Uwan Zukri: Dari Koran Bekas Menuju Panggung Internasional

Oleh : Syafrizaldi Jpang

Pada Februari 1995, saya membaca serpihan surat kabar Singgalang yang terbit di Padang, Sumatera Barat. Saya tak tahu dari mana datangnya serpihan koran itu, tiba-tiba datang dan entah kenapa pula saya tertarik melihatnya. Itu adalah koran bekas, terbit setahun sebelumnya. Di bagian atas ada headline yang kurang menarik minat saya. Justru tulisan besar di berita yang agak ke bawah terdapat tulisan KOMMA.

Dalam hati saya berkata, bukankah KOMMA adalah nama sejenis kelompok pecinta alam berbasis di kampus Fakultas Pertanian Universitas Andalas? Saya pernah membaca sekilas tulisan ini ketika melihat-lihat calon kampus tempat saya akan berkuliah di Air Tawar, Padang. Ya, pasti KOMMA yang itu, pikir saya. Sejak awal 1995, saya mulai berkuliah di Kampus Limau Manis yang kala itu terasa jauh dari peradaban manusia. KOMMA saya dapati menempati sekretariat bekas barak pekerja bangunan di kampus itu.

Petikan berita Koran itu berisi tentang kegiatan Pendidikan Konservasi Alam Nasional (PKAN), diadakan di Saning Bakar, Solok, Sumatera Barat. Lebih dalam lagi, saya memerhatikan penggalan kalimat yang disampaikan Zukri Saad, kala itu sebagai salah satu Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Dalam ingatan saya, Zukri mengatakan, PKAN menjadi ajang generasi muda menempa diri. Masa depan adalah milik mereka yang mau menempa diri.

Sejak itu, selalu ada pertanyaan, siapa orang ini? untuk apa dia mau berpeluh-peluh mendidik anak muda? Mengapa anak muda harus menempa diri? Mengapa harus konservasi alam? Lama berselang ketika akhirnya saya memanggil Zukri Saad dengan sebutan Uwan, nama kesayangannya bagi teman-teman dekat.

Penggalan Koran bekas yang saya baca Februari 1995 itu demikian membekas setelah saya melewati hari-hari sebagai Ketua KOMMA tahun 1997-1998. Nama Zukri terus menari-nari dan diucapkan para senior. Tapi saya masih berada dalam penasaran akut, siapa orang ini?

KOMMA akhirnya menggagas kegiatan Seminar Kembali Ke (bentuk pemerintahan) Nagari tahun 1999. Seminar ini dilakukan menyusul isu Pemerintahan Nagari yang mengemuka di Sumatera Barat. Zukri menjadi salah satu pembicara yang kami lirik. Sebagai anak muda, saya juga terlibat menjadi pemantik diskusi, duduk semeja dengan Zukri.

Menjelang pelaksanaan seminar, beberapa kali saya mengontak Zukri untuk menanyakan kesediaan dan materi yang akan beliau sampaikan. Dalam seminar itu, Zukri mengatakan bahwa kita sekarang berada dalam turbulensi sosial yang dahsyat. Reformasi dan otonomi daerah harus segera disikapi supaya turbulensi ini dapat dilewati dengan aman. Jika tidak, maka kembali ke Pemerintahan Nagari hanya akan menjadi omong kosong.

Bagaimana melewati turbulensi itu? “Setiap orang dan setiap lembaga harus berkontribusi positif. Era saling menyalahkan kini sudah tertinggal di belakang. Kini saatnya melakukan tugas masing-masing dengan amanah. Mari tinggalkan syahwat kekuasaan jauh di belakang,” kata Zukri, sepanjang ingatan saya.

Usai seminar, saya memberanikan diri memanggilnya dengan sebutan Uwan. Maksudnya supaya akrab. Ternyata Zukri tidak keberatan. Mungkin baginya, saya hanyalah seorang anak muda yang sok akrab. Tapi saya tidak peduli. Ingatan saya kembali pada secarik koran bekas yang saya baca beberapa tahun sebelumnya.

