Zukri Saad , Sang Konseptor Ulung | Syahril Amir

Oleh : Sebuah Catatan Kecil dari Sahabat Syahril Amir

Sang Konseptor Ulung. Jika mengingat awal mula pertemuan saya dengan Bang Zukri, saya tidak pernah menyangka bahwa kami bisa menjadi sahabat sedekat ini. Sebab, pertemuan kami di medio tahun 1994 saat itu terasa kaku. Masa itu, kami berlakon secara profesional sebagai aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang tengah menjalin proyek kerja sama di sebuah LSM Amerika yang punya kegiatan di Indonesia dan Asia Pasifik.

Di tahun tersebut, saya bekerja sebagai assistant project coordinator di sebuah LSM Internasional yang berkantor pusat di Washington DC bernama PACT (Private Agency Collaborating Together). Sementara Bang Zukri kala itu menjabat sebagai Direktur Eksekutif WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia). Kami membangun kerja sama dalam proyek STEP (Strengthening Technical Environmental-Economic Proficiency), sebuah proyek yang berusaha menghubungkan antara kegiatan ekonomi dan lingkungan, bagaimana masyarakat berkegiatan ekonomi sambil memperbaiki kondisi lingkungan sekaligus menjaganya. Dalam proyek itu kami berusaha merumuskan program-program apa saja yang akan dijalankan ke depannya. Tak hanya saya dan Bang Zukri, ada dua orang tokoh lagi yang terlibat yakni Bang Soekirman dan Pak Gustav, yang kini tetap bersahabat erat dan saling berkomunikasi intensif.

Selama merumuskan program, saya mulai kagum dengan konsep-konsep brilian yang ditawarkan Bang Zukri. Ide-idenya tersebut sangat segar dan tak pernah terpikirkan oleh orang biasa seperti saya dan rekan yang lain. Selama bekerja sama dalam proyek STEP ada banyak program lain dibawah PACT yang kami laksanakan , antara lain Program EPOCH/ Enabling Preventive HIV AIDS, Program Anak Jalanan, Program Ekowisata, dan Program Kecamatan Development. Semua program tersebut berhasil dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Program Kecamatan Development sampai kini dibawah program PNPM dan turunannya.
Meski begitu, hubungan personal saya dan Bang Zukri belum juga mencair. Kami masih bersikap secara profesional. Bahkan, kami belum juga mampu saling berbincang menggunakan bahasa Padang, padahal kami sudah saling tahu bahwa kami sama-sama berasal dari Suku Minang. Namun, kami mampu berbahasa Padang dengan rekan lainnya. Dan ketika yang lain menyapa Bang Zukri dengan panggilan Uwan, saya sampai kini malah memanggilnya dengan sebutan abang. Agak aneh interaksi kami saat itu.

Seiring berjalannya waktu, hubungan yang kaku itu perlahan mencair. Butuh waktu dua tahun bagi kami untuk bisa melebur. Kekaguman saya pada visi-visinya yang sangat luar biasa membuat saya tak bisa jauh-jauh dari Bang Zukri. Beliau seperti pemecah kebuntuan dari setiap masalah yang saya hadapi. Banyak hal yang tak bisa saya pecahkan, namun saat berdiskusi dengan beliau selalu ada jalan keluar. Bang Zukri selalu mempunyai istilah-istilah atau kosa kata untuk menggambarkan sebuah program. Misalnya saat beliau bilang Indonesia Timur adalah dompet masa depan Indonesia, dan spesifik lagi beliau mengatakan laut adalah dompet masa depan Indonesia, di masa itu kata-kata tersebut sangat luar biasa. Kala itu pemerintah sedang fokus pada pembangunan di daratan dan abai dengan laut di tanah air. Kata Bang Zukri, hal itu terbangun karena Indonesia dipimpin Presiden berasal dari pedalaman Jawa yang berperspektif pertanian. Logikanya, rakyat tidak akan berontak, kalau perutnya kenyang. Itulah wujud politik pertanian yang mewarnai kebijakan nasional.

Istilah ekowisata yang kini booming, itu juga termasuk ide dan konsep dari Bang Zukri, kalau tak salah pada awal tahun 1993. Saya ingat betul Bang Zukri membuat sebuah statement : “Ekowisata, Ilusi atau “Fatamorgana”. Pernyataan tersebut menjadi pembahasan serius bagi kami saat itu, apa mungkin konsep itu bisa terjadi? Namun, pada kenyataannya istilah ekowisata tak lagi menjadi sebuah ilusi atau fatamorgana. Kini istilah itu umum dipakai pelaku bisnis guna menyandingkan kegiatan pariwisata dengan lingkungan. Di Bali saya lihat banyak tempat wisata yang menawarkan aktifitas petualangan seperti itu dan apa yang diterapkan itu merupakan konsep ekowisata yang telah dikonsep Bang Zukri puluhan tahun silam.
Bagi saya, Bang Zukri merupakan Sang Konseptor Ulung. Apa-apa ide atau konsep yang dilontarkan Bang Zukri bukanlah hanya sebatas omong kosong belaka, beliau sudah memikirkannya dengan matang. Saat beliau berkata laut adalah dompet masa depan Indonesia, hal itu menurut saya sangat masuk akal. Dua kerajaan di Nusantara, Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit, pernah mengalami masa-masa kejayaan lantaran menjadikan laut sebagai sentra kegiatan ekonomi masyarakatnya.

