UWAN SUKRI

Oleh : Tria Suprajeni

Saya dan rata-rata kami dari angkatan yang lebih muda di Minang Bandung (perkumpulan anak-anak Minang yang pernah kuliah di Bandung) memanggilnya Uwan Sukri atau hanya Uwan. Uwan artinya kakak, jadi kami tidak hanya menghormati karena usianya yang lebih tua tapi sudah menganggap dia sebagai kakak. Dan Uwan memang pantas dengan sebutan tersebut. Orangnya menyenangkan, to the point, spontan, terbuka baik memberi kritikan ataupun menerima kritikan, tidak jaim begitu istilah anak-anak muda sekarang walaupun beliau dituakan.

Saya mulai mengenal Uwan lebih dekat  di akhir tahun 2009, sebelumnya sering mendengar tentang beliau tapi tidak pernah bertemu baik secara khusus ataupun bersama-sama dengan kawan-kawan lain dikarenakan saya bekerja di Bidang Pertambangan dan lebih banyak menghabiskan waktu bolak-balik ke Kalimantan, sementara Uwan saat itu menetap di Padang.

Waktu kuliah di ITB pun tidak bertemu karena saat saya mulai berkuliah, Uwan keluar dari kampus alias wisuda. Akhir tahun 2009  tersebut, saya mendapat tawaran dari sekelompok teman petinggi partai politik pendukung pemerintah  untuk menjadi salah satu direksi di salah satu BUMN yang beroperasi di Sumbar. Uwan waktu itu menelpon saya dan langsung menyatakan kalau saya menerima jabatan tersebut, saya akan berhadapan dengan beliau.

Uwan berada di belakang masyarakat Sumatera Barat, yang saat itu menolak langkah strategik pemerintah untuk menyatukan BUMN yang bergerak di bidang yang sama dalam satu grup /holding. Waktu itu holding-nya telah ditetapkan BUMN lain yang berkedudukan di Pulau Jawa. Banyak cerita yang melatarbelakangi penolakan ini, tetapi secara umum saya dijelaskan ini suara “masyarakat / rakyat”.

Dalam pandangan saya, Uwan ini memiliki minat dan pengetahuan tentang banyak hal. Berfikir dengan cara yang tidak biasa.  Uwan berfikir dalam kerangka tanpa batas alias bebas. Waktu kota Padang bermasalah dengan pedagang kaki lima yang berjualan dengan serabutan di jalanan pusat kota, sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas dan pemandangan, uwan melontarkan gagasan untuk sinergi kaki lima.

Uwan menguraikan dengan cukup rinci gagasannya tersebut, dimulai dari tahap persiapan dengan melakukan inventarisasi pedagang K5 dimana mereka berjualan, apa yang dijual, siapa produsennya dan bagaimana pola pembelian mereka. Selanjutnya dia mengusulkan agar pemerintah kota menyediakan lahan khusus yang luasannya cukup besar, dimana lahan bisa dibeli atau disewa jangka panjang, atau pinjam pakai. Di lahan ini dibangun kios-kios untuk pedagang K5 lengkap dengan fasilitas umum dan fasilitas sosial-nya (jalan, lampu, telepon, musholla, toilet umum yang bersih terjaga, taman bermain untuk anak-anak atau tempat istitrahat lainnya).

Pembiayaan pengadaan fasilitas diusulkan untuk bekerja sama dengan para produsen produk yang dijual. Diiringi juga dengan bilboard-bilboard yang disewakan untuk promosi. Terakhir pemerintah kota membuat Perda khusus untuk pedagang kaki lima ini yang  isinya semua mesti berdagang di lokasi-lokasi yang sudah ditetapkan. Pemkot bisa menetapkan tiga atau empat lokasi khusus di jalan-jalan utama sebagai pusat kegiatan pedagang K5. Menurut saya gagasan ini cukup komprehensif. Uwan mengevaluasi dan memberikan solusi cukup detail mulai dari pencarian data, evaluasi data, penentuan lokasi, rencana kegiatan, marketing sampai masalah pembiayaan. Gagasan ini realistik dan logis untuk dilaksanakan.

Gagasan uwan baik lewat tulisan di blog-nya ataupun buku-buku karyanya yang pernah saya baca  sangat solutif, jernih dan sarat dengan hal-hal praktis bahkan cendrung inovatif. Menurut saya ini terbentuk dikarenakan pengalaman hidup yang banyak berkecimpung di dunia kemasyarakatan. Rasanya, seluruh waktu waktu produktifnya dialokasikan di dunia Lembaga Swadaya Masyarakat / LSM.

