Uwan Sukri Sang Manusia Lintas Batas

Oleh : Gunawan Adnan

Sungguh merupakan suatu kebanggaan dan kebahagiaan bagi saya diminta menulis pandangan dan kesan saya terhadap Uwan Sukri, seorang teman sejawat, guru sekaligus inspirator yang sangat luar biasa bagi saya. Saya pertama sekali bertemu dengan Uwan Sukri dalam sebuah acara terkait tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungan hidup, dimana Uwan Sukri merupakan salah satu empu dan abdi gerakan lingkungan hidup Indonesia. Semenjak itulah, hubungan kami menjadi sangat akrab dan intens. Jujur saja, saya sering berdiskusi dan belajar dari beliau, baik secara langsung maupun jarak jauh. Tentu tidak hanya terkait isu-isu penting lingkungan hidup, tetapi juga dalam banyak aspek kehidupan.

Uwan Sukri – meskipun bukan anak pejabat atau orang kaya – menurut saya bukanlah orang biasa dan sembarangan. Meskipun beliau lahir dan besar di Bukittinggi – Sumatera Barat, namun beliau mampu melewati batas seorang anak desa dalam perjalanan karir akademiknya. Beliau mampu menembus hegemoni anak-anak orang hebat dan kaya, karena berhasil lulus dalam ujian masuk PTN sangat favorit di Indonesia, yaitu ITB.

Tidak hanya berhenti disitu, Uwan Sukri ternyata bukanlah seorang yang individualis maupun selfish dan egois. Setelah resmi menjadi mahasiswa ITB yang mentereng itu, beliau ternyata masih sempat memikirkan bagaimana agar anak-anak desa lainnya, terutama yang berasal dari Sumbar mendapatkan kesempatan belajar di ITB seperti dirinya. Untuk itu beliau bersama kawan-kawannya berinisiasi membimbing generasi bergenerasi berikutnya untuk bisa lulus di PT favorit seperti ITB atau UI dan Universitas terkemuka lainnya.

Namun ada hal yang tidak biasa yang dilakukan oleh Uwan Sukri, yang mampu membuat semua orang bingung dan tidak habis pikir. Tidak begitu lama setelah acara wisuda sebagai sarjana lulusan Kimia ITB, yang turut dihadiri oleh orang tuanya saat itu, beliau mengambil ijazahnya seraya berkata “wahai ijazahku, tidak mudah tentunya daku dalam menggapaimu, tapi ketahuilah olehmu, bahwa aku dapat hidup dan berkembang tanpa dirimu !!!”. Setelahnya, beliau di malam wisuda diam-diam membakar ijazah yang baru diraih itu. Aneh bukan?

Tentu aneh bin ajaib, tapi itulah faktanya. Inilah yang membuat saya beralasan kenapa saya sebutkan di awal tulisan ini bahwa Uwan Sukri seorang manusia yang lintas batas. Dia berbeda dengan sarjana kebanyakan lainnya. Semua orang tentulah bangga dan bahkan sering menggadang-gadangkan keberadaan ijazah, seolah-olah ijazah tersebut merupakan segala-galanya. Seolah-olah ijazah merupakan jaminan hidup bagi dirinya. Sebauah sangkaan yang tidak realistis.

Kita juga sering mendapati tipe manusia yang suka memamerkan dan menyombongkan diri dengan gelar, meskipun gelar akademik tersebut dia beli atau dia dapat secara non-akademik. Sangat memalukan bukan??

Hal ini tidak terjadi pada diri Uwan Sukri muda, yang berani menantang dirinya dengan sebuah perjuangan melalui kerja keras, yang kemudian mampu dia buktikan. Uwan Sukri meskipun bukan seorang ASN, namun beliau dapat menjalani kehidupannya secara normal, baik kehidupan personal maupun kehidupan ber-rumah tangga. Terlihat kesehariannya hidup layak dan alhamdulillah juga sangat berbahagia. Anak-anak beliau tumbuh dan berkembang dengan baik dan dapat lulus dari perguruan tinggi top di Indonesia, yaitu ITB dan UI. Sungguh merupakan anugerah Allah yang luar biasa besarnya bagi hamba-Nya yang istiqamah dan berjiwa besar.

Kesetiakawanan Seorang Uwan Sukri sangat saya rasakan. Setelah kegagalan saya dalam panggung politik sebagai kontestan Calon bupati Pidie (Aceh) pada tahun 2012, saya merasa sangat terpukul secara mental dan terpuruk secara ekonomi. Tiba-tiba saya mendapat telepon dari Uwan Sukri. Beliau mengatakan bahwa beliau mendapat mandat dari direksi ABM (group Trakindo) yang berkantor pusat di Jakarta, bahwa beliau diminta untuk memperkuat tim perusahaan tambang batubara yang kebetulan berlokasi di Aceh Barat dan Nagan Raya. Sehubungan dengan itu, Uwan Sukri mengajak saya untuk dapat membantu beliau agar bersama-sama dapat membesarkan tambang batubara yang dikelola oleh anak perusahaan bernama PT. MIFA.