Sayangnya, ide-ide beliau yang cemerlang itu kurang mendapat perhatian dari publik, mungkin karena dia bukan orang politik. Jadi beliau lebih gemar bekerja di balik layar. Oleh karena itulah, saya, Bang Kirman, Pak Gustav sangat membutuhkan beliau. Peluang dari konsep-konsep jenius Bang Zukri kami tangkap dan coba kami implementasikan. Bang Kirman contohnya. Beliau menangkap peluang ketika Bang Zukri bilang harus ada suatu kawasan untuk tempat pendidikan masyarakat yang bisa menjadi pilot model. Kami menyebutnya dengan istilah Community Learning Center (CLC). Segera Bang Kirman yang kini menjabat sebagai Bupati Kabupaten Serdang Bedagai – Sumatera Utara mencari lahan seluas tiga hektar di Desa Sayum Sabah, dekat destinasi wiata Brastagi untuk membuat CLC. Hingga saat ini, tempat itu menjadi tempat wisata yang sangat luar biasa dan dijadikan alternative tourism destination. Jadi tak hanya untuk tempat berlibur, masyarakat juga bisa mengadakan konferensi, seminar dan studi alam di sana.

Tak hanya itu, ide dan konsep Bang Zukri punya peran yang sangat penting dalam terpilihnya Bang Kirman sebagai Bupati Serdang Bedagai selama dua periode. Konsep-konsep yang dikemukakan Bang Zukri membuat Bang Kirman bisa maju dalam pemilihan kepala daerah tanpa modal sedikitpun. Justru Bang Kirman banyak mendapat sumbangan dari masyarakat atas pencalonannya itu.

Saya pun termasuk yang menangkap peluang dari ide yang dituangkan Bang Zukri. Ketika beliau mengatakan Indonesia seharusnya merupakan negara maritim maka perlu sentra-sentra produksi kapal untuk menunjang kegiatannya. Saya pun lantas membuat sebuah perusahaan galangan kapal bernama PT Andalas Bahari Lestari yang saat ini masih beroperasi dengan baik.

Sayangnya, Sang Konseptor Ulung itu hanya bisa mengkonsep, tetapi tak bisa menjalankan ide-idenya. Kesibukannya tiap hari, sepertinya hanya membuat ide saja. Itulah sebabnya perlu ada yang mendampingi beliau dan itu adalah kesukaan saya, menjalankan ide-ide tak biasa darinya. Ketidakmampuannya dalam mengeksekusi setiap konsepnya juga membawa keuntungan bagi sahabat-sahabatnya yang lain. Ide-ide itu kami tangkap dan coba kami implementasikan.

Hingga kini, Saya, Bang Kirman, dan kawan-kawan yang lain senantiasa menunggu konsep dari beliau untuk bisa kami implementasikan. Bang Kirman bahkan sering mengundang beliau untuk datang dan sekedar meminta saran dan mendengarkan ide-ide cerdas dari Bang Zukri. Bang Zukri memang selalu mempunyai ide-ide baru. Di saat kami semua kehabisan akal untuk memikirkan suatu konsep, beliau selalu hadir memecahkan semua kebuntuan kami.

Kembali ke tahun-tahun awal pertemuan, hubungan saya, Bang Zukri, dan yang lain sudah semakin dekat dan seperti saudara membuat kami mencoba membentuk sebuah LSM sendiri. Sekitar tahun 1996, saya, Bang Zukri, Bang Kirman, Pak Gustav, dan satu lagi Bang Chandra, kami membuat LSM PAKTA yang saat itu berkantor pusat di Jakarta. PAKTA (Pengembang Aktivitas Kemitraan Terpadu) nama itu memang mirip dengan LSM Amerika PACT, hanya ini versi Indonesianya. Kami membangun PAKTA agar tidak ada aliran dana ke luar negeri untuk menjalankan program CLC.

Selama di PAKTA kami banyak mendapat sokongan dari donatur dari luar negeri. Hal itu karena jejak rekam kami yang baik selama menjalani proyek STEP dulu. Saat terjadi tsunami di Aceh, kami mendapat donor dari Coca Cola Foundation untuk membuat Community Learning Center (CLC). Kami juga memberi terapi psikologis untuk menghilangkan trauma para korban tsunami. Setahun yang lalu, saat saya berkunjung ke Aceh, saya gembira karena masyarakat di sana sudah bertumbuh. Mereka punya usaha sendiri, punya gedung sendiri. Mereka sudah terlihat sangat mandiri.

Di Sumba, Nusa Tenggara Timur, konsep Bang Zukri kembali bermanfaat bagi masyarakat sekitar, bahkan PAKTA menjadi LSM terbesar di sana. Beliau membuat Sumba Development Program yang bekerja sama dengan AUSAID Kedutaan Besar Australia. Bang Zukri juga berhasil mengembangkan program agribisnis terpadu di sana. Jadi saat beliau berkunjung di Sumba yang mayoritas penganut katholik, ada satu karyawan keuskupan yang coba diinspirasi oleh Bang Zukri. Akhirnya mereka membuat agroindustri dengan memanfaatkan hasil peternakan dan pertanian yang memang sudah terkenal di daerah itu. Hasilnya, karyawan tersebut keluar dari pekerjaannya dan memilih fokus pada bisnisnya yang baru karena berpenghasilan lebih besar.