Setelah itu, lama saya tak bertemu Uwan. Banyak senior yang mengatakan kalau Uwan sekarang sudah tak lagi bekerja untuk persoalan-persoalan lingkungan hidup dan konservasi. Ada pula yang mengatakan, Uwan sudah menjadi kontraktor perumahan. Segudang informasi masuk ke otak saya seiring Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi menyelenggarakan Musyawarah Besar pada 2002. Sebagai mantan Pengurus Warsi, saya hadir dalam helat besar itu. Uwan Zukri hadir di tempat yang sama sebaai personal pemegang nomor anggota 001.

Sudah 7 tahun terlewati, saya diam-diam belajar dari orang ini. kendati tak pernah diangkat menjadi murid, tapi saya hampir tak pernah melewatkan buku-buku yang beliau tulis. Yang paling berkesan bagi saya adalah bukunya berjudul Inspirasi, buku lainnya yang juga saya kagumi berjudul Partai Lokal. Kedua buku itu memang diedit ulang dari tulisan-tulisan Uwan pada Koran Harian Mimbar Minang, tapi semua idenya masuk akal bagi saya.

Banyak orang mengatakan, ide yang dilontarkan Uwan terlalu tinggi, sulit diimplementasikan, harus ada orang yang mengerti dan paham alur logika Uwan dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Tapi saya memandang berbeda, kendati Uwan muncul dengan ide-ide yang sulit diimplementasikan, mestinya itu menjadi cambuk buat siapa saja yang membaca. Inisiatif Uwan tentang kebun kakao yang mendunia di Sibolangit, mestinya ditangkap sebagai sebuah saran untuk perbaikan total budidaya dan pemasaran kakao di Sumatera Barat. Banyak lagi yang lain yang mungkin bisa menjadi bahan diskusi.

Sepanjang karir saya, Uwan telah menjadi legenda hidup. Saya banyak belajar dari beliau. Buku-buku Uwan membuat saya memacu diri untuk juga menghasilkan karya tulis. Sepak terjang beliau di panggung dunia semasa menjabat pimpinan di beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga melecut saya untuk beraktivitas di lembaga-lembaga internasional.

Dengan kemampuan bahasa Inggris pas-pasan, saya lantas mulai berkegiatan di beberapa proyek Internasional sejak 2005. Uwan acap kali memberikan nasehat sepanjang proyek. Ketika saya bekerja untuk salah satu lembaga konservasi internasional di Aceh sepanjang 2013-2017, Uwan beberapa kali datang sebagai sahabat ke kantor saya.

Hingga pada akhirnya keluarga saya (kembali) hijrah ke Pekanbaru di pertengahan 2017, saya dan Uwan kerap berjumpa. Lagi, nasehat Uwan sepertinya sulit diimplementasikan. Tapi saya menjadikannya lebih sederhana dan bermanfaat buat hidup saya.

Kini diusianya yang jelang 65, Uwan tetap menggeliat. Saya merasakan kedekatan dengan beliau dan keluarganya pada sisa perjalanan hidup kami. Selamat terus bertumbuh Uwan, tak akan ada yang menghalangi pembelajar sepertimu selain kematian. Sebelum waktu itu datang, izinkan saya untuk terus belajar dan mengeruk segala ilmu yang ada dalam diri Uwan. Salam buat Ni Rina, Jaka, Rindu dan Dana. Tabik.

————

Syafrizaldi Jpang adalah seorang storyteller untuk ragam teks dan visual, pelatih dan fasilitator vibrant. Selain itu, Jpang juga adalah seorang konsultan independen untuk berbagai isu menyangkut pemberdayaan masyarakat, pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam, kebencanaan, hak dan konflik tenurial, kampanye dan pencitraan (SMART Branding). Setidaknya Jpang sudah menulis 27 buku. Foto dan artikelnya dimuat di Majalah National Geographic Indonesia Traveler, Majalah Kartini, Najalah Intisari, The Jakarta Post, Koran Tempo, Majalah Colours, Majalah Mutiara Biru Magazine, jurnalistravel.com, travelnatic.com, pesona.travel, kompas.com, tribunews.com, phnompenhpost.com, annx.asianews.network, asianews.eu, borneobulletin.com.bn dan lainnya. Sepanjang 20 tahun karirnya, dia pernah bekerja pada proyek-proyek yang didanai USAID, Uni Eropa, GIZ dan sumber finansial internasional lainnya. Kini Jpang mukim di Pekanbaru dengan seorang isteri, 2 orang anak dan menjadi CEO Mata Angin Institute.

Adikku Zukri | Azmi Saad