Jujur saya katakan bahwa telephone dan tawaran kerjasama yang beliau sampaikan ibarat setetes air di tengah padang pasir. Lalu dengan penuh kegembiraan saya menjawab “Siaap Uda”. Namun beliau katakan “kalau ente siaap” tolong segera siapkan diri untuk ikut seleksi dan wawancara dengan para Komisaris dan Direksi di Hotel Meuligoe – Aceh Barat. Seminggu kemudian saya ke Meulaboh (ibukota Aceh Barat) untuk ikut test dan alhamdulillah saya dinyatakan lulus. Saya ditempatkan sebagai Senior Manager untuk urusan Community Relation and Development.

Yang ingin saya ceritakan di balik kisah ini adalah bahwa, Uwan Sukri itu seorang teman sejati atau saudara yang bersifat setia kawan. Saya yakin bahwa beliau pasti punya banyak teman lain di Padang sana atau sesama alumni ITB, tetapi ketika ada peluang rezeki atau kesempatan kerja, kenapa yang beliau ajak bergabung adalah saya. Padahal, saya yang notabene tidak memiliki latar belakang profesi tambang atau minimal ilmu kimia seperti beliau? Hal ini merupakan bukti nyata akan kesetiakawanan seorang Zukri Saad, yang sekaligus juga membuktikan bahwa beliau layak kita katakan sebagai manusia lintas batas.

Beliau sudah selesai dengan dirinya. Selesai dengan urusan iri-dengki, primordialisme sempit kedaerahan dan lepas dari hal-hal emosional. Beliau sudah berpikir lintas batas primordialisme kedaerahan, bahasa dan suku. Sungguh, perilaku yang tidak banyak orang yang saya dapati dalam hidup ini. Uwan Sukri menampilkan konsistensi karakter yang kini langka ditemui : setia kawan, humble (tawadhu’), suka membantu, nasionalis dan visioner.

Last but not least, perlu saya sampaikan juga bahwa meskipun Uwan Sukri bekerja sebagai pegawai perusahaan tambang, dan atau juga berbagai perusahaan besar lainnya, saya yakin beliau tidak serta merta bisa diatur dan diperintahkan untuk bertindak semena-mena. Apalagi kebijakan yang menyangkut nasib rakyat jelata (orang miskin) dan lingkungan hidup. Beliau pasti akan lebih memilih keluar (resign) dari perusahaan, daripada bertahan di perusahaan tapi mendhalimi rakyat serta merusak lingkungan hidup.

Dalam kapasitas beliau sebagai konsultan bidang sosial-kemasyarakatan, banyak sekali kebijakan perusahaan yang pro-rakyat yang beliau lahirkan, antara lain, kebijakan efektif penetapan plasma di berbagai perkebunan sawit yang pernah beliau tangani. Kebijakan pelibatan masyarakat secara optimal dalam kegiatan tambang batubara dan kegiatan pengakhiran tambang nikel yang sarat pertimbangan lingkungan hidup dan keberlanjutan kawasan.

Sungguh sangat banyak contoh teladan, pengalaman berharga, kenangan dan dan kesan manis serta hal baik lainnya yang sangat inspiratif dari seorang Uwan Sukri. Semuanya tentu tidak mungkin mampu saya utarakan dalam lembaran dan kesempatan singkat ini. Jujur saya katakana, bahwa saya sangat beruntung dipertemukan dan dihadiah-i seorang Uwan Sukri sebagai seorang kawan, guru sekaligus inspirator yang sangat penting dan berkesan dalam hidup saya. Alhamdulillaah. Mari kita berdoa semoga Allah memberikan keberkahan umur, kesehatan, kekuatan, kelapangan rizki dan kesuksesan kepada Uwan Sukri agar senantiasa dapat memberikan kontribusi positif dan inspirasi bagi ummat, agama, nusa dan bangsa tercinta, Aamien YRA.

Banda Aceh, 17 Agustus 2020

————

DR. Drs. H. Gunawan Adnan, M.A. Ph.D, lulus dengan predikat Summa Cumlaude program Program S1 pada Jurusan Bahasa Arab – Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry, Banda Aceh), 1991. Pendidikan S2 diselesaikan pada tahun 1996 di bidang Anthropologi-Sosiologi – Universitas Leiden Belanda dengan Summa Cumlaude, dimana sebelumnya sempat menjadi Fellow-Student pada Universitas Al-Azhar, Cairo – Mesir pada 1994. Pendidikan S3 Bidang Filsafat (Philosophical Doctor/Ph.D) pada Fakultas Filsafat dan Program Doktor dalam Bidang Sociology (DR by Courses) pada Fakultas Ethnology, Universitas Georgia Augusta, Goettingen – Germany, tahun 2004. Menguasai 7 bahasa asing, saat ini menetap di Banda Aceh dan menjabat sebagai Wakil Rektor I – UIN Ar-Raniry

Adikku Zukri | Azmi Saad