Di Lombok, Bang Zukri dan rekannya pernah beternak ayam potong. Tetapi dengan menggunakan metode berbeda. Mereka menggunakan musik agar ayam-ayam tetap tenang dan tidak stres. Musik yang diputar pun musik klasik. Karena berdasarkan hasil penelitian mereka, ayam akan menjadi kurus kalau mendengar lagu-lagu bernuansa rock. Berbeda jika mendengar lagu klasik, ayam-ayam potong tersebut akan banyak makan sehingga mereka cepat besar.

Tapi kini nama PAKTA tak lagi menggaung lantaran terjadi perpecahaan tim IT PAKTA dengan tim community Development. Jujur, saat itu saya sangat emosi karena sebagian besar komputer di bawa oleh tim IT. Awalnya saya ingin memperkarakannya dan ingin mengambil kembali komputer-komputer tersebut. Bang Kirman setuju dengan tindakan saya. Dia bilang, “Hantam. Cari Pengacara.” Saya pun semakin bernafsu untuk melaporkan tim IT tersebut. Tetapi, saat saya mendiskusikannya dengan Bang Zukri, beliau menahan saya dan meminta saya untuk bersabar. Saya sedikit kesal karena saya pikir dia bakal mendukung saya seperti Bang Kirman. Setelah lama-lama, saya berpikir ternyata apa yang dinasihatkan Bang Zukri pada saya itu benar. Jika saya memperkarakan itu, maka akan sangat panjang urusannya dan itu akan memakan waktu, tenaga, dan juga uang.  Itulah Bang Zukri. Meski beliau orang pergerakan yang sangat kritis dan selalu memperjuangkan kebenaran, tetapi untuk urusan sepele seperti masalah di atas dia begitu pemaaf dan tak ambil pusing. Selama masalah itu tak menyangkut hajat hidup orang banyak, maka beliau lebih memilih mengalah dan bersabar.

Bang Zukri memang orang pergerakan. Dulu saat beliau menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bang Zukri aktif menyerukan ketidaksetujuannya atas apa-apa kebijakan pemerintah yang tidak pro kepada rakyat. Tak hanya sekadar menyerukan, beliau bahkan ikut terlibat sebagai aktifis dalam peta pergerakan bersama senior-seniornya, seperti Rizal Ramli, Heri Akhmadi, Ramles Manampang dan banyak aktifis ITB lainnya. Beliau lebih banyak di lapangan berbaur dengan masyarakat, mencari tahu apa saja permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat. Berbasis kedekatan dengan masyarakat itulah, beliau bersama sekumpulan aktifis ITB dengan visi kemasyarakat yang tajam mendirikan Yayasan Mandiri. Lembaga ini didirikan dengan menggunakan instrument Teknologi Tepat Guna (TTG)sebagai titik masuk (istilahnya waktu itu entry points) untuk pengembangan masyarakat. Isu-nya, kalau masyarakat sudah mandiri, maka tentu bisa menuntut hak-nya kepada siapapun.

Itulah, kadang saya sempat berpikir bahwa beliau belajar di bangku kuliah dulu, bukan untuk belajar kimianya, karena Bang Zukri merupakan lulusan departemen kimia ITB, melainkan beliau belajar bagaimana buat demo, bagaimana mempengaruhi orang banyak, bagaimana bisa mempengaruhi kebijakan, seperti itu. Dan hal itu terpakai hingga saat ini. Selain sebagai konseptor ulung dan tokoh pergerakan, Bang Zukri juga hobi berpetualang. Beliau sudah melanglang buana ke se-antero negeri dan muka bumi. Bang Zukri sangat suka mengunjungi tempat-tempat baru, mempelajari kondisi sosial, budaya masyarakat sambil menginspirasi dengan ide-idenya yang bagi orang biasa terkadang tak logis. Hobi berpetualang itu juga menurut saya yang membuatnya susah untuk menerapkan konsep yang dibuatnya sendiri. Bang Zukri lebih memilih menebar ide dan membiarkan orang lain menjalankan tiap idenya.

Apapun itu, saya tetap mengakui bahwa Bang Zukri adalah orang yang sangat cerdas. Beliau adalah patron saya, dan saya sangat mengidolakan beliau. Saya sangat bersyukur bisa dipertemukan oleh Bang Zukri. Saya banyak belajar dan berani mengimplementasikan ide-ide ‘gila’ darinya. Setiap orang yang menanyakan saya tentang beliau, saya akan selalu berkata bahwa Bang Zukri merupakan sosok yang sangat visioner, konseptor ulung, dan bersahaja. Beliau mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Ketika beliau sedang berada di masyarakat biasa, maka Bang Zukri akan berbahasa yang mudah dimengerti masyarakat di sana. Ketika beliau berbicara dengan orang orang intelektual, maka gaya bicaranya akan sangat intelektual, mirip dosen dari perguruan tinggi. Demikian pula, ketika berhadapan dengan pejabat dan birokrasi pemerintah, beliau sangat fasih berbicara sektor-sektor pembangunan yang berpihak kepada rakyat banyak.

Bang Zukri dan Bule Amerika. Sisi lain dari Bang Zukri satu lagi yang menurut saya unik adalah ternyata beliau orang yang sangat humoris. Banyak candaan yang berhasil mengocok perut para sahabatnya. Hebatnya, kelakar yang Bang Zukri buat tampak elegan dan memang betul menampakkan keintelektualan yang dimiliknya. Seperti saat kami masih tergabung dalam proyek STEP di tahun 1995, ada satu bule ekspatriat Amerika. Andra Corother namanya. Saat itu Andra sudah mampu berbahasa Indonesia dengan baik. Ketika sedang makan siang, kalau tidak salah Andra saat itu tengah menyantap ayam goreng atau soto ayam. Lalu Bang Zukri iseng bertanya pada Andra tentang asal-usul ayam yang kini tengah dimakannya.

