kepada kegiatan lingkungan hidup dan teknologi tepat guna. Namun kami seringkali berkumpul, berdiskusi hingga malam hari karena orang-orang atau lembaga yang bergerak dalam kegiatan pengembangan masyarakat masih sangat terbatas di Sumatera Barat. Diskusi-diskusi yang terjadi ibaratnya adalah proses kaderisasi bagi teman-teman muda yang mengikuti. Menariknya, saya memang sering berbeda pendapat dengan Zukri, soal kaderisasi ataupun soal pengembangan masyarakat. Entah apakah karena saya memang belajar psikologi jadi saya jadi lebih “sabar”, mungkin Zukri karena orang teknik menurut saya dia selalu “tembak langsung” tetapi yang jelas kami memang seringkali berbeda pendapat. Perbedaan itu itu kadangkala pecah menjadi debat-debat yang agak panas dan bisa membuat gerakan pengembangan masyarakat menjadi terbelah.

Namun ketika saya telaah lebih dalam saat ini pada hakikatnya tidak ada perbedaan ideologis yang mendasar antara saya dan Zukri. Gerakan kependudukan dan kesehatan memang dipengaruhi oleh pemikiran Thomas R. Malthus yang meramalkan tentang akan terjadinya kelaparan di dunia akibat pertumbuhan penduduk yang tumbuh seperti deret ukur dan pertumbuhan pangan yang seperti deret tambah. Sedangkan Zukri juga lebih memikirkan keseimbangan antara populasi dan ekologis (Eco-populism), dibandingkan dengan lingkungan untuk lingkungan (Eco-fasism), atau lingkungan untuk pembangunan (Eco-developmentalism) seperti yang dianut oleh pemerintahan Suharto. Jadi perbedaan kami lebih kepada “cara” kepemimpinan serta perbedaan kecendrungan prilaku yang memang secara alami berbeda.

Persinggungan gagasan atau titik-titik temu saya dan Zukri terlihat nyata pada kegiatan Jambore Kependudukan di Taman Hutan Raya Bung Hatta pada tahun 1988. Di situlah kami berbicara soal kependudukan dan lingkungan. Di situlah kami belajar bekerjasama dari 2 gagasan besar dari dua aliran. Namun harus diakui bahwa “selera” saya dan Zukri tetap berbeda sehingga tetap saja terjadi pertengkaran dan suasana panas antara saya dan Zukri, yang juga berpengaruh kepada seluruh kelompok panitia. Jambore berlangsung dengan sukses dan meriah dengan sedikit meninggalkan hutang yang harus dicicil oleh PKBI.

Titik temu lain dari kegiatan saya dan Zukri adalah dalam kegiatan advokasi baik untuk lingkungan maupun untuk kependudukan. Kelihatannya kami sepakat bahwa perlu memiliki jaringan dengan media massa. Karena itu kita juga sepakat untuk melakukan kegiatan latihan jurnalistik bagi para aktifis. Kegiatan ini melibatkan para wartawan serta kami sebagai pelatih, hal ini juga menyebabkan kegiatan pengembangan masyarakat di Sumatera Barat semakin berkembang. Kami berdua menjadi lebih sadar akan pentingnya kampanye dan advokasi melalui media. Serta kami juga belajar untuk membuat reportase, serta membuat laporan perjalanan yang lebih menarik beserta foto-fotonya. Sayangnya memang tidak berlanjut kepada kegiatan “investigative report” seperti yang banyak dilakukan belakangan pada kegiatan hak asasi manusia atau pemberantasan korupsi.

Bagi pengembangan diri saya, ibaratnya Zukri menjadi sparring partner dalam olah raga tinju bagi saya dari waktu ke waktu. Seimbang baik kekuatan maupun kelemahannya. Harus diakui bahwa karena ada Zukri sebagai “musuh”, saya jadi lebih berkembang ilmunya. Zukri juga karena ada saya dia juga berkembang pesat. Pada masa tahun 1980 an belum banyak aktivis pengembangan masyarakat sehingga beruntung juga kalau kita punya sparring untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Selain di Sumatera Barat, saya dan Zukri juga malang melintang di Sumatera, di Sumatera Utara bersama Soekirman. Juga di Aceh masa itu ada Hasballah almarhum. Kami juga merambah ke Riau ada Tabrani disana. Merambah ke Jambi, Palembang dan Lampung untuk bersama-sama mengembangkan masyarakat.

