Uda Zukri Yang Saya Kenal

Oleh : Adi Patria

Saya pertama kali berkenalan dengan uda Zukri Saad pada tahun 1978. Waktu itu saya masih remaja usia 18 tahun. Saat tulisan ini dibuat, saya sudah berusia 60 tahun. Jadi sudah 42 tahun berlalu. Saya masuk ITB pada tahun 1978. Waktu itu kampus ITB dijaga oleh Angkatan Darat, Mahasiswa baru bisa masuk kampus dengan kartu khusus. Mahasiswa senior belum ada kegiatan di kampus.

Setelah mahasiswa senior diizinkan masuk kampus, kami mulai mengikuti program Orientasi Studi (OS). Program ini berlangsung 2 semester. Setiap mahasiswa harus mengikuti 2 Unit Kegiatan per-semester. Untuk olah raga dan seni, saya memilih silat Bandar Karima dan senam Olah Raga Hidup Baru (ORHIBA). Untuk Unit Kegiatan , saya memilih surat kabar mahasiswa “Kampus” dan Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK). Dua unit ini adalah pilihan yang sangat tepat untuk mengasah pikiran dan menulis.

Saya pertama kali berkenalan dengan Uda Zukri Saad pada tahun 1978 di unit PSIK ITB yang waktu itu berkantor di Student Center Timur. Uda Zukri 2 tahun lebih senior dari saya. Uda Zukri masuk ITB angkatan 1976. Uda Zukri adalah salah satu mentor saya di PSIK.

Berdiskusi tentang masalah kemasyarakatan adalah kegiatan PSIK. Uda Zukri tentunya sudah jadi mentor. Sedangkan kami waktu itu sebagai mahasiswa tahun pertama masih unyu2. Perbedaan angkatan 2 tahun waktu itu, terasa bahwa beliau sangat senior.
Saya sangat terkesan dengan Uda Zukri karena beliau sangat aktif dalam diskusi- diskusi di Student Center. Beliau kelihatan sangat cepat menangkap gagasan pembicara dan sangat lancar mengemukakan gagasannya.

Saya sendiri kurang lancar mengemukakan gagasan secara lisan. Tapi saya bisa menulis. Artikel saya dimuat di surat kabar Kompas dan Pikiran Rakyat sejak tahun 1978. Sebagian bahan artikel tersebut adalah dari diskusi dengan teman2 dan senior di Student Center.

Seiring perjalanan waktu, saya jadi mahasiswa senior juga. Pada tahun 1981 Uda Zukri termasuk salah satu senior yang mendorong saya untuk jadi Ketua Himpunan Mahasiswa Geofisika & Meteorologi (HMGM). Katanya, “Jangan menulis doang bisanya, buktikan dengan jadi Ketua Himpunan”. Aktivitas sebagai Ketua HMGM dan mengajak teman2 untuk menerbitkan bulletin Himpunan “GEOF”, membuat aktivitas saya di PSIK berkurang. Jadi jarang bertemu dengan Uda Zukri. Pada tahun 1982 saya sadar sudah saatnya untuk menyelesaikan kuliah.

Saya diwisuda bulan Oktober 1983 dan mulai awal tahun 1984 bekerja sebagai Geophysicist (Ahli Geofisika) untuk Mobil Oil Indonesia Inc. (sekarang ExxonMobil) sebuah perusahaan minyak asing di Jakarta. Saya tidak pernah bertemu secara fisik dengan Uda Zukri, tapi masih dapat kabar tentang beliau sebagai aktivis lingkungan. Sekilas tentunya dari adik-adik aktifis ITB.

Kami bertemu kembali tahun 2005 di kantor Uda Asrul St Basari (Uda Un), senior saya di Departemen Geofisika & Meteorologi ITB. Waktu itu saya bekerja untuk Uda Un sebagai GM di perusahaannya, di dealer Honda – Istana Kebun Jeruk. Saya baru tahu kalau kedua senior saya ini adalah sohib dari masa kecil di Padang. Bahkan sama2 alumni SMAN 1 Padang. Saya sendiri alumnus SMAN II di Padang.

Da Zukri makin lancar kalau berdiskusi dan perhatiannya sangat luas. Beliau selalu punya gagasan dan masukan untuk berbagai topik diskusi dalam hal kemasyarakatan. Apa lagi aktivitasnya di banyak negara. Beliau bertemu banyak orang dengan berbagai latar belakang. Tindak lanjut (follow through) dari gagasan da Zukri tentu terpulang kepada pendengar. Realisasi ide tentunya perlu waktu dan sumber daya lebih banyak.

Kami bertemu kembali setelah itu, ketika bergabung dengan WAG Minang Bandung (kumpulan alumni asal minang yang dulu berkuliah di Bandung). Ternyata Uda Zukri jadi mentor juga untuk angkatan yang relatif lebih muda, sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Minang Bandung untuk Indonesia (YMBI). Mereka memanggilnya Uwan Zukri. Biarlah, tapi saya mau tetap menyebutnya Uda Zukri. Yayasan memiliki berbagai aktifitas, seperti memberi beasiswa untuk mahasiswa Minang, Mengembangkan bisnis start-up untuk alumni MB yang ingin berwiraswasta dalam jaringan MB-Preneur dan memiliki kegiatan kongkrit di kampong halaman. Saya berharap, Uda Zukri di umurnya yang sudah masuk tahapan Lansia Muda, tetap beraktifitas dan berkarya. Itu pula yang menjadi keinginannya, umur bukan alasan untuk pensiun.

Jakarta, 17 Agustus 2020.

Adikku Zukri | Azmi Saad