Lucunya, Andra menanggapi ucapan Bang Zukri dengan serius. Dia pun lalu bertanya dari mana asal ayam yang dimakannya itu. Lalu Bang Zukri bercerita. Kata Bang Zukri, awalnya ayam itu dimasak menjadi opor ayam. Kalau ada sepuluh potong opor ayam dijual dan laku hanya lima, sisa yang limanya akan digoreng untuk dijual di hari kedua. Ayam tersebut digoreng dengan sambal/lado yang terpisah. Jika laku dua, maka tinggal sisa tiga ayam lagi. Dan esoknya, penjual akan menggoreng kembali ayam itu lalu mencampurnya dengan sambal. Kemudian, jika sambal ayam itu hanya laku satu, maka besoknya ayam tersebut akan disuwir-suwir penjual untuk dijadikan soto. Andra saat itu terlihat mengangguk dengan pandangan yang sedikit panik.

Lalu Bang Zukri melanjutkan pembicaraannya. Kata dia, “Jadi Andra, kamu makan apa? Kalau kamu makan soto berarti kamu makan ayam hari ke empat.” Andra lalu menghentikan makannya lalu berseru, “Zukri, kamu kurang ajar. Saya enggak mau makan ayam lagi kalau sudah hari ke empat.” Ha…ha, Andra yang kelak menjadi teman baik itu bisa juga mengumpat, memaki keteledorannya dalam standar Amerika.

Semua yang ada di situ tertawa. Termasuk saya yang tertawa puas sekali. Saya menjadi semakin kagum dengan Bang Zukri karena tidak semua orang bisa membuat lawakan seperti itu. Dan beliau bisa membahasakannya dengan baik dengan ekspresi yang baik pula sehingga membuat orang seperti percaya dengan gurauannya.

Bang Zukri juga pernah mengomentari profesi Ustadz. Dia bilang, “Kok ustadz dibayar mahal-mahal sih, harusnya saya dong yang dibayar mahal.” Saya lalu bertanya apa alasan mengapa beliau harus dibayar lebih mahal dari ustadz. Dengan santai beliau menjawab hal itu karena apa yang disampaikan oleh ustadz sudah dikonsep sama Allah. Al-Quran, hadits semua datang dari Allah. Para ustadz hanya tinggal menyampaikan saja ke masyarakat. Sementara Bang Zukri, beliau sebelum menyampaikan ke orang, harus benar-benar dipikirkan dulu apa apa saja yang akan disampaikan, konsep apa saja yang akan dibuat untuk masyarakat, harus membuat sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Kalau Bang Zukri mengatakan istilahnya beliau membuat ayat sendiri, sementara ustadz tidak. Itu yang membuatnya seharusnya dibayar lebih mahal dari ustadz. Mendengar itu, saya hanya bisa tersenyum simpul. Ya, nanti Tuhan membalas dakwah bilhal-nya dengan pahala berlipat ganda.

Saat ini, di usianya yang menginjak 65 tahun, saya melihat ada perubahan yang cukup mencolok, tentunya perubahan itu ke arah yang lebih baik. Saya lihat Bang Zukri terlihat lebih religius, lebih senang mendalami masalah agama, bahkan dia tengah belajar menghafal ayat-ayat Al Quran. Walaupun masa mudanya penuh dengan jalan berliku, tetapi kini menurut saya dia sudah masuk pada track-nya. Dia sedang membuat persiapan matang untuk setiap saat dipanggil menghadap-NYA. Kalau tidak salah, saat ini beliau sedang dalam tahap menyelesaikan khatam Qur’an ke 100 tahun ini. Beliau tekun dan rutin membaca Alqur’an.

Bang Zukri juga sejak dua tahun terakhir ini mulai mengontrol makanannya. Jika sebelumnya beliau makan apa saja, tidak ada makanan yang beliau tidak suka, semua makanan dia suka. Kini dia sedang menjalani diet keto mengikuti istrinya, diet ketat rendah karbo. Jadi menghidari makan nasi, roti dan sejenisnya. Jadi kalau kami sedang makan bareng beliau, beliau makan tidak pakai nasi tapi lauknya banyak, bisa empat atau lima macam. Tak hanya itu, untuk urusan minum pun berubah. Dulu, Bang Zukri paling senang minum es, apapun harus es, air putih sekalipun harus pakai es, bahkan es batunya ikut dimakan oleh beliau, hal itu sebenarnya sempat membuat saya dan rekan lainnya ngeri melihatnya. Namun, sekarang sudah tidak lagi. Buah-buahan pun tak semua dimakan, hanya alpukat saja yang beliau makan. Terkadang kami sering meledek beliau dan Bang Zukri menanggapinya dengan santai. Dia merasa hidupnya lebih sehat dengan menjalani diet seperti itu. Saya harap beliau memang selalu begitu.

Kekayaannya Adalah Kawan. Sebagai aktivis LSM, ada seorang kawan yang memberi istilah orang-orang yang bergerak di LSM ini semakin hari semakin jelas ketidakjelasannya. Saya pikir omongan itu ada benarnya juga. Karena orang orang LSM untuk mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya hanya mengandalkan proyek. Jika ada proyek amanlah hidup kami, jika tidak? Itu sebabnya banyak pegiat LSM yang juga merangkap sebagai pengusaha atau pekerjaan lainnya.

