Uwan Sukri – Makhluk Berpikir

Oleh : Syafril Rivai

Kami telah saling kenal sejak menjadi mahasiswa, baik di kampus ITB maupun dalam organisasi kemahasiswaan asal Minangkabau. Setelah selesai kuliah komunikasi kami terputus lama, baru kemudian terjalin kembali dengan adanya rencana-rencana untuk berbuat sesuatu di kampung halaman. Sebagai orang yang berlatar belakang arsitek, saya diajak untuk bersinergi di berbagai kegiatan dalam membangun kampung halaman Minangkabau, diantaranya :

  1. Pengembangan permukiman sederhana prefab di desa desa yang dipadu dengan penataan lingkungan yang baik;
  2. Pengembangan Sawahlunto, sebagai Kota Situs Tambang dunia yg berbudaya;
  3. Mengembalikan kota Bukittinggi, sebagai kota wisata peninggalan rancangan Belanda dulu;
  4. Pengembangan pariwisata Puncak Lawang dan Pulau Marak;
  5. (emukiman Terapung Nagari Tanjung Sani – Danau Maninjau sebagai bagian dari mitigasi bencana berkelanjutan paska gempa akhir 2009.

Ada juga kegiatan-kegiatan yang direncanakan di luar Sumatera Barat, maklumlah Uwan Sukri ini pergaulannya luas dan gagasan gagasannya menarik perhatian orang. Kami membuat sebuah percontohan pengolahan coklat bagi masyarakat Desa sekaligus menjadi tempat wisata, di desa Sayum Sabah – Deli Serdang, Sumatera Utara. Selain itu, saya juga pernah diajak bersinergi membantu Yayasan Bitra Indonesia Medan yang mengembangkan pusat pelatihan petani berbasis polikultur di lokasi yang sama, desa Sayumsabah. Selain itu, untuk tahun-tahun mendatang, kami juga merencanakan sebuah wadah bermukim bagi kelompok manula bahagia, yang tetap bisa berbuat sesuatu setelah masa pensiun. Istilahnya Senior Citizen Resort.

Yang fenomenal dari interaksi kami, adalah merencanakan Nagari Terapung di Danau Maninjau. Diawali dari gempa dahsyat yang terjadi di Sumatera Barat pada tahun 2009, kawasan sekitar Danau Maninjau khususnya nagari Tanjuang Sani mendapatkan dampak bencana paling parah. Bencana berupa longsor dahsyat, karena di nagari ini masyarakat menetap di atas tebing di ketinggian, mengakibatkan banyaknya jatuh korban jiwa dan harta benda. Tanggap darurat pemerintah yaitu dengan menyiapkan tempat-tempat penampungan sementara berupa barak-barak pengungsi di Nagari Sungai Batang. Banyak sumbangan yang datang, tapi banyak juga masyarakat yang datang hanya sekedar melihat keprihatinan pengungsi serta tak lupa selfie…he…he.

Untuk mengatasi kondisi yang rawan selanjutnya di sekitar danau ini, salah satu keputusan pemerintah adalah dengan bertransmigrasi. Masyarakat diminta pindah ke lokasi lain di salah satu kabupaten yang ditetapkan. Akan tetapi sebagian besar masyarakat menolak dengan alasan klasik bahwa daerah itu adalah harta peninggalan dari nenek moyang yang secara turun menurun ditempati, sehingga mereka tidak mau meninggalkannya. Masyarakat emosional bertahan, walaupun maut taruhannya.

Pada kondisi ini Uwan Sukri mencoba mencarikan solusinya, yaitu dengan membuatkan permukiman terapung yang mengambang sejarak 50 meter dari bibir danau. Pemukiman yang akan menjamin keselamatan, bila ada bencana yang sejenis di kemudian hari. Ada 3 hal besar yang sekaligus dipikirkan Uwan Sukri dalam menawarkan gagasan permukiman terapung ini, yakni (1) Teknologi. Mengingat pantai danau yang curam maka dibutuhkan teknologi rakit yang belum pernah dilakukan Sumatera Barat dan mungkin di Indonesia secara massal. Untuk itu Uwan Sukri dengan pergaulan hebatnya, tim kami bisa berdialog dengan teman2 Kementrian PUPR dan di BPPT, tentang teknologi rakit ini dan juga sekaligus membincangkan masalah yang berkenaan dengan sanitasinya, agar tidak mencemari lingkungan danau. (2)Pendekatan Sosial pada masyarakat, bagaimana menjalani kehidupan pemukiman baru di permukaan air, sekaligus menjaga kelestarian danau. Kehidupan baru ini diharapkan dapat menjadi sebuah contoh baru di Indonesia dan dunia, tentang bagaimana kehidupan di atas air yang baik. Secara sosial, Masyarakat nagari bisa menjaga dan mengelola sendiri pelestarian danau, sebagai potensi wisata Nasional bahkan global ini. Yang lebih kultural peluang ini adalah anak nagari Tanjuang Sani tak tercerabut dari lahan ulayat yang turun temurun mereka kelola. (3) Keberadaan Nagari Terapung ini sebagai objek pariwisata andalan di Sumatera Barat, yang bisa juga dikaitkan juga dengan olahraga terbang layang yang sudah ada sebelumnya. Kelak, kalau konsep itu jadi, akan ada hotel terapung, pasar terapung, restoran dan sarana publik bermanfaat ekonomi, tempat pendaratan peserta terbang layang dan berbagai daya dukung lainnya.

