UWAN SUKRI Yang Saya Kenal

Oleh : Toni “Pangcu” Driyantono

Zukri Saad adalah salah seorang sahabat saya di ITB. Sama2 masuk ITB pada tahun 1976. Saya di Jurusan Matematika. Zukri di Jurusan Kimia. Saya berasal dari SMA di Jakarta, Zukri dari SMA di Sumatra Barat. Saya lupa waktu pertama kali kenal Zukri. Seingat saya pertama kali kenal ketika sama-sama aktif di Unit Kegiatan PSIK (Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan). Setelah itu kami sering ngobrol di kantor sekretariat PSIK atau di Student Centre ITB. Tampaknya kami sama-sama menjadi Mahasiswa Sudent Centre, yaitu mahasiswa yang lebih sering berada di Student Centre daripada di Ruang Kuliah.

Keakraban kami makin erat ketika sama-sama aktif dalam kegiatan Gerakan Anti Soeharto pada tahun 1977-1978. Setelah itu, kami bersama mendirikan dan aktif di Yayasan Mandiri. Ketika saya menikah di bulan Agustus 1992, Zukri menyiapkan seperangkat alat sholat sebagai mas kawin saya. Beliau bilang, “ini mukena ibu saya yang milihkan, yang terbaik” (Alfatihah buat Almarhum Ibunya Zukri).

Persahabatan ini masih terus berjalan. Walaupun dengan seiring waktu dan kegiatan masing-masing, sehingga jarang bisa bertatap muka. Apalagi ketika Zukri berkeluarga dan memutuskan menetap di Padang. Waktu itu saya masih di Jakarta, tapi waktu saya lebih banyak berkelana dari pesantren ke pesantren di Madura dan Jawa Timur.

Zukri adalah seseorang yang tidak bisa diam. Selalu aktif dan selalu berupaya membantu teman yang membutuhkan bantuan. Berbagai kegiatan yang diikuti membuat ia kaya akan pengalaman. Pernah merasa ingin maju sebagai Calon Gubernur Sumatra Barat, karena yakin masyarakat petani si Sumbar banyak yang mendukungnya. Saya hanya mengingatkan bahwa “buat apa habiskan uang, belum tentu terpilih”. Alhamdulillah, akhirnya beliau tidak jadi maju.

Zukri adalah seseorang yang pintar bicara, meyakinkan orang dan mencari alasan. saya masih ingat ketika jaman kuliah di ITB, kalau beliau naksir cewek. Dan ketika belakangan ditanya soal cewek tersebut, selalu bilang : “Ah, itu ponakan awak”. Artinya, beliau sudah gagal mendekati cewek tersebut. Juga ada pengalaman yang membuat, paling tidak saya cukup repot dibuatnya, yaitu ketika Zukri terpilih sebagai Pimpinan WALHI bersama dengan MS Zulkarnaen (Almarhum) dan Deddy. Dengan Deddy tidak ada masalah karena Deddy yunior atau adik kelas di ITB. Dengan Zul, yang ada masalah.

Sama-sama aktif di Yayasan Mandiri dan punya sikap dan perilaku yang bebeda. Sehingga kalau ada masalah di WALHI (maksudnya masalah dengan Zul terhadap kebijakan WALHI), ya curhat-nya Zukri ke teman-teman Mandiri.

Selain beragamnya kegiatan yang dilakukan, dari pendidikan, pertanian, lingkungan sampai koperasi, Zukri juga menekuni kegiatannya yang ada dengan pengobatan alternatif. Beliau pernah menekuni Reiki dan sekarang tampaknya lagi asyik dengan hal-hal yang berkaitan dengan diet untuk kesehatan ketofastosis. saya tidak tahu ketertarikan ini, apa pegaruh dari istrinya yang keluarga dokter atau dari salah satu anaknya yang pernah kena leukemia. Yang pasti, sikap beliau jika ingin menekuni sesuatu, beliau bersungguh-sungguh.

Sudah amat lama saya tidak bertatap muka dengan Zukri. Bertukar informasi hanya melalui media sosial. Dari inormasi yang saya peroleh, ada beberapa kegiatan yang diikuti Zukri, yang membuat saya mau berpesan sebagai seorang Sahabat. Berteman dengan siapa saja itu boleh dan bahkan mungkin memang harus. tapi jika diajak untuk bersepakat atau melakukan tindakan yang bersifat politik kekuasaan, kita harus berhati-hati.Jika perlu tidak usahlah ikut-ikutan.

Di usia yang makin tua ini, kita memang wajib mengisi sisa usia kita dengan kegiatan yang bermanfaat bagi sesama. Sesuai dengan kemampuan kita tanpa merasa paling benar atau harus perlu menyalahkan orang lain. Kita harus berhati-hati membawa nama baik kita. Jika bisa kita selalu diingat baik oleh semua teman kita. Ini hanya sekadar nasihat yang tidak berharga dari seorang sahabat yang kerjanya keluyuran dari pesantren ke pesantren.

Di sisa usia kita, mari kita selalu berbuat yang terbaik dan bermanfaat bagi sesama. Berbuat sesuai dengan kemampuan kita, tanpa merasa diri kita yang paling benar atau dengan cara menyalahkan orang lain. Selalu instropeksi dan semoga selalu sehat serta bahagia bersama keluarga tercinta. Keluarga adalah fokus yang terpenting di sisa waktu usia kita. Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik bagi kita dan keluarga kita. Aamiin.

Malang, 15 Agustus 2020

————

Al-Faqier Toni “Pangcu” Driyantono, pendiri Yayasan Mandiri Bandung, meninggalkan kuliahnya di jurusan Matematika ITB untuk mengejar impiannya mengembangkan pendidikan Indonesia melalui sistem Pesantren. Memiliki pergaulan luas di kalangan pesantren, khususnya di pulau Jawa dan Madura. Saat ini bisa disebut sebagai Kyai Tanpa Pesantren..

Adikku Zukri | Azmi Saad