Namun, itu tidak berlaku dengan Bang Zukri. Hidupnya benar-benar didedikasikan untuk masyarakat dan lingkungan. Hobinya berpetualang membuatnya banyak memiliki teman. Sikapnya yang humble dan mudah bergaul serta ide-ide briliannya yang tak segan beliau bagi untuk semua pihak, membuat sosok Bang Zukri banyak disenangi kawan dan lawan.
Beliau juga sangat pintar merawat dan menjaga komunikasi dan hubungan baik dengan kawan-kawan lama. Dengan saya sendiri, paling tidak kami sebulan sekali bertemu. Sementara untuk saling bertelepon, kami sering melakukannya. Setiap pertemuan dengan Bang Zukri tak pernah ada hal yang terbuang sia-sia. Beliau selalu membahas masalah ke depan yang sarat ilmu.

Yang paling saya suka dari Bang Zukri adalah beliau mempunyai prinsip yang sangat kuat. Meski memiliki banyak teman dari kalangan menengah ke atas, namun pantang baginya untuk merendahkan diri dengan menjilat rekan-rekannya untuk mendapatkan apa yang beliau inginkan. Sekelas menteri sekalipun umpamanya, jika Bang Zukri tidak suka dengan sikap dan kebijakannya, beliau akan mengatakan ketidaksukaannya. Beliau memang sangat kritis sekali.

Sebenarnya saya sempat khawatir dengan cara Bang Zukri berkeluarga karena beliau lebih mengedepankan pergerakan dari pada kehidupan pribadi. Namun, yang membuat saya takjub dia tak pernah kekurangan meski tak memiliki apapun. Selalu ada saja pertolongan. Ya itu mungkin karena beliau suka menolong jadi dia pun banyak ditolong orang. Bang Zukri suka membela masyarakat, maka beliau pun dibela.

Saat menikah saja di tahun 1994, Bang Zukri tak memiliki apapun tetapi berkat pertemanan semua prosesi pernikahan berlangsung dengan beres. Bang Zukri termasuk orang yang telat menikah. Beliau menikah kalau tidak salah di usia 39 tahun. Hobinya berkelana membuatnya hampir lupa untuk berumah tangga. Waktu anak ketiganya, Dana Putra Kembara, terkena serangan penyakit leukemia – kanker darah -beliau tak punya uang seperak pun untuk membiayai pengobatan anaknya itu. Saya satu-satunya sahabat yang dimintai pertolongan oleh Bang Zukri. Saya bilang ke beliau, “Abang memang modal duit tidak ada, tapi modal sosial banyak. Coba nanti saya hubungi kawan-kawan yang lain.” Alhamdulillah, bantuan mengalir deras. Kini anak ketiganya sudah sembuh dan bulan Juni 2020 yang lalu menyelesaikan kuliahnya di ITB, di Jurusan Ilmu dan Teknologi Hayati. Katanya, Dana menjalani wisuda daring karena Indonesia sedang dilanda pandemi Covid-19.
Bang Zukri memang orang pergerakan yang anti kemapanan. Beliau tidak mau menjadi mapan, sebab menurutnya kemapanan membuat orang menjadi tidak kreatif. Ketidak-mapanan justru memacu seseorang untuk berpikir menciptakan peluang baru untuk bisa bertahan. Sebagai sahabat, saya mengakui bahwa cara berpikir Bang Zukri memang out of the box, beliau berpikir melawan arus. Itulah sejatinya memang orang gerakan, anti kemapanan.

Bukti kalau Bang Zukri adalah orang yang anti kemapanan adalah saat ada kawannya yang sudah menjadi pejabat, beliau memilih mundur dan tidak mau dekat-dekat. Bang Zukri takut dikira menginginkan sesuatu saat dekat dengan salah satu pejabat. Saya pernah mengatakan kepada beliau saat salah satu temannya berhasil menjadi gubernur. Saya bilang ke Bang Zukri untuk minta menjadi penasihat atau staf ahli. Bukan meminta sebagai previlege karena membantu mengonsep temannya itu menjadi gubernur, melainkan memang sesuai kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki Bang Zukri. Dan menurut saya wa ktu itu, Bang Zukri sangat layak ditempatkan sebagai staf ahli gubernur. Tapi, beliau tegas menyatakan tidak berminat.

Beliau hanya menjawab, “Ah, bukan begitulah, Ril. Kalau kawan sudah jadi gubernur, awak menyingkirlah.” Saat itu saya hanya terdiam antara rasa kagum karena idealisnya yang kuat dan rasa prihatin karena kehidupan Bang Zukri sangat sederhana. Beliau bukan pegawai negeri, anak masih kuliah dan butuh biaya banyak. Namun, Allah memang Maha Adil dan Maha Mencukupi. Apa-apa yang dibutuhkan Bang Zukri dan keluarga selalu terpenuhi. Ada saja bantuan dari kawan-kawannya. Hingga sempat saya bilang ke Bang Zukri kalau kekayaannya adalah teman. Beliau memang tak secara langsung memperoleh uang dari hasil pekerjaannya, melainkan dari rekan-rekan yang dia bantu.