Dari ketiga hal inilah, paska aktifitas penyelamatan korban gempa, kami menyusun perencanaan lebih terperinci. Setelah itu perlu di sosialisasikan baik pada masyarakat maupun pemerintah. Yang menjadi soal adalah sosialisasi kepada pemerintah mulai dari tingkat Kabupaten dan Provinsi dan terakhir secara Nasional. Tapi sayang rencana ini terkendala karena dihadapkan pada situasi dan kondisi waktu itu belum memungkinkan. Semua pihak mendukung gagasan itu, baik tingkat Kabupaten, Propinsi sampai ke berbagai Kementrian terkait. Hanya saja, terbentur kurang yakinnya pengambil keputusan tentang teknis pelaksanaannya, menyangkut anggaran dan kenyataan belum ada pengalaman membangun pemukiman terapung di perairan tenang seperti danau Maninjau.

Kalau pengalaman di sungai, kita punya banyak contoh di Kalimantan dan Papua. Alhasil mimpi besar mewujudkan Negeri Terapung Tanjung Sani ini terhenti begitu saja. Saya pulang ke Pekanbaru, Uwan Sukri kembali berkelana menjalani hidup sebagai konsultan pembangunan ke berbagai wilayah.

Uwan Sukri tidak pernah berhenti memikirkan pembangunan di nagari-nagari, paling tidak sejak kepulangannya ke kampung halaman tahun 1985 silam. Mungkin karena secara ideologis, cakrawala pemikirannya bertentangan dengan strategi pembangunan yang dipilih oleh pemerintah. Ia memilih perantauan ke kampung halaman, ketimbang berkiprah di Jakarta yang menurutnya lebih nyaman karena relasinya yang sangat luas dengan berbagai kalangan, membuatnya tidak sulit untuk beraktifitas dan berkarir secara nasional.

Menurutnya, pemerintahan sejak orde baru sampai sekarang masih menerapkan (a) pembangunan dari hasil pertumbuhan ekonomi (tricke-down effect – efek menetes), ketimbang (b) pembangunan bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi. Karena dengan demikian akhirnya akan menghadirkan dikotomi pembangunan, yang dikenal dengan Kota – Desa; Jawa – luar Jawa dan Sanbari – Santiri. Rakyat Indonesia, pemilik sah negeri ini, hari ini masih berada pada dinamika dikotomis tersebut. Yang dulu masih miskin, kini nyatanya tetap miskin.

Itulah tampaknya pilihan yang dijatuhkan Uwan Sukri, ia mencoba membangun dengan memperkuat akar rumput, sehingga dihadirkan pembangunan bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi. Sumatera Barat dengan sistem nagari layak untuk didukung menjadi pilot model penerapan konsep pembangunan berbasis masyarakat. Pilihan de-sentralisasi sebenarnya mendukung pola yang diinginkannya, namun prakteknya jauh dari harapan. Tetap saja, rezim sekarang masih dalam paradigma pembangunan-isme. Mirip masa lalu, walau jargon-nya kelihatan demi rakyat, untuk rakyat, dan seterusnya.

Namun apapun yang dialami, paling tidak sudah ada sahabat saya Uwan Sukri, yang memikirkan sejauh itu. Terimakasih Uwan Sukri gagasan dan usahanya telah memberikan pengalaman baru bagi saya….dan akan kukenang selalu…he…he. Semoga Uwan Sukri sekeluarga sehat dan bahagia selalu……Aamiin yaa Rabbal Alamin. Terima kasih.

Cirebon, 20 September 2020

————

Ir. H. Syafril Rivai, Alumni Arsitek ITB yang berkarir di Bandung sebagai pengajar di Institut Teknologi Nasional – ITENAS dan ST INTEN – Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi Indonesia, sampai tahun 2000. Setelahnya bekerja sebagai konsultan arsitek di Pekanbaru, yang terlibat dalam perancangan Fakultas Kedokteran UNRI; Gedung Utama RSUD Pekanbaru dan Masjid Ar-Rahman Kota Pekanbaru. Sejak 2018 menetap di kota Cirebon.

Adikku Zukri | Azmi Saad