Pada tahun 1991 saya melanjutkan sekolah ke UI serta kemudian bekerja di PKBI Jakarta selama 4 tahun. Sejak saat itu interaksi sudah mulai agak berkurang dengan Zukri, Namun kami acapkali bertemu dalam forum-forum nasional. Kemudian Zukri juga berkiprah ditingkat nasional bersama Walhi. Interaksi kami berlanjut terus pada tingkat nasional terkait dengan program pengembangan manajemen organisasi nirlaba. Kerjasama dari beberapa LSM termasuk PKBI dan Walhi. Berbagai tingkatan pelatihan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas LSM lokal diseluruh Indonesia. Pada saat itulah, selama sepuluh tahunan lahir 6000 an LSM di Indonesia yang memberikan kontribusi untuk terjadinya perubahan politik di Indonesia.

Setelah reformasi sejak tahun 2000 hingga 2003, kegiatan saya lebih terpusat di Maluku untuk membangun rekonsiliasi antara kelompok islam dan kelompok Kristen yang berperang. Saya menjadi inisiator untuk gerakan perdamaian Baku Bae Maluku. Sejak saat itu praktis sudah tidak ada lagi interaksi dengan Zukri. Setelah Maluku kegiatan saya kemudian beralih ke Papua, Sulawesi Tengah dan Kalimantan. Jadi sudah hampir tidak pernah ke Sumatera lagi. Saat ini saya sudah “parkir” di Perguruan Tinggi, alias sudah jarang ke lapangan lagi sebagai fasilitator pengembangan masyarakat. Saya turut mendirikan dan mengajar sebagai dosen kontrak di pasca sarjana Psikologi Intervensi Sosial dan Psikologi Perdamaian di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Serta turut mendirikan dan mengajar di jurusan Damai Resolusi Konflik di Universitas Pertahanan Indonesia. Tapi ada yang unik, seperti siklus yang berulang pada tahun 2019, saya terpilih untuk menjadi ketua pengurus nasional PKBI.

Zukri saat ini juga saya duga sudah kenyang dengan kegiatan pengabdian masyarakat. Saya dengar dia juga sudah bekerja diperusahaan perkebunan. Mungkin sama dengan saya dia sudah “parkir” pada suatu tempat baru. Berkurang keaktifan untuk mengurusi pengembangan masyarakat. Sudah lebih memikirkan diri dan keluarga. Tetap mengisi hari-hari secara produktif dan konstruktif, Namun sudah tidak marah-marah dengan keadaan, sudah tidak reaktif lagi dengan kondisi yang ada.

Tetapi saat ini saya dan Zukri bersama seluruh umat manusia di dunia sedang menghadapi pandemic covid 19. Suatu mahluk kecil yang tidak kelihatan tetapi sudah menyebabkan kematian lebih dari sejuta orang. Pandemi kini telah menyebabkan terjadinya krisis ekonomi global, serta menyebabkan ketidak percayaan yang merata diseluruh dunia terhadap pemerintahan yang ada. Semoga kita tetap sehat. Selamat ulang tahun yang ke 65 Zukri Saad.

————

Dr. Ichsan Malik, Menyelesaikan program doktor di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia di Bidang Psikologi Perdamaian. Saat ini menjadi Dosen tetap di Program Studi Damai Resolusi Konflik – Universitas Pertahanan Indonesia. Dosen kontrak Pasca Sarjana Psikologi UI. Pada tahun 2000-2003, Ichsan menjadi fasilitator Gerakan Baku Bae Maluku untuk perdamaian. Mengembangkan program deteksi dan respon dini di Myanmar pada tahun 2009. Pada tahun 2011 bersama NU, Ichsan menjadi mediator perdamaian di Afghanistan. Pada tahun 2015 bersama GPPAC, Ichsan berinisiatif untuk program perdamaian Track Two di Korea Utara. Saat ini Ichsan menjadi Ketua pengurus nasional PKBI-Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.

Adikku Zukri | Azmi Saad