Berbeda dengan Bang Kirman, meski Bang Kirman kini menjabat sebagai Bupati Serdang Bedagai, Bang Kirman masih sering kontak Bang Zukri. Bang Kirman sangat butuh Bang Zukri untuk membantunya membuat ide-ide untuk membangun daerahnya. Untuk itu, Bang Kirman selalu cari cara agar Bang Zukri mau mengunjunginya.
“Kri, kalau kamu tinggalkan aku sendiri mati aku tinggal sendirian, bingung kalau aku mau buat sesuatu. Ku kirimkan kau tiketlah,” kata Bang Kirman. Kalau seperti itu, baru Bang Zukri mau. Beliau merasa dihargai. Tapi kalau dia yang datang-datang untuk meminta ini dan itu, itu hal yang paling pantang buat Bang Zukri. Apalagi jika temannya yang pejabat itu lupa dengan jasa-jasa beliau, tidak ada istilah baginya untuk datang dan mengingatkan kawannya itu. Kalaupun kepepet, Bang Zukri biasanya datang ke saya. Nanti saya coba cari solusinya, seperti saat anaknya sakit, saya yang mencoba menghubungi rekan-rekan yang lain untuk menggalang bantuan pengobatan anak Bang Zukri. Itu mungkin yang membuat Bang Zukri tidak mau jauh-jauh dari saya. Dan saya amat tersanjung, karena dianggap menjadi bagian penting bagi dirinya. Padahal teman beliau amat sangat banyak, saya hanya sebagian kecil dari kawan Bang Zukri.

Jika mengingat satu per satu nama kawannya, tak terbayang betapa hebat-hebatnya mereka. Ada yang punya showroom, ada yang menjadi direktur utama. Bahkan ada beberapa Dirut BUMN dekat sekali dengan Bang Zukri. Pernah mengajak Bang Zukri untuk meminta dana CSR, beliau malah tidak mau. Pantang sekali baginya untuk meminta-minta kepada teman yang sedang memiliki jabatan.

Meski tidak ingin hidup mapan, Bang Zukri mampu membesarkan dan menguliahkan anaknya di perguruan tinggi ternama di Indonesia. Dua anaknya alumni ITB dan satu lagi alumni Universitas Indonesia. Dua anak sudah bekerja mapan, si Bungsu sudah wisuda, saat ini sedang pada fase memasuki dunia kerja pula.

Memasuki masa tuanya, saat beliau tak lagi menjabat sebagai pimpinan di perusahaan swasta, Bang Zukri berniat menghabiskan waktunya di tanah kelahirannya Sumatera Barat bersama keluarga. Tentu saya yakin, di sana beliau tak bisa hanya berdiam diri. Akan ada konsep-konsep luar biasa yang akan dia buat untuk membangun provinsinya. Dan tentu saja, saya dan rekan yang lain sudah siap untuk bergerak mengeksekusi setiap ide briliannya.

Senja yang Selalu Terang. Di usianya yang menginjak 65 tahun pada 5 November 2020, semangat Bang Zukri membangun masyarakat dan lingkungan tak pernah padam. Meski memasuki usia senja, yang saya lihat di kepalanya masih penuh dengan ide-ide yang ingin beliau bagikan untuk para sahabat dan generasi muda.

Beberapa waktu lalu, Bang Zukri sempat mengatakan kepada saya bahwa beliau dan keluarga akan kembali pulang dan menetap di Padang, tepatnya di Payakumbuh karena masa jabatannya sebagai salah satu pimpinan di sebuah perusahaan swasta sudah habis. Beliau juga mengatakan program-program yang akan dia bangun jika beliau tinggal di tempat itu. Salah satu rekan Bang Zukri di Payakumbuh memfasilitasi tempat tinggal dan lahan untuk dikelola oleh beliau sesuai gayanya. Namun, saya berpikir sejenak, jika Bang Zukri tinggal di Payakumbuh maka akan sulit bagi sahabat-sahabatnya untuk datang mengunjungi dia karena lokasi yang cukup jauh dari bandara. Sementara, rekan-rekan beliau kebanyakan orang-orang eksekutif yang memiliki jadwal kerja yang padat.

Saya khawatir nantinya konsep-konsep yang dia buat tidak bisa berjalan, karena tidak ada teman yang membantu mengimplementasikannya. Dan setahu saya beliau termasuk orang yang tidak bisa menyendiri. Bang Zukri suka keramaian, Beliau suka bersosialisasi dengan masyarakat, dan Bang Zukri suka berbincang dengan banyak orang tentang ide-ide di kepalanya. Saya kemudian menyarankan kepada Bang Zukri untuk memindahkan konsep yang beliau sudah buat di Payakumbuh ke Padang saja.

Saya pun sudah menemukan tempat yang tepat untuk Bang Zukri mengembangkan konsep emasnya di Padang. Saya mengatakan pada Bang Zukri untuk membangun idenya di Lubuk Minturun – Padang. Hal itu karena lokasinya yang tak jauh dari Bandara Internasional Minangkabau. Artinya, setiap saat bila ingin bepergian keluar kota, cukup setengah jam sudah bisa mencapai bandara Internasional Minangkabau. Saya yakin rekan-rekan lain yang dari Jakarta dan Bandung akan mudah mengunjungi beliau sebab jarak dari bandara ke lokasi. Bang Zukri saat itu membalas dengan polosnya, “Lalu bagaimana kan naik pesawat, kan mahal ongkosnya.”
Saya kembali meyakinkan Bang Zukri bahwa teman-teman beliau adalah para eksekutif yang tidak lagi memikirkan berapa harga tiket pesawat. Harga tiket pesawat tidak sebanding dengan ilmu yang akan mereka dapat dari Bang Zukri. Bahkan saya pun memastikan paling tidak sebulan sekali saya akan ke Padang mengunjungi beliau.