Dikarenakan tanggung jawab pekerjaan,  saya banyak sekali bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh masyarakat dari dunia LSM itu, dan lumayan mengenal karakter atau pola kegiatan mereka. Mungkin karena latar belakang atau maksud tertentu banyak penggiat masyarakat yang saya temukan, suka menang sendiri dan terkadang memaksakan kehendak dengan berlindung atas nama kepentingan masyarakat atau orang banyak.

Namun, Saya melihat sosok yang sangat berbeda pada sosok Uwan Sukri. Uwan dapat menempatkan dirinya dengan sangat baik. Positioning pada saat dan momen yang terukur. Mengkritik tanpa menghina, membalas tanpa menyakiti, bersebrangan tanpa bermusuhan (mungkin itu istilahnya yang tepat). Dalam prosesnya melatih generasi muda dimanapun, Uwan selalu mengetengahkan istilah human relation skill dan social communication skill. Banyak interaksi dapat diluruskan dengan kompetensi berkomunikasi secara sosial. Gagasan Uwan selalu didasari  data atau informasi yang cukup dan relevan. Solusi  yang ditawarkan berimbang dan tidak subjektif.

Dikarenakan gaya hidup dan kedekatannya dengan masyarakat, Uwan sangat sensitif  terhadap isu-isu sosial. Uwan tidak Pernah bisa melihat orang sengsara, atau tidak mampu, apalagi kalau itu berhubungan dengan pendidikan. Uwan akan membantu atau akan jadi promotor agar bisa meringankan beban yang bersangkutan. Beberapa kali kami berpartisipasi dalam kegiatan Uwan menggalang dana untuk membantu mahasiswa baik untuk kebutuhan hidup, uang sekolah, ataupun peralatan sekolah/kuliah seperti notebook, dan lainnya.

Saya tahu Uwan Zukri sering dilibatkan sebagai konsultan yang berhubungan dengan pengembangan daerah. Biasanya dalam jangka waktu tertentu. Tapi tidak pernah bekerja di satu perusahaan sebagai karyawan. Agak mengherankan bagi saya saat Uwan memutuskan bekerja di salah satu konglomerat besar sebagai CSR Head, karena ini agak berbeda dengan tipikal-nya yang selama ini yang cendrung bebas, memimpin bukan dipimpin. Apakah ada hal tertentu yang memaksa Uwan untuk melakukan hal tersebut?, atau dia pengin berganti peran menghadapi bukan dihadapi?  hanya dia yang tahu.

Belakangan diperoleh cerita bahwa pilihan “terpaksa” itu harus diambilnya, karena masalah domestik berkeluarga. 3 anak-anaknya sedang berkuliah dan membutuhkan fix-cost yang rutin bulan ke bulan. Harus ada biaya tetap tiap 6 bulan untuk Biaya pendidikan, tiap bulan untuk biaya hidup dan tiap tahun untuk sewa rumah. Itupun harus dikalikan tiga, karena ketiga anak hidup terpisah. Satu anak di Bandung, satunya di Jatinagor dan yang perempuan di Depok.

Ada satu hal yang tidak pernah kami bahas atau kami singgung selama interaksi dan juga secara umum saya lihat interaksi Uwan dengan yang lain yaitu masalah agama, baik itu yang berhubungan dengan keyakinan pribadi ataupun masalah dengan latar belakang agama di masyarakat.  Apakah Uwan merasa ini adalah hak azasi yang tidak layak disentuh, diperdebatkan?  Lakum diinukum waliadiin – bagimu agamamu bagiku agamaku?  Atau Uwan merasa ini bukanlah sesuatu yang berada dalam lingkup kompetensi yang dia miliki?

Saya diberitahu Uwan akan kembali ke Sumatera Barat, mau membangun kampung. Uwan mau mengembangkan desa mandiri, secara ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Akan dijadikan satu daerah di Sumbar sebagai langkah awal.  Sedang disusun perencanaannya, dan akan melibatkan semua pihak yang berminat atau ingin berpartisipasi. Saya gembira sekali. Sumatera Barat membutuhkan orang-orang seperti Uwan. Harapannya, sambil mengembangkan daerah Uwan juga mencetak Zukri-Zukri yang lain.

Welcome back to Minangkabau Uwan.

Old soldiers never dies – They never fade away

Until they are call by the mighty lord

Jakarta, 1 Agustus 2020

————

Tria Suprajeni ST. MM, menetap di Jakarta. Menyelesaikan jenjang pendidikan S1 di jurusan Tehnik Sipil – Institut Teknologi Bandung, 1988 dan S2 di jurusan Akutansi – Universitas Indonesia, 1994. Profesional di dunia pertambangan batubara, memimpin berbagai perusahaan dan juga aktif di organisasi profesi Ahli Pertambangan (PERHAPI). Talenta yang dimiliki mengharuskannya untuk ikut membina pengembangan pendidikan pertambangan dan perminyakan di almamater ITB.

Adikku Zukri | Azmi Saad