Bang Zukri nampaknya setuju dengan saran saya tersebut. Beliau mencoba mengonsep kembali program-program apa saja yang cocok untuk dikembangkan di sana. Di Lubuk Minturun, rencananya beliau akan membuat konsep kawasan penginapan untuk para pensiunan. Saya tak terlalu ingat istilah bahasa Inggris yang sudah Bang Zukri bilang, bagus sekali istilahnya. Kalau tak salah disebutnya sebagai Senior Citizen Resort, kawasan pemukiman untuk orang yang mash bisa produktif di usia senja.

Di sana akan dibangun kawasan pemukiman untuk rekan-rekannya yang sudah pensiun, yang sudah tidak mau beraktivitas lagi dan ingin menikmati masa tuanya. Menurutnya, jika para pensiunan itu tinggal sendiri sendiri, maka akan mudah mereka diserang berbagai macam penyakit. Namun, kalau mereka tinggal berkelompok, membentuk komunitas, mereka bisa saling berinteraksi dan pada akhirnya bisa meningkatkan semangat hidup. Bang Zukri malah sampai memikirkan untuk menyediakan ambulans dan heli-pad jika sewaktu-waktu salah satu dari mereka perlu mendapat perawatan medis kalau kondisinya darurat. Mereka dengan mudah bisa berobat ke rumah sakit ke Singapura dengan mudah karena dekat dengan bandara.

Mendengar itu, saya hanya bisa berdecak kagum. Begitu cepat Bang Zukri membuat konsep dan lagi-lagi konsep yang beliau buat tak pernah terpikirkan oleh orang-orang biasa. Ide Bang Zukri itu sangat masuk akal. Biasanya di usia 60 tahun ke atas orang-orang sudah hidup dengan mapan. Mereka tidak lagi berpikir tentang uang, tetapi bagaimana mereka bisa memperoleh kenyamanan menghabiskan sisa-sisa umurnya. Itulah mengapa Bang Zukri sangat yakin konsep ini akan laku dijual.

Selain konsep untuk orang tua, Bang Zukri juga sudah mengonsep program untuk anak muda di Lubuk Minturun itu. Kami ingin membuat semacam CLC di sana atas nama PAKTA. Sampai hari ini, saya dan Bang Zukri masih sering berdiskusi tentang PAKTA, organisasi yang menjadi kebanggaan kami. Kami berpikir bagaimana dalam waktu dekat bisa membangunnya kembali. Nantinya, kami akan mengundang anak-anak muda baik mahasiswa dari UNP, Unand, UPI, Unbrah dan berbagai perguruan tinggi lainnya, ataupun kaum milenial yang mau bergerak untuk kami ajak brainstorming. Kami membangun pergerakan anak muda ini bukan untuk yang demo-demo saja, melainkan bagaimana para muda-mudi ini bisa merubah tatanan sosial ke arah yang lebih baik atau istilah kerennya community development. Saya pikir hal itu tidak akan memberatkan kaum muda karena semua akan kita fasilitasi. Mulai dari makan, minum, penginapan, semua kami tanggung. Mereka hanya butuh kendaraan untuk bisa sampai ke lokasi, dan itu menurut saya sangat terjangkau bagi anak-anak muda.

Mungkin dalam tahun depan, Insya Allah akan ada Kampus PAKTA, kampus alam yang akan memfasilitasi para senior dan juniornya. Soal istilah kerennya, kami serahkan pada ahlinya, Bang Zukri. Beliau nanti yang akan menjadi rektor dan guru besar. Sedangkan saya, Bang Kirman, dan Pak Gustav hanya sebagai dosen terbang saja, yang akan berbagi pengalaman menginspirasi kepada kaum muda.

Bang Kirman nanti bisa mengisi kegiatan dengan berbagi ceritanya sebagai seorang aktivis LSM lingkungan hidup yang sukses menjadi Bupati di Sumatera Utara tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Pak Gustav, seorang akuntan, juga bisa berbagi pengalamannya tentang green support fund, sebuah cara mengelola uang tanpa harus merusak lingkungan. Atau teman-teman yang lain, para pensiunan misalnya seorang dokter ahli bisa membagi ilmunya ke para calon dokter juga tanpa harus mengganggu kenyamanan para senior. Intinya, konsep Kampus PAKTA yang dibuat Bang Zukri menjadi tempat para anak muda untuk menggali ilmu dari kematangan pengalaman para seniornya.

Oleh sebab itu, keberangkatan Bang Zukri ke perantauan ketiga ke kampung halaman ini, menurut saya menjadi momen yang tepat untuk membangkitkan PAKTA dari tidur panjangnya. Saya akan menyusul kemudian, saat dana untuk membeli lahan sudah tersedia. Jadi saya dan Bang Zukri berbagi tugas, Bang Zukri berkreasi memikirkan konsep, sedangkan saya dan yang lain bertugas mencari dana untuk merealisasikan konsep itu.
Saya dan yang lainnya masih optimis ketika konsep yang ditawarkan pasti akan bagus, mestilah akan banyak donatur yang akan membantu. Sejauh ini, konsep yang dihadirkan Bang Zukri selalu dinantikan dan diikuti oleh siapapun, termasuk saya. Ide brilian Bang Zukri tak berhenti tentu sampai di situ. Beliau juga berencana akan mengembangkan peternakan ayam kampung dengan cara yang tidak biasa yaitu dengan memberi makanan pada ayam dengan makanan buatan sendiri yang kandungan gizinya tinggi sehingga ayam-ayam kampung tersebut akan cepat besar secara alami. Hal itu sudah beliau coba lakukan dengan rekannya di Padang dan ternyata hasilnya bagus dan beliau ingin mengembangkannya lagi dengan skala yang lebih luas. Seperti itulah Bang Zukri, tak pernah kehabisan ide meski usianya sudah lanjut. Beliau senja yang selalu terang, tak pernah redup oleh malam. Meski fisiknya sudah terlihat menua, mulai botak dan kumis memutih, namun isi kepalanya masih sama saat masih muda dulu. Tetap energik dan bersemangat meyakinkan para pemangku kepentingan.

Gross National Happiness. Ada satu mimpi yang saat ini belum berhasil Bang Zukri wujudkan. Beliau ingin sekali pergi ke suatu Negara kecil, kalau tidak salah Negara Bhutan namanya. Negara tersebut hidup minimum penggunaaan mesin, sangat selaras dengan alam sekitar. Semua kegiatan berjalan secara manual dengan peralatan sederhana layaknya tempo dulu. Masyarakat di sana masih menggunakan hewan ternak sebagai alat angkut sehingga transportasi umum mereka menggunakan pedati untuk mengangkut barang-barang yang berat. Dan untuk ke sana tidak bisa langsung menggunakan pesawat, butuh kendaraan lain untuk bisa menjangkau tempat itu.

Membayangkan tempat itu, saya pribadi mungkin enggan untuk pergi ke sana. Untuk berpikir-pun tak pernah. Saya dan mungkin yang lainnya akan lebih memilih negara-negara yang memiliki teknologi tinggi untuk disinggahi. Namun, seperti itulah Bang Zukri, beliau termasuk orang yang kontradiktif dalam mengambil posisi. Ketika banyak orang bilang baik, belum tentu menurutnya baik. Boleh semua orang belok ke kanan, beliau tak ragu-ragu berbelok kekiri. Bila beliau yakin, sendirian-pun akan dilakoninya.
Ketika orang lain berpikir butuh tangga untuk bisa mencapai ke atas, beliau bisa memikirkan banyak cara lain, untuk duluan sampai ke atas. Sifat seperti itulah yang membuatnya tak lelah berpikir menemukan konsep-konsep baru. Hidupnya adalah untuk berpikir. Dan hasil pemikirannya banyak dipakai dan bermanfaat bagi banyak orang sejenis kami para pengikutnya.

Bagi beliau, senja selalu terang. Bang Zukri mampu mengalahkan laju usianya dengan ide-ide segarnya. Seorang panutan yang sangat sederhana dan tak ingin dikenal. Seorang guru yang tak mengharap imbalan. Beliau tulus bergerak untuk kebaikan banyak orang.

Kelemahan Bang Zukri adalah keuntungan bagi kami, para sahabatnya. Kelemahannya yang tak mampu menjalankan konsep yang dia buat membuat kami saling berebut dan menanti setiap ide baru. Saya pribadi selalu merasa tercerahkan usai berdiskusi dengan Bang Zukri. Banyak hal yang saya pelajari dari beliau. Tak hanya soal duniawi, soal akhirat pun bayak keteladanan yang bisa diambil dari beliau. Soal kesederhanaan, ketenangan, dan kepasrahannya pada Tuhan, membuat saya berkaca menilai sudah sejauh mana penghambaan saya pada Tuhan.

Namun, sebagai sahabat yang kerap berbagi suka dan duka, saya juga punya pengharapan untuk Bang Zukri. Saya berharap kali ini Bang Zukri ini bisa menetap di Padang, di tanah kelahirannya. Jadilah guru besar di sana, guru bangsa tempat orang bertanya, mengadu, dan bercerita.

Saya dan rekan lainnya tentu akan siap sedia mendampingi Bang Zukri, mengimplementasikan setiap ide briliannya guna kemaslahatan bersama. Kami juga dengan senang hati siap menjadi pendengar yang baik atas setiap kata yang keluar dari Bang Zukri. Tetapi, kami juga tidak bisa memaksa jika suatu saat Bang Zukri kembali menjelajah dunia. Karena kami sangat paham, apa yang Bang Zukri lakukan adalah bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan banyak orang. Semoga Bang Zukri dan keluarga senantiasa dalam perlindungan Allah SWT.

Jakarta, Akhir September 2020

————

Ir. H. Syahril Amir, Alumni Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman – Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang, menetap di Jakarta. Pernah setahun berkarir sebagai staf peneliti di Labratorium Bioteknologi Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan – Departemen Pertanian di Bogor, pada 1993. Karir panjang didedikasikannya di dunia konsultasi pembangunan internasional seperti USAID, AUSAID, Sekjen Masyarakat Ekowisata Indonesia, terlibat penuh dalam Mitigasi dan rehabilitasi paska Gempa dan Tsunami Aceh, program pengembangan kenelayanan rakyat. Pengalaman itu membawanya pada kesimpulan untuk perlu mendirikan usaha pengembangan kelautan dan kenelayanan rakyat di Indonesia Timur. Menurutnya, republik perlu membangun puluhan resort nelayan lengkap terpadu (Integrated Fisheries Vessels) didukung teknologi mutakhir untuk kesejahteraan nelayan berkelanjutan di seluruh kawasan, Santiri dan Sanbari.

Adikku Zukri | Azmi Saad